Jodoh di Depan Rumah #13

1
633
views

Merasakan tubuh yang begitu lelah juga pekerjaan yang lumayan menumpuk membuat Gilang tidak bisa fokus. Setelah pesan yang dikirim Viona beberapa menit lalu, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghilangkan rasa pusing di kepalanya.

••••••

Pagi.

Pukul 4.30, bunyi alarm terdengar nyaring berkali-kali dari ponsel Gilang. Ia menggeliat di atas ranjang lalu meringkuk lagi seperti kedinginan. Ia tidur begitu saja, tanpa mencuci muka seperti yang biasa ia lakukan. Hawa yang begitu dingin di kamar hotel itu seolah menciptakan sensasi nyaman yang sangat luar biasa hingga ia benar-benar terlelap dan enggan untuk bangkit meski hanya sekedar mematikan alarm yang kini sudah tak berdering lagi.

Untuk sepersekian detik matanya tiba-tiba mengerjap, namun masih dalam posisi meringkuk. Napasnya sedikit tersengal seolah baru menyadari ada yang salah pada dirinya. Ia perlahan mengubah posisi tidurnya dengan bertelantang, menatap langit-langit kamar lalu pandangannya ia edarkan ke segala sudut kamar. Melirik jam yang masih melingkar di tangan dengan mata sedikit memicing. Melihat jarum jam menunjukkan pukul 4.40 menit, matanya pun terbelalak.

“Oh … Shit!” rutukknya.

Lelaki itu baru menyadari bahwa semalam Viona memintanya untuk datang. Jangankan datang, membalas pesan pun tidak ia lakukan. Rupanya rasa lelah dan kantuk yang begitu berat membuat tubuhnya benar-benar ambruk.

Ia segera bangun dari ranjang dan bergegas mandi. Kucuran air hangat yang mengalir di tubuh membuatnya sangat rileks. Hampir sepuluh menit, ia menikmati mandinya.

Usai mandi dan berpakaian lengkap, ia segera berwudhu lalu menunaikan sholat shubuh. Tak lupa, ia pun memanjatkan doa pada yang Maha Kuasa agar apa yang ia niatkan dapat segera terwujud dan terlaksana tanpa halangan suatu apapun.

Waktu menunjukkan pukul enam pagi, dalam hati ia berharap semoga wanita itu tidak marah setelah melihatnya nanti. Tak mau berlama-lama ia pun bergegas keluar dari hotel dan meminta OB untuk mengambil mobil merah milik Viona.

Menerima kunci dari OB dan memberinya tips, akhirnya mobil merah itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, ingatannya tentang Alex kembali terngiang di telinga. Ia mendesah, merasakan kembali sakit yang ia sendiri tak tahu apa sebabnya, mungkinkah apa yang dilakukan Alex pada wanita itu? Tanpa sadar, ia meremas setir mobil begitu kuat, rahangnya pun mengeras seolah ada beban dalam hatinya yang benar-benar membuat dadanya sesak.

Sejatinya memang tidak ada yang mudah dalam meraih kebahagiaan. Seperti yang saat ini ia rasakan. Pahit dan sangat membuatnya marah. Namun, seiring rasa tidak rela yang sempat menyeruak dari dalam hati, rasa sayang dan tekadnya untuk segera menikahi wanita itu justru semakin hari semakin menggila. Ia bisa dengan mudah meninggalkan wanita itu begitu saja, jika ia mau. Namun, hatinya tak menghendaki hal itu. Rasa sayanglah yang ia yakin sangat mendominasi keputusannya untuk segera menikahi wanita itu.

Hampir sepuluh menit berlalu, mobil pun mendarat sempurna di parkir bawah tanah apartemen Viona. Ia keluar dan bergegas masuk ke dalam lift.

Tiba di depan kamar apartemen, Gilang tampak gusar. Berkali-kali ia menyugar rambutnya demi mengurangi rasa gugup. Ia mengulurkan tangan sejenak lalu dengan cepat ia tarik kembali. Bingung.

Ia menghembuskan napas sesaat, lalu tanpa ragu ia pun memencet bel kamar apartemen wanita itu.

