Jodoh di Depan Rumah #14

6
825
views

Hujan deras dan angin kencang yang menerpa tadi membuat mereka tiba di rumah sedikit terlambat. Gilang turun dari mobil lalu membuka bagasi dan mengeluarkan koper dari sana. Belum menutup pintu bagasi dengan sempurna, ia melirik sekilas Viona yang tak kunjung keluar, mungkinkah wanita itu masih terlelap? Sepanjang perjalanan tadi, lelaki itu memang membiarkannya tidur begitu saja. Ia pikir karena lelah atau fisiknya yang semakin melemah.

“Vi, bangun … kita sudah sampai,” perintah Gilang setelah membuka pintu mobil dimana Viona duduk.

Ia terdiam bahkan terlelap.

“Vi …,” panggil Gilang seraya mengelus pipi wanita itu dengan satu jari.

Viona Masih diam dan tak menggeliat sedikitpun.

“Astaghfirullah … Vi!” Gilang mulai mengguncang-ngguncang bahu yang sedikit luruh tak berdaya.

Hingga tepukan terakhir di pipinya yang sedikit keras pun tak jua membangunkan raga yang terkulai itu. Sorot mata Gilang tiba-tiba teralihkan pada cairan berwarna merah gelap yang mengalir dari sela-sela kakinya.

“Darah?” Gilang panik.
“Kamu kenapa, Vi …?” paniknya setelah menutup pintu Viona. Gilang setengah berlari masuk ke mobil dan memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.

Sherly yang baru saja muncul di teras dengan mengenakan hijab pun berteriak.
“Lho … lho ….! Mau kemana, Lang? Kenapa pergi lagi?” seru Sherly dari teras rumahnya. Setelah mendengar suara mobil berhenti di depan rumah tadi, ia segera mengenakan hijab lalu keluar dan tanpa diduga kini mendapati putranya dalam keadaan panik.

“Rumah sakit, Bu.” Gilang berseru sambil membating kemudi untuk berputar arah menuju rumah sakit.

“Ibu ikut ya?” Wanita paruh baya itu pun berlari lalu masuk ke mobil.

“Ya Allah, ini ada apa, Lang? Neng Viona kenapa?” tanya Sherly setelah duduk di kursi penumpang dengan wajah panik.

Gilang seolah tak mau menggubris pertanyaan Sherly. Wajahnya begitu panik,
mobil itu pun meluncur keluar komplek dengan lebih cepat dari biasanya. Setelah berada di jalan raya, akhirnya ia menambah kecepatan agar segera tiba di rumah sakit. Pikirannya kalut, takut bahkan sesaat sebelum kejadian, Viona terlihat sehat tak memperlihatkan tanda-tanda apa pun.

Sesekali mata Gilang melirik ke bawah melihat aliran darah kental mengalir di sela-sela kaki Viona. Ia meringis seolah ada rasa nyeri hebat yang sedang wanita itu rasakan hingga tak kuat bertahan dan pingsan.

“Neng … ya Allah, sabar Neng …, sebentar lagi sampai rumah sakit,” harap Sherly dengan wajah begitu cemas.

Bimmmmmm… Biimmmmm..

Gilang benar-benar gugup sekaligus panik, ia terus membunyikan kelakson mobil demi diberikan jalan oleh pengendara lain. Yang ada di pikirannya saat ini hanya menyelamatkan Viona.

Tiba di rumah sakit terdekat, lelaki itu bergegas turun, langkahnya kian cepat lalu membuka pintu mobil dan membopong tubuh Viona masuk ke ruang IGD.

“Sus, tolong cepat tangani pasien ini! Sepertinya ia mengalami pendarahan hebat!” ucap Gilang nyaris berteriak. Dadanya berdebar hebat, ia takut terjadi apa-apa pada wanita yang mulai mengisi hatinya itu.

Setelah tubuh Viona dibaringkan di atas ranjang, suster dan rekan lainnya pun turut serta membawa Viona masuk.

“Lang, gimana? Apa Viona sudah ditangani?” tanya Sherly sembari ngos-ngosan setelah kelelahan mengejar Gilang yang membopong masuk Viona begitu cepat.

“Sudah, Bu. Doakan dia agar baik-baik saja. Aku benar-benar takut, Bu ….” Gilang duduk di sebuah kursi kayu bercat putih tepat di sebelah ruang IGD. Wajahnya tertunduk dengan kedua tangan mengusap kepala napasnya pun tersengal setelah berlarian tadi. Bahkan sandal yang ia pakai pun hanya sebelah saja, demi agar Viona segera mendapat pertolongan.

