Jodoh di Depan Rumah #11

4
593
views

“Maaf, Pak, setelah bangun nanti, istri anda sudah diperbolehkan pulang.” Salah satu suster muncul dari balik tirai penyekat di ruangan IGD.

“Baik, Sus. Saya akan membayar biaya perawatannya dulu.”

“Baik, Pak. Mari saya antar.”

Langkah Gilang terasa berat, setiap detak jantungnya juga hembusan napasnya seolah masih menyisakan keterkejutan yang sangat luar biasa.

“Silahkan, Pak.”

Ia mengambil dompet di saku celananya.

“Semuanya berapa, Mbak?”

“Atas nama?”

“Viona.”

“Pasien atas nama ibu Viona, semuanya 550.000, Pak dan ini obat-obat yang harus ibu minum selama masa kehamilan. Oya, untuk yang satu ini, tolong untuk diberikan rutin ya, Pak, agar janin yang ada di dalam kandungan ibu Viona kuat.”

“Baik, Sus. Ini uangnya.” Gilang menyerahkan uang sekaligus menerima berbagai macam obat untuk Viona.

Usai meninggalkan bagian administrasi dan obat tadi, Gilang kembali ke ruang IGD.

Viona tampak menyunggingkan senyum pada Gilang dari tempatnya berbaring.

“Kamu sudah boleh pulang sekarang. Ini semua obat yang harus kamu minum nanti.”

Dahi Viona mengerut, wajahnya masih tampak pucat. “Sebanyak itu?” tanya Viona bingung.

Gilang mengangguk dengan senyum.

“Memangnya aku sakit apa, kenapa aku bisa pingsan?” tanya Viona membuat Gilang berpikir, apa wanita ini benar-benar tidak tau kalau dirinya sedang hamil?

“Bukan sakit apa-apa. Hanya saja … ada sedikit masalah di perut kamu.”

“Perut?” ucapnya lemah. Viona menatap perutnya lalu kembali menatap wajah Gilang bingung.

“Mungkin kamu sering telat makan, jadi … ada gangguan di usus kamu.” Gilang berusaha menjelaskan.

“Oh …”

Gilang yang sedari tadi berdiri, akhirnya memilih duduk di bibir ranjang Viona seraya menatap wanita itu.

“Kenapa kamu bisa ada di sana? Sudah gitu pake acara pingsan.” tanya Gilang heran.

Viona memanyunkan bibir sebelum menjawab pertanyaan Gilang. “Pak Hamdan menyuruhku jemput Ratu, tapi dia sudah pulang duluan dengan temannya dan entah kenapa tiba-tiba tubuhku lemas dan kepalaku juga sangat pusing. Setelah itu … aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.”

“Kamu tahu, kan, aku di sana. Kenapa tidak menghubungiku saja?”

Viona menunduk, ‘Gimana mau menghubungi, pesanku saja tidak digubris?’ batin Viona kesal.

Gilang tahu Viona masih kesal. Ia hanya bisa mengulum senyum melihat sikap wanita itu yang berubah manyun. Tanpa menunggu lama, ia pun meraih sling bag milik wanita itu lalu memberikannya dan bersiap pulang.

“Tunggu!” sergah Viona menahan bahu Gilang yang hendak beranjak dari ranjang. Sontak lelaki itu kembali duduk dan menatap wajah yang masih terlihat cantik meski make up’nya sudah memudar karena keringat.

“Ada apa?” tanya Gilang lembut. Kedua mata mereka saling bertatapan, namun Viona buru-buru menundukkan wajah.

“Kenapa tidak membaca pesanku?” keluh Viona lirih. Wajahnya semakin tertunduk malu.

“Baca, kok!”

“Terus, kenapa nggak dibalas?” Lagi Viona bertanya. Kali ini ia menatap Gilang dengan mata memicing.

“Nanti, baru aku balas. Tadi masih sangat sibuk,” jawab Gilang sepelan mungkin.

“Alasan!” Viona mendengkus seraya mengalihkan pandangannya ke sisi lain.

Gilang nampak menghembuskan napas pelan sambil menyunggingkan senyum.

“Memangnya aku harus jawab apa? ‘okay’, ‘baiklah’, atau ‘ya sayang ….’ begitu?”

