Jodoh Itu Misteri #17

0
174
views

Di ruang resepsionis nampak raut wajah Maya kesal atas perlakuan bosnya. Pagi ini ia bertugas sendiri tanpa ditemani siapapun dan ia pun berharap bahwa tunangan Rangga akan membatalkan niatnya untuk mengajaknya belanja.

Tiga jam berlalu tamu datang silih berganti hingga Maya kelelahan menyambut juga memberi informasi pada para tamu sendiri. Ia sandarkan tubuhnya di kursi, menghela nafas dan sesaat ia meluruskan kakinya yang pegal. Pikirannya kembali pada kejadian tadi pagi. “Benarkah aku tadi sempat pingsan?” Maya menopang kepalanya dengan satu tangan. Pusing. “Apa pak Rangga juga yang membawaku masuk? Entahlah. Rasanya aku sangat lelah dengan hubungan yang tidak jelas begini. Jika aku masih bekerja disini, pastinya akan sulit untukku menghindarinya. Lalu? Haruskah aku resign dari kantor ini?”

Drrrttt….Drrrtttt…
Ponsel Maya bergetar. Satu pesan telah diterima.
‘BOS JELEK’ Nama yang terpampang dalam pesan di WA.
“Ada apa lagi sih,” gumam Maya dalam hati. Kesal namun hatinya berdesir, karena lelaki itu mengirimi pesan disaat ia sedang memikirkannya. Penasaran, Maya segera membuka pesan itu.

{Jam makan siang nanti aku jemput. Bersiaplah. Dilarang menolak. Perjanjian itu batal karena kamu sudah berani masuk ke ruanganku tanpa ada perintah dariku. Di akhiri dengan emoti mengerlingkan mata}
“Dasar! mentang-mentang bos, enak saja main perintah. Memangnya dia siapa? Apa dia tidak memikirkan tunangannya?” Maya mendengkus kesal. Ia tak membalas pesan itu.

Tak lama setelah Rangga mengirimi pesan. Seorang karyawan laki-laki datang.

“Permisi mbak, saya diperintahkan pak Rangga menggantikan tugas anda hingga sore nanti.”

Lelaki dengan seragam senada dengannya, namun setelah Maya perhatikan, sepertinya dia tidak pernah bertemu dengannya di hotel ini.
“Maaf kalau boleh tau, apa mas baru berkerja dihotel ini?” selidik Maya.
“Saya karyawan dari cabang hotek ini, dan saya mendapat panggilan untuk menggantikan anda,” ucap lelaki berkulit kecoklatan itu dengan senyuman manis.

Maya mendengkus kesal. “Sekeras itukah keinginan si bos, sampe-sampe ia menggantikan posisiku dengan orang dari kantor cabang?”
“Bagaimana mbak? Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, tidak ada. Baiklah aku akan bersiap pulang.”
“Maaf mbak, anda disuruh menunggu oleh pak Rangga dan tidak diperbolehkan pulang.”
“What! Apa-apaan! Main perintah saja. Dia kira dengan aku tidak membalas pesannya itu artinya aku setuju dengan ajakannya? Sepertinya aku harus pulang sekarang sebelum jam makan siang tiba. Peduli amat dengan Romi yang katanya ada acara di hotel ini. Daripada harus ketemu dengan manusia egois itu? Aaaa… No…No…No…” Maya terus mengomel dalam hati. Yang terlihat hanya mimik wajahnya yang nampak geram. Sekilas lelaki didepannya pun ikut terkikik melihat tingkah Maya yang sedang menahan emosi.

“Mbak?”
“Ah…iya. Baik saya akan menunggu. Saya ke ruang ganti dulu ya. Terimakasih, mas.” ucap Maya bohong. Cepat Maya mengambil tasnya lalu pergi ke ruang ganti.

Setelah sampai di ruang ganti. Maya segera menyambar jaket yang tergantung di lemari ganti. Ia membuka resletingnya lalu segera memakainya.

Plek.

Satu tepukan di bahu Maya berhasil membuat Maya merinding. Tangannya sedikit berat, hembusan nafasnya begitu terasa menyapu lehernya. Maya masih bergeming. Dia berfirasat, hantu apakah yang mengganggunya siang-siang begini atau jangan-jangan OB yang sengaja mau berbuat jahat padanya? Maya tak berani menoleh. Ia pejamkan matanya kuat-kuat. Kedua tanggannya bersiap menampar siapapun yang ada dibelakangnya kali ini.

