Jodoh di Depan Rumah #10

0
358
views

Viona melenggang menuju mobil yang masih terparkir manis di kafe Ferdi. Dalam hati sebenarnya ia merasa tidak enak hati sudah meninggalkan Gilang tanpa menjawab pertanyaan yang ia sendiri bingung harus menjawab apa.

Tak dapat Viona pungkiri, ucapan lelaki itu sempat membuatnya gelimpungan. Pipinya pun merona, membuatnya buru-buru keluar dari mobil Gilang.

Sedangkan Gilang hanya menahan senyum melihat Viona yang buru-buru keluar dari mobil.

****

Usai berpisah dan berkendara dengan mobil masing-masing. Mereka pun kembali beraktivitas seperti biasa.

Hari ini, Gilang tiba di kampus lebih cepat dari biasanya. Meskipun jarak yang di tempuh menuju kampus cukup jauh yakni di kawasan Jakarta, ia seperti sudah biasa melakukan itu semua. Ia berjalan menuju ruang dosen. Di dalam ruangan, tampak dua rekan dosennya sudah duduk seraya menghadap ke laptop.

“Hai, Bro. Apa kabar …?” sapa Alvian, rekan dosen sekaligus sahabat kuliahnya dulu seraya meraih tangan Gilang.

“Alhamdulillah, baik ….” Gilang menyahut.

“Pagi, pak Gilang?” sapa Nesya lembut yang juga rekan dosennya. Wanita itu tersenyum dari tempat duduknya.

“Pagi, bu Nesya,” jawab Gilang sambil melirik wanita anggun itu seraya mengangguk. Sampai di meja kerja, ia pun menarik kursi lalu menyandarkan punggungnya di sana. Ia membuka laptop lalu mulai mengetik sesuatu.

“Pak Gilang, ini … ada oleh-oleh dari mamah. Katanya sih, buat Bapak.” Gilang mengernyit sedang Nesya memasang wajah penuh senyum.

“Ini, apa?” tanya Gilang.

“Bukan apa-apa, kok Mamah cuma nitip katanya suruh dikasihkan ke Bapak.”

“Oh … makasih, ya,” ucap Gilang. Nesya pun mengangguk.

“Lho, Bu Nesya, kenapa saya nggak? Wah … pelanggaran ini.” Alvian protes. “Apa karena aku sudah beristri, jadi bu Nesya pilih kasih?” lanjut Alvian semakin heran sedang keduanya hanya tergelak. Alvian mencebik. “Bener-bener gak fair, ini!” Nesya hanya tersenyum ke arah Alvian.

“Ya elah, Pak. Itu oleh-oleh dari mamah dan dia hanya nitipin buat pak Gilang saja. Aku janji lain kali, Shelomita nanti aku mintakan oleh-oleh juga.”

“Gitu dong, kayaknya … ada yang bakal jadi calon mantu, nih!” ledek Alvian pada keduanya.

“Bapak bisa aja! ucap Nesya malu-malu. “Udah, ah. Aku ngajar dulu, ya.” Ia pun keluar ruangan hendak mengajar di jam pertama.

Gilang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alvian. Akhirnya, satu kantung jajanan yang disodorkan Nesya tadi, ia berikan pada Alvian setelah Nesya keluar ruangan. “Nih, buat Shelomita. Aku yakin dia suka.” Shelomita merupakan putri Alvian yang kini genap berusia empat tahun.

“Bercanda kali, Lang. Udah … kamu bawa pulang saja,” tolak Alvian.

“Aku tahu ini isinya apa, pie susu dan beberapa coklat. Aku yakin Shelomita pasti suka. Udah sana bawa pulang kamu.” Gilang memaksa.

“Ck. Kamu, ini.” Alvian pun menerima kantung jajanan dari tangan Gilang. “Tapi … kalau aku liat-liat,sih, bu Nesya beneran suka sama kamu deh, Lang. Kamu nggak merasa?”

Gilang menghela napas. “Sudah lama, bahkan sejak pertama kali dia mengajar di kampus ini.”