Hampir lima menit lamanya, lelaki itu berdiri di depan kamar, namun naas sang pemilik kamar rupanya masih belum membukakan pintu. Ia berpikir, apakah wanita itu benar-benar marah padanya? Merogoh ponsel di saku celananya lalu mencoba untuk menelpon. Belum sempat tersambung, ternyata pintu itu buru-buru dibuka oleh Viona.

Dengan wajah polos tanpa make up, rambut yang sidikit acak-acakan serta setelan baju tidur yang super mini itu membuat Gilang sempat menelan salivanya. Selama ini ia masih merasa tak habis pikir dengan wanita yang saat ini berdiri tepat di depannya. Apakah ia akan merasakan nyaman dengan hanya berpakaian seminim itu di rumahnya?

“Apa kamu selalu menemui tamu yang datang ke apartemen ini dengan pakaian seperti itu?” cecar Gilang dengan sorot matanya yang tajam sebelum ia benar-benar masuk.

Viona menggeleng. Tanpa menjawab pertanyaan Gilang, pun tanpa menyuruhnya masuk.

“Vi … kamu baik-baik, saja, kan?”

Viona hanya terdiam. Langkahnya kini bergerak menuju ruang dapur lalu membuatkan teh.

Melihat itu, Gilang justru bingung. Ia mendengkus pelan lalu mengikuti langkah wanita itu menuju dapur.

“Vi … kamu marah?” Lagi Gilang bertanya.

Viona masih terdiam sementata tangannya sibuk memasukan teh celup dan gula serta air panas ke dalam cangkir.

“Vi … aku minta maaf, semalem aku ketiduran.” Gilang berusaha menjelaskan.

Tak ada ekpresi sama sekali dari wajah wanita itu, dengan dua cangkir teh panas di tangannya, ia berjalan menuju ruang tamu.

“Vi … ayo ngomong, kamu boleh marah-marah, tapi tolong jangan diam begini.” Gilang semakin bingung.

Sampai di ruang tamu pun tak ada perbincangan yang mampu mencairkan ketegangan di antara mereka.

Berkali-kali Viona menghindari tatapan Gilang, ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Yang ia rasakan hanya malas untuk berbincang dengan laki-laki yang hendak duduk itu. Dari sejak semalam ia sudah menunggu bahkan pesannya juga tidak dibalas sama sekali.

Gilang duduk tepat di depan Viona, menyandarkan punggungnya lalu menopang dagu dengan satu tangan. Ia yang sedari tadi banyak bertanya akhirnya memilih diam seraya menatap tajam wajah Viona, menelisik lebih dalam lagi dan berpikir apa yang membuat wanita itu marah?

Viona mendengkus kesal, merasa diperhatikan begitu intens ia pun memilih beranjak dari kursi lalu pergi.

Sadar, ada kemarahan di wajah itu, Gilang pun dengan cepat bangkit dari sofa lalu menyambar lengan wanita itu hingga wajah keduanya saling beradu.

Viona terengah, napasnya sedikit tersengal mendapati lelaki berwajah tampan itu kini berdiri tepat di depannya dan nyaris tanpa jarak.

Gilang memindai setiap sisi wajah wanita itu, napasnya pun terengah. Ia sadar ada sesuatu di dalam dirinya yang meminta lebih dari sekedar menatapnya dari sejak wanita itu berdiri di depan pintu tadi. Namun, ia berusaha sekuat hati untuk tidak tergoda.

“Kamu tau? Aku paling tidak suka jika diabaikan.”

Kata-kata Gilang seolah menjadi bumerang untuk dirinya. Alih-alih menjawab pertanyaan lelaki itu, Viona justru melempar pertanyaan itu. “Memangnya kenapa? Bukankah kamu yang semalaman mengabaikan semua pesanku?” tanya Viona seraya menatap Gilang dengan sedikit memicing.

Gilang terdiam. Napasnya pun berhembus hangat menyapu wajah wanita itu.

“Kenapa diam? Kamu menemui wanita itu kan?”

