Jodoh Itu Misteri – Tamat

0
1829
views

“Permisi, pak, tamu yang anda tunggu sudah datang.” ucap sekretaris Rangga di sela-sela meetingnya.

“Baiklah, sepuluh menit lagi aku datang,” jawab Rangga dengan senyum berbinar.

Rangga melajutkan meetingnya dengan beberapa pemegang saham semua hotelnya. Setelah hampir empat tahun lamanya, akhirnya ia bisa mengembangkan hotelnya dengan mendirikan beberapa cabang di berbagai kota besar di Indonesia.

“Saya kira cukup untuk meeting hari ini. Terimakasih atas kerja sama kalian semua.” Rangga beranjak dari kursi lalu menyalami semua rekan meetingnya dan keluar menuju ruang kerjanya.

Di ruangan Rangga sudah ada dua tamu spesial yang sangat ia nanti-nantikan. Tiba di depan pintu, perasaanya benar-benar membuncah. Ia menghela nafas, dalam hati ia berharap impiannya akan menjadi kenyataan yaitu berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya.

Klek. Pintu dibuka oleh laki-laki yang mengenakan jas abu-abu itu, senyumnya kian merekah setelah melihat pangeran kecilnya tengah duduk dengan mengayun-ayunkan kedua kakinya di kursi kerjanya.

“Papah…” teriak sang buah hati setelah laki-laki yang ia panggil papah itu masuk. Dengan wajah riang juga mata yang berbinar bocah kecil itu berlari dan menghambur di pelukan sang papah.

“Papah, how are you?”

“Ow, I am fine honey. You look so handsome today,” puji sang papah pada putra kesayangannya.

“I really miss you, papah.” rengek bocah tampan itu di pelukan sang papah.

“Me too, honey,” jawab Rangga seraya mengecup pucuk kepala buah hatinya. “Hey, where is your, Mom?” alih-alih menjawab, putranya justru menoleh ke kanan dan kekiri sambil mengedikkan bahunya.

“Wait a moment, honey, just stay here, okay?” perintah Rangga pada putranya untuk tetap berdiri di tempatnya.

Di ruangan yang berukuran besar dan difasilitasi dengan pantry kecil, kamar mandi berukuran tiga kali tiga, juga satu ruangan meeting dibatasi oleh keca dengan sepuluh kursi dan meja besar didalamnya, serta sofa tamu berwarna abu-abu tepat didepan meja kerjanya lengkap dengan televisi LED berukuran 65 inci. Semua fasilitas dan dekorasinya Rangga lah yang meminta semua itu, agar ketika buah hati dan istrinya datang, mereka bisa leluasa berlama-lama di kantornya.

Sejak Rangga pindah ke Bali satu tahun lalu, ia meninggalkan istri dan putranya di Yogyakarta beserta keluarganya. Maya tidak bisa ikut pindah di Bali karena kondisi sang ayah yang kurang memungkinkan. Tak bisa menolak, Rangga pun membiarkan istrinya untuk tetap tinggal dan merawat ayahnya. Hampir dua minggu sekali lelaki itu bolak-balik Bali Yogyakarta demi melihat istri juga anaknya. Bahkan hampir tiap minggu ia pulang jika rasa rindunya benar-benar tidak bisa ia tahan.

“Kenapa tidak menemuiku dan mengambur ke pelukanku?” lirih Rangga seraya memeluk tubuh wanita yang tengah sibuk membuatkan susu untuk pangeran kecilnya juga satu cangkir kopi untuknya.

“Mas?” pekik Maya kaget, meski ia tau suaminya sudah masuk ke ruangannya, ia sengaja tidak ingin mengganggu pertemuannya dengan sang buah hati. Namun, ia tidak sadar suaminya dengan cepat menemuinya di pantry dengan memeluknya. “Lalu, haruskah aku memelukmu dan menciummu didepan Nathan?”

Rangga hanya menyeringai, dagunya yang bersandar pada bahu istrinya seakan membuat desiran halus di hati wanita itu.

“Nathan sedang menonton Tivi, sekarang sudahi membuat kopinya, aku belum mau minum kopi. Aku hanya ingin merasakan manis yang ada di disini,” rayu Rangga pada istrinya seraya jari telunjuknya menyentuh ujung bibir Maya.

Maya menghentikan aktivitasnya lalu membalikkan tubuhnya demi melihat wajah suaminya yang hampir dua minggu membuatnya menahan rindu.

