Jodoh Itu Misteri #18

0
176
views

“Ada urusan penting yang harus aku selesaikan, May. Aku akan mengantarmu pulang kerumah. Dan besok pagi akan kujemput kamu ke tempat kerja.”

Maya tersenyum lalu mengangguk. Rangga dengan pelan mendaratkan satu kecupan sayang dikeningnya.

Senja mulai nampak, lampu-lampu pun mulai menyala. Mereka kembali ke mobil dengan tangan saling bertautan. Rangga hanya membisu, ntah apa yang harus ia katakan. Terlepas dari masalah yang tiba-tiba muncul, hatinya kini mulai merasakan denyut yang luar biasa setelah kembali bersama dengan wanita yang ia cintai. Ia tak mau menyerah, ia semakin yakin bahwa dirinya akan memperjuangkan wanita itu. Bukan dari keluarga berada, namun sosoknya mampu membuat hidupnya jadi lebih bernyawa.

Tangan keduanya terlepas lalu mereka masuk kedalam mobil. Ada sedikit sesak dalam diri Maya setelah lelaki itu memutuskan pulang karena ada hal penting. Batinnya mengira bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan Vina.

Ingin bertanya, namun ia urungkan. Membiarkan semua itu hanya menjadi masalah mereka berdua saja. Sebenarnya ia pun merasa bersalah dalam hal ini, tapi menolaknya adalah suatu kesialan pastinya karena lelaki yang berada disampingnya begitu keras kepala. Jika bukan karena dia bekerja di kantornya, mungkin ia sudah tidak mau menggubrisnya.

Apalagi berurusan dengan lelaki yang sudah mempunyai tunangan. Maya memandang lelaki beralis tebal itu dengan tatapan intens. Dia yakin sebentar lagi ia akan menemui Vina. Dan apa yang akan terjadi disana tidak ada yang tau. Vina begitu keras kepala, rasa ingin memiliki Ranggapun sangat kuat dan itu sudah Maya pastikan akan sulit untuknya bisa kembali bahkan bersatu lagi dengannya.

“Sejak kapan Adi memberimu cincin?” Ucapan Rangga yang tiba-tiba itu sontak membuat Maya menahan nafas. Kedua bola matanya berputar kekanan dan kekiri. Kikuk.

Maya menelan salivanya lalu menghembuskan nafas pelan.
“Ehm…ini hanya cincin persahabatan. Memangnya kenapa? Bukankah, aku berstatus single? Jadi sah-sah saja kan, ada seorang lelaki yang memberiku hadiah?” ucap Maya berkelit, seraya tersenyum licik dengan pandangannya ke arah kaca disampingnya.

Ciiiiiiiiiiiiittttt….!!!!
Decit suara mobil begitu terdengar keras. Rangga menepikan mobilnya begitu saja hingga kendaraan lainpun ikut terhenti. Maya tersentak, tubuhnya oleng kesamping. Bunyi suara klakson dari kendaraan lainpun bersautan seolah memprotes tindakan Rangga yang secara tiba-tiba, karena hal itu bisa membahayakan pengendara lainnya. Beruntung hanya ada dua mobil yang berada di belakang mobil Rangga, itupun dengan kecepatan sedang.

Maya hanya diam, matanya ia pejamkan. Sepertinya ia tau penyebab lelaki itu yang mendadak berubah sikap. Mungkin ia marah atas ucapannya tadi.
Rangga menghela nafas, ia merasa tidak puas dengan jawaban Maya.

Pandangannya kini beralih ke samping. Melihat wajah wanita disampingnya yang kini sudah bersemu merah. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Maya. Wanita itu semakin tegang. Tubuhnya ia mundurkan. Takut. “Apa yang mau bapak lakukan?” ucapnya sambil meringis ketakutan. Wajah itu semakin dekat, hingga menyisakan jarak beberapa senti saja. Maya yakin sepertinya lelaki disampingnya kini merasa cemburu atau marah karena cintanya tak dianggap.

“Pak, perjalanan kita masih jauh, nanti bapak terlambat,” ucap Maya dengan punggungnya kini menempel kaca seraya wajahnya menunjuk jalan. Ia berharap lalaki yang saat ini berjarak beberapa senti ini mau mengenyahkan wajahnya dari hadapan Maya.

Rangga bergeming, bahkan matanya tak berkedip, nafasnya begitu lembut menyapu wajah Maya.

“Kamu tau, apa hukumannya jika membuatku cemburu?”
Maya menggeleng sambil tersenyum tipis. Rangga justru semakin mendekat hingga Maya tak bisa berkutik.

“Yakin, tidak mau tau?”
Mayapun menggeleng lagi. Kali ini disertai getaran yang luar biasa dari tubuhnya.

Rangga menghembuskan nafas. Gemas melihat wanita didepannya yang begitu manis itu sedang mengerjainya. Rangga mengernyitkan dahi lalu menyeringai seolah sudah menemukan cara agar wanita itu takluk dan tak berulah lagi dengan kata-katanya.