Sherly perlahan menyandarkan punggungnya di kursi kayu itu seraya mengelus punggung puteranya. “Sebenarnya ada apa, Lang? Apa ada banyak hal yang belum Ibu tahu. Ibu tidak pernah tahu sebelumnya sampai Ibu melihat sendiri kalian bisa sedekat ini. Bahkan Ibu tidak pernah melihatmu sepanik ini? Ada apa, Lang?”

Gilang masih tertunduk, ada rasa lebih dari sekedar sayang di dalam hati yang membuatnya tanpa sadar melakukan semua ini. Ia memang tidak pernah sepanik ini mengurusi seorang wanita. Bahkan mengorbankan waktu, uang dan pekerjaannya demi wanita yang masih berjuang di dalam sana.

“Lang, Ibu berhak tau, sebenarnya kalian ada apa? Ada hubungan apa?”

Gilang menyadarkan punggung lalu menatap wanita paruh baya itu sekilas. Setiap hela napasnya seolah hanya terngiang nama wanita itu, apakah dia baik-baik saja di dalam sana?

“Aku mencintai Viona, Bu dan aku ingin menikahinya.” Seraya menelan saliva dengan berat, Gilang tengah berusaha mengungkapkan isi hatinya.

Ada senyum yang terukir di bingkai sang Ibu yang mungkin sesaat lagi akan berganti dengan kerutan di dahinya.

“Tapi dia sedang hamil, Bu.”

Sontak wajah Sherly berubah pias seolah ada tamparan yang dengan cepat mengenai hatinya.

“Viona hamil?” Entah terkejut atau sebuah pertanyaan Gilang sendiri bingung menafsirkannya. Lelaki itu bahkan menyeringai kecil, mendapati dirinya terlihat payah. Ia tak menyangka akan mencintai seorang wanita seluar biasa ini, bahkan ketika yang ia cintai dalam keadaan tidak suci dan tengah mengandung benih seseorang di luar sana pun tak membuat sayangnya surut.

“Lang?” panggil Sherly seolah ingin memastikan kebenarannya dan mendengar penjelasan puteranya seraya mengelus punggung kokoh itu.

Gilang menoleh dengan seyum getir yang membingkainya lalu mengangguk.

Sontak Sherly membisu. Ia terlihat tak percaya atas apa yang baru saja didengar.

“Pasien atas nama ibu Viona?” seru salah seorang perawat dari bibir pintu ruang IGD membuat keduanya terkesiap.

“Ya, Mbak, saya sendiri.” Gilang berdiri lalu mendekat.

“Maaf, ada yang ingin dokter sampaikan pada Bapak.”

“Baik, Mbak.” Gilang menyahut dengan tubuh terlihat semakin lemas. Untuk sesaat ia menoleh pada Sherly lalu masuk mengikuti perawat tadi.

“Dengan suami ibu Viona?” tanya sang dokter setelah Gilang duduk.

Pertanyaan yang sudah tak mengejutkan lagi bagi Gilang. Mungkin saja itu sebuah doa yang tanpa ia sadari bahwa yang Maha Kuasa sudah menunjuknya.

“Iya, Pak. Bagaimana keadaan istri saya?” Gilang bertanya dengan sedikit bergetar.

Dokter itu menghela napas berat seolah hendak menyampaikan kabar yang membuat Gilang tak siap.

“Istri Bapak mengalami keguguran.”

‘Astaghfirullah hal adzim …,’ batin Gilang beristighfar.

Wanita itu bahkan belum mengetahui kalau dirinya sedang hamil dan sekarang ia harus kehilangan janinnya. Sebenarnya apa yang hendak DIA sampaikan? Kenapa DIA berkali-kali memberi ujian padanya seberat ini?

“Lalu bagaimana keadaan dia sekarang, Pak.”

“Alhamdulillah, sudah membaik, meski kondisinya masih sangat lemah pasca kuret tadi. Rahimnya baik-baik saja. Tapi … ada hal-hal yang harus bapak tahu.”

“Apa, Dok?” Bibir Gilang bergetar, tak sabar menunggu jawaban sang dokter.

“Tolong jaga pola makan ibu Viona, dia harus rutin berolah raga, menjaga kebersihan kewanitaannya juga yang paling utama adalah … kalian tidak boleh berhubungan suami istri terlebih dahulu. Boleh … asal Bapak menggunakan alat kontasepsi. Karena Ibu Viona jelas belum diperkenankan melakukan KB karena hal itu takutnya dapat mengganggu masa suburnya nanti.”

