Jodoh Itu Misteri #09

0
149
views

Waktu sudah menujukkan pukul sembilan malam. Lampu jalanan nampak begitu terang menyinari kota Yogyakarta malam itu. Kota yang selalu padat dengan berbagai aktivitasnya. Setelah makan malam dan mengantarkan Stevi ke rumahnya, kini hanya tinggal kita berdua. Berdua dalam perasaan yang tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin rasa bahagia, rasa ingin memiliki atau rasa rindu untuk selalu bersamakah, entahlah. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, sesekali pak Rangga menoleh kearahku sambil tersenyum. Meskipun semua ini terbilang singkat, namun kenyataannya inilah yang terjadi.

“Besok biar orang kantor yang antar motormu ke rumah,” ucap pak Rangga sambil mengecup tanganku. Aku hanya mengangguk dengan mata menatapnya tajam.

Sejenak aku terpaku melihat pemandangan kota Yogyakarta dimalam hari. Kota yang mendapat julukan kota wisata ini, memang tak pernah sepi disetiap malamnya. Jalanan selalu dipadati oleh motor, mobil dan pejalan kaki serta berbagai aktivitas lainnya mulai dari yang berjualan aksesoris, makanan khas Jogja, juga hiburan seni budaya yang disajikan bebas di pinggiran jalan, nongkrong-nongkrong bercengkrama dengan keluarga juga teman, semua membaur jadi satu. Konon jika sudah bertandang ke kota ini, maka rasa rindu itu pasti akan selalu ada. Rindu ingin kembali menyambangi kota ini lagi. Sama seperti halnya aku dan pak Rangga baru tadi mencicipi manisnya cinta, aku yakin esok hari akan selalu rindu pada rasa manisnya cinta itu. Terkadang masih belum percaya semua bisa terjadi secepat ini. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Dan secepat inikah aku mendapatkannya? “Allah, jika memang dia sang pemilik hati maka mudahkanlah jalan kami,” batinku berdoa.

Setibanya didepan rumah aku buru-buru keluar dari mobil lalu sedikit berlari menuju pintu mobilnya, alih- alih untuk menghalanginya agar dia tidak berniat mampir masuk dan bertemu dengan bapak ibu. Rasanya belum siap saja, jika dia harus muncul didepan kedua orangtuaku sekarang. Apa kata mereka nanti, juga Romi si pangeran rumpi itu. Tapi semua usahaku sia-sia. Bukan pak Rangga Winata namanya jika dia tidak berhasil ikut masuk kerumahku. Dia tak kehabisan akal, meskipun aku menghalanginya dengan sekuat tenaga.

Biimm…
Biimmmm…

Dia membunyikan klakson mobil dengan keras dan berkali-kali. Aksinya tadi sontak membuat seisi rumah keluar dengan wajah penasaran. Pak Rangga hanya menatapku dengan senyum, seolah ingin berkata ‘berhasil kan, May.’

“Ish…” Aku berdecak kesal dan memalingkan muka.

Bapak, ibu juga Romi sang pangeran rumpi muncul dari balik pintu secara bersamaan.

Setelah melangkah mendekat,
“Maya, kenapa ada tamu tidak disuruh masuk?” Bapak melambaikan tangannya ke arah dimana kami berdiri, menyuruh kami agar segera masuk. Tanpa menunggu lama pak Rangga menghambur masuk ke rumah, dia mulai berjalan memasuki teras rumah, sejenak dia menoleh kearahku yang berdiri mematung masih tak percaya dengan apa yang dia lakukan barusan, cepat dia mengerlingkan mata. “Ih…dasar,” batinku. Bahagia juga malu harus bicara apa nanti pada mereka. Ah sudahlah.

Bukan ruang tamu yang menjadi tujuan bapak untuk berbincang dengan pak Rangga melaikan ruang keluarga. Setelah beberapa menit berbincang, ibu keluar dengan membawa satu nampan berisikan beberapa cangkir teh hangat untuk menemani obrolan mereka. Tak ingin terlihat kikuk, aku memilih untuk masuk dan membersihkan badan sejenak lalu berganti pakaian. Dari dalam kamar, lamat-lamat aku mendengar perbincangan mereka dengan seksama. Bapak dengan semangat menceritakan masa kecilku, juga masa kuliahku. Sesekali mereka tertawa bersama, tak kalah heboh, Romipun menimpali obrolan mereka dengan cerita lucunya. Hingga kami tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Aku keluar kamar lalu berjalan ke tempat mereka berbincang. “Pak, sudah malam, mungkin pak rangga lelah dan harus pulang,” ucapku pelan menyudahi obrolan mereka. Dengan setelan piyama menutup tubuh, pak Rangga memandangku dengan tatapan yang tak biasa. Cepat aku memicingkan mata kearahnya agar menghentikan pandangan nakalnya itu.

