Jodoh Itu Misteri #04

0
120
views

~~~🍂🍂~~~

“Cantik,” gumam Gilang, hingga sepersekian detik jantungnya berdetak tak biasa seolah tidak sadar atas apa yang baru saja ia ucapakan. Lelaki itu serta merta membuang muka, kesal atas ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya, lalu dengan cepat ia mematikan layar ponsel dan memasukannya kedalam saku celana.

Merasa sepi, dan jam mengajar pun telah usai, akhirnya, ia memilih pulang lebih cepat demi melupakan hal konyol yang baru saja dirasakannya. Ia berjalan keluar ruangan menuju tempat parkir. Lagi dan lagi, sepanjang langkahnya menuju tempat parkir, telinganya dibuat tidak nyaman dengan panggilan-panggilan nakal yang ditujukan pada lelaki berperawakan jangkung itu dari beberapa mahasisiwi yang berjalan diseberang sana.

“Pak Gilang, kenapa buru-buru? Dari jauhan masih ganteng aja, Pak. Eeaaa…!” sorak salah seorang mahasiswi.

Gilang memejamkan mata sesaat seraya menggeleng.

“Swiittttt…. Swiiiiiitttt….!” Beberapa yang lainnya bersiul. Hal itu membuat Gilang serta merta menoleh dengan gayanya yang cool, menatap sinis ke arah mereka untuk beberapa detik sebelum akhirnya pandangan itu kembali seperti sedia kala. Momen itu justru membuat mahasiswanya semakin bersorak nakal.

“Aaaahhhhhh tatapannya …. Gak nahan, Pak!” sorak para mahasiswi kompak.

“Dasar!” Gilang mengumpat. Ia hanya menggelengkan kepala lalu bergegas menuju tempat parkir. Sampai di tempat parkir, Ia menstater motor sportnya dan kendaraan itu pun melesat meninggalkan area kampus.

🍂🍂🍂

Tak berselang lama, Gilang menepikan motornya tepat di depan sekolah Friska. Ia berniat menunggu adiknya meskipun jam pulang sekolah masih dua jam lagi. Ia beranjak dari motor lalu berjalan menuju warung yang tidak jauh dari gedung sekolah itu.

“Bu, kopi satu, ya?” ucap Gilang pada pemilik warung yang tengah tertidur pulas di kursi dengan kepalanya ia sandarkan di meja warung.

“Eh, iya, Mas,” Wanita itu terlihat kaget, ia membetulkan ikatan rambutnya yang terlepas lalu setengah tidak sadar ia menyipitkan matanya ke arah Gilang.

“Mas Gilang!” pekik wanita paruh baya itu, histeris. “Apa kabar, Mas? Lama gak dateng ke sini. Ibu jadi kangen,” rentetan pertanyaan keluar dari mulut bu Ranti, sang pemilik warung yang sudah ia kenal dari sejak ia sekolah di bangku SMA, tepat di gedung sekolah dimana Friska pun belajar di sana.

“Baik, Bu, alhamdulillah. Gimana kabar, Ibu? sehat?” tanya Gilang seraya mengelus lengan wanita yang sudah seperti ibunya itu.

“Alhamdulillah, saya juga baik, Mas. Tapi ya itu tadi … semakin kesini, warung ibu semakin sepi.” tutur ibu Ranti.

Eeehmm ….” Gilang berusaha mendengarkan.

“Mau bagaimana lagi, Mas. Sekarang banyak yang menggunakan ojek … ojek, food … food, apa itu ya?

“Go food, Grab food, Bu.” Gilang menjelaskan.

“Nah, iya itu. Sekarang jarang ada yang datang kecuali para pekerja proyek dan anak-anak sekolah kalau sudah jam pulang sekolah.” ungkap wanita paruh baya itu sambil pandangannya menerawang kosong. “Waduh jadi lupa pesenan mas Gilang. Bentar ya, Mas. Saya buatkan kopi dulu.” Gilang mengangguk dan tersenyum.

Selang dua menit, bu Ranti sudah membawa nampan berisikan kopi pesanan Gilang.

“Ini, Mas.” Satu cangkir kopi yang masih mengepulkan asap itu pun telah siap di meja.