“Oh, ya. Selama itu dan kamu menggantungnya? Dia baik … wajahnya juga cantik. Apa gak ada sedikit rasa yang nyantol gitu, Lang?”

Gilang menggeleng mantap. “Aku tidak pernah memberi dia peluang, aku juga tidak pernah merasakan sesuatu terhadapnya. Aku pun tidak pernah memberi harapan padanya. Jadi … aku pikir sih, Dia tahu hal ini.”

“Gue heran! Perasaan … kamu sudah putus dengan Rere bertahun-tahun silam, apa jangan-jangan kamu masih cinta sama dia?” selidik Alvian.

“Enggak juga!” jawab Gilang datar.

“Ah. Ngomong sama kamu, mah, capek. Cuma ya enggak ya enggak doang.”

Gilang hanya menyeringai seolah tak mau menggubris celotehan Alvian seraya pandangannya fokus pada layar laptop.

*****

Di kantor, Viona termenung. Ia tampak sedikit gelisah. Ia masih saja memikirkan apa yang Gilang ucapkan di mobil tadi. Hingga tanpa sadar, pimpinannya memanggil.

“Vi … tolong masuk ke ruangan saya sebentar!” pinta pak Hamdan.

Untuk sesaat Viona masih bergeming, pandangannya pun kosong. Lelaki paruh baya itu akhirnya memanggilnya untuk yang kedua kali seraya mengetuk meja.

“Viona Sesilia?” panggilnya tegas.

“Hah. Ya, Pak. Eh … maaf … tadi sa-saya …,” belum selesai mengucapkan kalimat, pak Hamdan lebih dulu menyela.

“Sekarang masuk ke ruangan saya.”

“Baik, Pak.”

Viona akhirnya menurut, ia berjalan mengikuti pimpinannya menuju ruangan.

“Duduk!” perintah sang atasan.

“Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari pak Mahardika? Apa dia mau melatih anak saya?”

‘Ya Tuhan … harusnya aku menghubungi beliau tadi malam. Kenapa bisa lupa begini?’ rutuk Viona dalam hati.

“Oh, iya Pak. Pak Mahardika setuju. Dia hanya punya waktu hari sabtu dan minggu. Ratu bisa memilih jadwal sendiri. Mungkin hari sabtu atau hari minggu saja, Pak.”

“Syukurlah, kalau begitu, segera kabari pak Mahardika untuk datang hari sabtu pukul sepuluh pagi. Saya minta kamu yang mengurus semuanya,”

“Oya, satu lagi. Saya minta tolong, kamu jemput Ratu jam satu nanti di kampusnya!”

Hati Viona mendadak berdesir mendengar kata kampus, Viona langsung mengirup napas dalam-dalam. Gugup. Tangan dan kakinya pun tiba-tiba terasa dingin. ‘Kampus? Itu artinya … aku akan bertemu dengan lelaki itu lagi?’ batin Viona.

“Kamu tau sendiri kan, supirnya sedang cuti satu minggu ini dan kebetulan supir saya juga tidak bisa menjemput karena saya sendiri juga sangat sibuk. Saya percayakan Ratu sama kamu. Jadi … tolong jaga fisik dan perasaannya karena melihat kondisinya yang cedera dan lumpuh saat ini, saya yakin secara psikis pasti ia sangat lemah bahkan mungkin lebih sensitif, apabila ada sesuatu yang tidak membuatnya nyaman. Kamu paham?”

“Baik, pak, akan saya kerjakan apa yang bapak minta.”

“Kalau begitu, silahkan kamu boleh keluar!” titah sang pimpinan. Viona pun berpamitan.

Setelah duduk di ruangannya, Viona mulai merasa gelisah. Ia bingung, haruskah ia menghubungi lelaki itu untuk memberitahu jadwal latihan bersama Ratu sekarang? Atau haruskah ia menemuinya saja?

‘Bertemu? Oh … big no …! Tadi saja aku menghindari pertanyaannya masa iya sekarang aku harus bertemu dengan dia lagi?’ batin Viona berontak. ‘Sepertinya akan lebih efektif jika aku hanya mengiriminya pesan saja. Jadi … aku tidak perlu bicara atau pun bertemu dengannya,” lagi Viona membatin.

