Jodoh di Depan Rumah #12

0
471
views

“Bu … Pak … ,” sapa Gilang dengan wajah sedikit gugup. Ia berjalan mendekat dan mencium tangan mereka dengan takzim.

“Kenapa nak Gilang ada di sini?” Galuh bertanya dengan tatapan curiga. Begitu pun dengan Mariana.

“Ta- tadi … ,” Belum selesai ia bicara, wanita yang berdiri di sisi sofa dengan tubuh gemetarnya lebih dulu menyela.

“Ta-tadi … aku pingsan di kampus waktu mau jemput Ratu, dan … Gilang yang menolong dan membawaku kembali ke apartemen.” Viona berusaha menjelaskan.

“Apa? Kamu pingsan?” Mariana mulai mengrutkan kedua alis seraya menatap Viona. Cepat ia menghambur ke arah putrinya. “Memangnya kamu sakit apa, hah? Kenapa Ibu tidak dikabari?” tanya Mariana begitu terlihat cemas sambil mendudukan tubuh anak gadisnya ke sofa.

“Kata dokter ada gangguan di ususku. Mungkin aku akan cuti kerja untuk beberapa hari,” tutur Viona seraya melihat wajah sang ibu yang masih terlihat cemas

“Maaf, ya, Nak, malah jadi merepotkan …,” ujar Galuh merasa tak enak hati.

“Nggak papa, Pak … ,” sahut Gilang dengan sopan.

“Silahkan duduk, Nak. Akan saya buatkan teh dulu ya,”

“Nggak usah, Pak. Biar nanti saya bisa buat sendiri,” cegah Gilang dengan menahan bahu lelaki paruh baya itu.

“Bapak istirahat saja, pasti Bapak juga sangat lelah.” Galuh tersenyum.

Kedua lelaki beda usia itu akhirnya duduk di sofa. Gilang tampak menghembuskan napas, lega. Ia sempat mengira kedua orang tua Viona akan curiga atas keberadaannya yang bisa membuat siapapun salah paham. Tapi ternyata tidak, mereka justru bersikap lebih tenang dan mau memberikan kesempatan pada putrinya untuk menjelaskan masalahnya terlebih dahulu.

“Makasih, ya, Nak, sudah nolongin Viona. Untuk urusan makan, memang dia sedikit bandel. Bahkan jika pekerjaannya sangat menumpuk, ia bisa seharian tidak makan,” tutur Mariana sambil mengelus lengan Viona.

Mendengar hal itu, Gilang cepat menoleh ke arah Viona sambil memicingkan mata. Lelaki itu benar-benar menyanyangkan kebiasaan buruk wanita itu. Merasa sudah di tatap sedemikian tajam, Viona hanya bisa menunduk sambil mengulum senyum malu.

Menit berlalu, mereka pun mulai berbincang-bincang. Lelaki paruh baya itu pun bertanya, mulai dari kuliahnya Gilang, pekerjaan, hingga kegiatan sehari-seharinya.
Beruntung, Gilang dapat menjawab semua pertanyaan lelaki paruh baya itu dengan sangat lancar dan mengalir apa adanya. Bahkan ketika ia mulai bicara hingga selesai pun pandangan Viona tak mau beralih dari wajahnya. Namun, hal itu tidak membuat Gilang terlihat gugup bahkan sesekali ia terlihat membalas tatapan Viona dengan picingan menggoda hingga wanita itu mau tak mau harus menahan senyum dan menunduk.

Lama mereka bercengkrama hingga tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul empat sore.

“Bu, kenapa nak Gilang tidak dibuatkan minum? Malah asik ikut ngobrol.” Galuh menyela.

“Ya Allah, jadi lupa. Tunggu bentar, ya, Nak!” ucap Mariana dengan wajah semringah.

“Tidak usah repot-repot, Bu. Saya bisa buat sendiri nanti.”

“Jangan … biar Ibu saja.” Mariana menyahut seraya berjalan menuju dapur.

“Maaf, Nak. Bapak permisi dulu ya, rasanya sudah gerah pengen mandi.” Galuh pun pamit lalu berjalan menuju kamar Viona.

“Silahkan, Pak.”

Kini yang tersisa hanya Viona yang masih duduk tepat berhadapan dengan Gilang.

“Apa selama ini kamu benar-benar tidak memperhatikan pola makanmu?”

Pertanyaan Gilang membuat Viona menatap wajah lelaki itu lalu mengangguk perlahan.

“Mulai sekarang kamu harus benar-benar menjaga itu, demi ja ….”

“Ja? Ja, apa?” Viona bertanya.

Gilang hanya bisa menelan salivanya, gugup. Hampir saja ia keceplosan.