Mendengar hal itu, Viona justru semakin malu. Ia memejamkan mata lalu kembali menunduk. Gilang memang benar, pesan itu tidak membutuhkan jawaban. Bukankah itu hanya sekadar info.

Tanpa menunggu lama, Viona pun bangkit lalu menurunkan kakinya pelan-pelan untuk bangun dari ranjang pasien. Namun, baru berdiri di sisi ranjang, tiba-tiba tubuhnya oleng, kepala dan perutnya kembali merasakan sakit.

Gilang yang masih duduk pun hanya bisa berdecak melihat betapa keras kepala wanita itu. Ia bergegas meraih tubuh Viona dan tanpa risih, lelaki itu langsung mengangkat tubuh itu ke dalam dekapan hingga tatapan mereka kembali beradu.

Wajah Viona seketika memerah, ia terlihat gugup dan salah tingkah mendapati tubuhnya berada dalam dekapan lelaki itu.

“Marahnya nanti di apartemen saja, sekarang kita pulang, okay!” rayu Gilang seraya menatap wajah Viona intens.

Wanita itu menggelinjang. “Gilang, apa-apaan sih?” Viona menolak meski suaranya masih terdengar lemah.

“Ga papa, Bu. Biar digendong suami Ibu saja. Saat ini kondisi Ibu masih sangat lemah. Jadi … jangan terlalu capek,” celetuk salah satu suster yang muncul dari balik tirai sambil menahan senyum setelah melihat tubuh Viona yang kini dalam gendongan Gilang.

“Kan bisa pakai kursi roda? Ihh, modus!” Lagi Viona masih menggelinjang dengan memukul-mukul bahu Gilang.

Gilang hanya bergeming lalu mulai berjalan keluar ruangan sambil menahan sakit di bahunya akibat pukulan-pukulan kecil Viona.

Tiba di depan mobil, Gilang membuka monil lalu dengan perlahan mendudukan Viona di kursi depan.

Sesaat pandangan mereka beradu, hal itu membuat Viona lagi-lagi merasa gugup. Merasakan tangan kokoh lelaki itu sibuk memasangkan sabuk pengaman untuknya.

Viona mengalihkan pandangan ke arah lain dengan napas sedikit tersengal demi tidak terlihat salah tingkah. Sedang Gilang hanya tersenyum melihat tingkah wanita itu yang terlihat begitu menggemaskan.

Setelah mobil melaju meninggalkan klinik, Viona kembali bersuara.

“Kenapa tadi suster menyebut kamu suami?”

Gilang hanya mengangkat kedua bahunya seraya menahan senyum sambil pandangannya lurus ke depan.

“Yakin, tadi dokter tidak cerita apa-apa? Kenapa dia memberi obat sebanyak itu?” ucap Viona merasa masih belum paham dengan keadaannya saat ini.

“Tidak ada, kamu tenang saja,” ucap Gilang bohong. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya masih benar-benar penasaran siapa ayah dari janin yang ada di dalam perut Viona. Kakak iparnya kah?

Hening.

“Oya, mobil kamu dimana?” Gilang kembali membuka percakapan.

“Mobil?” Viona berusaha mengingat-ingat. Setelah beberapa detik berpikir, Ia baru menyadari kalau mobilnya ia tinggal di super market di sekitar jalan yang ia lewati saat ini. “Sial!”

“Apa aku boleh ambil mobilku sekarang? Tadi macet, jadi aku titipin mobil itu di salah satu super market. Di sekitar sini, sih. Ehm … mungkin dua kilo meteran dari sini. Gimana, boleh?”

Gilang tak bersuara.

“Gilang …?” Viona merajuk.

“Sudah, biar aku saja yang ambil. Kita pulang dulu saja. Kamu masih harus istirahat.”

Viona terlihat kecewa. Ia pikir juga percuma, lelaki itu pasti tidak akan memberi ijin. Akhirnya, ia pun memilih diam sambil menikmati pemandangan ibukota melalui kaca mobil. Pemandangan yang sangat tidak membuatnya nyaman, tidak hanya panas, jalanan pun sesak dipenuhi dengan lalu lalang kendaraan.

Selang beberapa menit Gilang menepikan mobilnya di sebuah Rumah Makan Padang.

“Kenapa kita kesini, aku capek, pengen pulang.”

“Kita makan dulu sebentar … kasian perut kamu belum dikasih apa-apa.”

“Tapi aku nggak laper,” rajukknya.