Viona mengambil ponsel dari dalam tasnya. Setelah ponsel di tangannya, ia masuk ke aplikasi WA lalu mulai menulis pesan.

{Assalamuallikum. Maaf, ganggu. Aku hanya mau kasih tahu, Ratu memilih latihannya hari Sabtu pukul 10 pagi.}

Tanpa sadar, jantung Viona mulai berdebar-debar setelah pesan itu berhasil terkirim. Entah kenapa, perasaanya berubah jadi tidak karuan, setiap kali berhubungan dengan lelaki itu. Tak ingin menunggu balasan, akhirnya ponsel itu ia masukkan lagi ke dalam tasnya.

Namun, selang beberapa menit, Viona kembali mengambil ponselnya. Mengabaikan justru membuatnya semakin tidak tenang bahkan sesak napas. Ia penasaran, kira-kira apa balasan lelaki itu. Setelah membuka aplikasi WA, ia terlihat kecewa. Pesannya masih belum dibaca. Mungkikah lelaki itu masih mengajar? Ia hanya memandangi pesan itu, berharap dua centang abu-abu itu segera berubah menjadi biru.

********

Di tempat lain, Gilang yang tengah mengobrol dengan rekan dosennya di kantor merasa terusik dengan getaran ponsel di saku celananya. Di sela-sela obrolannya, ia membuka layar ponsel. Bibirnya mengukir senyum kala melihat pesan yang masuk dikirim oleh seseorang yang berinisial ‘calon istri’.

Gilang tahu sekilas isi pesan Viona dari layar depan. Namun, bukannya membuka dan membalas pesannya, Gilang justru mengabaikan pesan itu seraya menyeringai sekilas. Setelah itu ia melanjutkan obrolannya dengan rekan kantor yang tadi sempat terganggu.

*****

Viona mencebik, mendapati pesan yang ia kirim belum juga mendapat balasan. Jengkel sekaligus penasaran, ia pun kembali mengiriminya pesan.

{Kamu sibuk?}

Hingga empat jam berlalu lelaki itu tak juga membalas pesannya. Viona semakin geram. ‘Memangnya dia sesibuk apa? Sampai-sampai membalas pesan saja tidak bisa?’ gerutu Viona. Bibirnya melengkung seraya tangannya sibuk mengetik tugas-tugas kantor dengan perasaan jengkel.

Sesaat ia tersadar setelah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 12.30. Ternyata ia sudah melewatkan jam istirahat dan sholat dzuhurnya.

“Oh … sial!”

Viona bergegas mengambil mukena dari dalam laci mejanya lalu pergi ke mushola kantor. Setelah menunaikan sholat dzuhur, ia pun bergerak cepat menuju tempat parkir. Sampai di dalam mobil, ia lebih dulu memoles powder di wajah lalu merapikan riasan bibirnya agar tidak terlihat berantakan. Setelah merasa cantik, ia segera menstater mobilnya menuju kampus. Kali ini jarak yang ia tempuh tidaklah dekat. Bogor ke Jakarta paling tidak membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Dengan cepat Viona melajukan mobilnya karena ia takut akan terlambat sampai di sana.

Sampai di kawasan Jakarta, Viona kembali dipenuhi rasa cemas. Hampir satu jam lebih ia belum juga tiba di kampus, kemacetan seolah benar-benar membuatnya semakin terlambat.
Tanpa berpikir panjang, ia pun menepikan mobilnya di sebuah super market. Ia memarkirkan mobilnya di sana lalu keluar hendak memesan ojek online. Setelah beberapa menit, akhirnya ojek pesanannya pun tiba.

“Kampus IKJ ya, Pak!” pinta Viona tergesa-gesa.

“Baik, Mbak,” sahut lelaki paruh baya itu setelah menyodorkan Viona sebuah helm.