“Demi usus Kamu. Memangnya kamu tidak kasian?” Gilang berkilah sambil mengatur mimik wajahnya agar tidak terlihat gugup

“Iya ….” Viona pun menurut.

Suasana kembali hening. Keduanya hanya saling pandang tanpa bicara satu sama lain hingga Mariana tiba dengan membawa dua cangkir teh di atas nampan.

“Ini, Nak tehnya. Silahkan diminum dulu.”

“Makasih, Bu,” ucap Gilang dengan senyum gemilang.

“Sama-sama …. Sepertinya Ibu juga harus mandi dulu. Gerah. Ibu tinggal dulu, ya.” Mariana pun berlalu dari hadapan keduanya.

Gilang mulai meraih cangkir berisikan teh yang masih terlihat kepulan asap di atas meja lalu mulai meminumnya dua hingga tiga teguk. Hangat. Setidaknya hal itu mampu membasahi tenggorokannya yang kering akibat gugup karena hampir saja ia keceplosan tentang keadaan wanita itu yang sebenarnya. Ia memang ingin merahasiakan hal ini dan berpura-pura tidak tahu hingga Viona sendiri nantinya dengan suka rela menceritakan semuanya.

“Apa masih mau minum, meski nggak ada lemonnya. Bukannya kamu tidak mau minum yang lainnya jika tidak ada lemon di dalam minuman itu?” Viona kembali mengingatkan akan kebiasaan minum Gilang.

“Lalu, jika ibuku menyuguhimu dengan minuman yang tidak kamu suka, apa kamu tidak akan meminumnya juga?” Pertanyaan itu membuat Viona berhasil memicingkan mata ke arah lelaki itu.

“Bagaimana pun … Ibu kamu sudah susah payah membuatnya, jadi … aku juga harus menghargai itu.” Ucapan Gilang kini membuat Viona mengukir senyum seraya menunduk tanpa berani menatap Gilang lagi.

“Apa kamu sudah mendingan?”

Kali ini Viona mengangguk disertai senyum yang berbinar.

“Baiklah, ini sudah sore. Aku mau sholat dulu, lalu ambil mobil kamu, setelah itu pulang.”

Mendengar hal itu, wajah Viona berubah masam. Hatinya seperti tidak rela lelaki itu pulang begitu saja.

Gilang nampak menyeringai setelah menangkap rasa tidak suka dari wajah wanita itu. “Kenapa?” Kamu mau aku tidur di sini?” sindir Gilang setelah melihat tatapan Viona yang begitu terlihat manja.

Viona hanya mendengkus pelan lalu mengulum senyum. Ia merasa geli mendengar ucapan Gilang.

“Yang jelas … aku tidak akan mengijinkanmu ikut denganku untuk mengambil mobil.”

“Hih. Siapa juga yang mau ikut!”
Reflek Viona memanyunkan bibir seraya menatap wajah Gilang. Ia tak menyangka bahwa lelaki yang sudah bersiap pergi itu dapat mengetahui isi kepalanya.

Akhirnya Gilang berjalan keluar. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia pun berpesan. “Bilang ke Bapak Ibu, aku ambil mobil dulu.”

Viona mengangguk dengan senyum terukir di bibirnya. Ia masih berdiri di bibir pintu seraya menatap punggung bidang lelaki itu hingga menghilang dan masuk ke dalam lift.

****

Gilang pergi menuju mall untuk membeli beberapa baju ganti selama tinggal di hotel nanti. Ia merasa bahwa ia tetap harus menginap untuk satu atau dua hari, sebab ia takut sesuatu bisa terjadi pada Viona meski orang tua sudah menemaninya. Mengingat keadaan wanita itu saat ini sedang mengandung, dia pun bisa dapat dengan cepat memberinya pertolongan jika hal buruk terjadi padanya secara tiba-tiba.

Setelah semua ritual diri sudah selesai Gilang kerjakan, akhirnya ia pun meluncur menuju ke super market dimana mobil Viona dititipkan dengan menggunakan taksi.

Hampir dua puluh menit perjalanan yang ia tempuh, taksi pun berhenti tepat di depan super market.

“Ini, uangnya, Pak. Makasih, ya,” ucap Gilang pada supir taksi seraya menyodorkan uang.

Dari tempatnya berdiri, mobil jazz berwarna merah menyala itu masih terparkir dengan nelangsa. Bagaimana tidak, kendaraan itu sudah ditinggal pemiliknya yang jatuh pingsan di kampus tadi. Gilang pun mendengkus seraya menatap mobil itu.

