Jodoh untuk Selina #05

0
158
views

Selina tercegat di tempatnya. Memadangi Azka di depannya tengah dipeluk oleh wanita yang kemarin berbincang hangat dengannya.

Beberapa detik kemudian. Selina dapat melihat sisi lain dari seorang Azka yang selama ini bersikap jutek kepadanya.

Tak segan Azka mengusap rambut perempuan bernama Salsa itu dengan sayang. Tersenyum manis dan menggenggam tangan gadis itu erat, dan membawanya masuk ke dalam.

Mengabaikan Selina yang diam tanpa kata. Dia melangkah longlai menuju mejanya dengan perasaan tercabik.

.
Terdengar beberapa karyawan wanita saling berbisik, bahwa Azka dan Salsa adalah pasangan serasi.

“Jadi mereka sepasang kekasih?” pikir Selina merasa bimbang.

.
Selina tersadar dari kebimbangang saat ada wanita yang menyapa dirinya.

“Sel, di suruh Pak Azka ke dalam.” Sekretaris Azka datang menyampaikan pesan untuknya.

Selina mengangguk, lantas berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Azka yang mewah.

“Masuk!” pekik Azka setelah mendengar ketukan.

Selina muncul dari balik pintu. Azka terlihat berwibawa. Cara pria itu bekerja sungguh tegas dan bijaksana. Lalu, matanya menoleh ke arah sofa. Di mana ada Salsa, duduk manis dengan ponsel di tangannya.

“Pak Azka memanggil saya?” ucap Selena kemudian berhati-hati.

Azka mendongak dari berkas yang ia pelajari.”Hmmm, duduklah!” titahnya menunjuk ke tempat yang sama dengan Salsa.

Azka merapatkan posisinya dengan Salsa. Dengan pautan jemari yang tak terlepas. Lima menit lalu, Azka beralih dari mejanya dan duduk bersama dua wanita yang berkaitan langsung dengan kehidupan pribadinya.

“Aku sudah tahu kalau kamu wanita yang tante Yana jodohkan dengan Azka,” tutur Salsa membuat Selina terkesiap.

Gadis itu tersenyum, sinis. Namun ada sorot kecewa dari dalam manik matanya. Sementara Selina merasakan satu tusukan menancap kian dalam di dadanya.

“Aku akan mengijinkan Azka menikahimu, tapi dengan satu syarat.” Salsa mengambil sesuatu dari dalam tas brandidnya,”tandatangani ini!” tukasnya dengan tangan menyodorkan kertas ke hadapan Selina.

“Apa ini, Mbak?” tanya Selina bingung dan merasa tidak enak perasaan.

“Itu surat perjanjian. Kamu hanya akan menjadi istri Azka selama satu tahun. Setelah kalian menikah, maka dalam jangka satu bulan Azka akan menikahiku juga tetapi ini rahasia. Aku, Azka dan kamu akan tinggal dalam satu atap!” ungkap Salsa membuat Selina merasa sesak.

Tanpa di sadari ada yang meluncur bebas di pipi Selina setelah kalimat tak lazim keluar dari mulut Salsa Pemikirannya salah terhadap wanita yang ada di depannya itu. Senyum manis nan ayunya tak serupa dengan apa yang baru saja ia dengar.

Selina menatap kosong ke arah meja di mana beberapa lembar kertas seakan menjadi taruhan atas kehidupannya.

Selina menarik napas, berusaha menguatkan diri sendiri.

“Maaf, Mbak. Saya lebih baik tidak menikah sama sekali dari pada harus melakukan hal tidak terpuji seperti apa yang Mbak katakan. Pernikahan itu suci, bukan sebuah perjanjian. Lagi pun dalam agama saya, apa yang Mbak usulkan sama sekali tidak dibenarkan!” ucap Selina lantas berdiri.

“Kalau kamu tidak mau, lo harus tanggung jawab kalau ada apa-apa dengan mama gue,” ancam Azka.

“Pak Azka tidak perlu kuatir akan hal itu. Permisi!” pamit Selina masih dengan isak tersisa dalam sendunya. Meninggalkan sepasang kekasih yang tak memiliki hati.

