Istriku Membuka Aib Suaminya

0
303
views

Sepulang dari toko, aku akan mengatakan hal ini kepada istriku. Bisa-bisanya dia membuka aib suaminya sendiri, apakah dia tidak malu, atau tidak tahu malu? Sungguh siapa yang tidak sedih, Istri tercinta tega melakukan hal itu.

Padahal aku dan istriku sudah sepakat tidak mengatakan aib kami masing-masing dari siapa pun, jangankan tetangga, anak sendiri saja harus dirahasiakan. Demi ghibah-an, dia tega membongkar.

***

Sesampainya di rumah, aku segera memanggil Lastri, istriku. Marah dan kesal rasanya. Dari pagi sampai sore, di saat tengah menjaga toko, selalu saja orang-orang menertawaiku.

“Ada apa, Pa?” tanya istriku, dia terlihat baik-baik saja dan seperti tidak punya salah.

“Mama lupa dengan janji kita?” Kupertanyakan hal itu kepada istriku, dia seolah-olah bingung dengan apa yang kukatakan, padahal dia tahu.

Aku menyuruhnya duduk, lalu meletakkan sapu yang tengah dipegang. Kami duduk di sofa depan TV, aku pun menanyakan pertanyaan itu kembali.

“Apa, sih, Pa? Kalau bicara yang jelas?” Istriku berlagak sok marah.

Di saat tengah serius, anak kami, Adam dan Anggun datang. Mungkin mereka mendengar percakapan aku dan istriku yang mungkin terlihat ada pertengkaran. Aku berdiri, lalu menyuruh mereka pergi menuju kamar. Mereka tidak boleh tahu akan hal ini.

“Ayah jangan kaya gitu, dong. Kasihan Ibu,” ucap Anggun. Dia anak pertamaku, jadi hanya dia yang berani berkata seperti itu. Adiknya tidak berani.

“Kalian kembali ke kamar,” suruhku kepada mereka yang masih berdiri dekat tangga.

Istriku pun berdiri dan menghampiri anak-anaknya untuk mengajak ke kamar. Anggun dan Adam menurut, akhirnya mereka mau ke kamar. Aku tidak ingin hal ini sampai terdengar ke anak-anak. Aib yang berusaha ditutupi tidak boleh sampai bocor ke anak-anakku.

***

Istriku pun datang, dengan segera kusuruh dia duduk kembali. Amarahku sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya berkata kasar, tetapi aku coba untuk bersabar.

“Mama kan berjanji tidak bilang ke siapa-siapa tentang aib papa. Papa juga sampai sekarang tidak membuka aib Mama,” ungkapku. Istriku hanya diam membisu.

“Di toko, Papa sering diledek sama warga desa yang membeli di sana. Malu, Mah. Mama, kok bisa membocorkan rahasia ini. Apakah tidak ada bahan pembicaraan lain, selain ini, Mah?” tanyaku. Lastri masih diam, sepertinya dia merasa bersalah akan hal ini.

Aku menunggu dia membuka mulut, kuangkat dagunya yang lancip, lalu menatapnya. Dapat terlihat, butiran bening berusaha keluar lewat sudut matanya. Aku sama sekali tidak peduli, ini masalah kepercayaan. Aku ingin dia bertanggungjawab.

“Iya, Mama mengaku salah. Mama keceplosan tadi di saat beli sayur. Habisnya pembicaraan Bu Warno, Bu Ijah, sama Bu Titin seru. Mama kan jadi bilang,” ungkap istriku.

Perihal buruk wanita ibu-ibu jika sedang berbelanja, pasti ini. Kumpul bareng, menggunjing orang. Tidak sadar, aib suami sendiri pun terbongkar. Miris memang, pada akhirnya orang-orang pun mengetahui.

“Papa malu, Mah. Masa tidak berpikir dulu kalau mau cerita. Apa tidak ada bahan cerita lain, Mah?” Aku berusaha menasihati istriku. Lagi-lagi dia hanya diam dan mendengarkan setiap kalimat yang kukeluarkan.

“Apa yang Mama mau? Cerai!” seruku, lalu istriku bangkit dari tempat duduknya dan memandangku dengan air mata yang mengalir.

“Apa! Kenapa Papa segitu mudahnya bilang kaya gitu. Aku nggak mau pisah, Pah. Mamah minta maaf kalau salah,” Istriku memohon sambil memelukku.

Jujur, aku juga tidak sadar telah mengatakan hal keramat itu. Mulut ini seakan berbicara sendiri tanpa kusuruh. Istriku juga mendekap sambil terisak. Tidak tega rasanya, jika melihat dia menangis seperti itu.

“Mama nggak mau pisah. Mama cinta sama Papa dan anak-anak. Please, Pah, maafkan Mama.” Istriku memohon agar aku memaafkan. Kulihat dia masih terisak dan masih mendekap dadaku erat.

Emosiku sudah menurun. Perlahan, aku mengelus-elus rambut istriku yang sudah mulai tumbuh uban. Kupanggil dia agar mau menatapku. Aku tersenyum seraya menyeka air matanya.

“Kalau Mama tidak mau pisah. Tolong, mulai saat ini jaga mulut Mama dari godaan meng-ghibah. Biarkan tetangga melakukan itu, Mama jangan sekali-kali terpancing.” Kembali aku menasihati istriku. Dia mengangguk, lalu kembali memelukku.

Aku sudah memaafkan istriku. Aku juga tidak siap jika hidup tanpanya. Cinta ini masih melekat kuat dan susah dilepaskan. Anak-anakku juga masih butuh seorang ibu. Apa jadinya jika kami berpisah, mungkin aku akan sibuk mengurus mereka dan pekerjaan.

Meskipun, sekarang para warga sudah banyak yang tahu aibku. Aku berusaha menerimanya. Sudah terlanjur, pula. Nanti juga lama-kelamaan hilang sendiri termakan waktu.

Kami kembali duduk dan kutanyakan alasan Istriku sampai buka mulut.

“Tadi itu seru banget di saat tengah berbincang-bincang dengan tetangga. Mereka tengah membicarakan tentang acara tv yang disuka. Ada yang suka berita, sinetron, sampai ada yang suka film horor, loh, Pah,” ungkap istriku.

“Terus, Mah.” Aku dibuat penasaran akan cerita istriku.

“Mama keceplosan bilang kalau acara tv favorit, Papa itu Doraemon. Mama lupa, kalau Papa menyuruh untuk merahasiakannya dari siapa pun. Mereka juga semakin asyik ngobrol. Jadi, tanpa sadar, mama terbawa suasana,” urai istriku.

Akhirnya aibku terbongkar. Rahasia yang sangat ditutup-tutupi harus terbongkar. Aku seorang ayah berumur empat puluh sembilan tahun yang suka dengan Doraemon. Usia yang tua untuk menonton kartun. Entah kenapa, aku suka sekali setiap episode yang ditonton, dan selalu ingin mempunyai boneka Doraemon.

Sampai sekarang belum terlaksana, dan masih sebatas khayalan. Malu, dong jika mempunyai boneka seperti itu. Anak-anakku pasti tertawa ketika ayahnya suka acara tv anak-anak. Maka dari itu, aku merahasiakan hal ini dari siapa pun.

Hanya aku dan istriku yang tahu. Di kamar, aku selalu menonton Doraemon setiap malam di HP. Istriku pun terkadang menonton bersama sampai tengah malam. Meskipun terkadang, jarang ada episode baru. Tidak masalah, aku masih suka.

by: Siggit Nur

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here