Ia membuka mobil, lalu masuk dan mulai menyalakan mesinnya. Tanpa sadar, ia mendesah saat tangannya menyentuh setir mobil itu. Ia merasa ada yang berdesir di dalam dada. Desiran itu seolah nyata sedang meremas-remas hatinya. Dan sialnya … ia tak bisa menepis rasa itu barang sedikitpun. Semakin ia bersikap cuek pada wanita itu justru ia semakin merindukannya. Ia memang tidak begitu paham soal cinta, tapi ia yakin rasa yang saat ini ada benar-benar melebihi dari sekedar cinta. Mengingat betapa manja dan menggemaskan wanita itu setiap kali diajak bicara membuatnya ingin segera bertemu dan melihat parasnya yang benar-benar membuatnya rindu.

Ia menghela napas sesaat demi menetralisir rasa yang sedang membuncah di dalam dada. Ia yakin wanita itu pun kini telah menunggunya. Ia tahu, semakin lama ia pergi maka wanita itu akan semakin bersikap aneh bahkan marah-marah tak jelas.

Menit berlalu, mobil merah itu akhirnya meluncur menuju ke apartemen.

Selang sepuluh menit, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia meraihnya lalu mengangkat panggilan itu.

{Iya, Re?} jawab Gilang.

{Lang, kamu ada waktu, kan? Bisa temui aku di tempat biasa?} tanya Rere dari ujung telepon.

Hening. Gilang tampak berpikir, haruskah ia kesana dan menemui wanita itu?

{Sorry, Re, tapi aku tidak bisa lama.}

{Okay, Lang. Aku tunggu.}

Gilang berputar arah sesaat setelah mengakhiri panggilan tadi menuju cafe tempat dimana mereka dulu sering bertemu.

Tiba di cafe, Gilang tak ingin membuang-buang waktu, ia pun segera masuk. Berdiri sesaat di antara para pengunjung cafe, pandangannya ia edarkan ke segala arah hingga akhirnya manik hitam itu menemukan sosok wanita yang selama ini pernah dekat dengannya.

Wanita blasteran indo-turki yang tengah duduk sendiri itu nampak sedang termenung. Wajahnya yang cantik serta tubuhnya yang sempurna itu seolah tak mampu menciptakan binar di wajahnya.

“Hei, sudah lama?”

“Gilang …!” Rere berseru seraya meraih tubuh Gilang ke dalam pelukan.

“Re … please lepasin. Ini di tempat umum,” tolak Gilang seraya melepas kedua lengan itu dengan pelan.

“Oya, aku pesenin Lemon Ice dulu ya!”

Wanita itu seperti sudah sangat hafal apa yang Gilang suka dan tidak suka. Hampir dua tahun lamanya, mereka menjalin hubungan. Meski berbeda keyakinan, seolah bukan masalah buat mereka. Rasa sayang keduanya yang teramat besar itulah yang membuat Gilang lupa, bahwa dalam agamanya hubungan itu bukanlah hanya sekedar cinta dan sayang saja, melainkan sebuah keyakinan yang jauh lebih penting untuk kelanjutan hubungan mereka ke arah yang lebih serius lagi. Selama ini, Gilang tak pernah memaksa wanita itu untuk berpindah keyakinan, ia benar-benar membebaskan. Namun, seiring waktu, ia sadar bahwa rasa sayang itu harus ia sudahi. Ia tidak ingin semakin menyakiti wanita itu. Meski pada kenyataannya wanita yang saat ini berada tepat di depannya semakin terlihat rapuh bahkan dari pertama kali ia meninggalkannya.

“Nggak usah, Re. Aku buru-buru. Ada penting apa, sampai kamu datang kemari?”

“Ayolah, Lang. Apa kamu tidak kangen, hah?”

“Re, kita sudah putus. Aku harap kamu mengerti itu. Sekarang katakan apa maumu?”

“Fine. Aku mau berpindah keyakinan dan aku ingin kita kembali seperti semula. Kita bersama-sama lagi. Apa masih ada pertanyaan? Itu kan, yang selama ini kamu harapkan? Aku benar-benar mencintai kamu, Lang. Come back to me, Lang. You know, it hurts me so much.”

Gilang menunduk, meski rasa itu dulu pernah memenuhi isi hatinya, namun kali ini berbeda.

“Sorry, Re. Aku nggak bisa. Semua sudah berakhir, bahkan rasa yang dulu pernah ada, saat ini sedikit pun sudah hilang. Aku tau ini menyakitkan, tapi bagaimanapun juga kamu harus tau itu. Sekali lagi aku minta maaf, Re.” Gilang berusaha jujur.