Gilang masih bergeming. Kedua tangannya semakin mencengkeram kuat lengan Viona seraya tatapannya semakin tajam. Dalam hati ia merasa tidak mengerti, apa yang sedang ia lakukan sekarang? Ia memperlakukan wanita di hadapannya itu seperti sudah menjadi miliknya bahkan rasa posesif kini sudah menggelayuti hatinya. Ia benar-benar merasa bahagia dengan sikap Viona yang sangat ingin tahu apa yang sudah ia lakukan semalaman. Meskipun banyak hal yang terjadi dan hampir saja ia dibuat gila setelah mendengar penuturan dari Alex serta pertemuannya dengan Rere yang sempat membuatnya tak enak hati. Tapi semua itu tidak menyurutkan rasanya yang menggila pada wanita di depannya itu.

“Ayo jawab, kenapa diam?” Viona semakin marah.

Gilang masih bergeming seraya menyeringai tipis. Yang terdengar hanyalah helaan napas dari keduanya yang sama-sama terengah.

“Kamu menemui wanita itu, kan?” Hal itulah yang masih menjadi pertanyaan Viona.

Lagi dan lagi Gilang hanya memindai wajah cantik itu sambil menyeringai, ia sangat yakin bahwa wanita yang ia tatap saat ini sudah benar-benar menaruh hati padanya. Ia yakin, wanita ini sedang cemburu.

“Dia minta apa ke kamu? Hah? Sampai-sampai dia ingin sekali bertemu!” ucap Viona kian marah.

Semakin wanita itu marah-marah, justru semakin membuat Gilang tak bisa menahan hasrat yang selama ini ia tahan begitu dalam. Ia tak pernah merasa seantusias ini ketika berhadapan dengan seorang wanita sebelumnya. Napasnya kian memburu seolah sudah tak bisa menahannya lagi. Akhirnya, tanpa ia sadari tangannya dengan cepat meraih tengkuk Viona lalu meraih bibir wanita itu lalu melumatnya perlahan.

Mendapat perlakuan yang amat sangat mengejutkan, mata Viona terbelalak dalam rengkuhan lelaki itu. Ia berusaha meronta, namun lelaki itu justru semakin memperdalam ciumannya.

“Gilang …. Lepasin!” serunya di sela-sela ciuman itu.

Gilang terperanjat. Dengan cepat ia melepaskan ciuman itu. Napasnya nampak tersengal. “Sorry, Vi, Sorry…!”

“Apa kamu juga melakukan ini pada semua pacar kamu? Hah?”

“Vi, tolong dengerin aku. Aku bisa jelasin semuanya. Se-mua-nya. Tanpa ada yang aku tutup-tutupi.” Gilang coba menjelaskan dengan tangannya meraih lengan Viona. Jantungnya berdebar hebat, dadanya pun naik turun. Wajahnya benar-benar menyiratkan sesal, ia merasa sudah sangat khilaf sudah memperlakukan wanita itu dengan sangat tidak sopan.

Viona memalingkan wajah mencoba menepis rengkuhan lelaki itu.

“Ya … semalam aku memang menemuinya. Dia minta untuk menjadi kekasihku lagi. Dia siap untuk berpindah keyakinan. Dan aku pikir akan sia-sia jika niatnya berpindah keyakinan hanya karena ingin bersamaku.”

“Jadi kamu masih sayang sama dia….?” Viona menyela tanpa membalas tatapan Gilang.

“Vi … kita sudah lama putus, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya. Dan satu lagi … aku tidak pernah berhasrat sebesar ini ketika dengannya. Aku sangat minta maaf jika aku sudah tidak sopan padamu, tadi.”

“Aku minta … jangan sekali-kali menemui aku dengan pakaian seperti ini, aku mohon.”

Reflek Viona menatap tubuhnya yang berbalut baju tidur mini. Ia memundurkan langkah, namun Gilang kembali meraihnya.

“Vi … please, Kali ini aku akan memohon.” Gilang meraih kedua tangan Viona.

Sementara Viona menatap dengan wajah bingung. Ia menyipitkan mata lalu segera menunduk seolah tak kuasa melihat tatapan itu.