“Apa pekerjaan mas benar-benar menyita waktu sehingga tidak sempat pulang dua minggu ini?” tanya Maya dengan mendongakkan wajahnya demi melihat suaminya yang masih terlihat segar itu. Kedua tangannya ia tumpukkan didada sang suami sembari memainkan kancing kemejanya.

“Sangat. Bahkan beberapa hari aku tidak bisa tidur nyenyak gara-gara proyek pembangunan dua hotel itu.” jelasnya tanpa mengalihkan pandangannya pada sang istri.

Rangga perlahan melepas hijab sang istri seraya memindai wajah yang ayu itu. Setelah membuka hijabnya, kini rambut panjangnya yang terikat itu ia geraikan dengan tangan polosnya. Lelaki itu mengirup aroma rambut yang menguar, begitu menusuk hidungnya sambil terus menatap wajah istrinya.

Maya hanya bergeming mendapat perlakuan itu dari suaminya. Ia biarkan lelakinya melakukan apa yang dia suka. Sesekali ia melenguh tatkala merasakan belaian lembut di pipi juga rambutnya.

Rangga menangkupkan tangannya di kedua pipi yang halus itu lalu dengan perlahan ia menarik wajah wanita itu hingga tak menyisakan jarak sedikitpun. Kening dan hidung keduanya saling bertautan, merasakan hembusan nafas yang hangat satu sama lainnya. Rangga mendaratkan sentuhan lembut di bingkai sang istri, perlahan namun mamabukkan hingga nafas wanita itu pun terengah.

“Papah? Mamah? Kenapa masih disitu? Temani aku nonton tivi!” tegur Nathan dari ambang pintu pantry. Keduanya tampak kaget, nafas mereka pun tersengal dengan kemunculan Nathan yang tiba-tiba itu. Mereka terlihat salah tingkah setelah kepergok sedang bermesraan.

“Ayo, pah…?” rengek Nathan sambil menarik ujung jas papahnya. Maya hanya mengukum senyum, ia mengambil jilbab yang Rangga letakkan di atas kursi kecil dekat dengan pintu masuk lalu memakainya kembali.

“Baiklah jagoan, papah! Today, I am yours, okay!” seru Rangga pada Nathan.

Maya berjalan ke arah sofa. Ia pun duduk disebelah Rangga lalu memberikan satu botol susu pada putranya. Keduanya nampak sedang menikmati tayangan kartun di televisi dengan si kecil duduk tepat diatas paha sang papah seraya memeluk tubuh mungil itu sambil menciumi rambutnya yang menguarkan aroma khas balita.

Maya tersenyum melihat pemandangan dimana suaminya mulai menidurkan anaknya di sofa yang hendak mengabiskan susunya, tangannya dengan lihai menepuk-nepuk paha balita itu.

Usia Nathan kini genap tiga tahun, lucu dan sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan Mamahnya, namun rasa kepercayaan dirinya juga kepandaiannya begitu menonjol persis dengan sang papah.

Maya bangkit dari kursi lalu mengunci ruangannya agar ia leluasa melepas hijabnya. Ia berjalan lagi ke arah sofa sambil tangannya melepas hijabnya lalu meletakkannya di punggung kursi. Ia duduk membelakangi suami dan anaknya. Rambutnya tergerai sebatas punggung, wangi rambutnya menguar hingga Rangga pun terbuai akannya. Tanpa sepengetahuannya, Rangga menyeringai melihat rambut indah istrinya itu. Nafas lelaki itu terengah seolah ingin segera menumpahkan kerinduannya pada sang istri setelah selama dua minggu ia tahan.

Tak menunggu lama, akhirnya Nathan tertidur pulas usai menghabiskan satu botol susu. Maya tak menyadari ada pergerakan yang bisa saja membuatnya shock. Rangga melepas jasnya dan menyisakan kemeja putih yang ia gulung lengannya sebatas siku. Ia berjalan mendekati Maya, hasratnya yang memuncak ingin segera ia tumpahkan pada wanitanya.

Maya tersentak melihat Rangga berdiri tepat didepannya dengan pandangan yang tak biasa.
Akhirnya tanpa babibu, Rangga pun mendorong perlahan tubuh Maya hingga jatuh di sofa.

“M-mas, mau apa? Kita sedang di kantor?” ucap Maya gugup.

“Bukankah tadi kamu sudah menguncinya?” jawab Rangga serak seperti sedang menahan hasratnya yang membuncah.

“Kenapa kita tidak melakukannya di rumah? Disini juga ada Nathan, iya kan?” lirih Maya dengan nafas terengah.

“Nathan sudah tidur sayang, kenapa kamu jadi gugup begini?”

“Bu-Bukan begitu, tapi ini di kantor, mas,” Maya menggeliat seakan ingin menyudahi pergulatan itu.

