Jodoh Itu Misteri #28

0
523
views

Warna kebiruan terpancar begitu indah di langit Yogyakarta siang itu. Hawa panas juga sumpek yang biasa Maya rasakan setiap harinya seolah tak dapat Maya rasakan lagi. Mungkinkah hatinya sedang bahagia, harinya begitu sibuk mempersiapkan segala urusan pernikahannya yang hanya tinggal satu hari lagi.
Surat pengunduran diri pun sudah Ia kirim pagi harinya ke hotel dimana ia bekerja. Bertubi-tubi pesan dari Rina dan Afif rekan sekantornya seolah membuat notif di ponselnya jebol. Bunyi terus menerus, menanyakan, kenapa mengundurkan diri? kok bisa? Hingga pesan terakhir mereka yang terakhir membuat Maya tertawa tiada habisnya.
[Kamu jahhhhaaaaaaaaaaattttt, aku barusan lihat undangan dari pak Bos, ternyata kamu sudah tunangan dengan dia? Dan besok akan menikah? Gilaaaaaaaaaaaaaaaa?????? Kenapa tidak memberitahuku? Kamu bener-bener jahaaaaaatttt.] pesan Rina.
Maya pun membalasnya.
[Maaf sayangku, aku juga tidak tau akan secepat ini pak Rangga mengajakku menikah. Sekali lagi maafkan aku. Jangan lupa datang ya.]
[Nanti malam aku datang, jangan kemana-mana. Kamu harus cerita semuaaaa. HARUS]
[wkwkwkwkkwkw, siap, Rin] balas Maya.
Maya mengulum senyum. Ia menatap layar ponselnya. Lalu sepasang matanya melihat sebuah pesan masuk dari seseorang yang selama ini sudah sangat dekat, Adi.
[Selamat, May. Akhirnya kamu menemukan separuh jiwamu. Salut pada laki-laki itu. Perjuangannya sangat luar biasa untuk mendapatkanmu. Semoga kalian bahagia selalu.]
Tanpa Maya sadari, bulir bening itu menetes di pipinya.
[Terimakasih, mas. Semoga mas Adi pun segera menemukan separuh jiwanya, aamiin.] balas Maya.
“May, baju yang ini sepertinya cocok? Coba kamu pakai yang ini?” suara calon kakak iparnya, Sarah, seakan mengagetkan keheningannya sesaat.
Maya pun segera menyeka bulir bening itu. “Baik mba.”
Setelah hampir dua jam memilah dan memilih gaun pengantin yang sudah ia pakai, akhirnya Maya menjatuhkan pilihannya pada gaun yang ke tujuh. Dan itu pun mendapat dua jempol dari sang calon kakak ipar.
Ponsel Maya berdering. Tidak hanya sekali dua kali, Rangga menelpon terus menerus. Bahkan hampir setengah jam sekali lelaki itu selalu menghubunginya. Rangga dibuat gelimpungan setelah dilarang bertemu dengan Maya sampai acara akad benar-benar sudah dilaksanakan.
Maya meneyeringai melihat kelakuan tunangannya itu. Sesekali ia dan Sarah pun mengerjainya, keduanya sama-sama tidak menjawab telpon dari Rangga. Mereka pun tertawa bersamaan. Kompak.