“Ya udah aku beli bungkus saja. Kita makan di rumah kamu.”

Viona pun mengangguk pelan.

Lama Viona menunggu, sampai ia merasa bosan. Akhirnya, ia memilih menyalakan musik demi mengusir rasa jenuhnya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh tombol pemutar musik, ponsel Gilang yang tergeletak tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk, di layar muncul nama ‘RERE’.

‘Rere itu siapa?’ batin Viona.

Tangan Viona berkedut seolah hendak mengambil ponsel Gilang namun dengan cepat ia urungkan niatnya. Rasanya tidak sopan jika ia mencampuri urusan orang lain bahkan dia sendiri bukan siapa-siapa lelaki itu.

Dering yang kedua membuat Viona semakin gusar. ‘Ada penting apa sampai-sampai wanita itu terus menelponnya?’ batin Viona.

Setelah dua panggilan tidak terjawab, ponsel itu berbunyi lagi. Namun, kali ini sebuah pesan yang masuk. Lagi nama ‘Rere’ yang muncul. Viona melirik sekilas, dari layar yang masih menyala, terpampang samar-samar pesan itu tanpa harus membuka ponselnya.

[Bisa kita ketemu di cafe biasa? Aku tunggu jam delapan malam, ya.}

‘cafe biasa? Apa mereka sering bertemu sebelumnya? Apa hubungan mereka?’ batin Viona bertanya-tanya. Hal itu seolah sudah mulai mengusik ketenangannya.

Ia menghela napas, menyadari bahwa dia bukan siapa-siapa Gilang? Mungkin karena alasan ini, laki-laki itu tidak membalas pesannya. Mungkinkah dia sudah mempunyai pacar? Pikiran Viona kini benar-benar dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Ia menghempaskan punggungnya lalu menyandarkan kepala di jok mobil dan mengurunkan niatnya untuk menyalakan musik.

“Sorry nunggu lama, tadi sangat antre,” ucap Gilang setelah masuk ke dalam mobil.

Gilang menatap Viona. “Apa masih sakit, kenapa kelihatan lemas, gitu?”

Viona menggeleng dengan bibir sedikit manyun.

“Terus, kenapa cemberut begitu?”

“Tadi ada telepon di ponsel kamu,” ujar Viona setelah mobil mulai melaju.

“Siapa? Kenapa kamu tidak angkat saja?”

Viona menoleh. Merasa ada yang aneh dengan ucapan Gilang barusan. Ia berpikir, memangnya dia berhak mengangkat panggilan di ponsel lelaki itu? Lantas sebagai siapa?

“Kenapa tidak diangkat saja …?” Lagi Gilang bertanya. Kali ini dengan suara lebih pelan.

Viona mengernyit semakin bingung lalu mendengkus kasar.

“Memangnya aku siapa?”

“Istriku!” sahut Gilang seraya menatap Viona sekilas.

“Udah deh, kamu ini suka banget bercanda!” Viona semakin kesal.

Entah apa yang merasuki Gilang saat berkata seperti itu. Yang ia rasa hanyalah gemas melihat wanita yang duduk di sebelahnya. Seolah ketertarikannya pada wanita itu semakin kuat, meski kenyataannya saat ini wanita itu dalam kondisi mengandung.

“Memangnya dari siapa?” tanya Gilang lirih.

“Rere.” Viona menjawab cepat.

“Jadi kamu ngintip siapa yang telepon tadi?” Ujar Gilang sambil menahan senyum.

“Ihhh … rese deh. Kamu tanya, ya aku jawab. Siapa yang ngintip. Kan kelihatan dari sini!” elak Viona.
“Dia siapa? Pacar, Kamu?” tanya Viona setelah menjeda beberapa saat.

Gilang mengulum senyum mendengar pertanyaan Viona yang sangat ingin tahu itu.

“Mana ada laki-laki yang sudah berstatus sebagai suami masih punya pacar!” Lagi Gilang menggoda.

“Gilanggggg ….” teriak Viona jengkel seraya memukul bahu lelaki itu. Gilang tergelak.

Hening.

Viona kesal, wajahnya pun ia arahkan ke kaca sebelah kiri.

“Dia mantanku.”

Deg.
Tiba-tiba jantung Viona berhenti berdetak. Apalagi mendengar kata ‘mantan’ yang keluar dari mulut Gilang.

