Jodoh Itu Misteri #22

0
912
views

Berendam di bathup dengan air hangat di kamar mandi yang bernuansa serba putih itu benar-benar membuat tubuh Maya rileks. Selama beberapa menit ia terus mengulum senyum. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya setelah mendengar pengakuan dari lelaki yang kini berada satu atap dengannya. Meskipun begitu, ia tetap mengunci kamar itu. Demi menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan.

Setelah selesai mandi juga mencuci rambutnya ia berjalan perlahan menuruni tangga dengan balutan jas dan rok hitam bermote keemasan sebatas lutut.

“Pak, bajunya terlalu ketat. Apa tidak ada baju yang lain lagi?” Rangga menoleh pada Maya yang terlihat bingung. Ia sedikit membuka jasnya dan meperlihatkan tubuhnya dengan balutan kaus. Nampaknya tidak nyaman.

“Aku pikir itu yang paling cukup di badanmu, ternyata masih sesak juga? Bajunya yang terlalu kecil atau badanmu yang terlalu berisi sih?” ucap Rangga setengah meledek sambil mengamati kaus Maya pakai dari kakan dan ke kiri.

“Bapak ngatain aku gendut?” ucap Maya tak terima. Bibirnya kini manyun seperti bebek.

“Bukan sayang, mungkin badan mbak Sarah yang terlalu kurus. Kalau tubuh kamu gendut, tidak mungkin pak Bima menyukaimu dan berkata sexy didepanku?”

“Tapi kenapa bapak masih mau kerjasama dengan pak Bima?”

“Dia sebenarnya baik. Hanya saja bicaranya yang selalu ceplas ceplos.”

“Terus aku gimana? Bajuku basah. Memangnya tidak ada baju yang lainnya?” tanya Maya dengan mimik yang menggemaskan.

“Kamu pakai jaketku saja. Di lemari ada banyak jaket.”

Maya berlari menuju kamar lalu mengambil salah satu jaket yang tertata rapi di lemari. Ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Dengan bebas ia masuk kekamar bosnya tanpa larangan sedikitpun. Setelah membuka lemari dan melihat tumpukan jaket warna-warni, namun lebih dominasi warna hitam,merah, dan biru. Ia dibuat terperangah “Apa ini yang dimaksud orang kaya? Ish. Dasar. Padahal aku tidak pernah melihat dia memakai jaket. Tapi kenapa jaketnya sebanyak ini?”

Satu menit kemudian ia keluar dengan mengenakan jaket berwarna merah dengan satu tangan membawa tasnya dan satu tangan lainnya menenteng kantong kresek. Serta rambut yang tadi terlilit handuk pun, kini tergerai bebas di bahu dan punggungnya. Cantik. Semakin membuat Rangga tak berkedip melihat wanita yang sudah berdiri didepannya.

Merasa ada yang aneh dengan bawaan Maya, akhirnya Rangga bertanya.
“Kantong itu isinya apa?”

“Baju basah.” Dengan polos Maya menjawab.

Rangga terkekeh. “Sayang, kamu taruh saja di keranjang. Biar asistenku yang mencucinya. Aku yang akan membawanya ke kantor besok pagi.

“Tapi kan….” Belum selesai bicara Rangga sudah mencium bibir Maya yang merekah alami tanpa pewarna itu.

“Sekali-kali kamu libur mencuci, sayang. Gak papa kan?” ucap Rangga seraya meraih kantong yang berisikan baju basah itu. Maya pun terdiam seperti tak bisa berkata apa-apa. Bibirnya mendadak kelu. Ia pun menurutinya. Ciuman tadi benar-benar membuatnya sesak hingga bicarapun tak bisa ia lakukan.

Akhirnya mereka keluar menuju garasi lalu masuk ke mobil bersama. Waktu menujukkan pukul lima sore jalalan yang biasa ramai dan padat, saat itu nampak lengang. Di luar hujan kembali turun lebih deras lagi. Hawanya pun begitu dingin. Rangga melihat Maya seperti kedinginan meski tubuhnya sudah berbalut jaket tebal. Lelaki itu pun menurunkan suhu pendingin di mobilnya.

