Jodoh Itu Misteri #27

0
1366
views

“Sangat mengagumkan!” satu kalimat keluar dari bibir Rangga dan berhasil membuat seisi rumah itu terbahak.

Maya menggigit bibir bawahnya, malu. Seraya menatap Rangga dengan mata memicing. Sementara Rangga justru tersenyum puas. Wanita itu menunduk. Ia berusaha terus menghindari tatapan Rangga yang tak pernah lepas dari memandangnya hingga ia terlihat salah tingkah.

“Sebelumnya kami minta maaf atas kedatangan kami yang sangat mendadak ini. Jujur, putra saya ini sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menikahi putri bapak. Saya sebagai orang tua Rangga hanya bisa memberi dukungan saja. Insyaa Allah, mereka semua sudah dewasa, jadi saya menyerahkan semua keputusannya pada Rangga dan dik Maya.” Semua nampak hikmat mendengarkan penuturan ibunya Rangga.

Sang tuan rumah menghela nafas, seakan hendak menyampaikan sesuatu.
“Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada keluarga nak Rangga. Jujur, kami sekeluarga memang merasa kaget atas kabar pertunangan yang sangat mendadak ini. Seperti yang anda lihat, rumah kami kecil, kami tentu tidak sepadan dengan keluarga nak Rangga. Apabila nak Rangga menerima dengan logowo keadaan keluarga ini, kami sangat berterima kasih sekali. Semoga niat baik nak Rangga juga keluarga mendapat pahala yang berlimpah dari Allah. Untuk keputusannya, kami sekeluarga juga menyerahkan semua itu pada mereka. Toh mereka nantinya juga yang akan menjalani hubungan itu. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan menasehati apabila dibutuhkan, mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan.”

Mereka tersenyum seolah acara yang belum usai itu berjalan begitu hikmat. Sementara Rangha masih bergeming, menikmati pemandangan ayu didepannya. Keduanya terlihat saling melempar senyum. Raut wajah Maya yang putih pun kini terlihat bersemu merah.

“Bagaimana dek Maya? Apakah dik Maya bersedia menjadi tunangan Rangga, putra ibu ini?”

Maya sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh calon mertuanya itu. Ia menoleh lalu memberi senyuman padanya. Ia menunduk, diam, mengigit bibirnya juga memainkan ujung jilbabnya. Semua orang yang duduk disitu pun merasa tegang tak terkecuali Rangga, ia pun turut menunggu jawaban Maya. Satu detik, dua detik, tiga detik ia mengehela nafas lalu mengedarkan pandanganya pada semua orang yang duduk dengan wajah-wajah yang tegang. Hingga akhirnya Maya pun mengangangguk. Semua orang nampak menghela nafas bersamaan, lega. Akhirnya lamaran lelaki itu diterima. Wajah Rangga pun berbinar, seolah kebahagiaan yang sebenarnya kini sudah ada di depan mata.

“Nak Maya, apa ada permintaan khusus pada Rangga sebelum acara akad dilangsungkan?” Wanita paruh baya yang mendapat sebutan mamah oleh Rangga itu bertanya.

Maya hanya menggeleng sembari tersenyum. Tidak ada yang ia inginkan kecuali keseriusan lelaki itu dalam menjalani hubungan dengan dirinya. Dan itu dapat Maya lihat dari sikap dan perlakuan Rangga serta keluarga besarnya yang dengan baik hati menerima dirinya juga keluarganya.

“Baiklah, sekarang waktunya Rangga menyematkan cincin pertunangan juga menyerahkan semua hadiah yang sudah kamu bawa tadi,” titah sang mamah pada Rangga.

Akhirnya Rangga melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Maya sedang berdiri. Ia pun mengeluarkan cincin dari saku celananya.

Maya terlihat bingung, wanita itu sedikit berjinjit lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Rangga, kemudian berbisik, “Memangnya cincin itu pas, di jari manisku, pak? Kapan bapak punya waktu untuk membelinya? Bagaimana dengan ukurannya?” tanya Maya penasaran seraya melihat kearah jemarinya yang sedang diraih oleh lelaki didepannya. “Bagaimana jika cincinnya sesak bahkan mungkin kebesaran?” imbuh Maya, wajahnyabmulai gusar.

“Tenang, May, pilihanku sudah sangat tepat. Kamu juga tau kan, selain IQku diatas-rata, aku juga lulusan luar negeri.” lirih Rangga ditelinga Maya.