“Oh.”
“Kenapa putus?” tanya Viona. Kali ini tatapannya beralih pada Gilang yang masih fokus mengemudi. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin meski jantungnya mulai bergemuruh menunggu jawaban Gilang.

Gilang menoleh sekilas ke arah Viona lalu mengulum senyum. Ia tahu wanita itu mulai tidak nyaman. “Suatu saat aku pasti cerita.”

Viona terdiam. Mendengar jawaban Gilang yang begitu singkat membuatnya mendengkus pelan. Meskipun kecewa tapi di sisi lain, ia merasa bahagia, lelaki itu seolah sudah membuat janji akan menceritakan masa lalunya suatu saat nanti.

*****

Sampai di apartemen, Gilang memapah Viona berjalan menuju kamarnya.

“Maaf, rumahku berantakan.”

“Hemm.”

Gilang meletakkan tas Viona di atas sofa juga satu kantung nasi padang yang ia beli tadi lalu duduk di sebelah Viona.

Hening.

Gilang mengedarkan pandangannya ke semua sisi ruangan itu. Tak bisa Gilang pungkiri, rasa gugup kini mulai menjalari tubuhnya. Berada dalam satu ruangan dengan seorang wanita adalah pertama kali baginya. Apalagi wanita yang duduk di sebelahnya terlihat sangat menawan. Siapa yang tidak tertarik dengan pesona Viona? Wanita itu begitu seksi, pintar parasnya juga sangat cantik. Namun, sesaat ia diingatkan oleh suatu kenyataan bahwa wanita yang duduk di sampingnya itu kini sedang mengandung.

“Mau aku buatkan teh? Tapi … aku nggak punya lemon.” Viona tampak tak enak hati. Ia tahu lelaki itu sangat menyukai lemon.

“Enggak usah. Kamu duduk saja. Aku bisa minum air putih.” Gilang menolak seraya menahan bahu Viona agar tetap duduk.

Gilang mulai membuka box makanan yang ia beli tadi lalu menyodorkannya pada Viona.
“Sekarang kamu makan dulu.”

“Kamu dulu saja, aku mau ganti baju sebentar.” Gilang pun menarik kembali box makanannya lalu mulai menyendok dan menyuapkan ke mulut.

Viona berjalan menuju kamarnya lalu mengganti baju kerja dengan baju rumahan.

Setelah hampir lima menit, akhirnya Viona keluar kamar dan berjalan ke arah kulkas dengan mengenakan kaus oblong dan hot pant. Sekilas memang terlihat biasa, namun Gilang dapat melihat bahwa tubuh wanita itu tampak sangat berisi. Mungkin karena efek hamil kah?

Setelah mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas, Viona pun berjalan menuju sofa lalu meletakkan dua botol tadi di atas meja. Ia duduk dengan begitu santai di sebelah Gilang dengan menyilangkan kaki. Sangat cuek dan apa adanya.

“Kamu sengaja menggodaku atau di lemarimu hanya ada pakaian-pakaian seperti itu?”

Viona reflek mengulum senyum. Paham dengan sindiran Gilang akhirnya ia masuk ke kamar lagi untuk mengganti pakaiannya.

Setelah mengganti baju dengan yang lebih panjang dan sedikit longgar, Viona pun keluar lalu duduk di sebelah Gilang. Ia mulai membuka box makanannya, menyendok lalu menyuapkan ke mulut.

Gilang makan dengan sangat lahab, begitu juga dengan Viona. Setelah selesai, mereka pun menenggak air mineral hingga menyisakan setengahnya saja.

“Sekarang minum obatnya dulu, sholat, lalu tidur. Aku mau keluar sebentar.”

“Kemana?” tanya Viona pelan seraya mengelap mulutnya dengan tisu.

“Aku mau cari masjid di luar.”

Viona menoleh. “Kenapa tidak sholat di sini saja?” tanya Viona heran.

“Takut tidak bisa khuyuk, ada pertanyaan lagi?” ucap Gilang seraya menatap Viona tanpa berkedip seolah menantang.

Viona hanya mengulum senyum. Pipinya nampak bersemu merah. Setelah lelaki itu menghilang di balik pintu. Ia pun mulai meminum semua obat dari dokter. Setelah selesai, wanita itu berjalan ke arah kamar dengan tenaga yang sudah mulai pulih, mengambil wudhu untuk sholat terlebih dahulu sebelum beristirahat lagi.

