Jodoh Itu Misteri #11

0
1013
views

Jika ada yang harus dimintai penjelasan, itu harusnya aku. Mungkin akan berbeda situasinya jika aku dan mas Rangga tidak bertemu di restoran itu.

“Ah…kenapa bisa kebetulan begitu sih?” Aku menggerutu dalam hati.

Kami membisu sepanjang perjalanan. sengaja aku tak memulai percakapan, bingung harus memulai dari mana. Apa mas Rangga beneran marah? Atau jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu? Menghukumku mungkin. Hahhh… Ntahlah.

Selang 15 menit, dia membelokkan mobilnya kesebuah perumahan mewah.

“Kita mau kemana pak?” Karena penasaran akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Dia bergeming. Wajahnya terlihat tegang tidak seperti biasanya.

Maya ada apa dengannya? Sepertinya kesalahanmu benar-benar buat dia murka May…

Sesampainya dihalaman rumah, kami keluar dari mobil. Aku berdiri sesaat di sisi mobil, ntah rumah siapa yang kita datangi ini. Rumah yang besar dan terkesan modern, mungkihkah ini rumahnya? Cepat tanganku ditarik olehnya. Tak mau bertanya apapun, aku hanya menuruti kemana langkahnya pergi.

Setelah berjalan melintasi ruang tamu yang bernuansa putih tadi, kami masuk ke ruang keluarga. Ruangan yang tak kalah mewahnya dengan ruang sebelumnya. Ruangan ini ditata begitu rapi, terdapat lukisan-lukisan dan foto keluarga yang tergantung didinding, juga sofa besar berwarna abu-abu serta sebuah vas dengan bunga tulip diatas meja membuat ruangan ini semakin terlihat elegan.

“Tunggu-tunggu, ini rumah siapa? Dan kita kesini mau apa pak?”
Tanyaku sembari melepas genggamannya.

“Ini rumahku, Maya.”

“Terus kenapa sepi sekali?”

“Kan ada kamu?”

“Ish…maksudku, apa tidak ada pembantu rumah tangga atau satpam begitu?”

Mas Rangga hanya menyeringai mendengar pertanyaanku. “Maya, pembatuku datang pagi hari, kalau pekerjaannya sudah selesai dia pulang. Dan perumahan mewah ini sudah tidak perlu satpam lagi, semua sudah menggunakan CCTV, dan semua tamu atau orang asing yang masuk itu harus ijin dengan penjaga dulu di pos depan. Masih ada pertanyaan lagi?” Penjelasannya begitu detail. Kali ini aku yang bingung.

“T…terus k…kita cuma berdua begitu?” ucapku tergagap.

“Iya, kenapa May? Kamu takut?”

Takut? Ya jelas lah. Berduaan saja dirumah sebesar ini apa iya dia bisa menjamin aku aman sampe rumah nantinya? Aneh.

Etapi kenapa tiba-tiba jadi kebelet pipis begini sih. Benar-benar gak bisa diajak kompromi deh.

“Ehm..pak, bisa tunjukin toiletnya sebentar?”

“Maya…tolong jangan panggil aku ‘pak’ lagi. Cukup panggil aku ‘mas’, okay? Toilet tamu airnya macet, sebentar lagi tukang service datang. Kamu bisa pake toilet dikamarku,” perintahnya sembari mengetik sesuatu diponselnya.

“Apa? Dikamarnya? Haduhh kenapa jadi ribet begini sih. Dia lagi gak bohong kan? Masa airnya tiba-tiba macet? Dan…aduh duh kenapa ga bisa kutahan sebentarrr aja sampe aku pulang. Sial!” gerutuku dalam hati.

“Ayo, kamu naik saja keatas biar aku disini, mungkin sebentar lagi tukang service datang. Jadi kamu aman.”

Aman? Maksudnya apa? Kok tiba-tiba aku jadi merinding. Ah bodo amat, yang penting aku buang hajatku dulu, gak tahan.

Aku menaiki tangga lalu masuk kekamarnya. Tanpa mengindahkan isi kamar itu, aku segera menuju kamar mandi lalu membuang hajat yang sedari tadi kutahan.

“Hah… Akhirnya…lega rasanya.” Setelah buang air kecil, sesaat aku mengamati kamar mandi ini, begitu luas, bahkan kamarku saja tak seluas kamar mandi ini. Hemm…orang kaya memang berbeda ya. Melihat cermin di atas wastafel, aku berkaca sebentar, merapikan riasan juga rambut nampak berantakan. Tak butuh waktu lama, setelah dirasa penampilanku sudah oke, aku bergegas membuka pintu, berharap situasi diluar benar-benar masih aman.

Klek! Kubuka gagang pintu.

“Kenapa lama sekali, May.”

tubuhku gemetar seketika setelah melihat keberadaan seseorang yang beberapa menit lalu berkata ‘kamu pasti aman, May’ kini dia berdiri tepat didepanku, membelakangiku.

“Ehmm itu pak, maaf.” ucapku seraya melihat tubuhnya kini menoleh kearahku.

