Jodoh di Depan Rumah #15

5
545
views

Ting.

Suara dentingan lift menggema. Kami keluar dan terpisah lalu menuju ke ruangan kami masing-masing. Sesaat gadis berbusana minim itu mengingatkan perjanjian mereka jam sembilan nanti.

“Mbak Maya jangan lupa nanti jam sembilan ya, saya tunggu di ruangan pak Rangga.” Seketika wajah Maya kesal antara emosi dan cemburu.

“Baik, non,” sahut Maya.

Gadis berperangai manja itupun pergi meninggalkan Maya.

“Pak Rangga lagi…pak Rangga lagi. Tidakkah barang satu hari pandanganku terlepas dari yang namanya Rangga Winata?” Maya bergumam merutuki diri.

Maya menghela nafas sebelum akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis. Dari kejuhan nampak Rina sudah berdiri disana. Maya merasa Rina berpenampilan berbeda dari biasanya.
Hari ini wajahnya kelihatan cantik. Langkah kaki Maya semakin dekat, hingga wajah teman seprofesinyapun kelihatan lebih jelas.

“Cie…cantiknya…ada event apa sampe dandan cantik begitu?” puji Maya seraya kedua matanya mengamati setiap inci wajah Rina. Memang berbeda.

“Ah kamu ini, May.” Rina terkikik wajahnya merah merona. “Aku diberi tugas sama mas Afif untuk penyambutan acara table manner buat para mahasiswa, May.” jelas Rina.

“Ow…begitu…pantes make up’nya ngehits.” giliran Maya yang terkikik.

“Maaf ya…aku tinggal sendiri di sini,” sesal Rina tak bisa menemani Maya bertugas.

Maya nampak menggigit jari, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Jika Rina tidak bisa stand by disini akupun tak bisa kemana-mana dong, kalau aku pergi siapa yang berjaga disini?” Maya membatin.

“May, kenapa? Nggak bisa? Ada acara? Enggak kan?” Rina nampak bingung dengan sikap Maya yang sedari tadi diam dan tak mengiyakan permintaannya.

“Oh…nggak papa. Aku siap kok, Rin.”

“Syukurlah, kalau gitu aku tinggal dulu ya, May,” ucap Rina seraya pergi.

“Sepertinya aku harus ke ruangan pak Rangga. Memberitahu non Vina kalau aku gak bisa menemani belanja. Tapi disana kan ada pak Rangga. Ketemu lagi? Duh…gimana ceritanya, orang kemaren dah janji nggak ketemu, kenapa sekarang jadi ribet begini sih.” Maya terlihat cemas. Di satu sisi Ia harus berjaga tapi disisi lain mau gak mau ia pun harus memberitahu Vina kalau dirinya tidak bisa ikut berbelanja.

Maya melirik jam tangannya, menujukkan pukul delapan tepat. “Biasanya pak Rangga datang terlambat. Sepertinya aku harus menemui gadis itu sekarang juga, sebelum pak Rangga datang.” Maya bergumam. Ia beranjak dari kursi lalu bersiap menuju ke ruangan pimpinan hotel itu.

Sepanjang langkahnya menuju ruangan pimpinannya itu, wajah Maya nampak gelisah, jantungnya berdetak kencang seakan takut jika saja orang yang tidak ingin ia temui itu tiba-tiba muncul didepannya.

Kini Maya tepat berdiri didepan pintu besar nan kokoh berwarna hitam itu, Maya menghela nafas, berat. Tubuhnya sedikit gemetar, raut wajahnya begitu pucat. “Bismillahirohmannirrohim… Huft…” Wajah Maya semakin tegang saat tangan kanannya mulai mengetuk pintu itu.

Tok.tok.tok…..

“Ya, silahkan masuk,” ucap seorang wanita dari dalam ruangan.

“Semoga tidak ada pak Rangga…ya Tuhan…jauhkan aku dari Makhluk astral itu…Aamin.” Doa Maya dalam hati.

