Jodoh Itu Misteri #07

0
180
views

🌹🌹….Pengakuan….🌹🌹

“Tega sekali kamu, mas. Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Apa kamu marah padaku?” rutukku dalam hati seakan menyesali. Bingung harus berbuat apa, aku hanya duduk di lantai didekat pintu sembari menekuk kedua kaki lalu memeluknya erat. “Bisa-bisanya dia menyuruhku bersiap-siap. Bersiap untuk apa? Malam pertama, gitu? PeDe sekali dia, mentang-mentang seorang bos. Cih,” lanjutku mennggerutu sepanjang menit.

“Aku lapar…”

Suara yang begitu pelan itu tiba-tiba mengagetkanku. Seketika aku celingak-celinguk. Masa sih disini ada setan? Aku bergidik ketakutan. Suara itu terdengar seperti rintihan seorang anak kecil. Darimana suara itu berasal? Aku beranjak dari lantai lalu mengamati kesemua sisi kamar ini, tidak ada siapa-siapa, lalu beralih ke kamar mandi juga tidak ada. Setelah keluar dari kamar mandi, sepertinya ada yang aneh dengan tempat tidur itu, berantakan. Bedcover yang acak-acakan, tidak seperti kamar yang siap untuk ditempati. Apa memang suara itu dari kamar ini. Pelan-pelan kudekati tempat tidur itu, semakin dekat dan sepertinya ada seseorang dibalik selimut itu. Yang nampak hanya rambutnya. Seperti rambut seorang anak kecil. Pelan-pelan kutarik selimut itu, meski sedikit merinding tapi…ah sudahlah, kuberanikan lagi menarik selimut itu dengan sangat pelan. Sampai setengah tubuhnya terlihat. Ya. Ternyata seorang anak kecil perempuan dengan posisi tidur telungkup sepertinya dia sangat kedingininan.

“Aku lapar…” ucapnya begitu pelan dan agak gemetar.

“Nak, kamu siapa?” tanyaku coba sepelan mungkin serta mengelus tubuhnya dari balik selimut.

“Stevi,” dengan sangat pelan dia membuka mata lalu menguceknya. “Tante siapa?” tanyanya. Kali ini dia memundurkan posisi duduknya. Sepertinya dia takut melihat keberadaanku.

“Jangan takut sayang, panggil saja tante Maya, tante pegawai hotel disini…” ucapku meyakinkannya. Sebentar, sepertinya aku ingat sesuatu. Aku pernah dengar nama Stevi. Wajahnya juga tak asing lagi bagiku, tapi dimana ya? Aku menatap gadis kecil itu lama sembari mengingat-ingat.

‘Oh iya, aku pernah bertemu dengan anak ini di sebuah restoran bersama mas Rangga. Kuamati sekali lagi gadis kecil itu, dan benar, aku pernah bertemu dengannya satu bulan yang lalu,’ batinku menerka.

“Kenapa kamu sendiri nak? Dimana mamah dan papah kamu, sayang? tanyaku pelan tak ingin membuatnya ketakutan.

Anak itu mulai menangis lalu dengan sesenggukan dia mulai berbicara,
“Mamah pergi jauh, jauh sekali,” jawabnya sedikit terisak.

Sepertinya ada masalah besar yang dialami gadis kecil ini. Tak mau mencampuri masalahnya kualihkan pembicaraanku pada hal lain.

“Oya, kamu lapar, sayang?” tanyaku dengan senyum lalu mengusap lembut rambutnya.

“Iya tante…” jawabnya masih terisak.

“Baiklah, tunggu sebentar ya cantik…”

Kuedarkan pandanganku disetiap meja juga lemari, kali saja aku bisa menemukan makanan yang bisa mengganjal perutnya. Nah, itu dia. Pandanganku tertuju pada sebuah bungkusan plastik, sepertinya ada banyak jajan disana. Aku ambil lalu memberikan padanya.

“Ini, ada kue, kamu makan dulu ya sayang, biar perut kamu tidak lapar lagi,” pintaku selembut mungkin.

Sudah hampir 15 menit, kenapa mas Rangga belum datang juga. Awas saja kamu mas. Dia kira aku babysitternya, apah? Tunggu-tunggu, tadi gadis kecil itu bilang mamahnya pergi jauh, jauh sekali. Memangnya kemana?.

