Jodoh Itu Misteri #05

0
97
views

Maya berjalan keluar menuju teras, ia edarkan pandangannya diantara para pelayat dan ia pun nampak bingung siapa tamu yang dimaksud Romi sebenarnya.

“Romi, siapa?” tanya Maya sedikit berbisik padanya yang berdiri tak jauh darinya.

“Itu, lagi sama bapak,” tunjuknya ke arah taman. Seketika Maya menoleh kesana dan mendapati mereka sedang duduk dan berbincang-bincang.

“Mas Rangga? Apa yang sedang mereka bicarakan? Menyebalkan sekali. Kenapa pesanku tidak dibalas? Aaa…iya aku lupa. Dia kan, bos, pastinya dia sibuk dan tidak sempat membalas pesanku, apalagi hanya pesan dari seorang resepsionis,” Maya berdecak sebal. Matanya menatap lelaki itu tajam.

“Ganteng kan, mbak?” ucap Romi sambil menepuk punggungnya pelan. Seketika Maya menoleh pada Romi lalu memicingkan mata pertanda tak setuju dengan pendapatnya. Usai Romi pergi dan memberi hidangan untuk para tamu, pandangan Maya kembali tertuju pada Rangga. Diam-diam Maya terus memperhatikan lelaki itu dari kejauhan lalu sejenak ia melirik Romi seolah apa yang Romi katakan memang benar. Lelaki itu memang sangat tampan dilihat dari sisi manapun. Lelaki itu memang mempunyai paras yang nyaris sempurna, berkulit putih bersih, juga tinggi yang proposional. Maya menarik nafas pelan lalu berjalan menghampiri mereka.

“Pak Rangga?” panggil Maya dengan sebutan tak biasa. Dia menoleh lalu kedua matanya mengernyit seolah ingin meminta kejelasan dari kata-kata Maya yang baru saja ia ucapkan. Sepertinya dia menyadari ada yang berbeda dari sikap Maya.

“Temanmu ini sudah menunggu lama May, ayo kamu suruh masuk saja,” perintah sang bapak.

“Pak, dia bukan teman Maya, dia pimpinan di hotel tempat Maya bekerja.” jelas Maya didepan Rangga. Rangga kelihatan salah tingkah. Sekilas dia melirik kearah Maya lalu kembali tersenyum pada lelaki paruh baya itu seolah mengiyakan apa yang yang putrinya ucapkan.

“Hah. Apa betul nak?” Pak Sulistyo kaget setelah mendengar ucapan Maya.

“Ehmm…iya pak, betul.” jawab Rangga malu-malu.

“Oh…maaf pak, saya tidak tau, duh saya jadi tidak enak, sambutannya terlalu sederhana sekali. Mari pak, silahkan masuk,” perintah bapak padanya.

“Saya disini saja pak, gak papa,” tolak Rangga dengan lembut.

“Sudah…masuk saja,” dengan terpaksa Ramgga menuruti perintah lelaki itu.

Rangga pun akhirnya menuruti perintahnya. Disela-sela langkah Maya membuntuti mereka masuk kedalam rumah, Maya berfikir, “Kenapa aku sampai tidak tau dia itu bosku sendiri. Tak ada kesempatan untuk bertanya, pun tak terbesit olehku untuk tanya pada mas Afif atau pada karyawan lain sebelumnya. Rina memang pernah membicarakan hal ini, namun kuabaikan. Aku pikir itu sesuatu yang tidak penting, ternyata aku salah. Andai saja, sejak awal aku tau siapa dia sebenarnya, tidak mungkin aku meminta ijin langsung padanya dan saat inipun dapat kupastikan dia tidak akan ada disini.”

Semua orang yang duduk melayat nampak saling berbisik setelah melihat kearah mereka. Mungkin para tamu sedang menerka-nerka, siapa laki-laki yang bersama mereka. Bisa jadi, mereka berfikir kalau Rangga itu adalah pacar Maya. Entah.

Masih dalam suasana berkabung, Maya tak begitu memperhatikan tamu spesialnya itu, Rangga. Setelah ia mempersilahkan Rangga duduk dan memberi suguhan segera Maya pergi dan meninggalkannya lagi bersama pak Sulistyo. Ia sibukkan dirinya mengurus ini dan itu agar acara pemakaman berjalan lancar.