“Ya ini memang di kantor. Kenapa kita tidak mencoba disini saja. Bukankah di kamar sudah biasa?” balas Rangga dengan seringai nakalnya sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.

Maya menelan salivanya. “Tapi, mas. Kita bisa melakukan nanti setelah pulang?” protes Maya sambil merapikan rambutnya demi menepis rasa gugupnya.

“Tapi aku maunya sekarang, sayang,” Rangga mulai mengurangi jarak mereka. Berat dan menyesakkan, namun Maya pasrah dengan tubuh lelaki itu berada di atasnya.

Tut…… Tut…. Tut…….

Suara telepon dari meja kerja Rangga berbunyi. Spontan ia memutar bola matanya, “Siapa yang berani menggangguku disaat genting seperti ini. Sial!” Rangga mendengkus kesal. Momen panas yang hendak ia lakukan bersama istrinya pun terpaksa ia hentikan. Ia memasang kancing bajunya lagi, lalu berjalan ke arah meja kerjanya.

Maya hanya mengulum senyum. Ia lega, setidaknya mereka tidak melakukan hal-hal pribadi di kantor meski ruangannya dalam keadaan terkunci.

“Ya, ada apa?”

“Maaf, pak saya menggangu. Ada beberapa tamu yang tidak mau menyebutkan namanya. Namun salah satu dari mereka berkata bahwa bapak akan senang jika bertemu mereka.” ucap sang sekretaris dari ujung telepon.

Rangga mengernyitkan dahi. “Mereka? Memangnya siapa?” batin Rangga.

“Baik, suruh mereka masuk!” perintah Rangga pada sekretarisnya.

“Baik, pak.”

Rangga menutup teleponnya lalu berjalan ke arah Maya. “Katanya ada banyak tamu datang, tapi siapa?” ucap Rangga pada Maya seraya menyandarkan punggungnya di sofa.

Maya yang kini sudah mengenakan hijabnya pun bergeming. Ia hanya mengedikkan bahunya. Sebenarnya ia tau, siapa tamu yang sebentar lagi masuk ke ruangan itu. Hanya saja ia tutupi, agar menjadi sebuah kejutan untuk suaminya.

Rangga menyugar rambutnya kasar setelah itu memijat kepalanya yang pusing karena hasratnya yang tak tersalurkan.

Maya yang duduk disebelahnya pun hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.

“Sini! Aku pijitin.”

Wanita itu meraih pundak sang suami lalu memberi pijatan lembut disana. Ia tau apa yang suaminya rasakan. Dengan memijatnya, paling tidak membuat tubuh suaminya merasa lebih rileks.

“Setelah pulang nanti, aku tidak mau ada yang mengganggu kita lagi,” ucap Rangga kesal.

“Awww!” Rangga mengaduh setelah Maya mencubit punggungnya.

“Bisa nggak sih, nggak bahas ini terus. Lagian ini juga di kantor!”

“Bisa. Setelah kita melakukannya, aku janji tidak bahas ini lagi!” ujar Rangga seraya menyeringai.

“Udah punya Nathan, masih aja mesum!” sungut Maya.

“Justru itu, kita bikin adiknya Nathan, biar aku gak mesum terus sama kamu,” goda Rangga.

“Apa! Secepat itukah? Bahkan Nathan belum genap empat tahun, mas?” jawab Maya sedih.

“Bahkan aku ingin, Nathan punya empat adik. Dua perempuan dan dua laki-laki, bagaimana?” jawab Rangga seraya membalikkan badan lalu menatap Maya dengan wajah berbinar.

“Yeee…hamil aja sendiri!” tukas Maya kesal seraya menghentikan pijatannya, wajahnya ia palingkan ke arah Tivi.

Rangga mendekati istrinya yang sedang merasa kesal lalu dengan perlahan ia berbisik, “Aku hanya bercanda, sayang.” Bukannya menjawab, Maya justru menoleh sambil memicingkan mata.

“Aku hanya bercanda, kenapa wajah istriku jadi kesal begini?” protes Rangga seraya meraup wajah istrinya lalu menciuminya, gemas.

“Emmmmmm…masss…lepasinnn!” pekik Maya berusaha melepas kedua tangan suaminya.

******

Tok… tok… tok…

Keduanya tergaket,

“Masuk!” seru Rangga dari dalam ruangan.

“Permisi, pak. Apa tamunya sudah diperbolehlan masuk?” ucap sang sekretaris dari ambang pintu.

“Ya, mbak. Suruh mereka masuk!” jawab Maya selembut mungkin.

