Jodoh di Depan Rumah #09

0
327
views

Sampai di parkiran cafe, Viona melepas sabuk pengamannya.
“Makasih, sudah diantar sampai sini,” ucap Viona pelan seraya mata lentik itu menatap penuh binar.
Gilang pun menyambut tatapan manis itu, ia tersenyum kecil lalu mengangguk.
Viona membuka handel pintu berniat keluar, namun suara bariton Gilang membuatnya terdiam, tak bergerak sedikit pun.
“Kamu nggak laper? Aku punya warung makan langganan dekat sini.” tanya Gilang datar namun mampu membuat Viona tak bisa berkutik.
Mendengar ajakan itu, Viona hanya bisa menelan salivanya. Ia merasa Gilang sudah mulai membuka diri. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, sebab ia merasa kali ini jantungnya mulai bekerja tidak stabil.
“Kenapa diem? Kalau enggak mau, ya … nggak papa juga, sih. Aku bisa makan sendiri, kok,” ucap Gilang lagi seolah tak sabar menunggu jawaban Viona.
Tanpa babibu, Viona menoleh dengan sedikit panik. “Mau, aku mau, kok.” Ia segera menyetujui permintaan Gilang sebelum mood lelaki itu benar-benar berubah.
Gilang hanya menyeringai, lalu kembali melajukan mobilnya menuju warung makan langganannya.
Tiba di depan warung makan, Gilang disambut oleh sang pemilik warung.
“Wah, mas Gilang, lama tidak datang kesini, sekalinya kesini bawa wanita, cantik lagi. Ini istrinya, Mas?” Ucapan Sang pemilik warung yang bertubi-tubi itu membuat hati Viona sedikit bergetar.
Gilang menyeringai, “Temen, Pak. Kenalin, ini Pak Toha, pemilik warung soto ini,” ucap Gilang seraya memperkenalkan Viona pada Pemilik warung.
“Saya Viona, Pak.” Viona menyalami lelaki paruh baya itu dengan senyum ramah.
“Saya Pak Toha, yang punya warung soto ini. Mbak beruntung, lho!” ucap lelaki yang menyebut dirinya Pak Toha membuat Viona mengerutkan dahi.
“Maksud Bapak?” tanya Viona penasaran seraya pandangannya ia alihkan pada Gilang yang nyaris tanpa ekspresi, bahkan terlihat biasa saja.
“Beruntung, karena biasanya mas Gilang selalu kesini sendiri atau sama teman-teman laki-lakinya.”
Mendengar jawaban pak Toha, Viona sontak melirik Gilang. Namun, dengan cepat lelaki itu menyela.
“Cuma kebetulan, Pak. Oya, dari tadi, Ibu nggak kelihatan?” Gilang mengalihkan topik pembicaraan membuat Viona memicingkan mata ke arah Gilang. Sedangkan lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Ibu ada, lagi beberes di belakang. Silahkan duduk dulu, Mas. Ehm … mbak Viona mau pesan makanan apa? Kalau mas Gilang sih, soto ayam kampung, seperti biasa.” Pak Toha menawari.
“Saya samaan saja, Pak, sama mas Gilang,” jawab Viona.
“Baik, dua soto ayam kampung, ya, Mas. Terus minumnya, Mbak?”
“Ehm … Kamu nggak minum?” tanya Viona pada Gilang yang sedari tadi diam.
“Mas Gilang hanya mau minum lemon tea tawar, Mbak. Hanya itu minuman yang selalu ia minum di warung ini. Dia tidak pernah pesan minuman lain.” Jawaban Pak Toha membuat Viona lagi-lagi memandang Gilang dengan tatapan penuh tanya. Gilang hanya tersenyum kecil.
“Oh, saya juga lemon tea ya, Pak. Tapi … manis,” pinta Viona seraya tersenyum manis.
“Baik, Mbak. Mohon ditunggu sebentar ya?”
Pak Toha pun berlalu.
Udara masih terasa dingin saat ini, Viona pun mengambil sweater di tasnya demi mengurangi rasa dingin yang mulai mendera tubuh. Meskipun masih sangat pagi, warung sudah terlihat ramai oleh pengunjung. Tanpa menunggu lama, mereka pun akhirnya memilih tempat duduk di dekat jendela yang berhadapan langsung dengan jalan raya.
Usai duduk, Viona nampak sedikit gelisah. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia duduk berhadapan langsung dengan Gilang.
Sedangkan Gilang hanya cuek. Ia menyandarkan punggungnya di kursi seraya memindai suasana warung. Ia berusaha tetap bersikap santai, meskipun jantungnya juga mulai berdegup kencang. Tentu baru pertama kali bagi dirinya duduk berhadapan langsung dengan seorang wanita setelah dengan mantannya dulu.
Setelah lima menit menunggu, soto pesanan pun datang lengkap dengan dua lemon tea hangat.
Sebelum mulai memakan soto, Gilang lebih dulu menyodorkan sendok pada Viona yang sudah ia bersihkan dengan tisu. Viona pun menerimanya dengan bibir tersenyum serta tatapan aneh. Lalu disambut pula dengan tatapan aneh dari Gilang.
“Apa kamu selalu bersikap semanis ini pada wanita yang kamu ajak makan?” selidik Viona membuat Gilang memandang kedua mata indah wanita itu.
Gilang menghela napas.