“Baik pak, berhubung waktu sudah sangat malam. Saya pamit dulu. Oya pak, besok motor Maya orang kantor yang akan bawa kesini,” ucapnya seraya menyalami ibu, bapak juga Romi si bocah tengil itu.

“Baik pak Rangga, hati-hati dijalan dan terimakasih sudah mengantar Maya pulang,” ucap bapak tulus.

“Sama-sama pak.”

Tak ingin berlama-lama, aku segera keluar lalu diikuti langkah kaki pak Rangga menuju mobil. Kami berdiri disisi mobil dan saling berhadap-hadapan. Perlahan dia meraih kedua tanganku, dengan postur yang tinggi itu mengharuskanku mendongak demi melihat wajahnya yang tampan itu. Reflek hal ini membuat jantungku kembali berdetak kencang. Kedua tangannya meremas lembut kedua tanganku bersamaan. Dan satu kecupan dengan pelan berhasil mendarat sempurna di bibir merahku. Hal itu sontak membuat tubuhku berubah-ubah suhu, mulai dari panas lalu dingin lalu merasa panas lagi. Ah Maya, baru dikecup bibir saja sudah seperti tinggal di dua tempat dengan suhu ekstrim. Lampu yang temaram, setidaknya tidak memperlihatkan wajah merahku pada pak Rangga saat ini.

“Kamu cantik dengan piyama ini, May,” Aku yang sedari tadi menunduk, menutupi rasa grogi akibat ciuman kilat itu, kali ini mendongak. Tanpa sadar salah satu tangannya meraih pinggangku dengan pelan dia menariknya lebih dekat lagi. Mendapat sentuhan itu, jantung ini rasanya seperti mau copot. Bagaimana tidak, adegan slow motion itu juga berhasil membuat dadaku naik turun. Menarik nafas lalu membuangnya dengan pelan. Dibawah lampu yang temaram, tatapan kami beradu, semakin memberi kesan romantis. Belum selesai adegan sakral kedua, Romi berteriak dari balik pintu.

“Mbak mayaaaaa…sudah malam, dilanjut besok saja…,” mendengar teriakkannya itu sontak pak Rangga mengurai pelukannya dan kami hanya terkekeh, tidak enak juga dengan tetangga sekitar mengingat waktu yang sudah sangat larut. Pak Rangga meninggalkanku dengan satu usapan lembut dipipi lalu pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

********

Kringggg….kringgg….

Bergegas aku beranjak dari ranjang lalu mematikan alaramnya. Masih dengan mata yang mengantuk, aku mengingat-ingat kejadian semalam. Aku mengulum senyum, lalu memegang dadaku, rasanya masih belum percaya bisa secepat ini. Aku menghirup udara pagi pelan lalu
meregangkan kedua tangan melemaskan otot-otot yang kaku.
Sengaja alarm kusetting lagi jam delapan pagi dan tidur setelah sholat shubuh tadi.

Aku beranjak dari ranjang dan sedikit berlari menuju dapur. Hari minggu yang begitu cerah, matahari kulihat bersinar lebih terang tak seperti biasanya. Sama seperti wajahku yang kini lebih bersinar tak seperti biasanya. Biasanya kusem May? “Hah…,mungkinkah karena efek ciuman semalam?” Aku membuang nafas kasar dan langkahku terhenti tepat dipintu dapur yang terbuka. Ada tatapan aneh yang terpancar dari beberapa pasang mata, bapak, ibu juga Romi.

“May, tadi pagi orang kantor datang bawa motor kamu,” bapak mengawali perbincangan.

“Oh, iya pak.” sahutku yang masih berdiri dibibir pintu.

“May, ibu ingin bicara sebentar,” ujar ibu dengan wajah yang khawatir sembari menuangkan teh ke gelas.

“Iya bu,” jawabku seraya menggeser kursi disebelah Romi lalu mendudukinya.

“Kamu serius dengan pak Rangga?”

Sejenak aku melirik bapak dan Romi yang masih memandangku dengan tatapan aneh.

“Insyaa Allah serius bu, memang kenapa bu?”, ucapku datar meski dalam hati rasanya deg-degan.