“Lalu apa hubungannya dengan cincin ini, pak? ” tanya Maya tak kalah lirih bahkan menjadi perhatian orang-orang yang duduk disekeliling mereka.

“Tidak ada!” ucap Rangga sambil matanya menatap mata Maya tajam. Maya hanya terkikik. “Dasar, suasana begini masih saja bercanda!” sungut Maya sambil merasakan jarinya disematkan sebuah cincin berlapiskan intan permata.

“Kamu lihat cincinnya. Pas, kan?”

Maya melirik jari manisnya lalu mengulum senyum, hatinya merasa bahagia karena tidak sempat terjadi insiden memalukan, cincin sesak atau kelonggaran, namun dalam hati Maya tetap merasa tidak habis pikir. Bagaimana bisa lelaki itu mendapat ukuran cincin yang sangat pas di jari manisnya? Dan dalam acara sesakral itu pun lelaki itu masih sanggup menggodanya.

Setelah menyematkan cincin di jari manis Maya, ia pun mengambil satu buket bunga diatas meja dan satu kotak perhiasan lengkap, lalu menyerahkannya pada wanita didepannya.

“Alhamdulillah….” Semua terlihat kompak mengucapkan kata itu, sedang Rangga dan Maya saling bersitatap dan melempar senyum lalu duduk secara bersamaan.

“Baiklah, acara penyematan cincin sudah selesai, sekarang waktunya menikmati hidangannya. Mari silahkan pak, bu, nak Rangga,” pinta bapak Maya pada semua tamu.

Didalam ruangan yang tak begitu besar itu, semua orang nampak bahagia. Makan dan minum juga mengobrol satu dengan yang lainnya. Sedang Maya dan Rangga tengah duduk terpisah. Mereka berada di ruang TV dan duduk saling berhadap-hadapan membuat Maya tak kuasa menatap wajah tampan itu terlalu lama. Rangga mengulum senyum melihat tingkah Maya yang kini terlihat kikuk namun tak mengurangi keangguannnya.

“May, kenapa kamu memakai hijab?” tanya Rangga sambil meraih satu tangan Maya.

“Apa terlihat jelek, pak?” Maya balik bertanya seraya membenarkan ujung jilbabnya.

“Bukan sayang, bukan itu. Justru aku berharap kamu akan selamanya mengenakan pakaian tertutup seperti itu.” jawab Rangga meyakinkan.

Kini wajah Maya mulai bersemu merah, Ia menghela nafas, terdiam sesaat, merasakan getaran direlung hatinya yang membuncah seraya memandang wajah lelaki yang sekarang sudah berubah status menjadi tunangannya itu.

“Nanti malam aku akan ajak kamu ke suatu tempat. Aku yakin kamu akan senang disana.”

“Benarkah? Bapak tidak akan menculikku lalu membawaku kerumah bapak seperti sebelum-sebelumnya, kan?”

Rangga menyeringai lalu menghembuskan nafas pelan. “Sekarang aku tidak berani menggodamu, May. Hasrat mesumku seperti sirna setelah melihatmu berbalut hijab. Bahkan rasa sayang ini justru semakin bertambah setelah ini. Maafkan aku, mungkin aku sudah berbuat yang tidak pantas padamu selama ini.”

Maya menunduk sebelum akhirnya kedua matanya menatap wajah lelaki itu dengan anggukan juga senyuman seolah memaafkan semua sikap lelaki itu selama ini.

“Terimakasih,” Sorot mata Rangga berbinar. Masih belum percaya kini wanita di depannya telah resmi menjadi tunangannya.

“May, boleh aku bertanya?”

Maya mengangguk tanpa bersuara.

“Ehm…kapan kamu siap menikah denganku? Apa lusa nanti menurutmu terlalu cepat?” tanya Rangga yang tak mau mengalihkan pandanganya kecuali pada wanita itu.

Maya tertawa kecil, hingga satu tangan Rangga reflek menutup mulut yang merekah itu, tak enak bila saja terdengar oleh keluarganya. Cepat Maya menghentikan tawanya, lalu memandang lekat wajah Rangga.

“Apa yang membuat bapak ingin segera menikah? Biasanya, orang-orang melakukan pernikahan setelah satu tahun mereka bertunangan,” jelas Maya.

“Jangankan satu tahun, May. Satu minggu saja sepertinya aku sudah tidak kuat.” jawab Rangga.

Maya kembali terkikik. “Kenapa buru-buru sekali, pak? Bukankah kita harus mempersiapkan segala keperluan pernikahan?”

