Istri Nyebelin #28

0
83
views

Penantian


“Iya aku benar, aku gak bohong!” ujar Sakira seraya memegangi perutnya.

“Tapi … kok aku gak yakin yah?” ujar Azka seraya berpikir sejenak.

“Aww … aku udah gak tahan lagi,” rintih Sakira.

“Yaudah ayo! Kita ke rumah Sakit sekarang,” ajak Azka.

Dengan sigap, Azka pun menggendong Sakira. Kini detak jantungnya kembali berdebar-debar ‘tak karuan.

“Ta … ta … tapi ….”

“Aduh apa lagi sih,” ujar Azka panik.

“Tapi … tapi bohong,” celetuk Sakira.

Azka pun kembali menahan emosinya, dan menurunkan lagi Sakira dari gendongannya.

“Ya ampun, untung masih ada rasa sabar, kalau enggak udah aku robek-robek kau!” ujar Azka seraya mengelus dadanya.

“Cie cie … kena prank lagi yang ke dua kalinya,” jawab Sakira yang diikuti tawa.

“Gak tau apa, kalau gendong kamu itu berat!” ketus Azka.

“Kamu mau ngatain aku gendut?”

“Yah bukannya gitu, kan kamu sekarang udah berbadan dua. Ngerti gak sihhh,” jelas Azka.
“Eh, iya juga yah.”

***

Menjelang persalinan yang sudah dekat, Azka dan Sakira pun berkemas barang-barang yang ingin dibawa saat persalinan tiba. Dan sudah dari jauh-jauh hari mereka mempersiapkan baju untuk calon buah hati mereka.

Beberapa minggu yang lalu, mereka memeriksa kembali kehamilan Sakira karena sudah menjelang persalinan. Yang kala itu dokter mengatakan, bahwa anak mereka berjenis kelamin perempuan.

***

Satu minggu sudah berlalu, kini penantian besar pun tinggal menghitung hari. Sudah tak sabar Azka dan Sakira menanti buah hati mereka terlahir ke dunia. Dan akhir-akhir ini Azka tak sering marah-marah walaupun sering dikerjai oleh Sakira.

Kali ini Azka tak mempedulikan itu, sekarang yang ia pikirkan adalah kelancaan saat persalinan.
“Tujuh hari lagi, kita resmi menjadi seorang Ayah dan Ibu,” ujar Azka.

“Iya, hmmm … berati Ibu dan ayah aku sama kamu, semuanya bakal kumpul yah.”

“Termasuk masuk Maura sama si Jumi juga,” timbal Sakira yang membuat Azka menaikan sebelah alisnya saat mendengar nama Jumi ikut diucapkan.

“What? Jumi ke sini lagi?” ujar Azka kaget.

“Iyalah, kan aku yang suruh.”

“Hadeh … kalau aja nih dia di sini sampai anak kita nanti udah agak dewasa, pasti takut tuh gara-gara ngelihat si Jumi. Soalnya anak kita kira itu boneka mampang, hahaha ….”

“Ihh gak boleh gitu, malah pasti anak kita senang nanti soalnya ada boneka yang ngehibur dia,” ujar Sakira sedikit terkekeh.

“Eh pasti nanti Jumi nyanyi kayak gini …”

“Aku bukan bonekamu, bisa kau suruh-suruh,” timbal Azka seraya memperagakan gerakannya.

“Nah … pasti tuh, secarakan katanya dia seorang biduan.” ujar Sakira yang ditertawai Azka dan Sakira.

“Eh astghfirullah … kok jadi ngomongin dia,” ujar Sakira memukul bibirnya.

“Hayoh … dosa! Ngomongin orang,” jawab Azka menakut-nakuti.

“Makanya aku istighfar,” timbal Sakira.

“Iya deh Ustadzah Lampir,” celetuk Azka.

“Oke juragan kebo. Eh kok juragan kebo yah?” tanya Sakira.

“Idih, kamu yang ngomong, kamu yang bingung sendiri,” jawab Azka.

“Hmm … yaudahlah biarin, yang penting ada kata kebonya, hahaha ….”

Mendengar ucapan Sakira Azka hanya menggelengkan kepalanya dan memghela napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya pelan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here