“Tante, aku sudah kenyang. Aku mau bobo, ngantuk.”

“Iya sayang, sini tante elus-elus, biar cepet bobo,” ucapku sembari mendekatkan tubuhku pada anak itu.

Setelah lima menit, anak ini tertidur pulas. Niat hati ingin beranjak dari tempat tidur, ternyata tanganku sebelah kiri tertindih olehnya. Gerak sedikit bisa bangun ini bocah. Haduh…bagaimana ini. Masa iya aku harus tidur disini juga. Kalau mas Rangga datang bagaimana.

Klek!

Mataku seketika menoleh kearah pintu. ‘Sepertinya mas Rangga datang,’ batinku mengira-ngira. Perlahan pintu itu terbuka. Harusnya aku senang bisa bertemu dengan dia lagi setelah satu minggu tak berjumpa, tetapi justru sebaliknya. Aku merasa cemas dan takut. Apa yang akan dia lakukan di kamar ini. Kenapa dia membawaku kesini? Dia juga tega sudah meninggalkan Stevi dikamar sendirian. Setelah dia masuk kedalam kamar, dia menoleh ke arahku lalu menyunggingkan senyum. Senyum yang sama seperti pertama kali aku melihatnya dulu. Perlalan dia melepas sepatu, jas juga jam tangannya. ‘Heh, mau apa dia? Kenapa dia melepas semuanya?’ dalam hati berkata sembari memicingkan mata kearahnya. Dia hanya tersenyum dan memandangiku seoalah hendak menggodaku. Kini giliran dasinya dia lucuti perlahan lalu melemparnya ke lantai. Aku sedikit melongo dibuatnya. Disusul dengan melepas kancing kemeja yang atas satu persatu. ‘Ya Tuhan…mau apa dia? Segera kumenutup mata, takut kalau saja dia menyerangku. Seketika aku membuka mata lalu memelototinya. Serta tanganku kuarahkan padanya pertanda ‘stop, berhenti disitu saja.’ Melihat tingkahku yang sedikit ketakutan, dia justru mendekat lalu berdiri didekatku yang berjarak tak lebih dari satu meter dari tempatku tidur.

“May…?” panggilnya lirih meski pelan namun kuberikan dia kode agar tak bicara lagi.

“Ssssstttttt….” ucapku sembari menutup mulutku dengan jari telunjuk. Mendengar kodeku dia hanya tersenyum lalu duduk sembari menatapku tajam. Sekarang aku hanya bisa pasrah tertidur setengah miring menemani Stevi hingga dia benar-benar terlelap sekaligus menjadi pemandangan eksotisnya mas Rangga. Pandangannya yang tajam sangat membuatku tak nyaman. Malu dan kikuk melebur jadi satu.

Setelah hampir sepuluh menit tidur, Stevi menggeliat lalu memiringkan badannya. Kulihat mas Rangga juga tertidur. Syukurlah, ini kesempatan baik. Sekarang aku bisa keluar dari kamar ini.

Belum turun sepenuhnya dari ranjang, kali ini atraksinya begitu mengagetkanku.
“Kamu mau kemana, May?” tangannya dengan kuat menarikku dan seketika tubuhku terjatuh dipangkuannya.

Nafasku sejenak terasa sesak, jantungku berdetak begitu hebat mendapati tubuh ini berada dipangkuannya. Aku hanya diam, kaku dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Sementara mas Rangga hanya menatap wajahku dengan senyum tanpa berkedip. Sepertinya dia sangat menikmatinya. ‘Huft…dasar.’

Seketika aku memalingkan wajahku kesal. Namun usahaku gagal. Jemarinya dengan lincah menarik daguku ke arah wajahnya. Aku menghela nafas sejenak, meski masih terasa sesak karena grogi yang berlebihan. Sesaat aku memejamkan mata memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa terlepas darinya. Aku mencoba menggeliat dan meronta agar terlepas dari pelukannya. Juga tidak berhasil, justru pelukannya semakin erat hingga wajah kami bertatapan begitu dekat nyaris menempel dan hanya menyisakan beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa hangat menyapu wajahku. Parfumnya yang maskulin begitu wangi menusuk hidung. Meski seharian dia beraktivitas namun penampilannya masih rapi dan harum. Sedang rambutku yang biasanya kuikat rapi sekarang malah berantakan usai menidurkan Stevi. ‘Ah memalukan sekali.’