“Terus … pekerjaan pak Sobirin, sekarang bagaimana?”

“Sama saja, Mas. Ojek semakin kesini juga semakin sepi. Yang lagi rame kan ojek online,” jawab bu Ranti pilu.

“Bapak gak coba ikutan ojek online, Bu?”

“Hemmh ….” tampak wanita paruh baya itu menghembuskan nafas berat.
“Bukannya kalau ojek online harus pakai hp canggih, Mas? Mana mampu kami membelinya, buat makan saja susah,” lanjutnya.

Gilang terlihat menelan salivanya seolah ikut merasakan kepahitan yang dirasakan bu Ranti dan suaminya.

“Tapi … Gio masih sekolah kan, Bu?” Gilang memastikan. Di tengah sulitnya ekonomi yang sedang wanita itu rasakan, setidaknya ia masih optimis menyekolahkan anak semata wayangnya.

“Pasti, Mas. Alhamdulillah, ibu dikaruniai anak yang penurut. Gio tau kalau orang tuanya tidak punya dan dia juga sangat rajin belajar. Semoga saja, dia bisa lulus dengan nilai yang terbaik dan bisa melanjutkan sekolah di perguruan tinggi nantinya,” tutur bu Ranti sambil berkaca-kaca. Keduanya saling bertatapan lalu tersenyum.

“Ah, mas Gilang jadi ikut-ikutan sedih, kan. Dah dingin itu kopinya, Mas. Ayo diminum.”

“Eh. Iya, Bu,” jawab Gilang sambil menahan getir di hati sekaligus bangga melihat kegigihan serta jiwa semangat mereka menyekolahkan anaknya meski merasa tidak mampu secara ekonomi.

Ibu Ranti adalah satu dari sekian banyak orang di luar sana yang sedang berusaha bertahan demi melangsungkan hidupnya. Semangatnya begitu luar biasa, dan hal itu berhasil membuat hati Gilang yang kaku menjadi terharu.

********

Kringgg…..

Bel jam pulang sekolah berbunyi. Setelah hampir dua jam mengobrol dengan bu Ranti diselingi minum kopi dan memakan gorengan, Gilang pun akhirnya berpamitan.

“Bu, aku pamit, ya. Lain kali aku pasti datang lagi.” Gilang berpamitan.

“Dan … ini buat Ibu. Tolong jangan ditolak. Kalau tidak, aku tidak akan mampir kesini lagi.” Gilang menyerahkan dua lembaran uang berwarna merah di tangan wanita paruh baya itu.

“Kenapa selalu kasih uang ibu sih, Mas!” ucap bu Ranti seolah menolak.

“Bu, ini buat tambahan ibu belanja warung ini atau ibu bisa simpan, siapa tau Gio suatu saat membutuhkan. Iya, kan?” bukannya mengangguk, bu Ranti justru menangis lalu memeluk Gilang.

Bukan hanya sekali ini Gilang memberinya uang, bahkan hampir setiap dia datang ke warungnm itu, Gilang hampir sering memberinya beberapa lembar rupiah. Meski ditolak, hal itu akan percuma. Lelaki itu akan meninggalkan uang di bawah gelas kopi yang dipesannya keesokan hari.

“Ya Allah, Mas … semoga kamu dan keluarga diberi kesehatan dan keberkahan ya. Aamiin. Makasih sekali lagi ya, Mas.” bu Ranti tergugu di dada Gilang. Gilang tersenyum, ia pun mengelus punggung wanita paruh baya itu.

Setelah berpamitan, Gilang bergegas keluar warung lalu menunggu Friska di atas motornya.

“Abang! Tumben cepet. Biasanya aku harus nunggu lama!” pekik Friska dari arah gerbang sekolah.

“Ayo buruan, panas ini.” Gilang mencebik.

“Iya, iya.”

**********

Pukul empat sore, Friska dan Gilang tiba di rumah. Langit yang tadi masih berwarna kebiruan kini berangsur menjadi jingga, seolah sang surya hendak kembali ke peraduannya.

“Assalamuallaikum,” ucap Friska lantang setelah membuka pintu rumah.