“Apa ini kategori perbuatan manis?” Alih-Alih menjawab, Gilang justru balik bertanya. Matanya menatap kian heran.
“Memangnya selama ini, pacar kamu memperlakukanmu seperti apa?” lanjut Gilang membuat Viona menelan salivanya.
Viona tercenung, ia menatap nanar soto yang masih mengepulkan asap dihadapannya itu.
Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba ia teringat seseorang yang pernah ia jadikan kekasih, ia memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dari kata kekasih. Dimana seharusnya seorang kekasih itu, melindungi dan menyayangi tapi dia sebaliknya. Kekerasan, sifat posesif serta sebagai penyalur hasratlah yang dulu sering ia alami. Itulah alasan kenapa dirinya yang sampe saat ini masih sendiri. Ia ingin lebih selektif lagi dalam memilih teman lelaki, apalagi untuk dijadikan sebagai seorang suami. Hingga ia tersadar dari lamunannya dan hampir saja air mata itu jatuh ke pipinya. Segera ia mendongak lalu mengusap genangan di matanya itu demi tidak terlihat oleh Gilang.
Sesaat Viona menatap intens lelaki yang tengah menikmati soto di hadapannya itu lalu mengulum senyum.
“Kalau kamu ngliatin aku terus, kamu kapan makannya?” ucap Gilang membuat Viona tersadar lalu mengulum senyum lagi. Malu sudah kepergok sedang memperhatikannya.
Gilang pun turut tersenyum lalu melanjutkan makan.
Selesai makan dan membayar, keduanya pun pamit pada pak Toha.
“Makasih, Mas, sudah mampir kesini lagi. Jangan lupa …?” goda pak Toha setelah menerima uang dari Gilang.
“Jangan lupa apa, Pak?” dahi Gilang berkerut.
“Undangan nikah … sama mbak Viona,” jawab pak Toha jujur.
Mendengar hal itu, Gilang menyeringai. Sedang Viona menatap wajah Gilang dengan senyum kecil.
‘Aamiin, ya Allah,’ batin Viona.
“Bapak, bisa aja. Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Pak, dan … salam untuk bu Toha.” Gilang mengakhiri.
“Nanti saya sampaikan, Mas.”
Akhirnya mereka kembali ke mobil dan kendaraan itu pun melesat menuju cafe.
Seiring cahaya mentari yang mulai bersinar cerah, jalanan pun mulai terlihat ramai. Anak-anak berseregam serta orang-orang dengan pakaian kerjanya nampak mulai beraktivitas.
Sepanjang perjalanan menuju cafe, Viona terdiam. Entah apa yang membuat lelaki itu kini menjadi sedikit spesial di hatinya, sampai-sampai semua ucapan dan perilakunya membuat ia terus memikirkan meski semua itu hanya sesaat.
Seraya menatap jalanan yang mulai padat oleh pengemudi lainnya, Viona pun tanpa sadar mengulum senyum ketika mengingat obrolan Gilang dengan pemilik warung tadi. Di matanya, lelaki itu sangat sederhana namun, sangat disegani bahkan sepertinya ia pribadi yang tak banyak bicara tapi … banyak orang yang merindukan sosoknya.
Viona menatap Gilang intens, terlihat seperti … ada keteduhan hati yang dapat ia rasakan dari mata dan wajah itu. Sunggguh menenangkan.
‘Apa yang sedang kamu pikirkan, Viona? Apa kamu sudah …?’ batin Viona bermonolog seraya tatapannya tak mau beralih ke sisi lain. Ya … Viona tampak sangat menikmati pemandangan di sampingnya itu. Sangat.
Hingga ia terkaget dengan suara Gilang yang tiba-tiba menginterupsi ketermenungan wanita itu.
“Apa Kamu mengamini ucapan pak Toha tadi?” ucap Gilang sambil melirik dan sedikit memelankan laju kendaraannya.
Degg.
Viona tercenung. Ia menelan salivanya berat.
‘Kenapa tebakannya selalu benar, sih? Aneh!’ Viona membatin. Ia menghela napas seraya menyiapkan jawaban yang tepat untuk lelaki itu. Sementara tubuhnya masih tak mau bergerak, jantungnya pun makin berdetak tak karuan.
Hening. Viona pun bergeming. Ia bingung apa yang harus ia katakan.
“Kalau kamu meng’amini, maka … aku pun akan meng’amini itu.” ucap Gilang lirih namun penuh penekanan meski pandangannya tak lagi menatap Viona.
Deg.
Viona yang tadi bingung hingga mencari objek lain untuk ia pandang. Namun setelah mendengar kedua uucapn Gilang itu membuatnya menoleh seketika. Dadanya tiba-tiba naik turun seraya napas yang ia hirup begitu menderu. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Kali ini tubuhnya lemas, ia sadar namun, semua yang Gilang ucapkan layaknya sebuah mimpi di siang bolong.
Hingga mobil itu pun akhirnya sampai di depan cafe, Viona masih terdiam. Hanya ucapan terima kasih lah yang keluar dari mulut wanita itu lalu dibalas senyuman oleh Gilang.
“Hati-hati …,” pungkas Gilang disertai sedikit senyum.
Viona pun berlalu tanpa memberi jawaban ada Gilang.
‘Baiklah …. Kita lihat saja, aku tau … kamu mengamini itu, hanya saja kamu malu mengungkapkan itu.’ Gilang membatin seraya menatap punggung wanita itu dari dalam mobil.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here