“Kenapa bapak tinggal sendiri di rumah sebesar itu? Bahkan rumahku saja hanya seluas ruang tamu dan teras rumah itu. Apa bapak tidak merasa kesepian?” Pandangan Maya kali ini tertuju pada Rangga yang tengah fokus mengemudi.

“Kamu mau, tinggal bersamaku?”

“Kenapa harus aku?” jawab Maya polos.

“Karena cuma kamu wanita satu-satunya yang kuperbolehkan masuk dikamarku. Itu artinya kamu istimewa buatku.”

“Memangnya aku percaya?”

“Hemh!” Rangga mendengkus kesal, “Kamu pun tidak akan percaya kalau aku benar-benar menginginkanmu jadi istriku. Tapi kamu justru percaya bahwa aku sudah tidur dengan banyak wanita, iya kan?” celoteh Rangga tanpa titik koma sambil pandangannya fokus mengemudi.

Tak bisa Maya pungkiri bahwa didadanya kini ada debaran hebat mengguncang tubuhnya setelah mendengar ucapan lelaki yang duduk di sampingnya itu. “Memangnya aku siapa? Hubungan kita saja tidak jelas. Hari ini nyambung, besoknya putus dan begitu-begitu terus. Lagian, maksud bapak apa, mengirim pesan seperti tadi sore? Untuk apa aku menunggu bapak? Jelas-jelas bapak sudah bertunangan dengan wanita lain. Kira-kira apa aku pantas menunggu bapak?” Rentetan pertanyaan dari Maya membuat lelaki itu menoleh, memicingkan mata lalu menyunggingkan senyum, gemas.

“Suatu hari pasti kamu akan tau alasannya. Dan bisa nggak sih kamu panggil aku sayang, mas atau apa gitu? Asal jangan bapak,” pinta Rangga sedikit nyolot.

“Aku sudah terlajur suka dengan panggilan itu. Jadi bapak jangan memaksaku.” jawab Maya tak kalah nyolot.

“Terus, aku harus panggil kamu bu, begitu? Bu Rangga, atau Nyonya Rangga, kira-kira mana yang lebih bagus?” Keduanya terkekeh. “Ayolah, May. Dimana-mana kamu selalu memanggilku bapak. Apalagi sedang berkencan. Kan aneh!”

“Udah. Ga usah protes. Mulutku dah nyaman panggil bapak dengan sebutan itu!” sungut Maya.

“Ehmm….Baiklah. Tapi jangan nyesel kalau suatu saat aku memaksamu memanggilku dengan sebutan, papah.”

Maya memicingkan mata lalu tertawa kecil. “Papah? Enak saja. Bapak nikahi aku dulu, baru aku mau memanggil bapak dengan sebutan papah. Begitu baru adil.”

Rangga pun terbahak. “Baiklah, tunggu aku beberapa hari lagi. Aku pastikan kamu akan memanggilku, papah.” ucap Rangga percaya diri seraya mengusap rambut Maya yang mulai mengering usai keramas tadi.

Sepuluh menit berlalu, Rangga menepikan mobilnya didepan kedai roti.

“Mau ngapain?” tanya Maya.

“Nambal ban! Ya beli roti dong sayang. Masa iya datang ke rumah calon mertua dengan tangan kosong?”

Maya pun terkikik. Ia hanya duduk didalam mobil tanpa ikut masuk. Nampak ia menyungingkan senyum melihat tingkah laku bosnya yang begitu perhatian itu.

Lima menit berlalu, Rangga keluar dari kedai itu dengan membawa dua kantung yang cukup besar. Ia masuk dan meletakkan dua kantong itu ke kursi belakang.

Drrrrtttt…..Drrrrrrtttt….

Ponsel Rangga bergetar berkali-kali, sepertinya ada panggilan masuk. Sebelum melanjutkan perjalanannya, ia segera mengambil ponsel yang ia letakkan di samping kemudi lalu mengangkatnya.

{Ya, Vin}

Wajah Maya mendadak berubah masam. Merasa sudah diingatkan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dari lelaki yang kini sedang mengantarnya pulang. Ia palingkan wajahnya kesisi kaca lalu menghembuskan nafasnya, pelan.