“Bukan kenapa-kenapa May, apa nantinya keluarga dia juga setuju dengan hubungan kalian?,” Wajah ibu kali ini lebih terlihat khawatir dibanding sebelumnya.

Aku diam sejenak. Merasa sudah kalah sebelum bertanding. Rasanya tiba-tiba pesimis mau menjalani hubungan yang lebih jauh lagi, rasa taku dan tidak nyaman itu seketika merambati hati.

“Maya jalani dulu saja bu, aku terserah pada pak Rangga,” ucapku kian melemah.

“Kamu perempuan May, jangan mau dipermainkan. Pak Rangga itu orang kaya, sedang kamu? Dia juga laki-laki yang tampan pastinya banyak wanita cantik diluar sana yang ingin bersanding dengannya juga.”

Dada ini seperti dihantam dengan benda keras, sakit rasanya mendengar kenyataan itu. Dia pria kaya, tampan, pasti tidak sedikit wanita yang ingin dekat dengannya. Sedang aku, hanya seorang resepsionis, apa pentingnya wanita sepertiku yang hanya bekerja sebagai resepsionis? Kuhela nafas meski berat. Sekilas aku menatap wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang mengharapkan kebahagiaan juga masa depan yang baik dariku.

Setelah sarapan, mencuci piring menyapu lantai, dan juga mandi, aku berpamitan pada ibu.

“Bu, aku keluar dulu ya, ke cafe mas Adi,” ucapku seraya mengenakan jaket dan helm lalu mencium punggung tangan ibu.

“Hati-hati, salam ibu buat dia,” ucap Ibu yang sedang melipat baju di kursi.

Pukul sepuluh pagi, aku melajukan motorku menuju cafe. Konon sinar matahari jam sepuluh pagi itu lebih sehat dibanding jam-jam sebelumnya, entahlah. Mungkin baik untuk kulitku tapi tidak untuk hatiku. Hati yang tiba-tiba tak yakin lagi untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan pimpinan hotel itu. Dia laki-laki tampan yang bisa dengan mudah memikat hati wanita manapun.
Dia juga berhak memilih siapapun.

Kuhentikan laju motorku sejenak melihat warna merah di papan rambu-rambu lalu lintas itu menyala.
Kuedarkan pandanganku keberbagai arah, mengamati betapa padatnya lalu lintas di hari minggu ini. Mungkin mereka hendak refreshing atau sekedar main, bahkan mungkin ada yang harus bekerja meski hari libur.

Titttt…..titttttt

Suara klakson begitu memekikkan telinga. Lampu hijau ternyata sudah menyala. Tanpa sadar aku melamun dan berhenti terlalu lama sehingga membuat jalanan macet seketika.

“Woyyy mbakkk, ayo jalan,” teriakan seorang laki-laki benar-benar mengagetkanku. Sejurus kemudian aku melajukan motorku pelan dan sedikit menepi.

Biasanya hanya sepuluh menit sampai di cafe, kali ini sekitar 15 menit baru sampai, mungkin karena aku terlalu pelan memgendarainya. Setelah motorku terparkir, aku melangkah masuk dengan gontai. “Mas, bikinin kopi hangat ya, satu,” ucapku pada salah satu pelayan mas Adi yang melintas didepanku. Aku memilih tempat duduk yang paling ujung, melepas jaket lalu menyandarkan punggungku di kursi.

“Biasanya bikin kopi sendiri, tumben.” Suara mas Adi kali ini mengagetkanku. Dia menarik kursi didepanku yang berjarak meja lalu duduk.

“Ih apaan sih. Ngagetin aja.”

“Kenapa manyun, ada masalah?”

“Nggak. Lagi bete aja,” ucapku tanpa menoleh.

“Mas adi!” panggil seseorang dari arah belakang. Kami yang tak lama mengobrol segera menoleh ke sumber suara.

“Nadia?” sebut mas Adi pelan.

“Nadia? Nadia siapa mas?” tanyaku heran.

“Pelanggan, tapi dia sering kesini sih, tunggu bentar ya May,” ucap mas Adi sembari melangkah menuju tempat dimana wanita berhijab itu berdiri. ‘Sering kesini? Ke cafe ini?’ benakku bertanya-tanya.

Melihat apa yang dikenakan wanita itu, tiba-tiba ada sedikit rasa iri muncul dari dalam diri. Pakaiannya yang tertutup itu semakin memperlihatkan keanggunannya. Kira-kira kapan ya, aku memakai pakaian tertutup seperti itu? Aku menghela nafas pelan sembari tersenyum pada wanita itu.