“Kenapa tiba-tiba dia ada dikamar ini? katanya sedang menunggu tukang service datang. Aneh,” gumamku sembari berpegangan pintu yang setengah terbuka. Heh, kenapa dia semakin mendekat? Jantung ini berdetak semakin kencang. Nafaspun rasanya sesak. Tubuh ini berdiri kaku bersandar pintu kamar mandi. Duh bagaimana ini? Kabur May…kabur… Hukuman macam apa ini? Kenapa aku jadi parno begini. Ya Tuhan…

Sekarang cobaan apalagi itu…? Kenapa sekarang dia membuka kancing kemejanya? Sebenarnya maunya apa sih…? Aku menutup mataku lalu menepuk kedua pipiku kuat-kuat, berharap ini hanya mimpi seperti dihotel waktu itu. “Awww!” Ternyata…tidak, ini bukan mimpi.

“Pak, saya mohon jangan lakukan itu, tolong antar saya pulang saja.” rengekku disela-sela langkahnya yang semakin dekat.

Mas Rangga menyeringai melihatku ketakutan. “Pulang? Bahkan kita belum berkencan May?”

“Kencan? Kencan macam apa ini, pak?” batinku. Aku menelan saliva sembari melihat kekanan dan kekiri, gemetar. Berharap ada celah agar aku bisa lari. Kenapa ruangan ini tiba-tiba terasa sempit sih.

“Mau kemana May, kenapa kamu jadi takut begitu?” ucapnya sembari melepas kancing terakhirnya dan hanya menyisakan kaos dalamnya.

“T..tapi kenapa bapak melepas bajunya, bapak mau apa?” Dia bergeming. Langkahnya semakin dekat, tepat berdiri didepanku.

Aku menutup mata kuat-kuat lalu melipat kedua tanganku didada.
“Jangan pak….,” pekikku.

Pluk!

Tiba-tiba Kemeja putih yang masih menyisakan wangi itu berhasil mendarat dimukaku.

“Aku mandi dulu, May. Gerah rasanya. Dan tolong masak sesuatu, aku lapar sekali,” ucapnya sambil berlalu.

Mataku seketika melotot, kedua tanganku mengepal keras. Ingin rasanya meninju orang itu. Bisa-bisanya dia bersikap semenyebalkan itu. Awas kamu mas. Aku meremas kemeja itu lalu melemparnya ke ranjang “Mau bilang makan saja adegannya bikin jantung mau copot. Huft…” gerutuku kesal.

Aku berjalan kedapur mencari bahan-bahan yang bisa dimasak. Kulkas yang penuh dengan sayuran ikan juga buah-buahan aku abaikan. Aku mencari lagi bahan-bahan yang lebih praktis kumasak. “Ah…itu dia.” Setelah menemukan mie instan di lemari, segera kusiapkan panci juga air untuk merebusnya, mengiris cabe juga sedikit sayuran sebagai pelengkap.

Selesai menuang mie instan itu ke mangkuk, aku berjalan ke ruang makan. Lagi aku dikagetkan dengan sosok tubuhnya yang hanya mengenakan handuk besar menutupi tubuhnya. Berjalan menuruni tangga sembari mengikat handuknya. Jantungku kembali berdetak tak beraturan. Kapan dia selesai mandi? Kenapa cepat sekali? Jangan-jangan dia superman?

“May?” tegurnya membuyarkan lamunanku. Setelah berhasil menuruni anak tangga kini dia berjalan kearahku.

“I…iya mas.” sahutku gugup. “Kenapa tidak ganti baju sekalian?” lanjutku gemas.

“Keburu laper!” Dengan cepat dia mengecup pipiku, lalu menyambar mangkuk yang ada ditanganku.

Mendapat perlakuan itu, aku hanya terdiam. Sejenak merasakan ada debaran yang luar biasa didalam sana. Bukan pertama kali, namun perilakunya yang secara tiba-tiba selalu berhasil membuatku mabuk kepayang. Hah… Aku menghela nafas, seolah membangunkan diri.

“Jangan buat aku cemburu lagi, dan jangan panggil aku, pak, kecuali di kantor,” ucapnya disela-sela makannya. Sementara aku yang tengah duduk didepannya hanya bisa menatapnya lalu mengulum senyum. Rasanya sangat bahagia bisa membuat dia cemburu seperti itu.

Kringggg…..kringggg…

Ponsel yang dia letakkan di meja makan tiba- tiba berbunyi. Sepertinya ada telpon masuk. Mas Rangga segera meraih ponselnya lalu mengangkat pannggilan itu.

{Ya, Ada apa?}

{Baik. Aku segera kesana.}

‘Kesana, kemana? Sepertinya penting sekali,’ batinku kembali menerka-nerka.

Dengan cepat mas Rangga naik ke kamar mengganti baju lalu keluar.

“May, ayo ikut.”

“Kemana?”

“Penting!” ujarnya kini dengan wajah yang cemas.

🌱🌱🌱

Sesampainya dibandara kami duduk diruang tunggu. Mungkin bisa dibilang kami pasangan yang romantis oleh banyak orang. Bagaimana tidak, sejak turun dari mobil, tanganku tak pernah lepas dari genggamannya.

“Kita sedang menunggu siapa mas?” ucapku sembari mengedarkan pandangan. Penasaran.

“Kak….” teriakan seorang gadis dari kejauhan membuat mas Rangga terperanjat. Genggamannya terlepas begitu saja. Aku masih duduk termangu sembari mendongak kearah wajah mas Rangga.

Gadis itu berlari kedalam pelukan mas Rangga. Mas Rangga hanya terdiam, maniknya menatapku tajam.

“Siapa gadis itu? Semoga aku hanya salah paham? Semoga dia hanya saudaranya?” Aku membatin.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here