Beberapa detik kemudian tangan lelaki itu menyusup disela-sela jari Maya. Begitu hangat. Lalu diremasnya jemari Maya yang lentik itu sambil satu tangannya memegang ponsel dan bercakap-cakap. Maya menatap dengan tatapan aneh. Bingung. Apa maksud dari sikapnya yang tiba-tiba romantis itu.

{Baiklah, sebentar lagi aku jemput.}

Singkat dan cepat. Itulah percakapan terakhir yang didengar Maya dari mulut lelaki itu. Meskipun sudah diperlakukan romantis, tetap saja ada secuil rasa didalam hati Maya yang tak mau diajak kompromi. Cemburu. Iya, Maya merakan itu, rasa yang tidak bisa ia elakkan.

“Aku akan mengantar Vina ke bandara. Kamu tidak apa-apa, kan?” pamitnya seraya meraih kedua tangan Maya lalu mencium jemari itu lembut.

Maya mengangguk seraya tersenyum tipis. “Tidak usah mampir, nanti non Vina curiga. Aku bisa turun didepan saja.” Demi menutupi rasa bersalahnya karena sudah menyita waktu yang seharusnya menjadi milik gadis itu, Maya akhirnya meminta lelaki itu untuk pulang lebih cepat.

“Masih 20 menit, sayang. Aku masih bisa mampir ke rumahmu dan bertemu dengan bapak ibu?”

“Pulanglah. Takutnya macet dijalan, nanti malah terlambat sampai disana.” jawab Maya. Rangga menghela nafas sejenak, lalu mengangguk seolah setuju dengan idenya. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju Rumah Maya.

Sesampainya didepan rumah Maya, Rangga mengambil dua kantong berisikan roti juga kue lainnya untuk diberikan pada wanita itu.

Maya keluar dari mobil lalu meraih dua kantong itu dari tangan Rangga.

“Nanti malam aku telepon.” ucapnya lirih sambil memberi kode jari jempol dan kelingkingnya membentuk telpon juga tak lupa ia pun memberi kode kiss dari kejauhan melalui bibirnya.

Maya yang hendak berjalan menuju rumahnya mendadak berhenti demi melihat ekspresi lelaki itu yang begitu menggemaskan. Ia pun mengangguk tanda setuju.

*******

Rangga melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah mamahnya. Ditengah-tengah perjalannan ponsel Rangga kembali berdering. Ia melirik nama yang terpampang dilayar ponselnya.

‘Samuel’

Segera ia menepikan mobilnya lalu mengangkat telepon darinya.

“Ya. Sam.”

“Pak, saya sudah dapat info penting. Apartemen atas nama ibu Vina sekarang sedang di tempati oleh seorang laki-laki. Dan setelah saya cari informasi lebih detailnya, kata tetangga sekitar mereka sudah tinggal bersama selama hampir satu bulan ini.”

“Baik, Sam. Terimakasih infonya.”
Rangga segera menutup teleponnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah mamahnya.

Selama dalam perjalanan, Rangga terus berfikir siapa lelaki yang tinggal di apartemen Vina selama ini. Yang dia tau, gadis itu tidak punya saudara atau sepupu laki-laki yang dekat dengannya. Sesaat ia menghembuskan nafas kelegaan. Ia yakin jalannya kian terang, semangatnya untuk mendapatkan Maya lebih menggila daripada sebelumnya.

Setelah dua puluh menit berlalu, hujan mulai reda, namun masih menyisakan hawa dingin yang luar biasa hingga rasanya sangat menusuk sampe ke tulang. Rangga akhirnya tiba di kediaman mamahnya. Dari kejauhan nampak Vina tengah berdiri bersedekap, senyumnya jelas terukir di bibirnya. Kedatangan mobil sedan hitam dengan cat yang nampak kemilau membuatnya berbunga-bunga seolah sudah datang pangeran yang ia nantikan.

Rangga keluar dari mobil dan disambut Vina dengan pelukan manjanya. Lelaki itu tetap berusaha bersikap biasa meski ia tau ada berbagai keganjilan yang mulai ia rasakan akhir-akhir ini.

