Jodoh untuk Selina #01

0
424
views

Selina Anggita Raja, duduk menunduk meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Menggigit bibirnya sendiri, perasaan resah kian membuncah. Sementara telinganya mau tidak mau harus mendengar pertengkaran di antara ibu dan putranya di ruangan terpisah.

Di sana, di antara tembok penyekat. Seorang anak laki-laki terus berteriak hebat pada ibunya. Begitu pun sebaliknya, dan itu membuat Selina merasa tak nyaman sama sekali.

Selina masih ingat, bagaimana dia tiba-tiba bisa tinggal di tengah-tengah keluarga dengan kasta jauh di atasnya. Pertemuannya dengan seorang wanita bernama Bu Riana tiga tahun silam menumbuhkan tali silaturahmi yang baik. Sering kali Bu Riana menemui Selena di Panti Asuhan. Tempat di mana gadis berusia tiga puluh tahun itu menjalani hari sebagai anak terbuang.

Menjadi seorang Selina tidak lah mudah. Meski memiliki paras cantik, itu tidak menjamin apapun. Sudah empat kali Selina harus puas menelan kepahitan. Rencana pernikahan selalu berujung kegagalan. Hingga tak elak, ia di juluki sebagai perawan tua dengan kutukan menyeramkan karena tak kunjung menikah.

Dua minggu lalu, hal paling Selena takutkan kembali terulang. Kekasih pujaan tak datang di hari di mana dia seharusnya diijab qobulkan. Tetapi alasan sama seperti jurang dengan lubang menganga tanpa dasar. Selina ditinggalkan. Hanya kerena perempuan itu berasal dari keluarga tak jelas asal-usulnya.

.
Suara pintu terhempas keras menyadarkan Selina dari lamunan sesaat. Matanya menatap sayu pada putra dari wanita yang sudah banyak sekali membantu dirinya. Tidak lama, Bu Riana keluar, ibu dari tiga orang anak itu memicit pelipisnya. Merasakan pening tujuh keliling, karena putramya itu kerap sekali bersikap keras kepala.

Bu Ariana menghempaskan pinggulnya tepat di samping Selina. Memandang padanya yang merasa bersalah dengan keadaan tak ramah ini.

“Jangan khawatir, tante pastikan Azka akan menikahimu,” ucap Bu Ariana mengelus lembut lengan Selina.

Selina menarik napas dalam-dalam. Mungkin jodoh akan datang terlambat untuk dirinya. Tetapi tidak begini caranya, memaksa seseorang menikah dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali itu bukanlah sesuatu hal yang mudah.

Makan malam begitu berbeda sejak kehadiran dirinya. Seringkali Azka memberi tatapan sengit pada Selina yang duduk secara berhadapan dengannya. Berbeda dengan Rania dan Panji, kedua adik Azka sangatlah terbuka dan senang. Terutama Rania, adik kembar Azka berlonjak riang saat Bu Ariana memberi tahukan pada ketiga anak-anaknya bahwa Selina akan tinggal bersama mereka.

“Rania, besok temani Selin belanja. Mulai senin dia akan mulai bekerja,” ucap Bu Ariana dari balik cangkir teh yang baru saja ia minum.

Bola mata Rania berbinar senang,”siap, Boss!” ujarnya sembari memberi tanda hormat pada ibunya.

“Panji ikut!” celetuk si bungsu yang baru saja menginjak di usia dua puluh tahun itu penuh harap.

Bu Ariana menggeleng,”kanu besok enggak boleh kemana-mana selain dampingin Mama.” Putus Bu Ariana membiat senyum Panji berubah menjadi cemberut.

“Azka, temani adik kamu dan Selena besok.” Azka yang baru saja akan menyuapkan sendok ke dalam mulutnya terhenti. Menatap tak suka akan perintah Bu Ariana.

Begitu selesai makan malam bersama, Azka lebih memilih pergi bersama teman-temannya. Pun Rania yang di jemput oleh kekasihnya sementara Panji mengurung diri di kamarnya. Bu Ariana meminta agar Panji perlu belajar demi meneruskan perusahannya kelak.

Karena Azka sudah memiliki usaha sendiri dan tidak mau meneruskan apa yang sudah ia rintis sekak dulu.

Selina dan Bu Ariana sendiri meneruskan obrolan dan juga rencana-rencana yang sudah tersusun rapi.

“”Tante,”

“Iya.”

“Kenapa?” tanya Selina ingin tahu mengapa wanita itu mau menjodohkannya dengam Azka.

Bu Rianna seperti megerti akan tatapan penuh kuatir dari Selina. Bibirnya menyunggingkan senyum.” Kamu perempuan tepat untuk Azka,” tukas tante Ariana membuat Selina mengerutkan kening.

“Tepat?” ulang gadis bertubuh mungil itu tidak mengerti.

Bu Ariana menghela napas“Anak itu menjadi keras kepala semenjak Papanya tiada.” Ungakapnya begitu berar,” lihatlah photo berbingkai besar itu.” Tunjuk bu Riana mengarah pada dinding yang ada di ruang keluarga.

“Itu adalah Azka, Rania, Papanya dan Mama kandung Azka,” ungkap tante Ariana membuat mulut Selena seketika menganga mendengarnya..

Intonasi suara Bu Ariana berubah, ketegaranmya sirna menjadi sendu yang tertahan sembilu. Kedua matanya tidak beralih dari gambar yang menampilkan Azka kecil bersama nama-nama yang Bu Ariana sebutkan tadi.

“Azka dan Rania anak tiriku, Selin. Dulu aku hanya pekerja Cafe yang tidaak sengaja bertemu dengan Papanya Azka yang waktu itu berstatus duda dua anak. Entah karena apa? Insiden yang melibatkanku dengan Mas Adrian membawaku menjadi pengasuh Azka dan Rania. Kata Mas Adrian itu adalah hukuman untukku, karena aku pernah merusak kendaraan miliknya. Kedekatanku dengan anak-anak pada ahirnya membuat Mas Adrian memutuskan untuk menikahiku.” Jelas Bu Ariana terdengar tak biasa.

Selina bungkam, seakan merasakan apa yang sedang Bu Riana ceritakan. Hidup bersama kedua anak-anak tiri tanpa seorang pemdamping seorang diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi Bu Riana mampu mengimbangi semuanya dengan baik. Hanya saja kenapa harus dirinya yang dijodohkan dengan Azka? Apa tidak takut jika suatu hari terjadi sesuatu yang buruk menimpa putranya itu.

Gadis itu menatap langit-langit dengan perasaan yang … entah!


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here