******

Sementara di tempat lain, Rangga yang masih meeting di kantornya pun merasa gusar. Pemaparan kerja sama dengan klien pun ia abaikan demi menunggu pesan dari Maya.
“Kenapa mereka tidak membalas pesanku? Jangankan Maya, mbak Sarah pun ikut-ikutan diam. Awas kalian ya!” gumam Rangga di sela-sela meetingnya. Ia pun meletakkan ponselnya di meja dengan wajah kesal.
Pukul empat sore, meeting berakhir dengan hasil kerjasama yang menurutnya akan sangat menguntungkan masa depan hotelnya dan beberapa cabang ditempat lainnya.
Rangga pun meninggalkan ruang meeting lalu menuju ke ruangannya. Didepan ruangannya, sang sekretaris sudah berdiri disana.
“Bagaimana persiapan dekorasi, penginapan dan semuanya? Apakah lancar?” tanya rangga pada sekretarisnya.
“Sudah, pak. Hampir 90 persen, mungkin malam nanti sudah selesai semua, pak.” jawab sang sekretaris dengan tegas. Hampir lima tahun wanita itu sangat dipercaya oleh Rangga hingga ia menikah pun masih Rangga percaya untuk menjadi orang kepercayaannya. “Saya ucapkan selamat ya, pak, atas pernikahannya. Saya turut bahagia, bapak bisa menikah dengan mbak Maya. Selain cantik, dia juga wanita yang baik.” ucap sang sekretaris seraya menyunggingkan senyum.
Rangga terlihat berbinar, ia pun mengangguk. “Terimakasih. Terimakasih juga untuk kerja kerasmu.”
“Baik, pak. Saya permisi dulu.”
Setelah kepergian sekretarisnya, Rangga memasuki ruangannya. Ia duduk lalu merogoh ponselnya yang ia simpan di saku jasnya. Ia kembali menghubungi Maya. Naas, wanita itu tidak dapat dihubungi. Rangga pun segera menghubungi Sarah, kakaknya, namun nihil. Keduanya tidak dapat ia hubungi. “Ada apa dengan mereka?” gumam Rangga panik.
Tak kehabisan akal, Rangga akhirnya menghubungi perancang busana yang beberapa jam lalu mereka sambangi. Setelah terhubung, hati Rangga semakin panik. Salah satu kariyawannya mengatakan bahwa mereka sudah keluar satu jam yang lalu. “Apa mungkin baterai ponsel mereka habis dua duanya. Sepertinya tidak mungkin.” batin Rangga.
Tanpa lama, Rangga keluar dari ruangannya lalu meminta OB untuk mengambil mobilnya. Setelah mobil siap, sedan sport hitam itu pun meluncur begitu cepat. Perasaannya benar-benar khawatir, wajahnya gusar, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia takut sesuatu telah terjadi pada mereka. Tidak ada satupun yang dapat ia hubungi sama sekali.
Sesampainya ditengah-tengah perjalanan, mobilnya terjebak. Terdapat kemacetan yang begitu panjang. Tak seperti biasanya, hatinya semakin cemas. Ia pun menurunkan kaca mobilnya lalu bertanya pada seseorang yang melintas. “Pak, kenapa macet? Ada apa?” tanya Rangga sedikit bergetar.
“Oh itu pak, ada kecelakaan, dua mobil rusak parah.”
“Benarkah?”
Rangga semakin kalut. Dengan wajah panik, juga hati yang berkecamuk, ia pun memutuskan keluar dari mobil untuk melihat kecelakaan itu. Jantungnya berdetak hebat, takut mungkin saja sesuatu terjadi pada Maya dan kakaknya.
Jalanan begitu penuh dengan kerumunan orang, motor dan mobil yang mendadak berhenti akibat kecelakaan itu. Ia kepayahan agar bisa sampai di tempat kejadian.
Setelah tiba di tempat kejadian, tubuh Rangga seketika terperosot ke aspal, ia tersungkur setelah melihat mobil yang sangat ia kenal itu hancur tak berbentuk. Jantungnya seolah berhenti berdetak, kedua matanya mulai mengeluarkan bulir hangat hingga ia berteriak bak kesetanan.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”
Bagaikan disambar petir. Tubuhnya pun kaku melihat seonggok mobil yang rusak parah disertai darah yang tercecer di jalanan. Dengan sekuat tenaga ia bangkit hendak mendekat pada mobil itu seraya menahan sesak didada yang luar biasa menyiksanya, namun tubuhnya tiba-tiba dihalau oleh beberapa orang yang berada di tempat kejadian.
“Jangan, pak. Itu tangkinya terbuka, takut meledak.”
“Tahan, pak, sabar.” Dengan kuat orang-orang itu pun menarik tubuh Rangga ke tepi jalan demi menghindari ledakan yang bisa saja terjadi saat itu juga.
Rangga memberontak namun kaki dan tubuhnya seolah tak punya tenaga lagi. Ia pun kembali tersungkur diatas aspal mengabaikan pandangan orang-orang yang terlihat iba padanya. Ia terisak, tubuhnya bergetar hebat. Separuh hatinya seolah terlepas saat itu juga. Kesedihan yang begitu mendalam kini sedang ia rasakan.
Setelah terdiam beberapa saat, lagi, Rangga bangkit demi melihat jasad mereka? Dengan sekuat tenaga ia pun menghempaskan orang-orang yang menahan dirinya. Ia memukul juga menendang orang-orang yang berusaha mengahalanginya, hingga ia berhasil masuk ke tempat kejadian. Wajahnya begitu kacau, hatinya sangat terpukul melihat kendaraannya yang begitu rusak parah lalu bagaimana dengan oranganya? Tak dapat ia bayangkan, seperti apa keadaan wanitanya juga kakaknya didalam sana.
“Ya Allah…kenapa harus seperti ini? Kenapa Kau ambil diaaaaa….????” teriak Rangga. Ia kembali terjatuh, wajahnya tertunduk menatap pilu kondisi didepannya itu. Ia tidak memperdulikan teriakan orang-orang disekitarnya yang menyuruhnya pergi. Hingga satu tepukan lembut dibahunya tak ia indahkan.
“Sayang….?”
Rangga seolah mengenali suara lembutnya itu. Jantungnya berdetak semakin tak karuan. Nafasnya tersendat-sendat, cepat ia menoleh pada seseorang yang tengah berdiri dibelakangnya. Wajah cantik itu kembali dapat ia lihat. Tanpa menunggu lama, Rangga pun langsung memeluk dengan sangat erat wanita didepannya itu. Wanita yang ia kira sudah tidak bisa ia jumpai lagi, separuh jiwanya yang ia pikir sudah tiada. Ia terus menciumi wanita itu bertubi-tubi, darah yang keluar di area pipi dan dahinya pun ia usap dengan bibirnya. Ia memandang lekat wanita itu lalu kembali memeluknya dengan begitu kuat hingga terasa sesak.
“Aku tidak mau kehilangan kamu, aku tidak sanggup, May.” lirih Rangga di bahu wanita itu.
Tubuh Maya lemah, wanita itu pun akhirnya limbung dan jatuh di pelukan Rangga. Rangga menatapnya, ” May? May?” ia mengguncang-guncangkan tubuh wanita itu. Ia pun kembali panik. Cepat ia membopong tubuh wanita itu, lalu dengan bantuan orang-orang sekitar ia membawanya ke rumah sakit.