Sering kali pandangan mereka tak sengaja bertemu, bagaimana tidak hampir tiap menit Maya mondar-mandir keluar masuk memberi suguhan pada tamu. Mau tidak mau Maya pun harus melewati ruang tamu yang kini ditempati Rangga. Sekarang giliran Romi yang menemaninya. Mereka terlihat akrab. “Ck. sok kenal, memangnya apa yang mereka bicarakan, kelihatannya asik sekali,” omel Maya dalam hati dengan terus mengamati mereka. Tanpa sadar Maya menabrak salah seorang tamu yang lewat dan itu berhasil membuat Romi dan Rangga terkikik lirih. Mendengar halnitu, seketika Maya mempercepat langkahny karena malu dibuatnya.

Setelah acara pemakaman selesai, Maya celingak-celinguk ditengah kerumunan tamu-tamu yang beranjak pulang, mencari sosok lelaki yang sudah ia abaikan dari tadi. Dari kejauhan, Maya melihatnya sedang membantu bapaknyamembereskan kursi-kursi tamu lalu menumpuknya. Merasa tidak enak hati, Maya menghampirinya dan berniat menyudahi aktivitasnya itu.

Mengambil alih kursi yang hendak dia tumpuk, Maya berkata, “Pak Rangga pulang saja, semua biar saya dan bapak yang mengerjakan,” ujar Maya pada laki-laki yang mempunyai tinggi kurang lebih 175cm itu.

“Gak papa May, aku bantu kamu sampe selesai,” jawabnya sambil menarik kursi yang hendak Maya ambil dari genggamannya.

“Memangnya hari ini bapak ga ada meeting?” tanya Maya menghentikan aktivitasnya dan wajahnya menoleh kearah Maya.

“Sudah aku cancel semua meeting hari ini, May. Kamu tenang saja.” Sekilas dia melihatnya tersenyum. Jawabannya kali ini membuat Maya sedikit berfikir, memangnya datang kesini jauh lebih penting dari sekedar meeting dengan client?

“Lalu…,” May menghela nafas, memberanikan diri bertanya sesuatu yang bersifat pribadi. “Kenapa pesanku tidak dibalas?” tanya Maya tanpa menoleh sedikitpun. Meski ragu, pada akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Maya.

“Apa balasanku jauh lebih penting dari kedatanganku May?, jawabnya kali ini membuat Maya panas dingin. Bingung harus menjawab apa dan bersikap bagaimana. Sejurus kemudian Maya melanjutkan aktivitasnya menumpuk kursi-kursi. Tak mau terlihat wajahnya yang memerah, Maya sibuk berberes dengan membelakangi tubuh lelaki itu.

“May, kenapa? Tidak suka aku datang?” Pertanyaannya membuat tubuh Maya seketika mematung, beberapa detik kemudian ia menoleh kearah lelaki itu.

“Pak, ayo masuk istirahat dulu. Biar kami yang membereskan semua,” ajak bapak.

“Tidak usah pak, terimakasih,” jawabnya sesopan mungkin.

Mendapat kesempatan yang baik, Maya memotong pembicaraannya mereka.
“Pak Rangga sudah mau pulang kok pak,” jawab Maya dengan kedua mata hitamnya memelototi Rangga yang berdiri tepat didepan Maya. Sementara Maya sepertinya sudah Tak mau berurusan dengannya lebih lama lagi, mungkin alangkah baiknya memang Maya menyuruhnya pulang. Maya takut Rangga akan bertingkah yang aneh-aneh diluar kendali Maya.
“Iya pak, saya harus pamit, masih ada urusan yang harus saya selesaikan di kantor,” jawabnya sembari memicingkan mata kearahku seolah memberiku ancaman ‘awas saja kamu, May.’ Aku hanya membuang muka lalu tersenyum licik.

Lima menit setalah itu, mas Rangga masuk ke mobilnya. Sebelum dia pergi, aku menatapnya dan melambaikan tangan dengan senyum kemenangan. Tapi yang dilakukan mas Rangga justru megejutkanku, dia menarik tanganku dengan kuat, lalu menatap tajam kedua mataku yang berjarak hanya beberapa jengkal darinya kemudian berkata “tunggu pembalasanku,May.” Tak mau kalah, akupun terus menatapnya dengan sinis seolah mengajaknya berdialog ‘Siapa takut.’

******

Setelah pertemuan mereka seminggu lalu dirumah Maya, selanjutnya mereka tak bertemu lagi, bahkan berkomunikasi melalui telfonpun tidak.

Seperti ada rasa aneh merambati hati mereka? Rasa rindukah? bukan. Mungkin lebih tepatnya penasaran, apa yang Rangga maksud dengan ‘tunggu pembalasanku’ kala itu?’

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here