Usai sholat, Gilang duduk di teras masjid, menundukkan kepala seraya meremas rambutnya kuat-kuat. Seolah sesuatu yang besar kini tengah menghantam dadanya, begitu menyakitkan hingga terasa sampai ke ulu hati, sakit, bahkan sangat sakit. Di saat ia mulai membuka hati, dan ingin serius mendekati wanita itu, tapi justru kenyataan pahit yang ia hadapi. Ia begitu kecewa, akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya merasa tidak rela meninggalkan wanita itu dalam kondisi rapuh seperti itu. Mungkinkah ini hanya rasa kasian saja atau … rasa sayang yang sudah mulai terpatri di hatinya? Entahlah.

Demi menenangkan pikiran dan hatinya, Gilang pun menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ia merogoh ponsel dan berniat untuk mencari hotel di dekat apartemen Viona. Ia putuskan untuk menginap dua hari sebelum kondisi wanita itu benar-benar pulih. Dan lagi, ia tidak ingin wanita itu syok jika sadar dirinya sedang hamil, tanpa ada seseorang di sisinya. Ia yakin wanita itu masih belum menyadari bahwa dirinya sedang hamil. Apalagi janin itu tumbuh dari hubungan di luar pernikahan.

Setelah membooking sebuah hotel di dekat apartemen Viona, Gilang pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju ke apartemen dimana wanita itu mungkin masih tertidur.

****

Pukul tiga sore, matahari terasa sudah tidak begitu panas meski masih menyisakan sumpek karena hampir sedari tadi ia hanya berkutat di apartemen saja.

Berbekal kode yang tadi sempat Viona tunjukkan padanya, Gilang pun dapat dengan mudah masuk ke apartemen itu.

Sepi.

Mungkin wanita itu masih tertidur. Gilang duduk di sofa dan meminum air mineral yang tadi masih sisa setengah hingga tandas tak tersisa.

“Kenapa lama?” Viona muncul di bibir pintu kamarnya.

Dalam diam Gilang melenguh. ‘Sejak kapan dia berubah manja seperti itu?’ batinnya. Ia merasa sudah seperti seorang suami yang sudah ditunggui pulang oleh istrinya.

“Barusan,” jawab Gilang setenang mungkin seraya mengatur detak jatungnya yang mulai berdegub tidak karuan. Ia melihat betapa seksi wanita itu dengan rambut yang acak-acakan. Seperti habis bangun tidur.

“Kenapa badanku terasa lemas?” keluh Viona seraya berjalan ke arah sofa.

“Duduklah, aku buatkan teh sebentar.”

Gilang berjalan ke arah dapur lalu sibuk membuatkan teh. Sedang Viona menonton TV.

Satu cangkir teh hangat dengan dua sendok madu siap dihidangkan.

“Coba diminum, siapa tahu lemasnya hilang.” Gilang menawarkan. Viona pun menerima secangkir teh itu lalu meminumnya.

“Oya aku ke toilet sebentar, ya,” pamit Gilang.

Viona mengangguk.

Setelah Gilang masuk ke toilet, Viona merasa ada seseorang yang sedang membuka pintu apartemennya.

Deg.

Jantung Viona tiba-tiba berdetak luar biasa kencang. “Siapa?” Yang ia tahu, kode masuk apartemennya hanya dirinya, Gilang dan ayahnya yang tahu.

“Ayo Pak. Kita masuk. Kita buat kejutan buat Viona setelah pulang kerja nanti.” Suara Mariana terdengar begitu nyaring dan antusias kala memasuki apartemennya milik anaknya.

Tangan Viona bergetar seiring suara cangkir yang juga ikut berdenting di tangannya.

“Ibu?” Viona terperangah. Ia benar-benar syok.

“Lhoh. Kamu di rumah? Kenapa tidak kerja?” pekik Mariana dari arah pintu.

Dari arah toilet yang tak jauh dari ruang TV, Gilang keluar dengan rambutnya yang basah.

“Lhoh, nak Gilang?”

Gilang pun tak kalah syoknya dengan Viona. Bahunya luruh seolah merasa malu sudah kepergok keberadaanya di apartemen Viona.

“Kalian sedang apa?” Kali ini Galuh yang bertanya dengan raut muka heran.

Viona hanya meringis menahan malu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here