Perlahan, tangan kekar itu memegang lengan Maya lalu dengan cepat ia membalikan tubuh Maya.

Plak!
Satu tamparan berhasil Maya daratkan dipipi si makhluk misterius yang mengganggunya. Namun sedetik kemudian Maya segera menutup mulutnya. Matanya melotot sempurna setelah melihat orang yang kini berada didepannya.

“Setidaknya pingsan didepanku jauh lebih romantis dibandingkan harus menamparku, May,” ucap Rangga seraya mengelus pipinya yang terasa perih.

“Maaf pak, maafkan saya. Bu…bukan maksud saya untuk…”
Rangga bergeming tak peduli dengan apa yang ingin Maya ucapkan. Kini tangan kekar itu meraih ujung resleting jaket Maya lalu membukanya setelah itu ia menggantungkan lagi ke lemari.

“Ba…bapak mau apa? Bukankah bapak sudah janji tidak akan menemuiku lagi?” Maya bergetar, bicaranyapun tergagap.

“Perjanjian itu batal, May. Siapa suruh kamu masuk ke ruanganku tanpa sepengetahuanku?” sanggah lelaki yang kini berpenampilan casual itu. Kaus merah berkerah dan celana jeans Navy.

“Ta..tapi saya kesana mau bertemu non Vina bukan bapak,” protes Maya.
“Sama saja, itu ruanganku, May. Lagian kamu mau kemana? Kabur? Kamu ini memang keras kepala ya! Untung aku datang tepat waktu. Karena aku yakin pasti kamu berniat kabur.”
“Apa! Egois? Sepertinya bapak yang sangat egois. Bapak sudah bertunangan tapi masih berani mengajakku makan? Bukankah itu gois?” ucap Maya ketus seolah tak mau tersakiti lagi.

“Dengar!” Rangga meraup wajah Maya kehadapannya. “Itu bukan egois, tapi rasa ingin memiliki. Aku pernah berkata, bahwa aku tidak akan meninggalkanmu. Yang akan menikah denganku adalah kamu.” Hembusan nafas Rangga yang hangat dapat Maya rasakan. Ada debar yang yang tak biasa sewaktu mendengar setiap penekanan dari kata-katanya. Iya. Sepetinya Maya benar-benar melayang. Ia terdiam, sorot matanya tajam menatap wajah lelaki itu.

Tanpa menunggu lama, Rangga dengan cepat menarik tangan Maya menuju ke tempat parkir. Mobil Rangga sudah terparkir disana. Tepat didepan lift.

Akhirnya mereka masuk ke mobil.
“Kita mau kemana, pak? Jangan bawa saya kabur, pak. Please…?” sontak Rangga terkekeh tanpa menjawab pertanyaan Maya.

Setelah itu mereka diam, tak ada yang berbicara, bertanya atau apapun lagi. Setelah sepuluh menit mobil itu menepi ke sebuah tempat rest area. Begitu luas juga sangat bersih.

“Kita kesini mau apa, pak?” tanya Maya cemas.
“Nih! Kamu ganti pakaianmu dengan ini.” Satu paperbag lelaki itu sodorkan ke pangkuan Maya.

“Ini apa, pak?” bukankah aku berpakaian begini sudah cukup? Kita hanya makan kan?”
“Tidak. Kita jalan-jalan sebentar setelah makan.”
“Bapak memaksaku? Saya tidak mau, pak.” protes Maya. Ia puan tidak beranjak keluar.

“Baiklah kalau tidak mau. Malam ini kamu harus menemaniku tidur di mobil ini sampe pagi, oke? Atau kamu harus mencium bibirku sebanyak tiga kali Gimana? Kamu pilih ganti pakaianmu, tidur denganku di mobil malam ini, atau mencium bibirku sebanyak tiga kali?” senyum Rangga menantang.

“Bener-bener otak mesummmm…” hardik Maya.
Rangga hanya mengulum senyum melihat tingkah Maya yang menggemaskan.

Akhirnya Maya memilih keluar lalu mengganti pakaiannya.
“Eit, tunggu dulu. Berikan padaku?” perintah Rangga sembari tangannya terulur meminta sesuatu.

“Apa lagi?” gertak Maya kesal.
“Hape kamu, May. Sebagai jaminan bahwa kamu tidak akan kabur dariku. Oke!”