Maya membuka pintu itu perlahan, ia terus menghembuskan nafas lalu sesekali ia menelan salivanya. Setelah ruangan itu terlihat jelas, ia edarkan pandangnnya ke semua sisi, dan lelaki itu ternyata tidak ada diruangannya, kosong. “Huft…” Maya menghembuskan nafas, lega seraya ngelus dadanya. Hanya ada seorang gadis nampak sedang berkaca didepan cermin besar disudut ruangan. Tubuhnya setengah memutar kekanan lalu kekiri entah untuk apa, sesekali ia meneyeringai melihat wajahnya sendiri. Mungkin saja ia merasa bangga akan kecantikkannya.

Menyadari kedatangan Maya, gadis yang tengah asik bercermin itu menghentikan aktivitasnya. Ia menghampiri Maya yang masih berdiri didepan pintu.

“Kemarilah mbak dan silahkan duduk.” Dengan gayanya yang begitu mempesona, ia mempersilahkan Maya duduk. Ia berjalan begitu gemulai.
Perlahan ia sandarkan punggungnya di sofa besar berwarna cream lalu kembali menatap Maya. Tatapannya kini lebih ramah, berbeda dengan pertama kali mereka bertemu. Entah memang benar-benar tulus atau hanya dibuat-buat saja. Hanya Tuhan dan wanita itu yang tau.

“Tidak apa-apa, terimakasih. Saya berdiri disini saja.” Dengan sedikit canggung Maya menyahut.

“Baiklah, ada urusan apa, mbak Maya datang ke ruangan pak Rangga sepagi ini?” gadis itu bertanya.

“Maaf kedatangan saya kemari untuk meminta ijin tidak bisa menemani anda pergi. Karena saya harus standby di depan meja resepsionis dan salah satu teman saya mendapat tugas lain, jadi saya terpaksa harus bertugas sendiri dan itu tidak bisa saya tinggalkan.” Maya beralasan.

Dahi gadis yang tengah duduk itu mengernyit, seolah bingung dengan alasan yang Maya utarakan.

“Baiklah sebentar lagi pak Rangga datang, aku akan minta dia akan mencarikan seseorang untuk menggantikan tugasmu sebagai resepsionis.”

“Ya Tuhan…kenapa harus nunggu pak Rangga datang. Tak bisakah ia memutuskan nanti setelah saya keluar dari ruangan ini?” Maya membatin. Wajah Maya nampak bingung, kini ia benar-benar didera rasa kecemasan.

“Baik,” ucap Maya lirih. Maya terlihat pasrah dengan keputusan gadis itu. Sungguh ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengiyakannya. “Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Maya seraya mengangguk kearah gadis itu.

Maya berlalu dari ruangan itu. Ia membuka pintu dan melangkah keluar lalu ia kembali menutupnya. Masih didepan pintu “Huft…” Maya menghembuskan nafas, lega. “Alhamdulillah…lega. Apapun yang gadis itu putuskan setidaknya aku tidak bertemu dengan makhluk astral itu didalam sana.” Mayapun menyeringai.

Maya masih menatap pintu bercat hitam itu. Selang beberapa detik ia memutar badannya hendak kembali ke meja resepsionis. Tiba-tiba kakinya kaku, mulutnya menganga, kedua matanya membulat sempurna setelah melihat lelaki bertubuh tegap itu tepat berada didepannya. Ia tak menyadari sejak kapan lelaki yang tak ingin ia temui itu berdiri tepat dibelakangnya.

Maya shock, matanya berkunang-kunang, tubuhnya luruh dan akhirnya Maya tak sadarkan diri. Dengan cepat Rangga menangkap tubuh itu kedalam pelukan. Sedikit kepayahan ia membopong lalu membawa tubuhnya itu ke sebuah kamar pribadinya yang biasa ia pakai ketika jam istirahat. Ruangannya tepat bersebelahan dengan ruang kerjanya. Dan hanya dialah yang dapat menggunakan kamar itu.