“Eh..eh, kenapa mereka kesini,” gumamku. Mendadak panik melihat mereka menuju kearahku.

“Nad, kenalin ini pacarku, Maya” ucap mas Adi, manikku seketika menatap tajam mas Adi. Seolah memberi isyarat ‘maksudnya apa mas?’ cepat kami berdua bersalaman. Mendengar penuturan mas Adi yang tiba-tiba itu sontak membuatku kikuk. Maksud mas Adi apa? Ngenalin aku sebagai pacar. Aneh. Aku memicingkan mata kearah mas Adi. Dia hanya tersenyum lalu tatapannya beralih ke wanita berhijab tadi. Wajah wanita itu nampak sedikit pucat dan langsung berpamitan dan mencari tempat duduk yang kosong. Mungkin dia kecewa mendengar ucapan mas Adi.

“Ish…mas Adi bener-bener tega, ya.”

Buggh! Dengan keras aku memukul lengan mas Adi setelah wanita itu pergi. Dia hanya mengernyit kesakitan lalu mengusap lengannya pelan sembari tersenyum.

“Maksud mas Adi apaan sih, bilang-bilang pacar. Tu cewe pasti suka sama mas Adi, ya kan?” cecarku.

Mas Adi hanya diam lalu mengangguk.

“Terus kenapa bilang ke dia kalo Maya pacarnya mas? Hah?,” nada bicaraku kini sedikit keras.

“Biar mas tidak diganggu dia lagi,” ucapnya cuek lalu duduk didepanku lagi.

“Bukannya dia cantik, anggun, berjilbab pula, masih kurang apa coba? Ntar nyesel lho…?” ucapku lagi tanpa jeda. Mendengar omelanku mas adi hanya mengulum senyum.

“Kalau nggak cinta, mau gimana lagi?” ujarnya santai sembari terus menatapku seperti tak punya beban setelah kuomeli tadi.

Aku membuang muka, lalu menyesap kopi yang tadi kupesan. Kulirik wajahnya sembari meminum kopi, kedua maniknya masih menatapku tajam. Kini aku yang jadi salah tingkah.

Kuletakkan cangkir yang telah kuminum habis isinya di meja lalu aku kembali menatapnya. “Mas Adi udah saatnya cari istri, masih mau jomblo terus? Sampe kapan?,” ucapku, meski sedikit gemetar dengan tatapannya yang seolah enggan untuk berpaling.

“Sampe kamu siap jadi istriku, May.”

Deg.
Lagi, aku semakin salah tingkah dibuatnya. Aku hanya menelan saliva mendengar hal itu. Lama-lama ngawur mas Adi ini. Semoga saja dia hanya asal bicara. Tapi, kalau ucapan mas Adi ternyata serius, gimana May? Ah masa bodolah.

“Oya mas, minumku habis, aku pesen lagi ya.” pandanganku kualihkan pada pelayan yang melintas didepanku.

Masih dengan tatapannya yang membuatku kikuk.
“May,” panggilnya lembut, selembut sikap mas Adi selama ini yang degan sabar menghadapi tingkahku yang super menyebalkan ini.

“Iya,” sahutku tanpa menoleh sembari memainkan ponsel demi menghindari tatapannya itu.

“Memangnya kamu sudah punya pacar?”

Reflek aku mendongakkan wajah kearahnya. Kaget dan malu bercampur jadi satu.

“Tau dari mana, mas?”

“Berarti benar? Kalau gitu selamat ya May,” ucap mas Adi tulus masih dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Seperti tak memperlihatkan rasa kecewa dari wajahnya.

Sementara aku hanya membalas senyumnya dengan senyum malu lalu mengalihkan pandangan lagi kearah lain.

“Kalau kamu sudah punya calon, berarti aku tinggal menunggu kamu sendiri lagi,” ujarnya seperti meledek.

“Yeeee…berarti mas Adi ngarep Maya putus gitu?” ucapku sambil memonyongkan bibir tak terima.

“Hahahhahaha…becanda May,” sahutnya seraya mengelus lenganku kasar.

“Ck.” aku berdecak kesal.

🍁Cinta itu memang tidak harus memiliki. Cinta itu cukup hati kita yang tau asal jangan karena cinta, kita jadi buta mata dan menghalalkan segala cara.🍁

Kira-kira Maya bakal sama pak Rangga yang sok cool atau dengan mas Adi yang baik hati ya….?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here