Jodoh Ditangan Tuhan Season 2 #08

0
91
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya). (Al-Furqan 25:2).

Pikiran Hawa melayang, melamunkan tentang dirinya, dia masih merasa dirinya belum menjadi wanita yang sempurna karena kekurangannya, takdir selalu saja membawanya kepada hal-hal yang rumit, sehingga sering membuatnya berpikiran diluar akal sehatnya.

Pukul tujuh pagi, Hawa terbangun dari tidurnya, lalu melirik jam yang ada pada dinding kamarnya, sontak membuatnya kaget dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.

“Astaghfirullah… Aku telat, mas Adam? kemana dia”

Hawa mencari Adam dikamar mandi yang ada didalam kamarnya, namun Adam tidak ada, Hawa keluar dari kamarnya dan melihat Adam sedang didapur, “Mas, maaf aku ketiduran, kamu ngapain?”
Adam tersenyum ketika melihat Hawa mememuinya di dapur, “Aku lagi masak nasi goreng, aku laper banget, mau bangunin kamu gak tega, ”

Hawa menarik kursi meja makan, lalu duduk sambil menopangkan kedua tanganya, “Seharusnya memasak itu pekerjaan perempuan, bukan laki-laki.”

” Emang kenapa kalau laki-laki masak? aku sih gak masalah, nih coba cicipin. ”

Adam memberikan sepiring nasi goreng pada Hawa.

Hawa mencicipi makanan yang dimasak Adam, ” Besok-besok mas aja deh yang masak, masakan mas lebih enak dari masakanku.”

” Boleh, siapa takut. ” jawab Adam.

***

” Bagaimana Sar, istriku? ” tanya Adam saat pada Sarah saat kembali datang untuk memeriksakan keadaan Hawa.

” Ehm.. Kita lakukan Pengangkatan Jaringan Endometriosis Melalui Operasi, Dam”

“Operasi? ”

” Ya, Operasi pengangkatan endometriosis, prosedur ini umumnya dilakukan guna mengangkat jaringan endometriosis serta jaringan parut.” Jawab Sarah

“Kalian masih ingin memiliki anak bukan? dokter biasanya akan menganjurkan pengangkatan jaringan endometriosis melalui prosedur laparoskopi atau operasi dengan sayatan besar jika banyak jaringan yang perlu diangkat. Kedua prosedur operasi ini dapat mengurangi rasa sakit sekaligus meningkatkan kemungkinan Hawa untuk hamil.”

“Lakukan itu, mba, ” ucap Hawa.

“Kamu yakin sayang?”

Hawa mengangguk pelan, “Aku yakin, Mas”

Setelah lama mengobrol, Adam dan Hawa kembali pulang, Saat berjalan menuju pintu keluar Hawa melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya sedang berjalan kearahnya, wajahnya mendadak pucat, dan keringat dingin mulai membasahi tubuh dan kedua telapak tangannya, Hawa menghemtikan langkahnya, “Kenapa berhenti say…” ucapan Adam terhenti ketika melihat Hawa sudah pucat, “Kamu kenapa Wa?”

“Ra… Ma” Hawa bersembunyi dibelakang tubuh Adam, Adam melihat Rama yang semakin dekat dengan mereka,

“Assalamualaikum, Dam, Wa, ” ucap Rama.

” Waalaikumsalam, kamu?

“Apa kabar, Dam? ”

” Ayo, mas kita pergi, aku takut, ” ucap Hawa yang sama sekali tidak berani melihat Rama, mendengar ucapan Hawa, Rama semakin merasa bersalah, karena telah membuat seseorang yang pernah dicintainya begitu trauma melihatnya.

” Kita baik-baik saja Ram, maaf Ram, aku tau, kamu sangat berjasa atas kesembuhan Hawa dulu, tapi aku minta maaf, Hawa masih takut bertemu dengan kamu, Hawa trauma dengan kamu. ”

” Aku paham, gak apa-apa, jika sekalipun Hawa membenciku, aku hanya ingin minta maaf sama Hawa. ”

” Maaf Ram, kita harus pergi, Hawa belum siap buat bertemu dengan kamu.”

Adam membawa Hawa pergi menjauh dari Rama, Adam mengenggam erat lengan Hawa untuk memberi posisi nyaman pada Hawa.

” Kita sudah jauh dari Rama, Wa. ”

” Aku masih takut, Mas.”

“Jangan takut, ada aku. ”

Adam mengantarkan Hawa pulang kerumah, sesampai dirumah Adam langsung berangkat menuju Kampus tempat dia mengajar.

” Wa, mungkin aku pulang agak malam ya, ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan. ”

Hawa mengangguk, tapi masih terlihat wajah ketakutannya sejak bertemu Rama sedari Rumah sakit tadi.

” Kamu masih takut?” tanya Adam.

Adam turun dari mobilnya, dan memeluk Hawa, “Kamu mau ikut aku ngajar?”

“Nggak, pergilah mas, nanti kamu telat. ”

****

Mobil Adam berjalan membelah gelapnya malam, hujan lebat disertai angin kencang, dan udara dingin menusuk siapapun yang berada di luar rumahnya.
Terlihat dengan samar di sana seorang melangkah gontai, rambutnya basah kuyup, begitu juga kaos hitam dan rok jeans diatas lutut yang wanita itu kenakan.

“Sepertinya aku mengenalnya?” Guman Adam yang berada didalam mobil, saat melintasi tepat dihadapan wanita itu.

Adam memundurkan kembali mobilnya, dan membuka sedikit kaca mobilnya, wanita itu menutupi sedikit wajahnya dengan tangannya, yang terkena sinar lampu mobil,

“Asha!! … Ayo masuk, ngapain kamu hujan- hujanan?”

“Adam?? tak perlu, aku bisa pulang sendiri, apa lagi tubuhku basah.” Asha menolak ajakan Adam.

“Dari pada nanti kamu sakit, ayo cepat masuk apalagi sudah malam begini.” Ujar Adam yang berusaha meyakinkan.

Akhirnya Asha mau menuruti apa yang diperintahkan Adam, Asha masuk kedalam mobil Adam, Adam memberikan handuk kering yang biasa ada didalam mobil Adam pada Asha, “Keringkan badan kamu,” ucap Adam.

“Aku antar kamu pulang, sha, dimana rumah kamu?”

Asha terdiam, dia menunduk sambil memegangi handuk yang kini sudah basah, “Asha, kenapa diam, dimana rumah kamu, biar aku antar,” ucap Adam sekali lagi.

“Aku gak punya rumah, Dam! aku gak tau harus kemana, aku di usir oleh keluarga suamiku, ”

Adam menarik nafasnya,” Lalu kemana aku harus mengantarkan mu,? ”

” Entahlah, tinggalkan saja aku disini,”

“Kita cari kontrakan untuk kamu,”

Adam melajukan mobilnya, mencari kontrakan untuk Asha.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here