Jodoh Ditangan Tuhan Season 2 #03

0
68
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Sudah 3 tahun kebersamaan Adam dan Hawa dalam mengarungi bahterah rumah tangga, namun belum juga di anugerahi seorang anak,
dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”

Tanpa sepengetahuan Hawa, Adam pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa dirinya tidak ada masalah apa pun.

Sebuah benturan keras membuyarkan lamunan Hawa, ketika sang Bunda berkata, menginginkan secepatnya mempunyai seorang cucu darinya, Hawa hanya tersenyum agar tidak menampakan kepedihan batinnya ketika harus dituntut memberikan seorang anak.

“Belum rezekinya Bun, bersabarlah, kita juga masih terus berusaha koq. ” ucap Adam yang seolah mengerti perasaan Hawa.

Saat pulang kerumah, Hawa tidak banyak bicara, matanya menatap lurus kedepan, pikirannya kosong, melihat itu Adam mencoba untuk menenangkan Hawa, dia memegang tangan Hawa, ” Kamu jangan pikirkan apa yang dikatakan Bunda ya wa, kita ini hanya manusia, kita hanya berusaha, tapi Allah yang menentukan.”

“Kamu boleh menikah lagi Mas dan tinggalkan aku, jika tahun keempat usia pernikahan kita aku belum juga dapat memberikan kamu seorang anak. ”

Adam memberhentikan mobilnya, dia menatap tajam kepada Hawa yang tidak mau menatapnya, “Lihat aku Wa!!” hardik Adam, namun Hawa tetap tidak menoleh kepada Adam, Adam memegangi wajah Hawa, dan mengarahkannya kehadapannya, ” Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, dan jangan pernah berkata hal itu lagi, kamu dengar Wa, Tidak a.. Kaan per.. nah. ” ucap Adam dengan menekankan kata tidak pernah.

Hawa tidak dapat membantah ucapan Adam, bahkan dia tidak berani menatap Adam.

” Maafin aku, ” ucap Adam sambil mengelus kepala Hawa.

***

Udara pagi itu sangat sejuk, Hawa lagi sibuk menyiapkan sarapan buat Adam, Adam yang pagi itu hendak berangkat keluar kota untuk pelatihan sertifikasi Dosen, saat di dapur Adam memeluk Hawa dari belakang, dan berbisik ditelinga Hawa “Masih marah ya?”

Hawa memutar tubuhnya yang kini berhadapan dengan Adam, lalu tersenyum manis, dan menggelengkan kepalanya.

“Berapa hari Mas pelatihannya?”

“Dua hari, kenapa? ”

” Aku boleh pulang kerumah kak Doni? Aku kangen sama dia, sama Adinda juga. ”
“Aku antar ya Wa, sebelum pergi”

Selesai sarapan, sebelum berangkat ketempat pelatihan, Adam mengantarkan Hawa ke rumah Doni, Adam tidak sempat lagi untuk turun dan langsung pamit kepada Hawa.
Hawa mencium punggung tangan Adam, “Hati-hati ya Mas, sudah sampai langsung kabari aku, Assalamualaikum Mas. ” ucap Hawa.

“Waalaikumsalam

Lalu saat Hawa hendak turun dari mobil, Adam menarik lengan Hawa, hingga membuatnya terduduk kembali di jok mobil, “Kenapa lagi?” tanya Hawa.

Adam memeluk Hawa, dan mengecup kening Hawa lama, “Pasti aku bakal kangen nih sama kamu Wa, kalau nggak karena sertifikasi itu, Aku gak bakalan mau ikut dan pergi. ”

“Masa dua hari aja ga bisa, ditinggalin 3 tahun dulu kamu bisa melewatinya Mas. ”

” Itu beda, sekarang berbeda” Jawab Adam yang masih memeluk Hawa.

“Sudah, nanti kamu telat, berangkatlah Mas. ”

Adam melepaskan pelukannya pada Hawa, dan Hawa turun dari mobil.
Hawa masuk, saat mobil Adam sudah tidak terlihat lagi olehnya.

***

“Assalamualaikum, kak.” ucap Hawa lalu memeluk kakaknya itu.

“Waalaikumsalam, sendiri aja Dek? mana Adam?”

“Mas Adam udah pergi, salam untuk kakak dari mas Adam. ”

“Wa, kakak pergi kerja dulu ya, Kak Mela bentar lagi pulang dari pasar, tadi kakak dah bilang sama dia kamu mau nginep disini.”

“Iya kak”

Mela adalah istri Doni, yang dinikahinya dua tahun lalu, dan pernikahan Doni dan Mela sudah dikarunia seorang anak yang diberi nama Adinda.

“Adinda mana kak? Aku mau lihat. ”

“Ada dikamarnya, sama si Mbaknya”

Saat Doni sudah pergi, Hawa masuk ke kamar Adinda, terlihat seorang babysitter yang baru selesai memandikan Adinda anaknya Doni.

“Eh, mba Hawa. ” sapa si Mbak.

Hawa menggendong Adinda, dan menciumi pipi Adinda, rasa keibuan yang merindukan seorang buah hati muncul seketika seiring air matanya yang membasahi pipinya.

“Wa, suatu saat juga kamu pasti akan memilikinya” ucap Mela, yang melihat Hawa menangis.

Hawa menghapus air matanya, dan meletakan Adinda yang sudah tertidur dipelukannya.

“Udah pulang Kak? ” ucap Hawa.

“Sudah, Adinda dah tidurkan? Ayo kita masak” ajak Mela.

***

Sudah jam 13.00 WIB, namun Adam belum mengabari Hawa, Hawa mencoba menelpon Adam, namun nomernya tidak aktif.

” Seharusnya kamu sudah sampai Mas, dan seharusnya kamu mengabari aku, tapi kenapa ini belum. ”

Rasa cemas semakin menghampiri Hawa, karena sampai sore juga Adam tidak kunjung mengabarinya, berulangkali Hawa terus mencoba menghubungi Adam, namun hasilnya tetap sama, nomer Adam tidak dapat dihubungi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here