“Jadilah istriku, aku ingin kita segera menikah.”

Dalam tunduknya, Viona menelan salivanya dengan susah payah. Ia masih belum berani menatap wajah lelaki itu. Lelaki yang beberapa hari ini sudah membuatnya gelimpungan dan tak berselera makan.

“Vi … Kamu tidak punya niat untuk menolakku, kan?”

Jantung Viona kini berdegub begitu kencang. Hatinya pun merasa sangat bahagia mendengar ucapan lelaki itu. Ia mendongak
dengan tatapan sendu, berusaha menyelami kata-kata yang diucapkan lelaki itu, benarkah ada kesungguhan di dalamnya?

Meski wajahnya masih bisa membingkai rasa marah yang sedari tadi merasuki dirinya, tapi tidak dengan hatinya.

Viona menghela napas, menatap lelaki itu seraya melihat lagi kesungguhan di dalam hatinya.

“Kalau kamu belum siap, maka akan aku paksa.”

Viona mendengkus pelan.

“Aku tidak bercanda, Vi,” tutur Gilang sambil meraih bingkai wanita itu hingga keduanya kini bersitatap.

Hening.

Gilang benar-benar seperti sangat menikmati kecantikan wajah itu. Wajah yang sangat ia inginkan menjadi istrinya nanti.

“Apa jaminannya kalau kamu benar-benar serius?”
“Selama ini yang datang padaku hanya lelaki-lelaki brengsek!” jawabnya kian ketus.

“Aku yakin, karena aku melihat rasa tidak rela dari hati kamu jika aku dekat dengan wanita lain.”

“Ck. Cuma itu?”

Gilang terdiam, ‘Andai kamu tahu yang sebenarnya mungkin kamu akan pergi jauh dariku, Vi’ batin Gilang.

“Kamu butuh bukti apa lagi?”
“Apa selama ini yang kuperbuat belum cukup membuatmu melihat rasa sayangku yang begitu besar padamu?”
“Aku hanya ingin kita menikah. Bukan sebagai pasangan kekasih.”

Mendengar itu, hati Viona berdenyut begitu kencang. Kali ini ia baru merasakan kesungguhan lelaki itu. Tatapannya benar-benar meneduhkan, seakan ia akan menemukan kenyamanan di sana.

“Apa kamu yakin, dengan memilihku?”

Gilang meraih wajah wanita itu lalu mendekatkan ke wajahnya. “Biidznillah ….”

Viona mengukir senyum, matanya pun mulai berkaca-kaca.

“Sesungguh itukah, Kamu?”

Gilang mengangguk mantab lalu tersenyum tanpa berani memeluk wanita itu.

Keduanya hanya saling menatap, lama hingga tanpa sadar, terdengar suara aneh dari perut Viona, begitu nyaring.

“Aku lapar ….” rengek Viona membuat Gilang tergelak. Ia lupa bahwa calon istrinya itu benar-benar sangat manja.

“Kita makan di luar, ya?” ajak Gilang antusias.

“Memangnya kamu tidak ada jam ngajar?” tanya Viona.

“Ada, nanti jam satu.”

Viona tersenyum. Ia pun bergegas masuk ke kamar lalu mandi sedang Gilang duduk di ruang TV.

•••••

“Aku mau soto di warung langganan kamu, bisa?”

Gilang hanya mengangguk.

Menempuh perjalanan yang lumayan jauh hanya sekedar untuk memakan soto bagi Gilang tak menjadi masalah. ‘Rupanya doa pak Toha waktu itu benar-benar jitu.’ Gilang membatin disertai seringaian kecil.

“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum, gitu!” tanya Viona penasaran disela sela langkahnya menuju tempat parkir.

“Nggak. Sepertinya ada yang kangen sama pak Toha?” ledek Gilang membuat Viona mencebik.

“Bukan gitu, emang sotonya enak. Dan entah kenapa dari tadi malam, bawaanya pengen makan soto itu. Gak mau yang lain,” ucap Viona penuh semangat.

Untuk sesaat jantung Gilang kembali berdetak tak biasa. Ia baru sadar, mungkin efek kehamilan wanita itu baru ia rasakan sekarang.