Dengan wajah yang nampak panik, Rangga membaringkan tubuh Maya di diranjang. Botol minyak angin yang berada di kotak P3K pun ia ambil.

Dengan telaten Rangga mengoleskan minyak itu diarea hidung Maya, namun tak ada tanda-tanda ia bangun. Ia mengoleskan lagi dibagian telapak tangan perlahan namun tetap saja Maya bergeming.

Merasa nihil atas usaha yang Rangga lakukan, Ia pun terdiam lalu wajahnya tampak menyeringai, menatap wajah gadis yang terkulai lemas dihadapannya itu.

“Begitu terkejutkah kamu setelah melihatku hingga pingsan begini? Andai hatimu tidak ada cinta pasti kamu tidak akan seperti ini.” Rangga membatin dengan senyum penuh kemenangan. Wajahnya berbinar, seolah ia sedang benar-benar menikmati pemandangan yang kini ada didepan matanya. Begitu cantik.

Hampir lima belas menit Maya tidak sadarkan diri. Rangga beranjak dari ranjang lalu menutupi tubuh wanita yang berparas cantik itu dengan selimut tebal. Ia duduk di sofa yang terletak didepan ranjang. Pandangannya lurus menatap wajah itu. Wajah yang selama ini begitu sangat ia rindukan.

Janji yang telah Rangga ucapkan sehari lalu untuk tidak menemuinya ternyata teringkari dengan pertemuan yang tak ia harapkan. Namun hal itu mampu membuatnya menyunggingkan senyum.

Dari atas ranjang nampak Maya mulai menggerakkan tangannya. Ranggapun masih diam menunggu ia benar-benar terbangun. Hingga akhirnya wanita itu membuka mata lentiknya. Ia menghembuskan nafas, lalu pandangannya ia edarkan ke setiap sudut ruangan. Mungkin ia bingung sudah berada di ruangan yang asing baginya, hingga akhirnya pandangan mereka beradu.

“Begitu mempesonakah wajahku sampai-sampai kamu pingsan selama ini?” Rangga membuka percakapan seraya ia melirik jam ditangannya seolah sudah sangat lama ia menunggu.

Maya bangkit sambil meraih selimut yang sudah tersibak lalu menutupi tubuhnya dengan kain tebal itu. Sepertinya ia sangat kaget setelah melihat Rangga sedang duduk tepat didepannya sembari menyilangkan sebelah kaki dan dengan wajah terus menatapnya tanpa henti serta mengucapkan kata-kata yang sudah membuatnya malu.

“Ke..kenapa bapak disini?” Maya tergagap, wajahnya nampak pucat.

“Ini ruanganku, May. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu bisa pingsan begitu?

“Hah! Pingsan?” Maya terperangah seakan tak percaya bahwa dirinya sudah pingsan. Yang ia ingat hanya kaget dan shock, tiba-tiba matanya berkunang-kunang lalu…..? “Benarkah aku pingsan? Hah memalukan sekali.” Maya bergumam seraya menundukkan wajahnya, malu.

Rangga hanya terkekeh sambil terus mengamati wajah gadis dengan rambut yang sudah tergerai bebas di kedua bahunya.

“Lalu siapa yang membawaku kekamar ini?”

“Tadi aku minta tolong salah satu karyawan laki-laki yang lewat agar membawamu masuk.” ucap Rangga bohong.

“Apa? Bapak menyuruh karyawan laki-laki untuk membawaku masuk kesini? Membopongku?” cecar Maya. Rangga pun mengangguk. Maya mendengkus kesal melihat Rangga hanya mengangguk, seolah tak percaya. Orang yang katanya mencintai namun dengan tega membiarkan tubuhnya dijamah laki-laki lain.”

“Dan satu lagi, ada hal penting apa sampai kamu mau menemuiku di ruang kerjaku? Bukankah kamu tidak ingin bertemu denganku?”

