Istri Nyebelin #33

0
82
views

Mengganti Popok


Setiap detik, jam, hari, minggu, bahkan berbulan-bulan sudah dilalui Azka dan Sakira dengan kehadiran Aresha Sabiya. Malaikat kecil yang kini terlahir ke dunia ini, untuk menjadi pelengkap keluarga kecil mereka.
Sakira begitu telaten dalam mengurus putri sulungnya itu, dan kini Azka sudah mulai memikirkan kapan akan kembali bekerja.
Aresha sekarang yang mulai tumbuh menjadi gadis mungil, bahkan sekarang ia sudah mulai faham apa yang dikatakan ibunya, ia sering tersenyum kala ada orang yang mengajaknya berbicara.
“Aresha, ciluk … baaa ….”
Ujar Sakira seraya menutup wajahnya kemudian membukanya lagi. Spontan putri kecilnya itu langsung tertawa, sebagaimana anak kecil pada umumnya.
“Haduh … aku kebelet lagi,” ujar Sakira. Untung Saja Azka datang kala itu menemui mereka.
“Kebetulan nih.”
“Kenapa?” tanya Azka seraya mengangkat sebelah alisnya.
“Tolong jagain Aresha dulu, aku kebelet nih.”
“Oke siap,” jawab Azka bersemangat.
“Awas! Jangan bikin dia nangis. Nanti akan aku kasih hukuman,” ujar Sakira yang di anggukan oleh Azka.
Azka pun langsung menemui putri kecilnya yang sudah berumur lima bulan. Ia mengajak putrinya itu berbicara, Aresha seakan tau apa yang dikatakan Azka, karena ia seperti menjawabnya dengan bahasa bayi.
“Aresha jadi anak yang pintar yah, nurut sama orang tua, jangan kayak Ibu kamu sukanya marah-marah,” ujarnya kepada putri kecilnya itu.
“Mamamamaa … babaababa ….”
Yah begitulah, kata yang keluar dari mulut bayi mungil itu.
“Wihh, udah ngelti yah cayang ku ini,” Azka mengucapkan kata-katanya bak anak kecil yang belum fasih berbicara.
Tiba-tiba saat Azka hendak menggendong putri kecilnya itu, ia menangis entah apa penyebabnya. Azka pun berteriak memanggil Sakira agar segera kembali. Lalu Azka mencium aroma-aroma yang bau, dan juga tiba-tiba baju Azka basah.
“Hadeh … pantesan kayak basah, kamu pipisin Ayah ternyata.”
Tiba-tiba Sakira pun muncul membawa beribu pertanyaan.
“Kenapa sih tadi manggil aku?”
“Kan kamu tahu aku ada di kamar mandi,”
“Jadi, kalau aku udah beres baru balik lagi,”
“Gak perlu di panggil-panggil!”
Pertanyaan yang dilontarkan Sakira, membuat Azka tak sempat menjawabnya. Karena saat Azka ingin menjawab, Sakira mengajukan pertanyaan dan pernyataan lagi.
“Bisa satu-satu gak? Kalau nyerocos terus gimana aku bisa jawab,” ujar Azka.
“Iya iya.”
“Kenapa?” tanya Sakira.
“Nih, anak kamu ngompol, mana baju aku juga ikutan basah,” Sakira yang mendengarnya langsung cengengesan.
“Dih, bukannya bersihin malah cengengesan!”
“Yaudah. Eh aku mau nanya lagi nih,” ujar Sakira.
“Nannya apaan lagi?”
“Tadi pas aku ke kamar mandi, Aresha nangis gak?”
“Hmm … nangis sih,” jawab Azka.
“Oke, berarti kamu yang gantiin popoknya. Kan aku udah bilang, kalau Aresha nangis aku kasih hukuman.”
“Serius?” mata Azka langsung membulat sempurna.
“Duarius,” jawab Sakira.
“Cepetan! Sekalian agar kamu ngerasain gimana sulitnya menjadi perempuan,” sambung Sakira.
Azka pun melakukan apa yang diperintahkan Sakira, memang ia tak nyaman dengan aromanya. Namun, Azka memaksakan untuk mengganti popok sang putri.
“Bisa gak sih,” tanya Sakira seraya memperhatikan Azka.
“Gak tau,” jawab Azka.
“Idih kok gitu. Yaudah sini biar aku aja yang gantiin popoknya.”
“Perhatiin yah,” pinta Sakira, dan Azka pun menurutinya.
Namun, bukannya memperhatikan bagaimana caranya memakaikan popok yang benar, Azka malah memperhatikan wajah Sakira yang nampak serius mengajarinya.
“Nah, udah deh,” ujar Sakira, namun pandangan Azka masih tertuju pada Sakira.
“Hmmm … kamu dari tadi liatin aku apa caranya pakaikan popok yang benar sih?”
“Kamu,” ujar Azka keceplosan.
“Berarti aku percuma bicara panjang lebar.”
“Iya maaf,” ujar Azka menggaruk kepalanya walau tak gatal.
“Yaudah, daripada kamu liatin aku terus, mending kamu ganti baju. Sekalian mandi juga,” titah Sakira.
“Eh iya,” jawab Azka.