“Kak, kenapa lama sekali? Aku kangen.” ucapnya seraya berlari lalu menarik paksa leher Rangga lalu mencium bibirnya. Sesaat, namun tidak mampu menggetarkan relung hati lelaki itu. Ia hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Rangga pun menyayangkan hujan telah reda, jika tidak pasti gadis manja itu tidak akan menghambur kearahnya hingga tubuhnya terguyur air hujan.

“Maaf, tadi jalanan macet.”
Ia mengurai pelukan gadis itu lalu menuntunnya masuk.

“Nanti penerbanganku pukul delapan malam, kak. Jadi kita masih bisa bersama sebentar.” Wajahnya begitu berbinar dan terlihat manja. Sampai Rangga duduk di sofa pun gadis itu terus membuntutinya.

“Kak, bulan depan aku akan pulang ke rumah ini lagi. Aku ingin kita segera menyiapkan segala keperluan pernikahan kita.” ucapnya begitu riang tanpa beban. “Mamah bagaimana, setuju?” tambahnya lagi setelah ia menyandarkan punggungnya di sofa tepat disisi calon ibu mertuanya.

“Mamah ikut senang mendengarnya. Mamah terserah kalian saja, bagaimana baiknya, asalkan kalian semua bahagia.” Meski hatinya tak selaras dengan jawabannya, setidaknya itu akan membuat Vina lebih tenang dan tidak menyulut emosinya.

Maya hanya menyunggingkan senyum, seperti tak punya beban sama sekali.
“Kak, kenapa kakak diam saja?” protes Vina setelah melihat Rangga yang selalu sibuk dengan ponselnya.

“Aku terserah kamu saja, Vin. Kamu urus saja semuanya,” jawab Rangga sambil pandangannya tak lepas dari ponselnya.

Vina bersungut mendengar jawaban lelaki yang duduk disampingnya itu.
“Baiklah, kalau gitu, aku akan siapkan makan malam untuk kita. Kalian tunggu disini saja. Biar kali ini aku yang memasak.” ujarnya antusias seraya beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah dapur.

Setelah kepergian Vina dari hadapan mereka akhirnya Rangga membuka percakapan dengan mamahnya. Ia melihat wajah wanita paruh baya itu seperti sedang menyimpan masalah.
“Mah, mamah baik-baik saja, kan? Apa Vina menyakiti mamah?” tanya Rangga khawatir. Ia pun duduk mendekati mamahnya.

“Enggak papa, nak. Mamah baik-baik saja. Justru mamah yang khawatir dengan masa depanmu dan Vina. Apa kamu benar-benar mencintainya?”

“Mamah tenang saja, akan kupastikan semua baik-baik saja.” ucap Rangga meyakinkan. Keduanya saling melemparkan senyum.

Selesai makan malam, tepat pukul 7.30 Rangga sudah siap menunggu Vina disisi mobilnya. Gadis itu keluar dari pintu dengan jaket tebal juga koper di tangan kanannya. Rangga pun mendekat lalu meraih koper berat itu dari tangannya.

“Kak, apa kakak tidak merindukan aku? Aku ingin kita segera menikah.” ucap Vina pada Rangga yang tengah sibuk memasukan koper itu kedalam bagasi mobilnya.

“Jangan terlalu dipikirkan. Kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.” sahut Rangga setelah mereka sama-sama masuk kedalam mobil.

Cuaca malam itu benar-benar membuat keduanya menggigil karena hawa dingin setelah hujan lebat sepanjang hari tadi. Vina mendekatkan tubuhnya ke sisi dimana Rangga duduk. Tangan kirinya memeluk perut lelaki yang nampak berotot itu. Rangga bergeming. Pikirannya justru terus dipenuhi oleh sosok Maya, seolah kehadirannya benar-benar tak bisa digantikan oleh wanita manapun yang berusaha mendekatinya.

Sepuluh menit berlalu, nampaknya Vina terbawa suasana. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa setelah memeluk tubuh Rangga. Hingga nafsu didalam dadanya benar-benar menguasainya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lelaki itu. Tangan mungil itu dengan lembut menyusuri setiap jengkal dileher Rangga. Wajah Rangga terlihat risih. Ia menggeliat demi menghindar dari semakin eratnya pelukan itu.