******

Sesampainya dirumah sakit, Maya segera ditangani oleh beberapa perawat lalu ditempatkan diruang VVIP, Rangga kembali panik. “Ada apa dengannya? Mobilnya sangat ringsek tapi Maya masih hidup, bagaimana dengan mbak Sarah? Ya Allah selamatkanlah mereka,” doanya dalam hati.
Sambil menunggu Maya sadarkan diri, ponsel Rangga tiba-tiba berdering.
“Ya, halo?” ucap Rangga.
“Dengan bapak Rangga Winata?”
“Ya, saya sendiri.”
“Maaf, pak. Saya mau menyampaikan kabar bahwa saudara anda yang bernama Sarah sekarang sedang dirawat di rumah sakit Jogja”
“Alhamdulillah, terimakasih, pak atas informasinya.”
“Sama-sama, pak”
Rangga mengehela nafas lega. Ia merasa menjadi manusia yang sangat beruntung hari ini. Orang-orang yang ia sayangi selamat dari kecelakaan itu. Berkali-kali ia mengucap syukur pada Allah. Entah bagaimana jadinya jika dia benar-benar kehilangan Maya. Ia menunduk lalu mengehembuskan nafas perlahan. Setelah merasa tenang, ia kembali ke ruangan dimana Maya terbaring.
Rangga duduk disisi kiri wanita itu, ia terus memandangi wajah itu penuh sayang, rambutnya, dahinya juga pipinya masih menyisakan darah kering. Tak ada luka yang berarti. Rangga tak mengalihkan pandangannya kesisi lain. Hingga akhirnya sang dokter pun masuk ke ruangannya.
“Maaf, pak Rangga. Saya mengganggu sebentar.”
“Baik, silahkan. Ada sesuatu pentingkah yang ingin anda sampaikan?”
“Betul, pak. Mbak Maya ini mengalami benturan keras di kepalanya, sehingga menimbulkan trauma berat dan menyebabkan tubuhnya pingsan. Tapi sejauh yang saya amati, berdasarkan CT Scan beberapa jam lalu, hasilnya negatif. Mbak Maya baik-baik saja. Mungkin hanya trauma dan takut yang berlebihan dan tak mampu menahan dirinya, itulah sebabnya mbak Maya tiba-tiba pingsan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, pak dan saya permisi dulu.”
“Baik, dok. Terimakasih sekali atas informasinya.” Rangga berdiri seraya menganggukan tubuhnya seolah kebahagiaan sedang benar-benar ia rasakan.
Setelah kepergian sang dokter. Rangga pun duduk sambil terus mengamati Maya. Sesekali lelaki itu terlihat menyeringai kecil, melihat wajah wanita yang kini terbaring lemas didepannya.
“Kenapa tidak menjawab teleponku? Awas saja kalau kamu mengulangi lagi? Aku tidak akan memaafkanmu,” gumam Rangga kesal.
Tanpa Rangga sadari, jemari Maya mulai bergerak. Lampu yang temaram membuat Rangga tidak bisa melihat hal itu. Hingga kedua mata Maya mengerjap perlahan dan disambut oleh tatapan Rangga di keremangan. Rangga menyeringai diikuti tetesan air mata di pipinya. Wanita itu pun menyeringai kecil melihat Rangga menangis.
“Baju pengantinnya sangat cantik, kita jadi menikah besok kan, sayang?” lirih dan begitu terbata Maya mengucapkan itu.
Rangga tersenyum, air matanya ia seka dengan punggung tangannya. Dengan perlahan ia mengangguk lalu mengecup kening wanita itu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here