Jodoh Ditangan Tuhan #09

0
182
views
Jodoh Ditangan Tuhan

Seminggu sudah Hawa tidak masuk ke kampusnya, dan ini hari pertama Hawa memulai aktifitasnya kembali di kampus. Hawa melihat teman- temannya mengobrol di kelas.

“Hawaaaaaa!!!! gua kangen elu,” sapa Ocha ketika melihat Hawa saat memasuki kelas.

“Ehm … Kangen … apaan … Jengukin aku aja nggak.”

“Iya, maaf sayang ku … tapi gua kan pantau terus keadaan lu, lewat pesan WA.”

“Terserah elu deh.”

Alya dan Dara hanya tersenyum saja melihat kelakuan dua temannya itu.

“Eh … sepertinya bu Aminah ga masuk deh, gak nongol ampe sekarang.” Ujar Alya.

“Laper ga?? kantin yuk? ” ajak Rossa.

“Yuk, Ikut yuk, Wa,”

“Ehm, kalian saja ya, Aku masih agak pusing, males berisik-berisik.”

“Ya udah, kalau ada apa-apa, cepat kabari kita ya? ”

“Siap … ” jawab Hawa.

Adam yang baru saja selesai mengajar di kelas lain, melihat Hawa sendirian di kelasnya, “Hawa, sudah sembuh dia” ucapnya dalam hati, lalu Adam masuk menghampiri Hawa.

“Kamu, sudah sehat ? ” tanya Adam tiba-tiba.

Hawa melihat Adam yang masuk, lalu tersenyum dan menjawab “Alhamdulillah, sudah, Pak,”

“Kenapa sendiri? mana yang lain ?”

“Mereka ada kantin, Pak.”

Lalu keadaan hening sejenak, sesekali Adam tampak mencuri-curi pandangan kepada Hawa.

“Aduh … gimana ya, caranya biar Pak Adam mau jalan sama ocha ” guman Hawa dalam hatinya,

“Ngapain sih, Pak Adam di sini, lihat- lihat gua kaya gitu lagi,” guman Hawa dalam hatinya.

“Mikir apa kamu? ” tiba-tiba Adam bersuara.

“Gak, gak ada, Pak … gak ada apa- apa,”

“Kenapa sih, dia gak pergi-pergi, mana sepi lagi, ntar ada yang salah faham lagi, apa gw aja yang pergi, ya? oceh Hawa dalam hatinya.

Lalu, Hawa menyusun buku-bukunya, dan berniat meninggalkan Adam.
“Permisi, Pak,” Hawa berdiri dari tempat duduknya, lalu Adam menarik lengan Hawa.

“Tunggu, Wa,” cegah Adam.

Hawa membalikan badan, bersamaan dengan Adam yang berdiri dari kursinya, dan tidak sengaja bibir Hawa menyentuh pipi Adam. Sontak membuat Hawa kaget dan menjadi gugup.

“Eh … maaf, Pak,” Hawa tertunduk menahan malu, namun Adam cuek saja, lalu tiba-tiba berkata, “Hawa, kamu bisa temani saya ke toko buku, ada beberapa buku yang mau saya cari, buat bahan tambahan skripsi saya,”

Hawa berpikir sejenak, “Ah, Kesempatan ini, buat aku ngedeketin Pak Adam dengan Ocha,”

“Bisa, kapan Pak? ” tanya Hawa.

“Sekarang”

“Ah? sekarang … Pak?”

“Iya, bisa kan?” tanya Adam, dan Hawa pun mengangguk, “Bisa, Pak,”

***

“Hawa, kita makan dulu ya ” ajak Adam.

“Tapi, saya tidak lapar, Pak,”

“Saya yang lapar,” jawab adam datar.

“Ikh, ini cowok, kok begini amat ya, aneh gua, kok bisa … Ocha naksir sama cowok beginian ya … jadi penasaran gua sama mantanya yang bernama Kayla … Kayla itu ” ucap Hawa dalam hatinya.

“Pak, kalo mau cari referensi tambahan sama Ocha saja, Pak, di rumah Ocha, ayahnya bikin semacam perpustakaan gitu ”

“Oh ya … sayangnya saya tidak tertarik, sayanya mau sama kamu,” jawab Adam.

“Maksud bapak? ”

“Aduh ini anak, kenapa sih bikin gua jadi seperti ini, “guman Adam.

“Pak, kok diam? ” tanya Hawa.

“Haura natasya putri, sudah berapa kali, saya katakan … jangan panggil saya dengan kata, Pak, jika bukan di dalam kelas, kalau kamu manggil Pak terus kepada saya, nanti di pikir orang kamu jalan sama om-om, mau di pikir orang seperti itu?” omel Adam. .

“Ehm … Iya, maaf, Pak … Eh, kak, lagian iya kali om- om masih muda gini, pikiran bapak aja kali. ”

Adam hanya trsenyum melihat tingkah Hawa yang duduk disebelahnya itu.

***

Selesai dari toko buku, Adam telah sampai mengantarkan Hawa pulang kerumahnya.

“Terimakasih, Kak”

“Gak. nyuruh mampir nih ? ”

Hawa menggelengkan kepalanya, di rumah saya gak ada siapa-siapa” dan Adam mengerti maksud Hawa.

“Ya sudah … makasih ya, udah menemani saya,”

Hawa mengangguk, dan langsung masuk kedalam kerumahnya.

“Ya Allah … perasaan apa ini,” ucap Adam yang melihat Hawa perlahan menghilang dari penglihatannya.

“Kenapa setelah kejadian malam itu menjadi seperti ini, ketika dekat dengan dia, jantung ini mau lepas, apalagi kejadian di kelas tadi ” ucap Adam sendiri, lalu menjalankan motornya.

***

Di kamarnya Adam masih teringat kejadian siang tadi, yang sebenar membuat dia deg-degan, namun harus bersikap cuek.

“Hawa … Hawa … Kamu itu cuek, tapi perhatian, terkadang jutek tapi tingkah kamu bikin aku salah tingkah,” Adam mengoceh sendiri lalu tertawa sendiri. ” Gw udah seperti orang gila, arrrghhhhhhhh, menyebalkan, tapi apakah kamu mau menerima aku, sedangkan kamu tau, masa lalu ku yang buruk, aaaaaahhhh … ” Adam mengacak acak rambutnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here