Sampai di depan mobil, Gilang membukakan pintu mobil untuk Viona. Lelaki itu memperlakukan wanita itu dengan begitu lembut dan hal itu dibalas senyuman dari Viona.

Setelah keduanya masuk, mobil pun meluncur membelah kota Bogor. Hawa dingin yang sempat mereka rasakan saat di luar tadi membuat Viona sedikit menggigil.

Tiba di warung soto pak Toha, dengan wajah yang berbinar keduanya turun dari mobil lalu bergegas masuk.

“Wah … baru kemarin kalian ke sini? Apa mbak Viona sudah ketagihan makan soto buatan Bapak?” seru pak Toha saat melihat kedatangan mereka.

Viona hanya mengulum senyum begitu juga Gilang. Lelaki itu menggandeng tangan Viona saat berjalan di antara desakan para pengunjung lainnya.

“Apa kali ini hampir resmi?” goda pak Toha sembari mempersilahkan keduanya duduk. “Silahkan duduk, Mas, Mbak.”

Viona nampak mengulum senyum lagi, sedang Gilang hanya menyeringai tipis. “Doain saja, ya, Pak.” Gilang menyahut diiringi senyuman.

Gilang menarik kursi untuk diduduki Viona lalu disusul dirinya yang kembali menarik kursi di sebelah wanita itu.

Usai duduk, Gilang langsung merogoh ponsel yang tiba-tiba bergetar di saku celananya. Membuka layar ponsel dan melihat pesan yang ia terima. ‘RERE’

{Apa masih ada harapan untuk kita? Maaf, semalam aku pergi begitu saja.}

Reflek, pandangan Gilang tertuju pada Viona yang masih mengawasinya dengan tatapan marah.

Cepat Viona menyambar ponsel yang ada di tangan Gilang. Bukannya marah, lelaki bertubuh jangkung itu hanya menyeringai dan membiarkan wanita bermata lentik itu menyita ponselnya.

Terukir senyum puas di kedua sudut bibir Viona, “Kamu mau membalas apa?”

“Kamu saja yang balas, terserah kamu mau menulis apa. Tapi yang pasti … jangan sampai menyinggung perasaannya. Kasian. Kamu juga seorang wanita yang tak mau terluka. Iya, kan?”

Kini Viona menatap manik tajam lelaki itu dengan senyum termanisnya. Ia merasa selain rasa cinta yang ditunjukkannya begitu istimewa, lelaki yang beberapa jam lalu memintanya untuk menjadi istrinya pun mempunyai pribadi yang sangat penuh kasih sayang.

“Hati kamu terbuat dari apa?” tanya Viona sembari memindai wajah Gilang yang duduk di sebelahnya.

Gilang tersenyum. “Yang jelas … porsinya sangat cukup untuk memberi rasa cinta dan sayang ke kamu hingga aku tiada nanti.”

Mendengar ucapan Gilang, sontak mata indah dan bening itu pun berkaca-kaca. Begitu mengharukan sekaligus membuat hatinya semakin pasrah untuk dimilikinya.

“Ga usah nangis, sotonya sudah datang, tuh!”

Viona menyikut lengan Gilang sambil terkikik pelan sedang satu tangannya berusaha mengusap butiran hangat yang sempat lolos dari matanya.

“Ini, Pak. Silahkan!” ucap sang pelayan.

“Makasih, Mbak.” Gilang menyahut.

••••••••••••

Kenyang dan puas, itu yang Viona rasakan. Setelah acara sarapan selesai, akhirnya mereka pun pulang. Perjalanan menuju apartemen, mata Viona tiba-tiba melirik deretan penjual asinan yang berjajar rapi di pinggir jalan. Entah apa yang membuatnya ingin sekali membeli asinan itu. Sebelum-sebelumnya ia tidak begitu suka dengan asinan.

“Lang … mau itu!” pinta Viona manja.

Gilang membatin, ‘Sepertinya, efek kehamilannya sudah mulai terlihat. Apa dia tidak merasa ada yang aneh pada tubuhnya?’

