Jodoh Ditangan Tuhan Season 2 #10

0
56
views
Jodoh Ditangan Tuhan

“Hai Dam, sudah lama ya nunggunya? ” ucap Asha.

“Hai juga Sha, ngak kok baru setengah jam.” balas Adam.

“Bisa lepas pelukan kamu Sha, maaf gak enak dilihat banyak orang. ”

” Oh ya, Maaf Dam. ”

” Ada apa kamu menyuruh aku kemari, Sha?”

***

Adam marah ketika tahu Asha memanggilnya hanya untuk hal yang tidak penting.

“Asha, kamu tau aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku, Hawa.”

“Tapi aku bisa memberikan kamu seorang anak, Dam, tidak seperti istrimu!!”

“Tau apa kamu tentang istriku, ah!! sekarang aku mau kerja, sementara kamu sudah aman dari mantan suamimu itu,”

Adam hendak pergi meninggalkan Asha, tidak ingin Adam pergi, Asha mencari ide agar Adam tetap bersamanya.

“Aduh, sakit!” pekik Asha, yang meringis kesakitan.
Asha duduk dan berpura-pura mengurut-urut kakinya yang tidak sakit.

Adam yang mendengar jeritan Asha membalikkan badannya, dan melihat Asha yang sudah duduk di tanah.

“Bisa jalan gak??” tanya Adam pada Asha.

Asha menggelengkan kepalanya, “Sakit banget, Dam!!”

“Lagian kamu, kok bisa sampai kesandung seperti ini,”

“Tadi, aku bermaksud meminta maaf padamu, karena telah menghina Hawa, saat aku mau lari mengejar kamu, aku tersandung.”
Asha mengarang cerita agar Adam lebih percaya.

“Ya sudah, aku bantu kamu ke kosan, ayo coba berdiri,” Adam memapah Asha berjalan dengan pelan ke arah kosan Asha.

Adam terperanjat kaget, saat menyadari dia tertidur di kosan Asha, Adam terduduk lemas di kamar yang tidak begitu besar dibandingkan dengan kamar miliknya.

Adam tidak menemui Asha di kosannya, “Kemana si Asha, apa yang telah aku perbuat,” Adam melirik jam tangannya, “Astaghfirullah.. Jam 1 siang, berapa lama aku berada di sini, kenapa aku bisa tidak sadar seperti ini,”

Adam mengingat saat dia membawa masuk Asha ke dalam kosan, dan sempat meminum teh buatan Asha.
Saat ingin mencari Asha, ponsel Adam berbunyi, tanpa melihat nomer yang menghubunginya, “Gua lagi sibuk, nanti telpon gua lagi!!” Adam mematikan ponselnya.

Tidak beberapa lama, ponsel Adam berbunyi kembali,

“Adam!! kamu, dimana?”

Adam membaca nama yang tertera dilayar ponselnya “Sarah,” Adam masih diam.

“Cepat ke rumah sakit, Hawa harus segera di operasi,”

“Deg” jantung Adam serasa berhenti berdetak saat mendengar nama Hawa.

Derap langkah Adam, yang berlari tergesa-gesa memecah kesunyian lorong rumah sakit yang tampak muram.

“Cepat ke rumah sakit, Hawa harus segera di opersai,” ucapan Sarah di telepon siang tadi masih terngiang di telinga Adam.

“Hawa!”Adam langsung menghambur memeluk Hawa yang tampak sedang memejamkan matanya karena sudah berada dalam pengaruh obat bius.

“Maafkan aku, Wa.” Adam mencium kening Hawa.

Tidak lama kemudian Sarah menyusul Hawa ke dalam ruangan operasi, Adam yang hendak berbicara pada Sarah, mendapat penolakan dari Sarah, karena harus segera menjalankan tugasnya, “Nanti saja Dam, operasi akan segera di mulai.”

“Ya Allah, dosa apa yang aku perbuat, dasar!! awas kamu Sha, kamu telah menjebak aku, kamu telah membuat aku hina di mata istriku,” Adam menjambaki rambutnya.

Tidak berapa lama kemudian, Doni dan Mela datang ke rumah sakit tersebut, Doni yang melihat Adam kesal, merasa heran dan menanyakan pada Adam kenapa dia terlalu kesal.

“Kenapa kamu, Dam.”

“Kak Doni, gak apa-apa kak, aku hanya takut, operasi Hawa akan gagal, dan kakak tau kan? jika operasi ini gagal, Aku dan Hawa tidak akan bisa mempunyai anak selamanya,”

“Berdoa, bukan marah-marah seperti itu, semoga operasi Hawa di beri kelancaran, dan kalian akan segera mendapatkan keturunan.”

“Aamiin..” ucap Adam.

Operasi pengangkatan jaringan endometriosis pada Hawa telah selesai dilakukan, operasi ini dilakukan pada Hawa guna mempunyai anak.

Adam yang menunggui Hawa, duduk tepat disamping Hawa, Adam membelai kepala Hawa, tiba-tiba Adam teringat akan kejadian pagi tadi di kosan Asha.

Adam menarik tangannya dari kepala Hawa, lalu ke kamar mandi, Adam mencuci tangannya, dia menggosok-gosokan tangannya dengan kasar, “Aku manusia kotor, maafkan Aku, Wa.” Adam memukuli tangannya pada dinding di kamar mandi tersebut, “Dasar!! manusia bodoh!!! Bodoh!!!”

Adam melorotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai kamar mandi tersebut, lalu mengguyur tubuhnya dengan air, Adam menumpahkan kekesalan, akan kebodohan dirinya terjebak oleh Asha. Adam menangis kemudian menghantukkan kepalanya ke dinding. “Maafkan aku, Hawa.”

Adam lalu mengambil wudhu, Adam Sholat dan memohon ampun atas pengkhianatan yang tak disengaja itu terhadap Hawa.

Tidak beberapa lama ponsel Adam berbunyi, Adam menerima pesan dari Asha.

“Adam, terimakasih atas cinta kamu, aku ingin kita mengulanginya lagi, kamu mau kan? ” tulis Asha pada pesan tersebut.

“Tidak!!! kejadian ini tidak boleh terulang, aku tidak boleh terjebak lagi,”

Adam melempar ponselnya ke lantai.

“Kenapa kamu, Dam!! kenapa Hp kamu di lempar seperti itu??” tanya mba Mela yang baru masuk ke kamar perawatan Hawa, sambil menggendong Anaknya.

“Gak sengaja terlempar mba,” jawab Adam sambil mengambil Hpnya.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here