Jodoh Ditangan Tuhan Season 2 #05

0
44
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Dokter membuka amplop dan membaca hasil cek laboratorium Adam dan Hawa.

“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Hawa yang sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.

Dokter itu tersenyum, “Keadaan Rahim ibu baik-baik saja, tidak ada masalah, begitu juga dengan pak Adam, kalian berdua subur.”

“Alhamdulillah. ” ucap Adam dan Hawa bersamaan.

“Dokter yakin? Apa tidak ada yang salah? ” ucap Hawa.

” Kita bisa cek ulang nanti bu, tetapi kecil kemungkinannya kesalahan itu terjadi. ”

” Baiklah terima kasih dok,” ucap Adam, lalu mengajak Hawa keluar rungan dokter tersebut.

***

Hawa yang tadi seakan mengerti dan menerima apa yang di katakan dokter kemaren, namun otaknya berpikir, seorang Hawa tidak terlalu mudah untuk dibohongin, tampa sepengetahuan Adam, dia kembali memeriksakan dirinya kepada dokter lain, terlihat raut kecemasan di wajah Hawa menunggu hasil cek laboratorium yang kedua keluar.

Tidak beberapa lama menunggu, akhirnya cek laboratorium Hawa keluar, dan Hawa tengah berada diruang dokter untuk pembacaan hasilnya.

Dokter membuka amplop itu, dan menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Ibu terkena Endometriosis, itu yang menyebabkan ketidaksuburan pada ibu. ”

Hawa mengeritkan dahinya, “Endometriosis? Apa itu dokter?”

“Endometriosis merupakan salah satu penyakit, di mana di temukan bercak bercak jaringan tubuh endometrium yang berusaha tumbuh di luar rahim. Padahal seharusnya, endometrium ini ada dan hanya di temukan di dalam lapisan perut rahim wanita. ”

“Bahaya dari penyakit ini dok? ”

“Banyak, salah satunya Resiko kemandulan, ini di Karenakan jaringan endometrium yang harusnya menempel di lapisan rahim malah tumbuh dan besar di jaringan organ lain, maka muncul kemungkinan lain pula. Resiko ini adalah resiko terbesar ke dua yang mungkin akan di alami oleh wanita. ”

“Innalillahi. ” ucapnya dalam hati, Hawa tak dapat menahan lagi air matanya, Hawa pulang dengan perasaan yang sangat kacau, langkah kaki mulai melemah ketika hendak masuk kedalam rumah, dia melihat sosok lelaki yang dicintainya sedang menunggunya di teras rumah.

“Assalamualaikum, Mas.. ”

“Waalaikumsalam, dari mana kamu Wa? ”

Hawa ragu menjawab pertanyaan Adam, matanya menatap lurus kearah Adam, dan berkaca-kaca menahan tangis, senyum yang terpaksa terukir dari bibirnya, “Maaf mas, tidak izin keluar rumah, tadi aku melihat Adinda, aku kangen dia.” jawab Hawa berbohong.

Hawa yang hendak masuk, tiba-tiba Adam menarik lengan Hawa, dan membawa kedalam pelukannya, “Kita menjalin hubungan berpacaran lebih dari 3 tahun Wa, kita hidup bersama hampir 4 tahun Wa, jangan pernah ada yang ditutupi, aku tahu kamu berbohong, sekali lagi aku tanya, kamu dari mana?”

“Maafin aku mas, aku bukan istri yang baik. ”

Adam melepaskan pelukannya, Adam memegang bahu Hawa,dan menatap mata Hawa “Kamu dari mana sayang?” tanya Adam lagi.

“Dokter” jawab Hawa.

Adam menarik nafas dalam, “Buat apa lagi Wa?”