Wanita itu luruh, matanya memantulkan cahaya bening yang seolah siap meleleh kapan saja. Dan akhirnya … tangis itu pecah di hadapan Gilang. Ia berusaha menenangkan namun percuma, wanita itu pergi begitu saja sambil menahan tangis yang mungkin sangat menyakitkan.

Gilang menghela napas, menahannya pun akan percuma. Karena, ia yakin, bahwa hatinya kini sudah tertambat pada seorang wanita di luar sana. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera berlalu menuju tempat parkir.

Dari kejauhan tampak seorang laki-laki berpostur tinggi tengah merangkul seorang wanita dengan busana yang … bisa dibilang sangat terbuka dan seksi. Gilang terus memicing ke arah mereka. Keduanya seperti sedang mengamati mobil Viona. Tanpa babibu, Gilang pun menghampiri.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Gilang penasaran melihat gerak gerik mereka.

Lelaki itu menoleh, dengan tangannya masih memeluk pinggang sang wanita.

“Aku sangat kenal dengan mobil ini, apa kamu sekarang yang jadi pemiliknya?” ujar lelaki itu kepayahan. Rupanya saat ini, ia dalam kondisi mabuk.

“Maksud anda?” Dahi Gilang tampak berkerut.

“Hah! Kamu tau … pemilik mobil ini sudah menghancurkan hidupku…,” ucap lelaki itu dengan susah payah serta tubuhnya mulai limbung.

“Dia benar-benar wanita tidak tau diri! Hahahahahha. Bilang padanya … aku sangat menikmati malam itu. Aku tau dia sedang tidak sadar ketika melakukannya denganku. Aku yakin dia srdang tidak sadar saat kurenggut kesuciannya.”

Mendengar itu, dada Gilang terasa sesak. Rahangnya mengeras, matanya pun memerah seketika. Kedua tangannya mengepal seolah siap melayang kapan saja.

“Hahahhahahaha. Mengenaskan sekali nasibnya.” gelak tawa lelaki itu semakin membuat Gilang murka.

Tak bisa menahan emosi yang sudah terlajur naik ke ubun-ubun, Gilang pun melayangkan tinju bertubi-tubi ke arah lelaki itu.

“Aaaaaa…. ” Wanita itu seketika menghindar lalu menjerit.

“Tolong … tolong …!” Teriak wanita sambil menangis dan ketakutan.

Darah segar kini bercecer di lantai parkir. Tak dapat menghindar, lelaki yang masih mabuk berat itu akhirnya ambruk dengan wajah babak belur.

Gilang menunduk, mendekati wajah lelaki yang sudah tidak berdaya itu. “Aku tidak peduli siapa kamu, yang jelas, jangan sampai kamu dekati Viona lagi. Camkan itu!” ancam Gilang seraya memberi satu pukulan lagi ke arah pipi.

“Alex …. bangun, Lex!” seru sang wanita seolah tak tega.

Gilang pun berlalu. Dadanya benar-benar terguncang mendengar semua ucapan lelaki itu. Ia tidak menyangka Viona akan diperlakukan sedemikian buruk oleh mantannya. Tanpa peduli dengan orang-orang yang mulai berhamburan di tempat parkir tadi, ia pun dengan cepat melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar kacau. Rupanya janin yang ada di dalam perut Viona adalah hasil dari perbuatan mantannya tanpa Viona sadari.

Gilang mencengkeram setir itu kuat-kuat. Ia benar-benar murka dan hatinya sangat kacau.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke apartemen Viona.

Tiba di kamar hotel, ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kepalanya benar-benar mau pecah, ucapan-ucapan lelaki itu seolah masih terngiang dan tertancap begitu dalam di hati dan pikirannya. Ia merasa tidak tega sekaligus tidak rela hal itu menimpa wanita yang kini mulai mengisi hatinya.

“Aaaaarrgghhh. Sial!”

Selang beberapa menit, ponselnya berbunyi.
Satu pesan masuk. Di layar tertera nama ‘calon istri’. Gilang hanya tersenyum getir.

{Kenapa lama sekali, kamu baik-baik saja, kan? Ayah dan Ibu sudah pulang tadi dapat kabar dari mbak Renata, katanya dia masuk rumah sakit.}

Gilang menghela napas, ia mencoba menenangkan hatinya. Belum sempat membalas, satu pesan kembali dikirim oleh wanita itu.

{Apa … kamu menemui wanita itu?}

Gilang mendesah. Bahkan wanita itu pun tahu, apa yang sudah ia lakukan di luar sana.

{Kenapa tidak dibalas? Apa kamu masih mencintainya?}

Gilang hanya bisa menelan saliva. “Aku akan segera menghalalkanmu, Viona Sesilia.” Bukannya membalas justru kalimat itu yang keluar dari mulut Gilang.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here