“Sebentar, aku cari parkir yang pas dulu,” sahut lelaki itu tanpa berani menolak.

Gilang menepikan mobilnya lalu mematikan mesin. Ia keluar dengan sangat buru-buru lalu berjalan menuju salah satu penjual asinan itu.

Usai membeli dua kantung asinan, mobil mereka pun meluncur menuju apartemen.

•••••••

“Sebaiknya kamu berkemas. Aku mau, kamu ikut ke rumahku saja. Aku akan segera bicara pada Bapak dan Ibu tentang pernikahan kita,” tutur Gilang setelah mereka duduk di ruang tamu.

“Apa? Secepat ini?”

“Apa bedanya besok atau sekarang? Tujuan kita baik, apa kamu mau, aku ajak kemana-mana tanpa ada status?”

Viona tampak berpikir.

“Seyakin itu kah, kamu? Apa kamu tidak takut kecewa, nantinya? Kamu belum benar-benar mengenalku, Lang.”

Gilang mendengkus, ‘Bahkan dalam keadaan hamil pun aku akan tetap memperjuangkanmu,’ batinnya menyahut.

“Semua itu bisa kita jalani setelah kita menikah nanti. Bukannkah itu lebih baik? Kita akan saling mengingatkan satu sama lain. Begitukan, peran suami istri semestinya?”

“Baiklah aku menurut saja,” sahut Viona lemah. Meski bahagia yang ia rasakan saat ini, tapi tetap saja, secuil keraguan tentang pantas atau tidak dirinya untuk lelaki itu seolah masih menyusup di hatinya.

“Sekarang berkemaslah. Aku tidak mungkin menjagamu setiap saat. Fisik kamu masih lemah, setelah aku kembali mengajar nanti, apa kamu sanggup merawat diri kamu sendiri? Setidaknya kamu tinggal di rumahku beberapa hari dulu, sampai ayah dan ibu Kamu pulang.”

Viona mengangguk. Ia pun bangkit dari sofa lalu berjalan menuju kamar. Mengemasi sebagian pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper.

Hampir tiga puluh menit berlalu, Gilang terlelap di sofa. Viona yang hendak berucap pun ia urungkan. Sejenak menatap wajah teduh lelaki itu dari jarak dekat, semakin mendekat hingga tersisa beberapa senti saja. Viona tersenyum, mengulurkan tangan hendak meraih bingkai lelaki itu, namun dengan cepat kedua mata Gilang mengerjap. Viona pun terperanjat. Ia melangkah mundur.

“Jangan diteruskan, nanti fatal akibatnya! Apa sudah selesai? Kalau sudah kita langsung berangkat saja.”

Viona mendengkus kesal. Lelaki itu selalu saja berhasil menjaga jarak dengannya.

••••••••

Pukul 11 siang, matahari tampak tak begitu bersahabat, cuaca sedikit gelap, awan hitam di langit pun seoalah siap meneteskan ribuan tetes air. Hingga di menit-menit berikutnya, tetesan air dari langit pun jatuh seakan tak mampu ditahan lagi.

Bermula dari sebuah rintikan, kini berganti menjadi deras hujan yang menggelap. Jalan yang tadi terlihat jelas, sekarang justru tak terlihat apa-apa. Gilang pun memelankan laju kendaraannya. Seiring badai dan angin yang mulai menghalau jalan, Viona yang duduk di sisinya pun mulai merapatkan kepala di bahu lelaki itu.

Gilang melirik sekilas lalu tersenyum. Dalam hati ia terheran, secepat inikah ia mencintai wanita ini? Bahkan mengenal saja terbilang sangat singkat. Namun, ia sudah sangat yakin untuk memperistrinya.

“Aku nanti tidur dimana?” tanya Viona dengan suara parau.

“Di kamarku,” sahut Gilang lembut.

“Kamu?”

“Gampang. Aku bisa tidur dimana saja. Asal aku tau keadaan kamu baik-baik saja.”

Viona mendongak, menatap sisi wajah lelaki itu lalu tersenyum.

Part selanjutnya terbit tanggal 27 Mei 2020

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here