Hawa menunjukan hasil cek lab terbarunya kepada Adam,
“Ternyata, aku bukanlah wanita yang sempurna. ”

“Aku ga perduli dengan hasil cek lab itu, dan jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh dengan menyuruh aku menikah lagi, itu tidak akan pernah. ”

“Lalu kenapa kamu berbohong, dengan mengatakan aku baik-baik saja, kenapa kamu menyuruh dokter itu mengatakan, jika aku tidak bermasalah mas,? bukankah kamu mengatakan jangan pernah ada yang ditutupi? ”

Adam menarik nafasnya dalam, dan menghembusnya kasar.

“Karena aku ingin menjaga perasaan kamu Wa, karena aku gak mau kamu berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu, dan aku tidak mau kamu akan menyuruh aku dengan keinginan konyol kamu itu. ” ucap Adam.

“Tapi mas,”

“Stop!! Cukup Wa!! aku tidak ingin kamu membicarakan hal itu lagi. ”

***

Malam itu, Hawa terduduk lemah, Hawa sadar dalam setiap kehidupan rumah tangga pasti ada badai yang akan datang menerpa, badai yang datang menimpahnya adalah kekurangan dirinya yang belum dapat memberikan keturunan bagi Adam, dan orang tua Adam yang sangat menginginkan cucu.

Hawa bangun dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu, Hawa berusaha untuk memusatkan pikirannya untuk dapat berdiri tegak diatas sajadahnya, agar dia dapat menuntaskan dua rakaatnya pada shalat malamnya. Fakta mengejutkan dari rumah sakit membuatnya sulit untuk berfikir normal seperti biasa.

Di penghujung Sholatnya Hawa mengadahkan kedua tangannya, memohon ampun kepada Allah, atas kekufuran nikmat yang di berikan Allah kepadanya, Ya Allah, tolonglah hambamu ini atas ketidakberdayaan ini, begitu perih dan pedih luka yang harus aku terima dalam menerima kenyataan ini, bantulah aku dalam menghadapi semua cobaan yang engkau berikan, Aamiin..” mohon Hawa dalam doanya dengan ucapan dari bibirnya yang kaku, dan tangannya yang gemetar.

“Kenyataan pahit yang harus diterima dalam sebuah pernikahan, hidup ini tidak bisa dijalani hanya dengan menerima yang indah saja, tapi.. harus siap menerima fakta yang ada, sekalipun itu sangat menyakitkan, itulah gambaran rumah tangga yang harus kita jalani, jika aku siap dan ikhlas menerima semua kekurangan kamu, mengapa kamu tidak, sayang? ” ucap Adam yang bangun dan kini duduk dihadapan Hawa.

Lagi-lagi Hawa tidak dapat menatap Adam, dalam hatinya menyimpan segudang rasa takjub kepada Allah, yang menciptakan dan mempersatukan dirinya dan Adam dengan hati yang tulus mencintai dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya.

Adam memeluk Hawa, dan mengusap kepala Hawa yang masih terbalut mukenah.

“Tugas seorang pasangan itu, melengkapi kekurangan pasangan yang satunya, bukan malah menghindari atau menyalahkan kekurangan pasangannya, aku ada untuk kamu, dan kamu ada untuk aku, kita ada untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. ” ucap Adam.

Hawa menangis dipelukan Adam, tidak ada kata-kata yang mampu dia keluarkan dari bibir mungilnya, hanya air mata yang mampu mengalir deras di kedua pipinya.

Adam melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Hawa dengan jarinya, ” Kamu jahat” ucap Adam kepada Hawa.

“Ja… Jahat?? ” Hawa berkata lirih.

“Iya, jahat!! kenapa kamu ga ngebangunin aku untuk shalat bareng dengan kamu? Mau dapat pahala sendiri ya? Curang itu, gak ngajak-ngajak suami. ” ucap Adam sambil menarik hidung Hawa.

Hawa memukul dada Adam pelan, “Gak lucu!!” ucapnya sambil memegangi hidungnya.
Adam tersenyum, lalu memeluk kembali tubuh Hawa, “Lain kali, kita jemaah ya? aku juga mau dapat pahala. ” bisiknya ditelinga Hawa.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here