Ia mengambil tas dan pergi dari kantor Azka begitu saja.

Lampu-lampu mulai menyala. Langit pun temaram bersama gemerlap malam berhampar jutaan bintang.

Bu Riana yang sedang mengobrol bersama Rania merasa ada sesuatu yang hilang seharian ini.

“Ran, Selina kemana kok enggak kelihatan?” tanya Bu Riana seakan baru menyadari calon menantunya itu tidak terlihat batang hidungnya.

“Ran baru sampai tadi sore, Ma. Belum ketemu lagi dari pagi! Mungkin di kamarnya,” jawab Rania.

“kamu cek sana. Suruh turun, ada yang mau mama omingin!” titah Bu Riana pada anak gadisnya.

Rania segera bangkit dari sofa yang terletak di ruang keluarga.

.
“Ma, mama …,” Rania memekik dari lantai atas dengan napas tersengal.

“Ada apa? Kok teriak-teriak!” tegur Bu Riana pada putrinya yang panik.

“Kak Selina enggak ada di kamarnya,”

Bu Riana mengerutkan kening,” apa belum pulang kerja?”

Rania menggeleng.” Semua pakaian di dalam lemarinya enggak ada, Ma.”

“Apa?” sahut Bu Riana terkejut.

Selina duduk di salah satu kursi bus antar kota. Sepulang dari kantor, ia memutuskan untuk pergi saja. Sudah cukup dirinya menjadi penyebab masalah di keluarga yang selama beberapa bulan ini begitu baik hati terhadapnya.

Bukan tidak tahu diri pula saat keluar dari rumah itu ia tak pamit pada Sang pemilik. Hanya saja, jika ia lakukan. Maka akan dipastikan Bu Riana akan menahannya dengan berbagai alasan.

.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada Selina, Azka?” Bu Riana marah besar pada putra sulungnya yang baru saja pulang.

“Apaan sih, Ma?” ujar Azka tidak mengerti.

“Kamu tahu kalau Selina pergi dari rumah ini diam-diam?”

“Terus hubungannya sama Az, apa?” bantah Azka dengan tangan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.

“Mama tahu kamu menolak perjodohanmu dengan dia. Kamu tidak bisa menerimanya dengan menunjukkan ketidak sukaanmu padanya. Apa karena ucapan mama semalam yang mendesakmu menikahinya, kamu bersikap kasar padanya?” tuduh Bu Riana.

.
Suasana di rumah itu menjadi tidak nyaman. Azka yang disalahkan, Selina yang pergi dan Bi Riana pingsan sampai harus di bawa ke Rumah sakit. Semakin panik saat Rania tidak berhenti menangis karena mamanya tak kunjung sadar.

Sepekan kemudian.

Bau tanah perkampungan dengan angin sepoi melambaikan dedaunan.

Selina menatap hamparan pesawahan yang terhampar luas. Suara gemerincik air sungai begitu jernih, memanjakan mata. Tetapi ia sangat merasa hampa dengan hati terus bimbang. Merasa bersalah akan kebodohannya pergi tanpa pamit.

“Kak, kak Selin!” Gadis itu menoleh saat mendengar suara memanggil namanya.

“Ada apa, Win?” Bocah kecil itu berhenti sejenak. Mengatur pernapasannya karena berlari di antara pematang sawah yang hijau.

“Ada yang nyariin,” jawabnya dengan jemari menunjuk ke arah jalan.

Selina menoleh ke arah jari terlunjuk anak itu. Menyipitkan kedua matanya.

Ekspresinya seketika berubah. Matanya membulat dengan mulut menganga. Sebuah kendaraan yang sangat ia kenali terparkir di pinggir jalan desa yang kecil.

Selina berjalan mendekat untuk memastikan orang yang ia maksud. Memang benar, tepat di samping kendaraannya bersandar seseorang dengan raut wajah yang sulit diartikan.

“Ayo pulang!” ajaknya dengan nada yang … entah.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here