Kemudian Azka pun mengambil handuk, dan segera membersihkan badannya yang terkena air pipis sang putriSetiap detik, jam, hari, minggu, bahkan berbulan-bulan sudah dilalui Azka dan Sakira dengan kehadiran Aresha Sabiya. Malaikat kecil yang kini terlahir ke dunia ini, untuk menjadi pelengkap keluarga kecil mereka.

Sakira begitu telaten dalam mengurus putri sulungnya itu, dan kini Azka sudah mulai memikirkan kapan akan kembali bekerja.

Aresha sekarang yang mulai tumbuh menjadi gadis mungil, bahkan sekarang ia sudah mulai faham apa yang dikatakan ibunya, ia sering tersenyum kala ada orang yang mengajaknya berbicara.

“Aresha, ciluk … baaa ….”

Ujar Sakira seraya menutup wajahnya kemudian membukanya lagi. Spontan putri kecilnya itu langsung tertawa, sebagaimana anak kecil pada umumnya.

“Haduh … aku kebelet lagi,” ujar Sakira. Untung Saja Azka datang kala itu menemui mereka.

“Kebetulan nih.”

“Kenapa?” tanya Azka seraya mengangkat sebelah alisnya.

“Tolong jagain Aresha dulu, aku kebelet nih.”

“Oke siap,” jawab Azka bersemangat.

“Awas! Jangan bikin dia nangis. Nanti akan aku kasih hukuman,” ujar Sakira yang di anggukan oleh Azka.

Azka pun langsung menemui putri kecilnya yang sudah berumur lima bulan. Ia mengajak putrinya itu berbicara, Aresha seakan tau apa yang dikatakan Azka, karena ia seperti menjawabnya dengan bahasa bayi.

“Aresha jadi anak yang pintar yah, nurut sama orang tua, jangan kayak Ibu kamu sukanya marah-marah,” ujarnya kepada putri kecilnya itu.

“Mamamamaa … babaababa ….”

Yah begitulah, kata yang keluar dari mulut bayi mungil itu.

“Wihh, udah ngelti yah cayang ku ini,” Azka mengucapkan kata-katanya bak anak kecil yang belum fasih berbicara.

Tiba-tiba saat Azka hendak menggendong putri kecilnya itu, ia menangis entah apa penyebabnya. Azka pun berteriak memanggil Sakira agar segera kembali. Lalu Azka mencium aroma-aroma yang bau, dan juga tiba-tiba baju Azka basah.

“Hadeh … pantesan kayak basah, kamu pipisin Ayah ternyata.”

Tiba-tiba Sakira pun muncul membawa beribu pertanyaan.

“Kenapa sih tadi manggil aku?”

“Kan kamu tahu aku ada di kamar mandi,”

“Jadi, kalau aku udah beres baru balik lagi,”

“Gak perlu di panggil-panggil!”

Pertanyaan yang dilontarkan Sakira, membuat Azka tak sempat menjawabnya. Karena saat Azka ingin menjawab, Sakira mengajukan pertanyaan dan pernyataan lagi.

“Bisa satu-satu gak? Kalau nyerocos terus gimana aku bisa jawab,” ujar Azka.

“Iya iya.”

“Kenapa?” tanya Sakira.

“Nih, anak kamu ngompol, mana baju aku juga ikutan basah,” Sakira yang mendengarnya langsung cengengesan.

“Dih, bukannya bersihin malah cengengesan!”

“Yaudah. Eh aku mau nanya lagi nih,” ujar Sakira.

“Nannya apaan lagi?”

“Tadi pas aku ke kamar mandi, Aresha nangis gak?”

“Hmm … nangis sih,” jawab Azka.

“Oke, berarti kamu yang gantiin popoknya. Kan aku udah bilang, kalau Aresha nangis aku kasih hukuman.”

“Serius?” mata Azka langsung membulat sempurna.

“Duarius,” jawab Sakira.

“Cepetan! Sekalian agar kamu ngerasain gimana sulitnya menjadi perempuan,” sambung Sakira.

Azka pun melakukan apa yang diperintahkan Sakira, memang ia tak nyaman dengan aromanya. Namun, Azka memaksakan untuk mengganti popok sang putri.

“Bisa gak sih,” tanya Sakira seraya memperhatikan Azka.

“Gak tau,” jawab Azka.

“Idih kok gitu. Yaudah sini biar aku aja yang gantiin popoknya.”

“Perhatiin yah,” pinta Sakira, dan Azka pun menurutinya.

Namun, bukannya memperhatikan bagaimana caranya memakaikan popok yang benar, Azka malah memperhatikan wajah Sakira yang nampak serius mengajarinya.

“Nah, udah deh,” ujar Sakira, namun pandangan Azka masih tertuju pada Sakira.

“Hmmm … kamu dari tadi liatin aku apa caranya pakaikan popok yang benar sih?”

“Kamu,” ujar Azka keceplosan.

“Berarti aku percuma bicara panjang lebar.”

“Iya maaf,” ujar Azka menggaruk kepalanya walau tak gatal.

“Yaudah, daripada kamu liatin aku terus, mending kamu ganti baju. Sekalian mandi juga,” titah Sakira.

“Eh iya,” jawab Azka.

Kemudian Azka pun mengambil handuk, dan segera membersihkan badannya yang terkena air pipis sang putri.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here