Di titik inilah hatinya berdenyut hebat. Mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir sang dokter membuatnya benar-benar merasa sudah menjadi seorang suami. Ia membiarkan begitu saja kata ‘suami’ tersemat pada dirinya. Toh ini semua demi kebaikan wanita itu.

“Anda harus bersabar … paling tidak … tiga sampai enam bulan lagi sampai keadaan istri Bapak benar-benar siap untuk hamil,” jelas sang dokter penuh senyum.

“Baik, Dok.” Meskipun awam dengan kata-kata barusan, namun Gilang tahu apa maksud dari penjelasan dokter tadi.

“Baiklah, saya kira cukup dan … mungkin sore ini, istri Bapak sudah diperbolehkan pulang.”

“Baik, Dok. Terima kasih atas informasinya. Ehm … Saya mohon, rahasiakan masalah ini dari istri saya.” Sesaat ada percik kebahagiaan di hati saat bibirnya mengucapkan kata ‘istri’ pada kalimatnya.

Dokter itu diam, mungkin ia berpikir sejenak.
“Baik, Pak, akan saya rahasiakan masalah ini,” putus dokter itu.

Gilang keluar dan menjumpai Sherly yang masih duduk termenung di kursi bercat putih itu.

Melihat langkah Gilang mendekat, Sherly buru-buru bangkit. “Gimana keadaan neng Vio, Lang?”

“Dia baik, Bu.”

“Syukurlah ….” ucap Sherly lega.

“Tapi … janinnya mengalami keguguran.”

“Hah? Apa? Astaghfirullah, terus? Apa dia tau?”

“Bahkan ia sendiri tidak tau kalau dirinya sedang hamil.” Gilang mulai membuka setitik demi setitik masalahnya. “Mantannya sudah memperkosa tanpa dia sadari. Entahlah, Bu. Ceritanya begitu panjang. Aku tidak sanggup membahas masalah ini lagi. Yang jelas sekarang keadaan dia baik-baik saja. Aku sudah meminta dokter untuk menjaga rahasia ini, aku harap … Ibu juga merahasiakan semua ini dari Viona dan yang lainnya.”

Bahu Sherly terlihat luruh, ia menghela napas panjang berusaha mencerna semua kata-kata Gilang. “Kasian sekali, neng Viona,”

Mereka saling tatap, senyum getir nampak terukir dari bibir keduanya.

“Setelah ini, apa yang mau kamu lakukan, Lang?”

“Untuk sementara, aku akan membiarkan Viona tidur di kamarku. Setelah kondisi dia pulih, kita akan segera menikah Bu.”

Dahi Sherly berkerut. Wajahnya pun menyiratkan keterkejutan. Ia tampak sedang berpikir atas apa yang puteranya putuskan.

“Apa … Ibu merestui?” Gilang bertanya setelah menjeda untuk beberapa detik seraya menatap wajah Sherly penuh harap.

“Kamu serius, Lang?” tanya Sherly dengan wajah penasaran. Ia tak percaya dengan keputusan yang menurutnya terlalu tergesa-gesa.

“Sangat, Bu.”

“Meski dia dalam kondisi hamil?” Sherly meminta ketegasan. “Apa kamu melupakan hukum di agamamu? Bahwa menikahi wanita hamil itu perbuatan yang tidak diperbolehkan bahkan ada beberapa yang menganggap ini haram.”

Gilang menelan saliva berat. Ia baru sadar, keputusannya menikahi wanita itu salah besar. Ia lupa bahwa hukum islam melarang itu.

“Tapi, Bu?” protes Gilang.

“Janin itu sudah tiada. Mungkinkah Allah mengehendaki kalian menikah?” Pandangan Sherly menerawang sembari mengucapkan kalimat itu.

Gilang tertunduk lesu, ia benar-benar baru menyadari masalah ini.

“Apa kamu benar-benar ingin menikahinya? Apa kamu rela dengan keadaannya yang …?” Sherly menjeda kalimatnya. Ia menatap wajah Gilang yang kini di selimuti kekhawatiran.

Gilang mengangguk. Mata teduhnya menampakan genangan yang siap meluncur kapan saja.

Melihat itu Sherly terdiam, mulutnya seolah terkunci rapat dan tanpa ekspresi, hingga kebekuan itu sirna kala kedua mata indah sang ibu tampak berkaca-kaca. Ia terus menatap wajah puteranya dengan senyuman seraya duduk dan meraih pundak Gilang lalu mendekapnya dengan erat.

“Lang, kenapa ibu jadi cengeng begini. Apa kamu serius?” Mata sayu itu kini menatap lekat wajah Gilang dan ingin memastikan. Gilang hanya membalas dengan senyuman serta anggukan pelan.

