Jenazah Dalam Rumah #01

0
189
views

Aku mengusap gundukan tanah yang masih penuh dengan taburan bunga berwarna-warni. Rasanya tidak ikhlas harus kehilangan Amira—anak semata wayangku. Kepergiannya seperti menjadi hantaman untuk kehidupanku saat ini.

“Sudah, Na. Kasian Amira,” ucap Ibu sembari mengusap bahuku dari belakang.

Aku menoleh ke samping dengan sangat lemas. “Ratna belum bisa ikhlas, Bu. Kepergian Amira terlalu mendadak,” jawabku seraya terisak.

Terdengar Ibu menghela napas. Raut wajahnya terlihat sedih, atau mungkin kecewa dengan sikapku. Entahlah ….

Sekarang giliran Mas Wisnu yang tiba-tiba sudah berjongkok di sisiku yang lain. Kedua tangan kekar itu menyentuh pipiku, lantas membuat pandangan kami saling bertemu. “Kalo kamu seperti ini terus, kasian Amira. Sekarang kita pulang dan biarkan gadis kecil ini tenang,” ujarnya meyakinkan.

Aku menatap sorot mata penuh kasih sayang dari suamiku itu. Raut wajah itu seolah memberi kekuatan untukku agar bisa melewati semua ini.

Refleks, aku melepas tangan Mas Wisnu, lantas kembali menoleh ke arah makam dan mengusap pusara untuk yang terakhir kalinya.

“Bu Ratna, yang kuat, ya. Saya pamit dulu.”

“Iya, Bu, yang tabah.”

“Saya juga pamit ya, Bu.”

Terdengar beberapa orang berpamitan dan mencoba menabahkanku. Aku hanya membalas dengan sebuah anggukan dan senyum yang terpaksa. Mungkin setelah ini, Mas Wisnu dan Ibu akan memaksa untuk ikut pulang juga bersama mereka.

“Sudah tidak ada orang, lebih baik kita pulang!” Benar saja, suamiku memintaku untuk pulang. Aku hanya mengangguk, lantas ikut berdiri dengan tubuh yang sangat lemas.

Amira … ibu janji akan selalu berkunjung ke sini.

****

Dua minggu telah berlalu, aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Amira. Seperti malam ini, hujan deras dan kilat yang saling bersahutan membuat kerinduanku semakin membuncah.

Bagaimana jika anakku itu ketakutan, kedinginan, atau dia kehujanan di sana? Agh, ini membuat perasaanku tidak tenang.

Mematung di depan jendela, dengan air mata yang belum berhenti berderai. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Memikirkan hal yang mungkin tidak masuk akal.

Namun, aku terperanjat seketika, saat sebuah pelukan mendarat dari belakang. “Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang,” ucap Mas Wisnu dengan posisi dagu yang disimpan di pundakku.

Aku hanya membalas dengan senyuman, itu pun mungkin dia tidak bisa melihatnya. Pria bermata dan berbibir kecil itu melepaskan pelukannya, lantas memegangi pundakku untuk bisa berputar dan berhadapa dengannya.

Kini kami sudah saling berhadapan, melemparkan pandangan satu sama lain. Aku berusaha bersikap biasa, meski itu sulit rasanya.

“Terima kasih, Ratna. Kamu sudah jadi istri yang baik dan sempurna untukku!” Senyum mengembang dari bibirnya, membuatku tertunduk seketika.

“Aku punya kejutan untuk kamu.”

Entah mengapa mendengar kata kejutan, membuat bibirku tersenyum seketika. Mungkinkah?

Mas Wisnu tersenyum, ia mengangguk pelan dan melepaskan tangannya dari pundakku dan beralih menyematkan jemarinya ke dalam jari lentikku. “Ikut aku!”

Pria berumur 30 tahun itu menuntunku ke arah ruangan makan, lalu … “Kejutan!”

Bibirku kembali ditekuk, saat melihat sebuah ruangan gelap yang hanya dapat penerangan dari lilin di atas meja makan. Terlihat beberapa hidangan di sana tersusun dengan rapi.

“Kita makan malam romantis. Sudah lama, bukan?” ucapnya lagi dengan nada yang bahagia.

Tangan kekar itu kembali menarikku untuk mengikutinya. Lantas ia menarikan sebuah bangku dan meminta untuk duduk. Sementara aku, layaknya orang bisu yang hanya bisa pasrah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Raut wajah bahagia itu kembali terpancar saat kami duduk saling berhadapan, ditemani bias cahaya lilin yanh hanya memberi sedikit penerangan.

“Aku menyiapkan ini semua untuk kita. Sekarang kamu makan yang banyak, karena sudah lama aku tidak melihatmu makan dengan lahap,” jelasnya seraya mengambilkan nasi ke dalam piring dan menyodorkannya padaku.