Dering telepon dari ponsel Vina tiba-tiba mengagetkan mereka. Setelah melihat sekilas siapa yang menelponnya, gadis itu terlihat bingung antara harus mengangkat panggilan itu atau tidak.

“Kenapa tidak diangkat? Dari siapa?” desak Rangga pada Vina.

Lagi, Vina terlihat semakin kikuk. Gadis itu mengabaikan panggilan di ponselnya.

“Terima saja, barang kali penting.” Rangga semakin mendesak Vina untuk mengangkat panggilan itu karena sudah hampir lima kali orang tersebut melakukan panggilan.

“Mario. Dia hanya teman kampus, kak. Sudah biarkan saja. Nanti aku telepon balik kalau sudah sampai Jakarta.” Ia mengabaikan panggilan itu dan terus beralasan. Hal itu semakin membuat Rangga curiga. Namun Rangga harus tetap bersabar demi sebuah fakta yang benar-benar bisa menyelamatkan hubungannya dengan Maya.

“Baiklah. Sekarang sudah sampai. Aku antar kamu sampai ruang tunggu.” Setelah tiba di area parkir bandara, Rangga mengakhiri perdebatan kecil mereka lalu beranjak keluar dari mobil untuk melakukan check-in.

Setelah check-in selesai, Vina memeluk Rangga erat lalu mencium pipi kanan lelaki itu. “Aku sayang kakak. Tunggu aku bulan depan, oke!” Rangga hanya mengusap pipi gadis itu seraya menyunggingkan senyum. Ia pun berjalan masuk untuk pemberangkatan.

Gemuruh suara mesin pesawat begitu terdengar jelas di telinga Rangga. Hal itu menandakan bahwa pesawat yang ditumpangi Vina segera meninggalkan landasan. Ia pun meninggalkan ruang tunggu lalu berjalan menuju tempat parkir. Setelah masuk kedalam mobil, Rangga merebahkan punggungnya. Ia mengatur tempat duduknya agar bisa merasakan nyaman sejenak setelah seharian penuh dengan aktivitas yang melelahkan.

Didalam mobil dengan pendingin ruangan yang membuat tubuhnya menggigil itu, ia membuka ponselnya. Ia mencari kontak seseorang yang beberapa jam lalu mampu membuatnya tersenyum sekaligus tertawa juga merindu. Ia melamun, dan terus memandang lekat foto wanita itu.

“Bagaimana bisa aku melupakanmu, sedangkan berjauhan sebentar saja membuatku ingin segera memelukmu,” lirihnya dalam keheningan.

{Bu Rangga, apa kamu sudah tidur?}

Satu pesan ia kirimkan pada Maya. Ia berniat menelponnya, namun karena waktu sudah larut, ia takut akan menggangunya.

Tak lama, pesan itu sudah dibaca oleh si penerima pesan.

{Maaf salah sambung}

Rangga menyeringai. Membaca balasannya saja sudah membuatnya bahagia, seolah semua rasa lelah di tubuhnya hilang begitu saja.

{Sayang, bisakah kamu kirim fotomu sebelum tidur?}

{Bukankah bapak sudah punya banyak?} Maya membalasnya cepat.

{Tapi foto yang sebelum tidur aku tidak punya.}

{Baiklah, tunggu sebentar.}

Tak lama, Maya pun membalas pesan itu. Dan dengan cepat Rangga menerima pesan bergambar. Ia penasaran wajah Maya sebelum tidur, meski ia juga yakin wajahnya akan sama cantiknya. Ia segera membuka pesan itu.

Loading…
Hingga seperkian detik wajah itu muncul.

“Romi?” Rangga mendengkus kesal. Wanita itu mengirim foto Romi, adiknya, yang sudah dia edit sedemikian cantik bak wanita sesungguhnya. “Wanita ini ternyata jauh lebih cerdas dari yang kukira. Sial!” gerutu Rangga.

{Bu Rangga, awas kamu ya! Bersiaplah menerima hukuman dariku besok pagi.} Satu pesan lagi berhasil Rangga kirim bernada ancaman.

Maya pun membalasnya lagi.

{😜😜😘}

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here