Selagi tangan lentik itu sibuk mengaitkan tali helm, matanya tiba-tiba melirik pakaian yang ia kenakan. Ia lupa, bawahan yang sedang ia pakai adalah rok span sebatas atas lutut dan itu akan sulit baginya memboceng motor. Tapi, beberapa detik kemudian, ia membulatkan tekad untuk tetap menaiki motor itu meski dengan duduk menyamping. Terlihat susah, namun apa boleh buat.

“Ayo, Pak, jalan!” perintah Viona.

Kendaraan roda dua itu pun melesat membelah kemacetan.

“Pak, lebih cepet lagi ya!” pinta Viona cemas.

“Baik, Mbak.”

Jakarta benar-benar panas saat ini, hingga tubuh Viona dibanjiri keringat yang mengucur deras di pipi, pelipis juga punggungnya. Sepanjang perjalanan ia terus mengusap wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Hingga ia tersadar, ketika ojek yang ia tumpangi tengah berhenti karena lampu merah menyala, beberapa pengendara lain terutama laki-laki tanpa risih terus memandanginya. Viona pun kikuk dibuatnya, bahkan ada beberapa yang terlihat menyeringai melihat caranya duduk, seolah memperlihat kemolekan pahanya.

Viona pun mengalihkan pandangan ke arah lain sambil sesekali membetulkan roknya yang terus bergerak naik memperlihatkan paha mulusnya lalu menutupi dengan tas. Sial. ‘Tuhan … cukup kali ini saja, aku dibuat malu. Demi apa pun aku nggak akan pernah melakukan ini lagi. Nggak!’ serunya dalam hati.

Usai lampu hijau menyala, Viona pun merasa lega. “Pak, lebih cepet, lagi ya!”

“Ini sudah paling cepet, Mbak. Saya takut kena tilang kalau nyetir terlalu cepat. Lagian sebentar lagi sampai, kok, Mbak. Tuh, kampusnya!” ucap tukang ojek itu seraya menunjuk kampus yang terlihat masih sangat ramai dari atas motor yang Viona tumpangi.

Sampai di depan kampus, Viona menyerahkan helm lalu memberi ongkos. “Makasih, Pak.”

“Sama-sama, Mbak.”

Saat ini, Viona tengah berdiri tepat di depan gedung kampus. Tanpa menunggu lama, ia pun segera menghubungi Ratu.

“Ratu, kakak sudah ada di depan kampus. Kamu dimana?” tanya Viona dengan nada cemas. Ratu memang selalu memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ dari sejak pertama kali Viona bekerja sebagai sekretaris papahnya. Saat itu usianya masih remaja, mungkin … sekitar 15 tahun.

Dengkusan kasar terdengar jelas dari nada suara Ratu. “Kakak, dari tadi aku sudah menunggu kenapa lama sekali. Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku diantar teman sekampusku, Carla. Maaf ya, Kak. Kalau sudah sampai nanti aku hubungi Kakak.”

Mata Viona tiba-tiba berkunang-kunang. Pandangannya seolah semakin gelap. Akhirnya, sebelum memutus sambungan telepon dengan Ratu, tubuh Viona sudah lebih dulu ambruk ke paving. Lelah, panas juga perutnya yang kosong membuatnya tak kuat menopang tubuh.

******

Usai mengajar enam jam full, Gilang bergegas pulang. Sesaat ia teringat pesan dari kontak yang bertuliskan ‘calon istri’ yang beberapa jam lalu ia abaikan. Ia berjalan keluar dengan langkah cepat. Sepanjang langkahnya menuju tempat parkir, tangannya sibuk membuka ponsel. Ia kembali membuka pesan Viona dan berniat membalasnya. Namun, sebelum kakinya berbelok arah menuju area parkir, matanya tiba-tiba melihat sekumpulan mahasiswa yang tengah berdiri seolah sedang mengerumuni sesuatu.

“Hey, ada apa?” teriak Gilang setengah berlari menuju tempat kejadian.

“Ini, Pak. Ada wanita tiba-tiba pingsan di depan kampus,” ucap salah seorang mahasiswa yang ikut berdesak-desakkan.

“Wanita ini kenapa? Kasian, ya.”

“Woy gimana ini? Kita bawa kemana?” Lagi Gilang mendengar salah seorang mahasiswa dari arah depan.