“Sekarang cium aku, jika mau mobil ini kunyalakan lagi?”.
Lagi-lagi Maya hanya menelan salivanya. Ia bingung. Harus menyetujui atau membiarkan dirinya menginap semalaman di mobil ini dengan lelaki egosi itu. “Tidak ada piliha lainkah?” rayu Maya seraya mengerjapkan kedua matanya.

Kali ini rangga yang menggeleng.

“Minta maaf atau kutraktir makan?, please…?” Maya masih merayu dengan menangkupkan kedua tangan yang ia letakkan didepan wajah.
“Nggak….ma…u,” Rangga menolak lalu memberikan kode dengan jari telunjuknya ia arahkan ke bibir. Bahwa permintaannya hanya satu, menciumnya.

Maya menggigit bibir bawahnya. Merasa tak punya pilihan lain selain menciumnya. “Hah…ya Tuhan…kenapa aku bertemu dengan manusia seperti ini? Belum jadi suaminya saja sudah begini. Apa jangan-jangan sebelumnya ia juga sering melakukan ini dengan kekasihnya yang dulu-dulu?” Maya membatin, bulu kuduknya pun meremang. Tak berapa lama satu ciuman berhasil ia kecupkan di bibir lelaki itu. Cepat dan sangat kilat.
Rangga menyeringai melihat tingkah Maya yang selalu sok gengsi didepannya.

“Lain kali aku balas yang lebih lama, oke?”
“Enggak! Ayo cepat pulang.” Maya menggerutu.
“Baiklah. Tapi ingat, jangan buat aku cemburu lagi. Kalau kamu mau, aku bisa membawa kamu ke penghulu sekarang juga. Aku tidak peduli dengan Vina. Aku bisa saja memberikan segala fasilitas yang dia mau, asal bukan aku.”
“Dasar! Terus aku mau dikasih makan apa kalau semua yang bapak miliki bapak berikan ke Vina, Hah?
“Aku bisa bekerja dengan keahlianku,” sanggah Rangga.
“Tidak semudah itu, Ferguso!”
Bapak sudah terbiasa hidup nyaman, semua serba ada. Semua serba dilayani. Yakin, Bapak bisa hidup sederhana denganku? Hemmh?”
“Kenapa mendapatkanmu begitu sulit, May? Bahkan aku selalu bisa melewati rintangan dalam dunia bisnis sesulit apapun. Tapi kamu?”
“Yakinlah, pak. Jika kita memang berjodoh, Allah pasti menyatukan kita.

Sekuat apapun kita mengejarnya jika tidak berjodoh, kita tidak akan bersatu, begitupun sebaliknya. Percayalah, kapanpun dan dimanapun itu pasti.” Maya meyakinkan sembari menyunggingkan senyum
Rangga menghela nafas, ia mengangguk namun didalam hatinya merasa frustasi, di satu sisi ingin memperjuangkan cintanya tapi disisi lain ada Vina yang membelenggunya.

****

Senja mulai berganti malam, cahaya lampu-lampu pun nampak warna warni menyinari kota jogjakarta. Mobil melaju dengan cepat. Setelah mengantar Maya ke rumahnya, kini Rangga bersiap menemui Vina di Rumah mamahnya. Selama ini, Vina memang sengaja tinggal di rumah calon mertuanya selama liburan kuliah. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan tunangannya. Di rumah itu ia disambut begitu ramah. Bahkan mereka menganggap gadis itu sudah seperti putrinya sendiri.

Rangga tiba di rumah mamahnya. Ia berjalan cepat memasuki rumahnya. Didepan pintu ia sudah disambut dengan wajah cemas dari mamahnya.
“Ngga, tolong cepat kamu temui Vina. Mamah takut dia berbuat nekat.” ucapnya dengan wajah penuh kecemasan.
“Mamah tenang saja. Dia akan baik-baik saja.”
“Baiklah. Sekarang aku masuk dulu.”

Didalam sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka Rangga masuk perlahan. Vina nampak duduk diatas ranjang. Punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang. Ia menelungkupkan wajahnya diatas kedua lututnya yang sengaja ia tekuk. Depresi. Seperti itulah dia jika sedang marah besar.

Kamar yang berantakan. Semua peralatan make up tercecer dimana-mana. Pecahan vas bunga yang nampak berserakan yang bisa menusuk kaki siapa saja yang melintas diatasnya. Rangga mendekat, ia berusaha bersikap setenang mungkin. Ia merasa bahwa gadis ini sudah mengetahui hubungannya dengan Maya, jadi ia tak perlu susah payah menjelaskan semuanya. Toh hanya perpisahan yang Rangga inginkan.

“Kak Rangga jahat. Kenapa kakak berselingkuh? Aku tau mbak Maya cantik. Tapi kakak gak boleh mencintainya. Kakak cuma milikku.” keluhnya begitu angkuh dan manja. Matanya begitu sembab. Air matanya mengalir begitu deras membasahi pipinya. Gadis itu menangis sesenggukan.
Rangga termenung, bingung harus berbuat apa. Ia hanya terdiam berusaha merangkai kata agar gadis tu mau memahaminya. Selama ini ia telah salah. Keputusan yang ia ambil tidak sepenuhnya ia pikirkan. Saat itu hanya rasa bersalahnya yang begitu mendominasi hati dan pikirannya.