Wajah Maya semakin kesal melihat sikap bosnya yang dengan seenaknya memerintah.

“Nih!”
Rangga mengulum senyum, merasa sudah menang kali ini.
Setelah kepergian Maya ke toilet, Hp Maya bergetar. Satu pesan masuk drngan mudah dapat Rangga baca tanpa harus membuka HPnya.
‘Mas Adi’
{Terimakasih sudah memakai cincin itu.}
Lama Rangga mengamati ponsel itu yang kini sudah berubah gelap. Hatinya seakan cemburu setelah membaca pesan dari sahabat Maya itu.
Maya membuka pintu mobil itu, lalu ia sandarkan di kursi. Ia menatap Rangga penuh tanda tanya. “Saya sudah mengganti pakaianku, pak. Cepatlah, aku ingin segera pulang.”
Rangga bergeming.

“Oya mana ponselku?”
Rangga menoleh lalu memberikan ponsel itu pada Maya. Setelah Maya meraih ponselnya dari tangan Rangga. Cepat, lelaki itu menarik lengan Maya lalu mencium bibir Maya. Maya tersentak, ia mundur kebelakang, berusaha menolak ciumannya.

Namun Rangga tak peduli, ia menarik leher Maya lalu kembali mencium bibir merah itu dengan penuh kelembutan. Maya menyerah, getaran itu kembali Maya rasakan, tubuhnya memanas, jantungnya berdegup sangat kencang merasakan sentuhan yang begitu hangat dan basah di bibirnya itu. Ia pun menyambutnya dengan penuh cinta dan ciuman itu berlangsung lama.

Setelah lima menit pergulatan hangat itu terhenti setelah mereka mendengar ponsel Maya kembali bergetar. Satu panggilan masuk. Maya melepas tangan Rangga dari lehernya lalu melihat siapa yang sudah menelponnya. “Mas Adi?” Maya bergumam.

Tanpa Maya duga, ponsel itu segera Rangga ambil dari tangan Maya, lalu mematikan sambungan telepon tadi.

Maya hanya terdiam melihat sikap posesive Rangga.
“Kamu bisa telepon dia nanti, sekarang matikan telepon itu. Aku tidak mau dibuat cemburu.”

Akhirnya Maya menuruti perkataan Rangga. Ia matikan ponselnya lalu memasukkanya kedalam tas.

Rangga melajukan mobilnya dengan cepat menuju kesuatu tempat. Selama perjalanan tak ada yang membuka percakapan. Baik Maya ataupun Rangga. Hanya sesekali Rangga menoleh ke arah Maya lalu tersenyum seraya kedua tangan mereka saling bertaut. Kini mereka hanya berdua, seolah waktu yang tersisa hanyalah milik mereka saja.

Pantai…
Sebuah restoran yang sengaja Rangga pilih sebagai tempat makan mereka berdua. Restoran yang tak jauh dari pantai parangtritis.

Sebelum turun dari mobil, Maya mengganti alas kakinya dengan sepatu flat yang sengaja Rangga belikan untuk dia pakai.

Maya merasa sepatu yang ia pakai benar-benar pas sesuai ukurannya. Rangga keluar mobil lebih dulu. Dan Maya masih sibuk mengamati sepatu tepleknya yang manis.

Bahkan hargaanya masih terpampang disana. Maya mencoba melirik bandrol sepatu itu “625.000”. Mata Maya melotot, mulutnya menganga setelah melihat sepatu sesimpel itu harganya begitu mahal. “Ish! Dasar sombong. Tau gitu aku minta uangnya saja.”

Rangga yang sudah mengenakan kacamata hitam dan berdiri didepan mobil itu memerintah Maya untuk segera keluar dari mobil dengan gerakan kepalanya.

Maya mendengkus kesal sedang Rangga hanya mengedikan bahunya.
Setelah Maya turun, mereka berjalan beriringan.

Baju yang Maya kenakan senada dengan baju Rangga berwarna merah. Persis ABG labil yang lagi ngedate. Kulit mereka yang putih semakin terlihat keren dengan baju itu.
Mereka duduk lalu memesan makanannya. Sembari menunggu makanan datang.

Rangga membuka ponselnya lalu dengan sengaja ia mengambil foto Maya dengan rambutnya yang sedikit bergelombang yang tergerai semakin menambah kesan seksi, ditambah tiupan angin yang semilir mengibaskan rambut depannya. Cantik.