“Memangnya apa saja? Semua kebutuhan kamu dan keluarga kamu biar aku yang menanggung semuanya. Kamu tidak perlu repot-repot mengurusi semua itu, May. Undangan dan gedung pernikahan, aku bisa pastikan siap tepat waktu.” tutur Rangga.

“Pak, aku menghormati bapak dengan segala yang bapak miliki. Tapi akan lebih baik jika orang tua tetap harus kita mintai pendapat. Mungkin saja mereka punya pertimbangan-pertimbangan khusus lainnya,” jelas Maya.

Rangga menggigit bibirnya lalu mengangguk-angguk sambil menghela nafas, “Baiklah, sepertinya kamu benar.” ujar Rangga seraya mengendurkan kerah bajunya ke belakang. Dan pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Maya.

“Apa bapak gerah? Bapak bisa pake kamarku dan menggunakan AC. Atau mau aku ambilkan kipas angin?”

“Enggak, nggak usah, kamu duduk saja. Aku gerah karena grogi melihat kamu secantik ini, May.” rayu Rangga seraya menyugar rambut yang ia sisir kebelakang.

“Oya?” Maya menyeringai. “Rambutnya kenapa disisir kebelakang, pak, nggak biasanya begitu?” tanya Maya sambil memindai model rambut lelaki didepannya.

“Apa terlihat kacau?”

“Bukan. Bapak terlihat berbeda hari ini. Lebih terlihat dewasa daripada sebelum-sebelumnya.” jawab Maya.

“Apa sebelumnya aku terlihat kekanak-kanakan?” Satu alis Rangga terangkat.

Lagi Maya terkikik. “Sebelumnya, bapak itu terlihat nakal.”

“Apa! Kenapa bisa begitu?” tanya Rangga tak percaya.

“Nakal, karena hobi sekali memaksaku juga menciumku.”

“Itu karena aku terlalu gemas sama kamu, May.”

“Lalu apa sekarang kegemasanku sudah mulai berkurang buatmu?”

Rangga menggeleng. “Bahkan semakin bertambah. Itulah alasannya kenapa aku ingin segera menikahimu.” Maya mengulum senyum. Wajahnya semakin tersipu malu. “Baiklah, kita menikah lusa, ya?” pintanya memaksa seraya beranjak dari kursi.

Maya terperanjat mendengar ucapan Rangga yang tiba-tiba itu. Ia pun berjalan menyusul Rangga. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti setelah melihat lelaki itu sedang berbicara serius dengan Bapaknya di teras.

“Apa yang sedang mereka bicarakan? Pernikahan lusa nantikah? Apakah secepat itu? ” gumam Maya dalam hati. Ia terdiam sampai pada akhirnya panggilan dengan suara yang menggemaskan itu membuyarkan lamunannya.

“Tante….ayo main sama aku!” pinta Stevi seraya menarik-narik ujung hijab Maya. Maya pun menoleh lalu meraup pipi chubynya itu. “Iya sayang, ayuk kita main.” ajak Maya.

Di ruang tamu, dua wanita paruh baya dan Sarah terlihat sedang asik mengobrol. Sedang keluarganya yang lain nampak sedang menyantap berbagai makanan yang tersaji di meja.

*******

Pukul 12 siang, seluruh keluarga Rangga pamit yang tersisa hanya meja berisikan piring dengan sajian yang sudah hampir habis, kursi yang tak beraturan juga lantai yang juga kotor.

Maya masuk kedalam kamarnya. Ia terperangah setelah melihat berbagai bingkisan dengan sampul berbagai warna memenuhi ranjangnya.

“Sebanyak inikah? Oya, apa yang bapak bicarakan tadi dengan pak Rangga? Kenapa dia tidak memberitahuku?” gumam Maya.

Maya duduk ditepian ranjang sambil melihat semua bingkisan yang masih rapi tak tersentuh itu.

Drrrrttttt…. Ddrrrrrtttt….

Ponselnya bergetar. Pandangannya ia alihkan pada benda pipih yang tergeletak di nakas. Ia bangkit lalu mengambilnya. Satu pesan masuk telah di kirim oleh lelaki yang kini berstatus tunangannya itu.

[Bapak bersedia kita menikah lusa nanti. Maaf tidak memberitahumu. Karena aku yakin, pasti kamu akan menolak menikah secepat itu. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dalam hidupku. Yakinlah, aku hanya ingin membuatmu bahagia beserta anak-anak kita nantinya. 💓]

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here