“Waalaikumsalam.”

“Kok abang yang jawab?”

“Lha terus? Kamu suruh jin penghuni rumah ini yang jawab?”

“Dih. Dasar. Memangnya bapak ibu kemana?”

“Tanya sendiri saja, kalau sudah pulang.” ucap Gilang setelah keduanya masuk.

Friska hanya mengerutkan dahinya, heran.

Deru suara mobil di depan rumah terdengar begitu jelas. “Mungkin itu ibu,” batin Gilang tanpa berniat melongok kedepan rumah.

“Terimakasih ya, nak Viona?” seru Sherly dari arah gerbang.

Lagi, Friska mengerutkan dahinya, penasaran. “Lah itu kayak suara ibu, Bang. Sepertinya dia sudah pulang.”

Gilang hanya mengedikkan bahunya sebelum akhirnya masuk ke kamar.

“Ih, Abang ini!” Friska mendengkus kasar lalu berjalan ke depan.

“Ibu, habis dari mana? Wajahnya seperti happy banget.” ujar Frsika pada ibunya.

Sherly berjalan ke arah teras rumah dengan wajah semringah setelah seharian diajak jalan-jalan oleh Viona dan Mariana, tetangga depannya.

“Bu! Ditanya juga, malah senyam-senyum,” ucap Friska heran.

Sampai didepan pintu, Mariana menatap wajah Friska seraya memainkan kedua alisnya.

“Tadi ibu habis jalan-jalan sama Viona dan Bu Mariana. Ternyata mereka baik dan sangat menyenangkan, Fris. Ibu jadi lupa pulang. Hahhhahah.”

Friska menatap ibunya dengan tatapan aneh.
“Gimana ceritanya?” lirih Friska.

“Nanti saja, Ibu ceritakan. Sekarang ibu mau masak untuk makan malam dulu,” jawab Sherly seraya melangkah masuk ke dalam rumah.

Melewati ruang tamu, Sherly melihat Gilang tengah berbaring sambil mendengarkan musik melalui headset. Sangking bahagianya seakan habis jalan-jalan dengan calon mantu, Sherly pun menowel pipi Gilang, gemas lalu berjalan ke arah dapur.

Gilang dan Friska yang melihatnya pun tercenung. Bingung. “Aneh,” batin mereka.

“Apa gara-gara habis makan di cafe, tadi? Heran,” gumam gilang dan Friska mendengarnya karena ia kini sedang berdiri tepat di sisi dimana Gilang merebahkan tubuhnya.

“Abang tau, ibu dari mana? Kok bilang kafe?” tanya Friska ingin tahu.

Gilang menghela nafas sejenak. “Tadi ibu habis pergi dengan tetangga depan. Mereka makan-makan di kafe.”

“Abang tau darimana?” tanya Friska.

“Ni, fotonya!” jawab Gilang seraya menunjukkan foto di status WA ibunya.

Friska menarik ponsel Gilang ke hadapannya. Matanya pun membulat setelah melihat tiga wanita tengah berselfie ria sambil meminum jus di sebuah cafe. “Ihhh… ibu jahat! Kenapa gak ngajak-ngakak Friska sih, sebel. Kan jadi enggak lengkap personilnya!”

“Personil? Kamu pikir kalian Black Pink!” celetuk Gilang.

“Abang!!!” Friska mencebik seraya memukul lengan Gilang.

“Udah, siniin ponselnya!”

“Tapi ngomong-ngomong … mbak Viona kelihatan cantik, ya, Bang. Tuh liat. Apa jangan-jangan Abang ngeliatin foto mbak Viona terus. Biasanya Abang gak pernah kepo-kepo status orang. Hahhahahaha, roman-romannya ada yang kepo nih. Ahayyyy, ketauan … Abang kepo ….” seru Friska sambil menyerahkan ponsel ke tangan Gilang lalu berlari ke arah dapur menyusul Sherly.

“Kepo-kepo apaan! Sok tau, Lu!”

“IBUUUUU…! Bang Gilang KEPO niye…..!” teriak Friska lagi.

“Dasar!”