Penasaran, Gilang pun menerobos masuk ke dalam kerumunan itu. “Minggir-minggir.”

“Woy, ada pak Gilang, woy. Semua minggir,” pekik salah satj dari mereka. Mereka pun akhirnya bergerak mundur.

Beberapa detik kemudian, setelah Gilang berhasil masuk. Tiba-tibanya matanya membulat sempurna setelah melihat seorang wanita yang tergeletak lemah di paving.

“Viona?!” pekik Gilang panik. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera meraih tubuh yang sempat menjadi tontonan para mahasiswanya tadi. Ia menggendong tubuh Viona menuju mobilnya. Setelah menidurkannya di kursi penumpang, Gilang pun menyalakan mesin mobilnya dengan begitu panik.

Mobil pun melaju dengan sangat cepat. Hingga akhirnya, setelah lima menit, mereka sampai di depan sebuah klinik, Gilang kembali menggendong tubuh Viona yang masih pingsan dengan sedikit berlari. Wajahnya begitu panik. Namun, di sela-sela langkahnya menuju ruang IGD, sesaat ia menatap lekat wajah wanita itu seraya menyunggingkan senyum. Ia merasa sangat lega bisa bertemu dengannya lagi. Apakah rindu yang sedang ia rasakan saat ini? Lagi, ia menyeringai seolah telah menemukan kebahagiaan setelah melihat wajah cantik yang kini berada didekapnya.

Tiba di ruang IGD, seorang dokter jaga dengan cekatan memeriksa Viona setelah tubuhnya terbaring di ranjang pasien. Gilang menunggu di luar ruangan dengan hati yang teramat cemas. Ia berkali-kali berjalan maju mundur, bolak-balik bak seorang suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. Bukan hanya panik, namun perasaan bersalah pun kini juga menyergap hatinya. Ia merasa bersalah sudah mengabaikan pesan darinya.

“Semoga kamu, baik-baik saja, Vi.”

Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya dokter jaga pun keluar.

“Gimana, Dok? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Gilang panik.

“Dia baik-baik saja. Hanya saja ….”

“Hanya saja, apa Dok?” desak Gilang.

“Kandungannya saat ini sangat lemah. Istri Bapak harus istirahat total dan tidak boleh mengerjakan hal yang berat-berat dulu.”

“Apa?” reflek Gilang bergerak mundur.

Mendengar hal itu, mata Gilang membulat sempurna, tenggorokannya pun tercekat hingga menelan saliva saja begitu sulit. Untuk beberapa detik, ia menghirup napas dalam-dalam, demi memberi asupan pada jantungnya yang seolah hampir berhenti berdetak. Tubuhnya lemas, dengan terbata ia pun menjawab permintaan dokter tadi.

“Ba-baik, Dok! Saya akan menyuruh istri saya untuk istirahat total.”

“Silahkan, anda bisa menemui istri Bapak. Sepertinya dia sudah sadar.”

“Dok, tolong rahasiakan semua ini dari istri saya, saya mohon. Saya tidak maubkondisinya semakin memburuk.”

Dokter itu sesaat termenung, namun ia mengakhiri dengan menyetujui permintaan Gilang.

“Baiklah, akan saya rahasiakan.”

“Terima kasih, Dok!” Gilang pun memasuki ruangan dimana wajah Viona terlihat sangat pucat, tubuhnya pun tampak begitu lemah.

Kedua manik itu saling bertatapan, ada keterkejutan yang tampak dari wajah Viona. Ia mengernyitkan dahinya lalu mulai berbicara.

“Gil-Gilang …?” sapanya lemah bahkan sangat terbata.

Gilang hanya tersenyum. Ia menatap lekat wajah wanita itu dengan penuh kelembutan meski dalam hatinya begitu syok mendengar kabar kehamilannya.

“Istirahatlah, nanti aku antar kamu pulang,” Viona menyunggingkan senyum lega. Kedua mata itu pun akhirnya terpejam, mungkin karena lelah atau bawaan janin dalam kandungannya? Entah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here