“Sepertinya aku kuat tidak tidur malam ini, May,” ucapnya semakin membuat jantungku hendak melompat dari tempatnya karena tak kuat menahan detakan yang luar biasa kencangnya.

“Apa? Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Dari luar tadi rasanya ngantuk sekali, tapi setelah melihatmu dipangkuanku, rasa kantukku tiba-tiba hilang,May.”

“Ish, ada-ada saja,” Aku berdecak kesal. Bohong nggak kira-kira.

“Berapa kilo kamu, May? Sepertinya banyak lemak di pinggul dan pahamu?”

‘Buggh’
Mendengar ucapannya itu aku langsung memukul dadanya.

“Sudah tau berat kenapa gak diturunin?” kataku kesal sembari berusaha turun dari pangkuannya.

Dia hanya tersenyum nakal melihatku salah tingkah.

“Pak, tolong lepaskan saya, saya mau pulang,” pintaku sedikit merengek namun dia tidak bergeming. Dia hanya terus memandangi wajahku kali ini disertai tangannya mengelus punggungku lembut.

“Kamu tidur disini saja menemani Stevi.” ujarnya semakin berganti menit semakin nakal.

“Aku bukan babysitternya pak, jadi tolong biarkan saya pergi,” ucapku tak mau kalah.

“Kamu memang bukan babysitternya, tapi kamu calon istriku.”

“Sudah Pak, jangan mengada-ada. Aku tidak mau dituduh sebagai perebut suami orang, tolong lepaskan saya pak. Saya mohon, biarkan saya pergi, Pak,” pintaku kali ini sedikit jengkel. Mengingat dia sudah berkeluarga jadi aku berfikir untuk segera pergi dari kamar ini.

“May, bos kamu ini masih lajang, lalu istri yang mana yang kamu tanyakan?” jawabnya begitu pelan.

Mataku seketika mengernyit.
“Maksud pak Rangga?” tanyaku heran meski didalam hati merasa bahagia, dan berharap kalau yang dikatakannya memang benar.

“Aku belum menikah, May. Dan calon istriku ya kamu. Masih ada pertanyaan lagi?” ungkapnya.

“Lalu…” Aku menggantung kalimatku sesaat.

“Lalu apalagi, May?”

“Stevi dan Mbak sarah?” tanyaku sedikit berbisik karena takut Stevi terbangun dari tidurnya.

Mas Rangga kini mengendurkan pelukannya dan seperti hendak berusaha menjelaskan sesuatu hal.
“Mbak sarah itu kakakku, dan Stevi itu anaknya. Memang tidak banyak yang tau kalau dia adalah kakakku. Kami terlahir dari bapak yang berbeda. Setelah mbak Sarah lahir, selang beberapa bulan, mamah mengandung lagi. Jadi kami terlihat seumuran.” jelasnya sambil sesekali merapikan rambutku yang berantakan.

“Begitukah, kenapa bapak tidak cerita?”

“Memangnya kamu pernah bertanya?”

“Heee…iya juga sih. Terus kenapa bapak nggak mengirim pesan atau menanyakan kabarku? Begitukah sikap calon suami? Cuek dengan calon istrinya?” cecarku membuat dia tersenyum lebar.

“Memangnya kamu juga menanyakan kabarku…? Aku hanya percaya bahwa kita punya rasa yang sama dan aku yakin kamu bisa menjaganya.”

Mendengar hal itu rasanya aku sangat bahagia. Dia benar, kita tidak pernah bertemu, juga saling mengabari, namun perasaan kita jauh lebih kuat dan kita tau itu. Aku hanya bisa mengulum senyum dan menatapnya lekat.

Usai memberi penjelasan aku pikir dia melepaskanku, ternyata tidak. Reaksinya kini lebih ekstrim lagi. Dia menyandarkan kepalanya didadaku sembari memelukku erat, dan sangat erat. Aku hanya diam sesaaat lalu membalas pelukannya dengan penuh kasih sayang dan membiarkan dia berlama-lama disana.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here