Jodoh Ditangan Tuhan #12

0
115
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Beberapa hari kemudian

Sebenarnya Ocha marah pada Hawa, hanya karena kecewa, kenapa Hawa tidak berterus terang kepada dirinya, bahwa Hawa juga mencintai Adam, dan tidak memberitau dirinya jika dia itu sedang sakit, kenapa Hawa lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Akhirnya Ocha berinisiatif untuk menemui Adam guna meluruskan semua masalahnya.

“Kak, Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu” Ocha mengirimkan pesan kepada Adam. Namun Adam tidak membalasanya, setelah lama menunggu balasan dari Adam, akhirnya Ocha mengirimkan pesan lagi.

“Temui saya di Kafe kemala jam empat sore,”

“Baik” jawab Adam. Adam membalasnya, karena dia berpikir emang ada masalah yang harus di selesaikan dengan Ocha.

***

KAFE

Adam sudah datang duluan dari Ocha, dan kini tengah menunggu Ocha datang.

“Maaf, Kak, saya terlambat” ucap Ocha.

“Gak apa-apa, saya juga belum lama, duduk.”
“Kak, langsung saja ya … saya mau minta maaf pada Kak Adam, dan Hawa, saya sadar jika saya egois, tapi jujur, saya tidak tau jika Hawa memiliki rasa yang sama dengan saya kepada kakak, saya janji akan memperbaiki hubungan kakak dengan Hawa” tutur Ocha.

“Sebelumnya, saya juga mau meminta maaf dengan kamu Cha, gak seharusnya juga saya menuruti permintaan Hawa, saya merasa jika saya mau menuruti kemauan dia, saya bisa dekat dengan dia, karena saya menyukai dia, tapi … rasanya, dengan kejadian kemarin Hawa tidak akan memaafkan saya, dia sudah kecewa pada saya,”

“Maksud, Kak Adam??” tanya Rossa heran.

“Ya, kemarin saya bertengkar dengan Hawa, sekarang Hawa sudah menutup semua akses saya untuk dapat menghubunginya, no hp diblokir, ke rumahnya dia gak mau keluar, dan di kampus juga dia tidak kelihatan beberapa hari ini” jelas Adam.

“Kenapa ya, Hawa, atau jangan-jangan … ”

“Jangan-jangan apa, Cha?” tanya Adam.

Rossa mengambil ponselnya, lalu menghubungi Doni, kakaknya Hawa.

“Kak, ini Rossa, Hawa kemana ya, Kak? sudah beberapa hari ini Hawa tidak ke kampus, dan ga bisa Ocha telpon? apa, Kak, Hawa kecelakaan, Astaghfirullah … ” Ocha menutup telponnya.

“Kak, Hawa kemaren kecelakaan, dan sekarang di rumah sakit, kita kesana, ya … ” ucap Rossa panik.

Adam yang mendengar Hawa kecelakaan menjadi bengong, dia gak percaya, yang ada didalam pikirannya ini semua gara-gara dirinya, Adam merasa bersalah, karena dia penyebab Hawa menjadi celaka, dan Rossa juga berpikiran hal yang sama, karena dirinya Hawa mengalami kecelakaan, seketika Ocha tidak dapat menahan tangisnya.

“Kalo ada apa-apa dengan Hawa, saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri, Kak” lirih Ocha.

Begitu juga dengan Adam yang merasa bersalah dirinya yang lebih bersalah.

“Maafin saya, Wa, Maafin.. ” ucap Adam dalam hatinya.

***

RUMAH SAKIT

Ocha berlari menemui Doni, dan langsung memeluk Doni, Ocha memang sudah menganggap Doni seperti kakaknya sendiri.

“Kak, Hawa bagaimana, Kak?” tanya Ocha.
“Hawa sudah sadar, tetapi tetap masih harus di rawat, ada cidera di kakinya karena terjepit, jadi untuk sementara, Hawa tidak bisa berjalan normal,” jelas Doni.

“Apa? Hawa lumpuh, Kak?” ucap Adam yang mendengar penjelasan Doni.

“Bukan, Hawa tidak lumpuh, hanya saja dia tidak bisa berjalan tampa alat bantu, mungkin sementara ini Hawa akan menggunakan penyanggah untuk berjalan.” Jelas Doni.

Ocha menangis sejadi-jadinya. Melihat Ocha menangis Doni mencoba menguatkan Ocha. “Sudah, jangan nangis-nangis gitu, Cha, Sana, temui Hawa, katanya … dia kangen sama kamu, kamu ngambek ya … sama Hawa, ada Alya juga di dalam” ucap Doni.

“Takut … Kak, Alya galak,”jawab Ocha manja.

“Udah, gak apa-apa, masuk sana,”

Dan Ocha masuk kedalam ruangan dimana Hawa dirawat, Ocha langsung memeluk Hawa.

“Maafin aku, Wa … Maafin … ” isak Ocha.

“Kamu, kenapa Cha? kenapa minta maaf? ” tanya Hawa heran.

“Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini,”

“Hey, bukan gara-gara kamu, Cha, murni ini salah aku, karena ga hati- hati, aku ceroboh, dan ini bukan salah kamu, ini musibah, teguran dari Allah untuk aku,” jawab Hawa sambil tersenyum, Hawa senang sahabatnya telah kembali.

“Cha, kamu kan tau sahabat kamu ini paling ceroboh, gak pernah bisa di bilangin kalau bawa mobil, jangan main hp, jangan terima telpon, nih begini akibatnya, bandel ” ucap Alya. Ocha tersenyum, lalu memeluk Alya.

“Ya, gw juga minta maaf sama lu, Al ”

“Iya, sama-sama Cha, maafin gw juga ya?” balas Alya.

“Oh iya, di luar ada Pak Adam, aku keluar dulu ya, biar bisa gantian. Aku mau suruh dia masuk” ucap Ocha.

“Eh ngapain, ga usah, aku masih kangen sama kamu Cha,”jawab Hawa.

“biarin, Pak Adam, juga kangen sama kamu, Udah ya sayang, aku keluar dulu” Ocha mencium pipi Hawa lalu keluar dan menarik Alya.

“Ayo, Kak, gantian, masuk gih sekarang,” ucap Ocha pada Adam

“Iya, makasih Al, Cha, saya kedalam dulu ya, Kak Doni,”

***

“Bagaimana keadaan kamu, Wa?” Hawa hanya diam, dan tidak menjawab pertanyaan Adam,

“Saya faham, kamu … masih marah sama saya, maafkan saya, saya khilaf, Sa …”
“Pak Adam, yang terhormat, jika tidak ada kepentingan lagi, silahkan keluar, saya mau istirahat” ucap Hawa yang memotong omongan Adam yang belum selesai.

“Saya gak akan pergi dari sini,” ucap Adam.

“Tadi, kakak kamu menitipkan kamu kepada saya, Kak Doni pergi setelah menerima telpon dari kantor, dan tidak sempat bicara dengan kamu.”

“Saya tidak perlu ditemanin, di rumah sakit banyak perawat, jadi bapak tidak usah repot-repot di sini,”

“Saya, tidak pernah merasa direpotkan, saya tetap disini,”

“Terserah!! saya mau tidur,”

Hawa membalikan badannya membelakangi Adam, melihat tingkah Hawa, Adam hanya tersenyum, “Meskipun kamu masih marah, saya gak akan pergi dari sini” ucapnya Dalam hati.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here