Cekrekk!
Satu angel yang pas berhasil Rangga dapatkan. Ia melihat hasil jepretannya lalu menyunggingkan senyum.

“Ih, apaan sih!”
Beberapa menit kemudian makanan yang dipesan datang. Mereka mulai menikmati makanan itu. Disela-sela makannya, Rangga dibuat curiga dengan hadirnya seseorang yang sepertinya sedang mengamati mereka. Rangga buru-buru menepis rasa curiga itu demi Maya. Ia takut akan mengganggu ketenangan Maya. Setelah mereka selesai makan, Rangga membayar makanannya.

Meski bahagia, Maya tak mau memperlihatkan itu. Ia tetap memasang wajah jutek pada Rangga.

Rangga tak peduli dengan sikap Maya. Yang ia tau sebenarnya Maya hanya berpura-pura. Ia yakin bahwa wanita itu benar-benar bahagia. Jika tidak pasti ia sudah ditampar untuk yang kedua kalinya setelah dengan berani menciumnya. Nyatanya wanita itu membalas ciuman itu, bahkan berlangsung lama.

Mereka berjalan berdua menuju pantai. Sepanjang jalan mereka hanya diam hingga sampai dibibir pantai.

Merasa hampa tanpa mengobrol sama sekali, Rangga berusaha meraih tangan Maya, namun ditepisnya. Rangga tak berputus asa. Cara mendekati wanita itu kini lebih ekstrim, ia meraih tubuh Maya lalu mengangkatnya keatas bahu. Maya tak berkutik. Kedua tangannya ia pukul-pukulkan punggung Rangga.

“Hei. Apa-apaan ini, pak. Cepat turunkan aku!” Maya menjerit histeris, namun percuma. Pantai yang begitu luas itu juga angin yang berhembus kencang itu menyamarkan suaranya.

“Aawwww” Satu gigitan di leher Rangga berhasil membuatnya menurunkan tubuh Maya.
“Kenapa harus digigit, May? Sakit tau!”
“Ye…siapa suruh main gendong. Gak sopan tau! Dasar mesum!”
Tanpa menjawab omelan Maya , Rangga kembali meraih satu tangan wanita itu. “Nggak usah nolak. Atau mau kugendong lagi?”
Maya mendegkus kesal. Ia pun menurut. Kini mereka berjalan bergandengan.

Sepasang kaki mereka berjalan seraya mainkan pasir. Sesekali pandangan mereka beradu lalu mereka tersenyum bersamaan.
“Kenapa hubungan kita sesulit ini? Andai aku bertemu denganmu lebih cepat. Pasti kita sudah mempunyai anak.” Mendengar hal itu Maya tersenyum kecil. Hatinya begitu bahagia, ingin rasanya semua itu ia wujudkan bersama lelaki yang kini berada disisinya.

Perjalanan cinta mereka masih belum usai. Mereka ingin bersatu, namun ada batu besar bahkan teramat besar, hingga mereka sendiri tak mampu mengenyahkannya dari hadapan mereka. Akan sangat sulit. Terlepas dari jodoh atau tidak, mereka yakin, jika memang mereka berjodoh, pasti akan diberikan kemudahan nantinya.

Masih berada dibibir pantai, kecurigaan Rangga semakin memuncak. Ia yakin bahwa dirinya telah diikuti oleh beberapa orang. Hingga salah seorang yang tidak ia kenal, menghampirinya.

“Maaf, pak, mengganggu. Ini ada pesan dari non Vina agar anda segera pulang kalau tidak….”
“Cukup, aku tau.” Rangga memotong perkataan lelaki asing itu. Ia tau Vina pasti akan menyakiti dirinya sendiri jika ia tidak menurutinya.

Lelaki suruhan vina , kini Rangga menatap Maya dari kejauhan. Kakinya tengah bermain , sepatunya ia tenteng.

“Shit! Ternyata Vina membuntutiku sampe sejauh ini.” Rangga mendengkus kesal. Ia menghampiri Maya lalu mengajaknya pulang.
“Ada urusan penting yang harus aku selesaikan, May. Aku akan mengantarmu pulang kerumah. Dan…besok pagi aku akan jemput kamu ke tempat kerja.”

Maya tersenyum lalu mengangguk. Rangga dengan pelan mendaratkan satu kecupan sayang dikeningnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here