“Seharusnya kamu tidak usah melakukan ini Mas!”

Refleks, tangan yang sedari tadi sibuk mengambil makanan, kini kembali terdiam. Sorot mata penuh tanya, bercampur dengan raut kekecewaan.

“Apa aku salah ingin membuat kamu bahagia, Ratna?”

Aku tertunduk mendengar pertanyaan Mas Wisnu. Seandainya dia bisa meraba perasaanku sekarang, bukan kebahagiaan seperti ini yang aku inginkan.

“Ma-maksudku ….”

“Katakan apa yang kamu mau. Agar kehidupan kita kembali normal.”

Tenggorokanku seperti terganjal, saat pertanyaan itu akhirnya terlontar dari Mas Wisnu. Jari mulai saling beradu, menandakan kondisi yang saat ini terasa gamang. Mungkin permintaanku ini akan dianggap bodoh, tapi sebagai seorang ibu, rasa rindu ini sulit diungkapkan.

“A-aku, aku ingin memeluk Amira Mas ….” Air mata pun luruh seketika. Namun, pandangan Mas Wisnu masih terlihat lurus dan dingin.

“Memeluknya, menciumnya, bahkan aku ingin tidur dengannya. Aku rindu anak kita.” Suaraku bergetar hebat, pipi pun rasanya sudah basah oleh linangan kerinduan yang sulit ditahan.

Keinginan ini memang sangat konyol, tapi setidaknya Mas Wisnu sudah tahu isi hatiku selama ini. Pria itu berdiri dan menghampiriku, ia meraih kepalaku dan menyandarkannya tepat di bagian perutnya. Diusap dengan lembut rambut panjangku dengan penuh kasih sayang.

Sementara itu, tangisku semakin larut dan pecah dibuatnya. Aku merasa sudah gila, menginginkan hal yang terlalu mustahil untuk bisa dibayangkan.

“Tunggu di sini sebentar, aku mau pergi dan membawakanmu sesuatu!”

Aku melepaskan pelukannya, lalu menengadah—menatah pipi Mas Wisnu yang ternyata sudah basah. Dia menangis?

“Ma-mau ke mana, Mas?” tanyaku sedikit heran.

Ia menunduk, memberi seulas senyum. “Aku ingin mengembalikan senyummu lagi, Ratna!”

Terdengar helaan napas darinya. Ia bergegas mengambil kunci mobil yang tersimpan di atas kulkas. Aku masih memperhatikan gerak-geriknya. Sampai ia pergi meninggalkan ruangan makan.

“Mas, mau ke mana? Di luar hujan ….” Panggilanku tak digubris sama sekali, sampai akhirnya terdengar suara kemudi mobil yang melaju.

Mau pergi ke mana dia?

***

Tiga jam sudah Mas Wisnu pergi, bahkan jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Rasa khawatir kian mengusik hati. Apa yang sebenarnya Mas Wisnu cari saat ini?

Sampai akhirnya terdengar suara klakson mobil. Aku yang berada di kamar, merasa lega dengan kedatangan Mas Wisnu. Itu terlihat saat aku mengintip dari balik tirai.

Sampai tak lama, sebuah ketukan pintu kamar membuatku refleks berjalan dan membukanya. Aku mematung, menatap tubuh yang sudah sangat kotor dan basah itu.

Namun, bukan itu yang membuatku jantungku berdetak kencang saat ini, tapi … Mas Wisnu yang membawa sesuatu yang terbalut kain berwarna putih—lusuh—kusam.

“Ma-Mas. I-itu ….”

“Kamu ingin Amira ada di sini, bukan?”

Belum sempat aku menjawab, ia bergegas masuk dan meletakan jasad itu di atas kasur. Dengan perlahan aku berjalan menghampiri, lantas menutup mulut dan memandang wajah di balik kain putih itu. Seketika mataku terpejam.

“Peluk dia, bukan kah kamu rindu dengan anak kita?” Aku menoleh ke arah suara itu, menatap mata yang sudah sangat merah.

Tanpa basa-basi, aku memeluk jasad mengerikan itu, meski aku tahu tubuhnya sudah mengalami pembusukan. Aku menumpahkan air mata kerinduan yang sudah menguap lama.

“Jangan lama-lama Ratna. Aku akan mengenguburkan Amira di belakang rumah kita!” tutur Mas Wisnu, membuat tangisku terhenti.

“Tidak usah Mas. Aku yang akan merawatnya. Biarkan dia tetap ada di dalam rumah ini ….”

Entah bagaimana reaksi Mas Wisnu di belakang sana.

Bersambung

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here