“Siap juga yang mau bertemu denganmu, A..aku kesana…untuk…”

“Kangen?” belum selesai bicara, Rangga memotong perkataan Maya.

“Hah. Siapa juga yang kangen?” Maya mendengkus kesal. “Jika bukan karena tunanganmu yang menyuruhku kesana, tidak mungkin aku berdiri disana.”

Mendengar Maya mengomel, Rangga semakin senang. Ia merasa Maya sudah berbohong dan hal itu semakin membuat Rangga rindu pada wanita itu.

Selesai mengomel Maya berjalan keluar menuju pintu. Ia kesal, ia mengira lelaki itu mau menolongnya, saat pingsan tadi, ternyata tidak. Sebelum Maya membuka pintu itu, Rangga kembali berbicara.

“Tubuh kamu berat juga, ternyata.” Dengan enteng Rangga mengucapkan kalimat yang membuat hati Maya semakin kesal dibuatnya.

Langkah Maya terhenti. Dadanya naik turun seolah rasa emosi dalam dirinya semakin menyala. Ternyata lelaki itu sudah berhasil membohonginya. “Awas kamu, mas!” Mayapun melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun. Maya keluar lalu membanting pintu itu kuat-kuat.

Sementara didalam ruangan yang pintunya sudah Maya banting tadi, nampak Rangga tersenyum bahagia. Ia tak menyangka akan dipertemukan lagi dengan Maya dengan cara semanis itu.

Rangga keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Setelah masuk, sepasang matanya melihat Vina yang tengah duduk di kursi kerjanya. Lelaki itu seperti tak suka, sorot matanya begitu nanar. Dengan cepat ia menyuruh Vina bangkit dari kursinya.

“Kakak, hari ini antar aku belanja, ya? Tadi aku menyuruh mbak Maya untuk menemaniku dan sepertinya dia tidak bisa.”

“Ingat, jangan lagi menyuruhnya untuk melakukan tugas-tugas diluar tanggung jawabnya.

“Kak, apa kamu menyukainya? Dari pertama melihat gadis itu di bandara, sepertinya sorot mata kakak benar-benar menyukainya.”

Rangga bergeming, tangannya sibuk memindah berkas dari satu map ke map yang lainnya. Selama ini ia sudah sangat sabar memghadapi tunangannya. Kini ia benar-benar lelah sudah menuruti semua yang gadis itu minta. Sejak dulu ia selalu berharap bahwa gadis itu mau merubah sikap manjanya namun sampai kini tetap sama. Iapun selalu berusaha mencintainya namun menumbuhkan benih-benih cinta dengan saling bersamapun rasanya tidak cukup. Dirinya tak pernah berhasil memenangkan hatinya meski ia paksa sekuat tenaga ia tak bisa mencintainya seperti pada wanita dewasa lainnya. Sampai akhirnya ia bertemu sesosok wanita dari keluarga sederhana dan wanita itu sanggup membuatnya jatuh cinta.

“Kak? Kenapa diam? Apa karena aku kurang cantik seperti mbak Maya?”

Rangga menatap wajah gadis manja itu jengah. Ia menghela nafas lalu matanya kembali fokus pada map-map tadi.

Gadis itu putus asa, selama ini cintanya tak pernah dibalas oleh lelaki yang sudah meminangnya. Jika benar hanya karena alasan kasihan harusnya tidak ia lakukan.

Vina terlihat kesal, ia menyambar tasnya yang ada di meja lalu pergi meninggalkan Rangga didalam ruangan.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

5 KOMENTAR

  1. Kok maya sama rangga kaaak, bukanya jodoh di depan rumah tokoh nya gilang dan viona, jadi sedih😢😢, dah di tunggu jew kak eps selajutnya jodoh di depan tumah

    • Rangga sama Maya kan Jodoh itu misteri 😁

      Kl lanjut tidaknya, masih blm pasti kak. Ini masih ada beberapa part lgi habis itu mungkin istirahat dl kak, karena keterbatasan waktu dan sering kurang sehat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here