Sherly mengembuskan napas lega.
“Ibu terserah kamu saja, Lang. Ibu yakin pilihan kamu tentu sudah yang terbaik. ibu hanya berdoa untuk kalian agar diberikan kelancaran hingga menikah nanti.”

“Makasih ya, Bu,” ucap Gilang seraya mengecup pucuk kepala Sherly.

Sherly mengangguk mantap. Ada bangga yang tak dapat ia siratkan dari dalam hatinya saat ini. Ya, hatinya kini tengah merasa bangga. Dia merasa sudah melahirkan lelaki yang hebat. Tak hanya sifatnya yang penyayang bahkan puteranya pun berani memikul tanggung jawab yang tak semestinya ia emban.

“Kita lihat Viona sekarang, Lang. Barangkali dia sudah sadar.” Sherly berseru.

Mereka melangkah masuk bersama-sama. Setelah melewati pintu ruang IGD, seorang wanita masih tertidur pulas dengan selang infus di tangannya. Begitu nyenyak, mungkin karena obat bius selama tindakan tadi masih memberi efek pada tubuhnya.

Sekilas ada iba yang tiba-tiba menyeruak dari dalam hati Gilang. Ia meraih tangan lentik itu dengan perlahan lalu mengusapnya. Menatap wajah yang kini memucat namun masih terlihat cantik.

Selang beberapa menit usai kedatangan mereka, Viona terlihat mulai mengerjapkan mata. Pelan …. hingga mata itu terbuka sempurna. Ia memindai semua sudut ruang dengan tatapan bingung lalu berakhir pada wajah lelaki yang senantiasa menemaninya beberapa hari ini.

Gilang tersenyum, lalu kembali mengelus punggung tangan wanita itu.

“Ibu?” sapa Viona sesaat setelah melihat kehadiran Sherly di sisi ranjang.

“Iya, Neng, ini ibu. Syukurlah kalau Neng sudah sadar.” Viona tersenyum meski masih terlihat lemah.

“Lang, memangnya aku kenapa? Kenapa perutku sakit sekali?” keluh Viona.

Gilang menatap Sherly dengan tatapan sedikit bingung. Bingung atas kebohongan yang sebentar lagi ia ucapkan.

“Kamu pingsan sejak di mobil tadi. Aku panik dan langsung bawa kamu ke sini. Ternyata usus kamu bermasalah, mau tidak mau, akhirnya Dokter melakukan tindakan operasi kecil pada usus kamu.”

“Begitukah?”
“Lalu … Apa sekarang kamu masih panik?” tanya Viona lirih membuat Gilang melempar senyum, Sherly pun ikut tsrsenyum.

Alih-alih menjawab pertanyaan Viona yang sempat membuat wajahnya bersemu merah, lelaki itu justru mengucapkan hal lainnya.
“Dokter bilang, kamu sudah boleh pulang sore ini.”

“Apa aku pulang ke apartemen?” tanyanya membuat Gilang menyeringai.

“Nanti kamu pulang ke rumah ibu, ibu yang akan merawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh, ” sambung Sherly.

Bibir pucat itu mengukir senyum pada Sherly

“Bu … maaf kalau saya sudah merepotkan Ibu?” mohon Viona.

“Ibu sayang sama neng Vio, jadi anggap saja ibu seperti ibu kamu, Neng.” Mendengar itu Viona kembali tersenyum, namun kali ini ada setitik embun yang hampir saja lolos dari kedua matanya. Ia terharu.

•••••••••••

Sore, cuaca masih terlihat mendung, embusan angin pun begitu terasa menjalar di permukaan kulit. Sesaat, setelah tiba di rumah Gilang, Viona duduk di pinggiran ranjang memandang ke arah luar melalui jendela yang terbuka. Pandangannya menerawang jauh, sedang pikirannya tiba-tiba memikirkan Alex, mantannya. Ia sedang berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang menimpanya di apartemen malam itu. Apa yang sudah Alex lakukan, setahunya ia hanya menerimanya masuk sebagai tamu, tapi … kenapa tubuhnya tiba-tiba terlelap di atas ranjang dan hingga saat ini, Alex pun tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi.
“Aneh …?” gumam Viona.

“Apanya yang aneh?”

Suara Gilang tiba-tiba membuat Viona terkejut. Ia menoleh dan mendapati lelaki itu berdiri di sisinya dengan membawa nampan berisikan makanan.

“Kamu makan dulu lalu minum obatnya.”