Rangga tampak manautkan kedua alisnya. Heran dengan sikap istrinya yang terlihat begitu santai mempersilahkan tamunya masuk ke ruangannya tanpa meminta ijinnya

“Memangnya kamu tau, siapa mereka?” tanya Rangga penasaran.

Alih-alih menyahut, Maya hanya menyunggingkan senyum. Rangga Kembali mengenakan jasnya, demi terlihat rapi didepan tamunya nanti.

“Assalamuallaikum…” ucap para tamu serentak seraya masuk kedalam ruangan.

Rangga dibuat melongo seketika setelah melihat kedatangan keluarga besarnya dari Yogya.

“Ka-Kalian…?” Rangga tergagap.

“Rangga apa kabar, sayang!” Seru wanita paruh baya yang kerap dipanggil mamah oleh Rangga. Ia menghambur kepelukan anak lelakinya.

“Alhamdulillah, mah. Kenapa kalian bisa ada disini semua? Kenapa tidak mengabari aku dulu? Aku kan bisa jemput kalian,” ucapnya dengan wajah masih terkejut.

Rangga menatap wajah istrinya, heran.
“Maya…?” Rangga memelototi istrinya yang sudah berhasil membuatnya bingung.

Maya hanya tersenyum seraya memberi kode kecupan melalui bibirnya pada sang suami.

“Kalian semua?” Rangga masih terperangah. Ia memeluk satu-satu tubuh mereka. Bapak dan Ibu mertuanya, Romi, kakaknya ‘Sarah’ , Stevi dan juga dua anggota baru di keluarganya. Adi dan bayi mungilnya.

Adi, lelaki yang dulu sempat Rangga jadikan saingannya kini justru menikah dengan kakaknya. Jodoh memang sangat misteri. Pertemuan mereka berawal dari seringnya dirinya, Maya dan Stevi makan di Cafe milik Adi. Mulai saat itulah, Stevi dan Adi sama-sama merasa punya chemistry satu sama lainnya. Keduanya sering bersama seperti anak dan ayahnya. Hingga akhirnya perasaan sayang itu muncul tak hanya pada Stevi, pada Sarah pun demikian. Awalnya Sarah menolak, karena statusnya yang seorang janda beranak satu itu akan membuat Adi merasa malu dan tidak percaya diri. Namun Adi tetap bersikukuh, bahwa dia memang benar-benar mencintai Sarah begitu pula ada putrinya yang sudah lebih dulu menerimanya. Akhirnya dua tahun lalu mereka pun menikah dan sekarang Sarah telah di karuniai seorang bayi laki-laki.

“Hai, bro…Apa kabar?” sapa Rangga pada Adi sambil menepuk bahu sahabat sekaligus kakak iparnya.

“Seperti yang kamu lihat. I am with my little prince and beautiful princess” jawab Adi bangga seraya menimang bayi laki-lakinya dan Stevi berada di sampingnya.

Sarah hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang berbinar. Begitu pun Maya yang terlihat mengulum senyum pada pasangan baru itu.

Semua orang yang ada di ruangan itu pun tertawa kecuali Nathan yang tiba-tiba meringik.

“Mamaaaaaaaah, jangan berisik!” teriak Nathan. “Aku masih mau bobo,” lanjutnya parau. Mereka pun kembali tertawa mendengar anak kecil itu meracau.

**********

Setelah hampir satu jam mereka bercengkrama. Akhirnya Rangga memutuskan untuk membawa mereka pulang ke kediamannya di pusat kota, tepatnya di Denpasar.

Dua mobil berjalan beriringan menuju rumah Rangga yang sudah ia beli satu tahun yang lalu. Lima belas menit bukanlah waktu yang lama untuk tiba di rumahnya. Sesampainya di depan rumah, mereka pun keluar dari mobilnya masing-masing.

Untuk sesaat mereka dibuat terpana dengan rumah itu. Rumah yang didesai modern namun tak mengurangi sisi seni adat Bali. Gapura besar bernuansa Bali berwarna coklat muda sebagai gerbang utama, lalu pintu rumah dengan ukiran khas Bali semakin menambah kesan istimewa pada rumah itu. Tempat parkir yang luas, muat untuk tiga mobil sekaligus. Taman kecil dengan kolam ikan serta gazebo yang berada tepat disisi kolam ikan, indah.

Mereka masuk ke rumah besar itu dengan pandangan memindai seolah kagum. Nathan terlihat berlari menuju ruang tivi diikuti Stevi sepupunya yang kini berusia enam tahun. Sedangkan yang lain mulai duduk di ruang keluarga. Mereka mulai berbincang satu dengan yang lainnya.