“Vin, aku tau aku salah. Dan pastinya kamu sudah tau apa yang ada dalam hati dan pikiranku saat ini.” jelas Rangga.

“Aku nggak mau tau! Aku hanya mau kak Rangga menikahiku. Titik!”
Rangga menghela nafas, ia berusaha tetap tenang meski hantinya kini mulai panas.

“Istirahatlah. Aku akan duduk disini sampai kamu tertidur.” perintah Rangga serileks mungkin.

“Enggak. Aku nggak mau. Memangnya setelah aku tidur kakak mau kemana? Mbak Maya? Hah? Jawab aku, kak! Awas saja kalau sampai satu minggu ini mbak Maya tidak keluar dari pekerjaan itu, aku akan buat dia menangis.” Gadis itu geram. Nada bicaranya mulai meninggi. Wajahnya pun penuh dengan aura kebencian. Seolah ia siap menjatuhkan Maya kapanpun juga.

Kedua tangan Rangga terkepal, seakan ia sudah tidak tahan ingin segera melampiaskan amarahnya selama ini pada gadis itu.

“Kenapa? Kakak tidak terima, hah?” Vina menyolot, kedua matanya membulat sempurna.
Rangga hilang kesabaran seolah tak terima dengan sikapnya selama ini.
“Diam!” gertaknya pada gadis itu. Suaranya begitu keras hingga wanita paruh baya yang berdiri dibalik pintu itupun terperanjat, ketakutan.

“Selama ini aku sudah berusaha mencintaimu namun bukan cinta yang tumbuh melainkan keterpaksaan yang terus menjalari hatiku setiap harinya. Selama ini aku rela melakukan apa saja yang kamu mau bahkan membeli sebuah apartemen mewah juga mobil mewah untukmu namun apa? Semakin hari justru aku semakin merasa bahwa kamu sudah memperalatku.

Kamu hanya memerasku! Kamu menghambur-hamburkan uang dan hanya bersenang-senang dengan teman-temanmu tanpa mempedulikan aku. Itu yang kamu sebut cinta? Aku selalu menjaga hubungan ini demi kamu, tapi apa balasannya? Lagian kecelakaan itu akupun tidak menginginkannya. Semua terjadi begitu saja. Jika tau akan begini, aku lebih baik dipenjara daripada harus menikah denganmu.” jari telunjuknya ia arahkan pada wajah gadis itu sejurus kemudian ia keluar kamar dan pergi begitu saja. Sedangkan Vina semakin histeris. Tangisannya semakin menggelegar.

Suara amukan juga hantaman benda keras didindinh begitu jelas tertengkap oelh pendengaran Rangga yang tetap berjalan mengacuhkan dirinya.

Satu tangan Rangga diraih oleh mamahnya dari arah belakang.
“Ngga, mamah takut. Apa dia akan berbuat jahat pada mamah?”
Rangga menoleh, kaget. Namun dengan cepat ia berusaha menenangkannya. “Mamah tenang saja. Tidak akan ada yang ia sakiti, kecuali Maya. Maya sasarannya, Mah. Mamah istirahatlah. Suruh pak Jana, satpam rumahnya, Bi Nara dan Bi Minah menemani mamah. Aku yakin, Vina akan -baik saja.” jelas Rangga seraya mencium pipi sang mamah lalu pergi.

Malam semakin larut, namun hasrat ingin menemui Maya sangatlah besar.
Rangga melajukan mobilnya begitu kencang hingga tak mempedulikan kendaraan yang lainnya.

Sesampainya di depan rumah Maya, ia keluar dari mobil, lalu berdiri disisi. Ia keluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada wanita itu. Karena sudah terlalu larut ia tak mau bertamu, kehadirannya pasti akan sangat mengganggu keluarganya.

Didalam kamar, Maya tengah bersiap tidur. Satu menit kemudian ponselnya bergetar.

{Keluarlah}
Satu pesan masuk telah ia buka. Matanya mengernyit, “Sepenting apakah, hingga dia datang selarut ini?” Maya bergumam. “Menciumku sebelum tidur? Ish. Dasar laki-laki mesum!” Bulu kudu Maya seketika meremang membayangkan ciumannya tadi siang.

Maya keluar rumah dengan mengenakan piyama berwarna merah. Masih terlihat cantik meskipun dibawah sinar lampu yang temaram.

Rangga menyeringai, matanya berbinar seolah ada rindu yang begitu mendalam pada sosok wanita yang sudah bersama dengannya sepanjang hari tadi. Wanita itu mendekat perlahan lalu langkahnya terhenti tidak jauh dari tempatnya Rangga berdiri. Matanya mengernyit, heran. Sudah serindu itukah, hingga ia tidak sabar untuk bertemu besok pagi?
Cepat Rangga maju satu langkah lalu diraihnya tubuh itu kedalam pelukannya. Erat, bahkan menyesakkan hingga nafas kedua terengah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here