Gilang tidak mau ambil pusing dengan sikap ibunya yang tiba-tiba berubah juga Friska yang teriak-teriak tidak jelas. Ia pun kembali fokus pada alunan musik yang ia dengar sambil memejamkan mata.

Menit berlalu dan hampir lima belas menit Gilang masih mendengarkan musik sembari tiduran.

“Assalamuallaikum,”

Tak lama, seseorang mengucapkan salam dari luar pintu. Dengan telinga yang masih tersumpal, Gilang pun tidak menyadari kedatangan seseorang. Ia pun masih fokus rebahan dengan mata terpejam sambil menggoyangkan kepala.

Tok…. tok…. tok….
“Assalamuallaikum, Bu.”

Lagi, Viona mengucap salam, namun tidak ada satu orang pun yang menyahut.

“Sepertinya ada yang tiduran di ruang tamu, tapi … kenapa tidak dengar salamku?” gumam Viona kesal.

Merasa melihat seseorang tengah rebahan di ruang tamu dari sela pintu yang sedikit terbuka, terpaksa Viona membuka pintu lalu masuk perlahan dan menghampiri sang pemilik rumah yang masih tiduran itu.

Viona kaget bercampur bingung setelah tau orang yang berada di ruangan itu ternyata putra Sherly, si lelaki angkuh. Andai saja ponsel wanita paruh baya itu tidak tertinggal di mobilnya, pastinya, ia lebih suka untuk tidak bertemu dengan lelaki itu.

“Apa dia benar-benar tidur? Ck. Dasar pemalas!” gumam Viona sembari menelisik wajah Gilang. “Hemm, pantas. Ternyata telinganya tersumpal, bagaimana dia bisa dengar ada orang yang datang. Ck. Dasar!” Viona mencebik.

Sesaat, Viona mendekat hendak membangunkan Gilang, namun ia urungkan.”

“Apa … ponselnya aku taruh di meja saja? Ah malah jadi gak sopan.” Viona tampak gelisah.

Tiba-tiba Viona mempunyai ide, ia mengambil bantal kecil yang tergeletak di atas sofa. Dengan sengaja ia membangunkan Gilang, tempelkan tempelkan ujung bantal pada telapak kakinya hingga menimbulkan sensasi geli, akhirnya lelaki itu membuka matanya.

“Kau?” ujar Gilang. Spontan wajahnya terlihat geram.

“Ya! Kamu kira aku ini setan, hah?” jawab Viona berani.

“Memangnya siapa yang membolehkan kamu masuk, hah?” Gilang melepas headsetnya lalu berdiri bersedekap mensejajari Viona.

“Memangnya kamu dengar, aku dari tadi ngucapin salam?” tanya Viona mengskak mat Gilang.

Gilang kali ini tidak bisa berkutik. Ia menoleh pada headset yang ia letakkan sembarang tadi lalu tatapannya beralih lagi pada Viona.

“Kan, kamu bisa datang lagi nanti,” jawab Gilang tak mau kalah.

“Ponsel bu Sherly tertinggal di mobilku. Barangkali beliau membutuhkan, jadi … aku bermaksud mengembalikannya,” jelas Viona.

“Ya udah, taruh saja di meja. Susah amat,” balas Gilang angkuh. Ia pun kembali duduk sambil menyematkan headsetnya lagi ke telinga tanpa menggubris Viona yang masih berdiri.

“Hah!” Viona mendengkus kesal. Kepalanya tiba-tiba terasa pening melihat betapa congkak lelaki didepannya itu.

“Ck. Dasar. Bahkan berterima kasih pun tidak!” gerutu Viona sambil meletakkan ponsel di atas meja.

“Pintu keluar ada di sebelah sana. Sudah tau, kan?” ucap Gilang seraya menunjuk arah pintu.

Viona memicingkan matanya ke arah Gilang, sedang Gilang kembali merebahkan tubuhnya sambil mendengarkan musik. Hal itu membuat hati Viona semakin geram.

“Baiklah, kita lihat saja. Suatu saat pasti aku akan buat kamu kesal, bahkan lebih dari ini!” ucap Viona dalam hati sambil menatap sinis lelaki itu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here