Lelah dan sangat gerah, Maya memilih masuk kedalam kamar untuk mengganti bajunya dengan yang lebih santai. Rangga pun mengikutinya dari belakang. Lelaki itu juga berniat mengganti kemejanya dengan kaus.

Setibanya didalam kamar, Maya mulai melepas bajunya dengan santai didepan suaminya. Tanpa ia sadari, lelaki itu menyeringai seraya memperhatikan aktivitas istrinya yang sedang mengganti bajunya dengan gamis juga jilbab yang senada. Belum selesai mengaitkan jilbabnya, suara bariton lelaki itu mengagetkannya.

“Kenapa cepat sekali ganti bajunya? Aku pikir kita olah raga sebentar, mumpung Nathan ada yang jaga,” ucap Rangga lirih dengan kedua tangannya memeluk tubuh Maya yang masih terlihat seksi itu.

Maya mendongak lalu memicingkan matanya.
“Memangnya tidak bisa, nunggu sampe nanti malam?”

Rangga menggeleng dengan mata terpejam, lalu kembali menatap wajah istrinya.

“Terus???” tanya Maya sambil memainkan kancing kemeja Rangga.

“Ya sekarang!” titah Rangga.

“Beneran sekarang?” tanya Maya lagi seolah tak percaya.

Rangga mengangguk mantap sedang Maya melongo seraya menelan salivanya. Rangga dengan cepat mengangkat tubuh Maya lalu membawanya ke ranjang dengan wajah berbinar.

*************

Pukul 4 sore, senja mulai terlihat dari arah barat. Semua lelaki di rumah itu terlihat asik saling berbincang sedangkan anak-anak tertidur pulas di ruang tivi. Maya, Sarah dan ibu mereka pun sibuk memasak untuk acara makan malam. Maklum, di kota Denpasar akan sulit ditemukan makanan yang halal dan sesuai dilidah mereka. Itulah alasannya mereka lebih memilih memasak untuk acara makan malamnya nanti.

Empat wanita cantik itu kini berada di dapur yang berukuran lima kali lima meter. Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak. Mulai dari sayur-sayuran, ayam segar dan juga ikan segar.

Sarah dan mamahnya dengan terampil mulai memotong-motong sayurannya, dari wortel, buncis dan juga kol untuk membuat Sup. Setelah selsesai, ia pun mencuci sayuran itu.

Sedangkan Maya dan ibunya mulai membuat bumbu untuk ayam dan ikan gorengnya. Setelah bumbu selesai dibuat serta bahan-bahan selesai di cuci, Maya pun menyiapkan teflon dan minyak goreng untuk menggoreng ayam yang sudah dibumbui itu.

Setelah semua masakan matang, Maya dan Sarah pun membawa hidangannya ke meja makan. Semua orang tengah duduk di meja makan bersama-sama. Namun, tanpa diduga, setelah Maya meletakkan satu hidangan terakhir di meja itu, tiba-tiba kepalanya pusing dan ia pun jatuh pingsan.

Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat panik, tak terkecuali Rangga. Ia beranjak dari kursi lalu segera meraih tubuh sang istri dan membawanya ke kamar.

“May. Bangun, May?” llirih Rangga seraya menepuk-nepuk pipinnya yang mulai pucat.

Tidak menunggu lama, akhirnya dokter pribadi pun datang, dengan cepat dokter itu memeriksa tubuh Maya yang kian melemah.

Maya terlihat mengerjapkan matanya, ia tersadar. Ia menghela nafas lalu matanya memindai ke semua sisi. Banyak orang tengah berdiri mengelilinginya, juga suaminya yang sedang duduk di sampingnya.

Setelah selesai memeriksa, selang beberapa detik, dokter pun mulai bicara. “Maaf, kalau boleh tau, kapan terakhir ibu Maya menstruasi?”

Maya dan Rangga saling berpandangan. Tanpa sadar Maya meneteskan air mata, ia baru sadar bahwa harusnya tiga minggu lalu sudah waktunya ia menstruasi.

“Kamu hamil?” tanya Rangga dengan wajah berbinar.

Dengan senyum juga derai air mata, Maya pun mengangguk.

Keduanya berpelukan diringi ucapan selamat dari seluruh keluarga.

“Mamah, Nathan juga ingin di peluk….” lirih Nathan dari sisi ranjang. Maya pun melepas pelukan suaminya lalu meraih tubuh mungil itu kedalam dekapan.

💖💖💖💖💖💖 TAMAT 💖💖💖💖💖💖

Baca dari awal

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here