Jodoh Ditangan Tuhan #33

0
86
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Adam duduk diruang tamu, bundanya menghampiri Adam, dan mengobrol.

“Dam …”

Adam menoleh … “Iya bun,” jawab Adam.

“Bunda mau ngobrol nih, Dam … sampai kapan kamu menunggu Hawa, sampai sekarang dia tidak ada kabar beritanya, ”

“Selamanya Bun, sampai dia kembali”

“Tapi Dam … Umur kamu sudah berapa sekarang, tunangan Dara juga sudah mengajak menikah, tapi Dara menolaknya, dia menunggu kamu menikah dulu, apa kamu tidak kasihan pada Dara, bunda heran dengan kamu, menunggu yang tidak pasti. ”

Adam melihat bundanya, dan memegang tangan bundanya,

“Bunda … aku hanya mau menikah dengan Hawa, Aku yakin, dia akan kembali pada ku,”

“Lalu … kalau dia tidak kembali? apa kamu selamanya akan seperti ini, lalu Dara adik kamu bagaimana ? ”

“Dara kalau ingin menikah, ya menikahlah dahulu, jangan tunggu aku, aku tidak masalah jika harus didahului Dara bund.”

“Terserah kamu lah Dam, bunda pusing lihat kamu seperti ini,” ucap bunda lalu pergi meninggalkan Adam.

***

Lalu Adam menemui Dara yang seeang di kamarnya, dan mengetuk pintu kamar Dara.

“Dar, boleh aku masuk? ”

“Masuk aja kak,” jawab Dara yang baru selesai sholat.

“Kenapa kak? ”

Tampa basa basi, Lalu Adam menanyakan apa yang dikatakan bundanya tadi pada dirinya.

“Apa benar begitu Dar?”

Dara menunduk, Tidak menjawab pertanyaan Adam.

“Kamu tidak perlu menunggu kakak, menikahlah … Aku tidak apa- apa” ucap Adam sambil mengusap rambut adiknya.

Dara memeluk Adam, “Aku ingin kakak bahagia, aku gak ingin kakak seperti ini”

“Aku izin Dar, menikahlah” ucap Adam.

“Aku doakan yang terbaik buat kamu kak, semoga apa yang kakak harapkan dapat tercapai, semoga dia kembali, dan mimpi kalian berdua akan terlaksanakan”

“Aamiin … ” jawab Adam.

“Ya sudah, kakak ke kamar dulu ya, aku belum ashar ini,”

“Iya kak,”

***

Adam memandangi setiap sudut kamarnya, yang dihiasi sosok foto – foto diri Hawa.

“Cinta akan berarti ketika hati menemukan keikhlasan” ucap Adam sambil memandangi foto kekasihnya itu.

“Kamu di mana Wa … Aku sangat merindukan kamu,”

***

Seminggu terlewAti

Hawa dan doni telah kembali ke Indonesia, mereka tidak lagi menempati rumah yang lama.

“Bagaimana dek … Apa perasaan kamu setelah kembali ”

“Takut!!”

“Apa yang kamu takutkan lagi, peristiwa kelam itu? atau cerita kamu dan Adam”

“Kedua-duanya”

“Untuk peristiwa itu, kamu tidak perlu takut, Rama sudah menerima hukumannya, dan menyesali perbuatannya, dan dia yang membantu menyelamatkan kamu, dan Adam … Kakak yakin dia akan memaafkan kamu,”

“Entahlah kak, Aku takut saja, takut bertemu dengan kak Adam, takut bagaimana nanti jika dia membenci aku,”

“Ya sudah, jangan terlalu di pikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi ya dek, nanti siapa orang pertama yang akan kamu beritahu Wa?”

“Alya”

“Kenapa Alya, kenapa tidak Adam langsung? ”

“Aku belum siap menemui kak Adam, kak”

***

Pagi ini Hawa sudah bersiap untuk bertemu Alya di rumahnya, Hawa mendapatkan informasi dari Haykal bahwa Alya telah menikah dan pindah rumah dekat dengan rumah Adam.

Hawa memasuki area perumahan itu, entah mengapa Hawa merasakan ketakutan yang menyerangnya, bagaimana reaksi sahabatnya itu jika melihatnya, bagaimana jika dia tiba- tiba bertemu Adam.

Hawa berjalan menyusuri komplek tersebut mencari rumah Alya, tiba tiba kaki Hawa tersandung dan nyaris terjatuh, untung saja ada seseorang yang dengan cepat menangkap tubuh Hawa, kini tubuh Hawa berada di dalam pelukan orang tersebut, wajah mereka yang saling berdeketan, mata Hawa menghujam tepat di bola mata orang tersebut.

Entah Apa yang di rasakan Hawa, rasanya dia ingin menangis dan ingin berlari, namun seketika tangan itu menariknya kembali.

“Hawa” Adam memeluk erat tubuh Hawa.

Tersadar dengan kondisi dan pakaian yang di gunakan Hawa, Adam melepasakan pelukannya, Hawa hanya bisa menundukan kepalanya, sedikit pun dia tidak berani memandang wajah kekasihnya itu.

“Kamu kembali Wa, kamu sudah sehat?? ” ucap Adam yang masih memegang erat tangan Hawa seakan takut ia takut Hawa akan pergi meninggalkannya lagi.

“Jangan pergi lagi Wa? Ucap Adam.

Hawa masih diam, dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, nafasnya memburu dalam kepanikan, dalam ketakutannya lalu Hawa memberanikan dirinya melihat Adam, Adam melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Hawa.

“Kenapa menangis? ” Adam bertanya lalu menghapus air mata Hawa,
Adam menyadari, betapa dia merindukan semua yang ada di dalam diri kekasihnya, namun Hawa masih tidak mampu mengeluarkan kata-katanya sedikit pun.

“Maa … af … maafkan aku kak,” Hawa membuka suaranya.

“Gak ada yang perlu di maafkan, aku senang kamu sudah kembali, ” ucap Adam.

“Kakak gak benci sama aku?”

Adam menggelengkan kepalanya,

“Aku memahami kepergian kamu Wa, aku tetap setia menunggu kamu kembali, aku masih untuk kamu, kamu juga begitu kan W? Kamu masih menjaga hati aku kan? ” tanya Adam.

“Wa … Saat tangan kamu ada di dalam genggamanku, aku tidak ingin melepaskannya lagi, karena aku merasa kamu lah satu-satunya wanita yang saya butuhkan,” ucap Adam.

Kata- kata yang di ucapkan Adam membuat jantung Hawa berdetak semakin tak beraturan, dia melihat dan mengerti sikap tulus pria yang ada di depannya.

“Wa, kamu tinggal di mana sekarang? ” tanya Adam yang memecahkan lamunan Hawa.

“Nanti aku kasih tau alamatnya kak, oh iya, bunda dan ayah apa kabarnya kak, Dara? ”

“Mereka semua sehat Wa, Dara juga sebentar lagi mau menikah, kita bertemu Bunda yuk. Pasti bunda dan Dara senang melihat kamu”

“Salam aku buat mereka semua kak, maaf kak, aku belum punya keberanian untuk bertemu dengan orangtua kakak, biar nanti kak Doni yang menjelaskan semuanya ya,” ucap Hawa.

Adam pun mengerti apa yang dirasakan Hawa,tidak terasa sudah cukup lama Hawa dan Adam melepaskan kerinduannya, sampai dia lupa telah berjanji dengan Alya.

“Sudah sore kak, aku lupa tadi ada janji dengan Alya,”

“Ya sudah, aku antar kamu pulang ya, biar aku tau juga rumah kamu,” ucap Adam.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here