Viona mengangguk. Pandangannya kini beralih menatap Gilang yang duduk di sebelahnya seraya menyodorkan nampan.

“Kamar kamu nyaman, aku suka.” Viona berdesis sembari menatap manik hitam lelaki itu.

“Tinggalah semau kamu di sini, aku tidak akan melarang. Tapi syaratnya … kamu harus jadi istriku dulu. Setelah itu kamu akan memiliki kamar ini seutuhnya.”

Viona meraih mangkuk berisikan bubur dan sup dari tangan Gilang sambil tatapannya tak mau berpaling. “Siapa takut?”

“Pasti tadi ibu kerepotan membuat bubur ini?” ucap Viona sebelum suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.

“Bahkan aku rela meninggalkan pekerjaanku demi membuat bubur ini, dan kamu pikir bubur ini yang buat ibu?” protes Gilang seraya memicing tak terima.

“Berarti ini yang buat kamu?” ucap Viona tak percaya.
“Pantes … rasanya …?”

“Apa? Nggak enak?” Gilang setengah melotot.

Viona hanya mengulum senyum sembari terus menyuapkan bubur ke mulutnya.

“Apa kamu akan selalu siap merawatku jika aku sakit?” Setelah suapan terakhir, Viona kembali menatap Gilang lalu melontarkan pertanyaan itu.

“Kalau kamu sakit terus, kapan aku sakit dan dirawat kamu?” protes Gilang membuat Viona kembali mengulum senyum. Ia pun membenamkan kepalanya di dada Gilang. Gilang pun meraihnya dengan penuh sayang.

“Jaga kesehatan kamu, aku tidak bisa lihat kamu sakit seperti tadi. Kamu tau? Bahkan sandalku sampai terjatuh tadi di parkiran sangking paniknya bawa kamu pingsan.”

Viona terkekeh dalam dekapan kemudian mendongak melihat wajah Gilang dengan tatapan kagum. “Oya?”

“Hah! Percuma, aku bilang hampir mati pun kamu juga bakal nggak percaya.” Gilang bersungut seraya mendengkus kesal.

“Iya … iya … aku percaya kok.” Lagi Viona kembali membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.

“Kamu nanti malam tidur dimana?” tanya Viona yang masih terbuai dalam dekapan.

“Di sofa, mungkin?”

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu benar-benar sembuh dan kita akan mempersiapkan pernikahan kita mulai dari sekarang, apa kamu sudah siap?”

Pertanyaan itu membuat Viona mendongak, menatap wajah tampan itu. Pandangan mereka beradu, lama … hingga perlahan Gilang mengurangi jarak di antara Mereka. Napasnya menderu seiring hasrat yang kembali hadir menyapa jiwa. Mata hitam itu mengerjap perlahan seolah tengah menikmati wajah cantik yang tersenyum manis di depannya.

“Vi …?” Tatapan Gilang kian dalam.

“Hem …?” sahut Viona lirih sambil mengukir senyum menggoda.

Mendengar kata itu membuat Gilang menelan saliva susah payah. Jantungnya pun berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya. “Kamu tahu … kamu sudah membangunkan singa yang sedang tertidur lelap.”

Merasa ada hasrat yang hampir saja melahapnya, Viona pun bergerak mundur seraya tersenyum geli. Dengan cepat ia meraih gelas dan obat yang ada di nampan kemudian memasukkanya ke mulut lalu minum hingga airnya tandas.

Gilang membuang muka dan mengembuskan napas lega. Lega karena hampir saja ia tergoda. ‘Aku bisa gila, kalau dia lama-lama di kamarku,’ batinnya merutuk.

“Sekarang istirahatlah, pasti masih lelah.”

Viona pun mengangguk lalu mulai berbaring.

Tok … tok … tok ….

“Bang, ada tamu?” tampak wajah Friska menyembul dari balik pintu yang sengaja tidak ditutup.

“Siapa?” sahut Gilang setelah menoleh.

“Ehmm … katanya sih bu Nesya. Teman dosen Abang.”

Viona yang tengah menarik selimut menutupi tubuhnya, tiba-tiba menoleh pada Gilang. Matanya sedikit micing seolah tak suka.

“Nesya? Memangnya ada urusan apa?” ucap Gilang seraya menautkan kedua alis. Terdengar lirih namun masih dapat didengar Viona.

“Siapa Nesya? Mau apa?” tanya Viona pada Gilang dengan memasang mimik tak suka.

Gilang hanya mengedikkan bahu lalu berlalu keluar kamar setelah memberi senyuman terbaik pada Viona.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here