Istri Nyebelin #12

0
80
views

Antara Senang dan Sedih


“Tapi aku juga pengen ketemu sama Ibu,” ujar Sakira.
 
“Yaudah, kalau itu mau kamu,” ujarnya seraya mengambil ponsel milik Sakira yang berada di atas meja rias.
 
“Nih, kamu telepon ibu,” ujar Azka seraya menyodorkan benda pipih tersebut.
Lalu, Sakira segera menghubungi Ibunya lewat telepon.
 
Tut .. tut ..
“Kok gak nyambung-nyambung yah?” tanya Sakira.
 
“Coba sekali lagi,” pinta Azka.
Akhirnya, Sakira pun mencoba menghubungi Ibunya untuk ke dua kalinya. Namun, masih saja tidak tersambung.
 
“Kok masih gak bisa?”
“Gak ada sinyal kali,” ujar Azka.
“Ada kok,” jawab Sakira.
“Coba sini gue lihat,” ujar Azka mengambil ponsel Sakira untuk mengecek nya.
 
“Yaelah, gimana mau nyambung pulasanya juga gak ada,” ujar Azka.
“Eh iya, aku lupa buat ngisi pulsa,” ujar Sakira sedikit terkekeh.
 
“Hmmm … pinjam handphone kamu dong,” rayu Sakira.
 
“Et dah, tadi nya mau untung malah buntung.”
 
“Hehe … boleh yah?” tanya Sakira.
“Iya,” jawab Azka. Ia pun mengambil ponsel di saku celananya, dan menyodorkanya kepada Sakira.
 
“Makasihh,” ujar Sakira tersenyum, dan dianggukan oleh Azka.
 
***
 
“Halo, assalamualaikum Bu,” ujar Sakira memulai percakapan.
 
“Waalaikumsalam nak, ada apa? tumben nelepon Ibu,”
“Ibu, bisa ke sini gak?”
 
“Insyaallah bisa, emangnya kenapa sayang?”
 
“Bu, Sakira lagi kurang enak badan. Jadi yang selama ini urusin semua pekerjaan rumah Azka, aku kasihan Bu. Kalau dia terus-terusan ngerjain pekerjaan rumah sendirian.
 
“Ya Allah, kamu sakit apa?”
“Cuma demam kok Bu, tapi kalau berdiri aku suka sedikit pusing.”
 
“Yaudah nak, hari ini juga Ibu akan ke sana,”
“Alhamdulillah … makasih Bu, oh yah ajak Maura juga yah!”
 
“Iya nak, pasti Ibu ajak dia.”
“Iya Bu, udah dulu yah. Assalamualaikum,” ujar Sakira mengakhiri percakapan.
“Waalaikumsalam.”
 
***
 
Sakira pun menutup sambungan teleponnya, dan memberikan ponselnya kepada Azka.
 
“Udah?” tanya Azka.
“Iya udah,” jawab Sakira.
“Hmmm … gue gak enak Ra, kalau ibu kamu di sini ngerjain semua pekerjaan rumah.”
“Gak papa, lagian kamu juga pasti gak semua bisa, perkerjaan yang sering di lakukan perempuan kan?” tanya Sakira.
 
“Iya sih, tapi gue juga bakal berusaha sesu
ai kemampuan gue kok. Ra,” jelas Azka.
“Udahlah, jangan dipikirin terus. Oh yah kamu bakal masuk kerja lagi di kantor kapan?”
 
“Selama mungkin, karena gue bakal ambil cuti lagi,” jawab Azka.
 
“Ha, kok gitu?” tanya Sakira mengangkat sebelah alisnya.
 
“Gue ingin lebih lama lagi, ngehabisin waktu luang sama lu. Dan gue mau nemenin lu saat buah hati kita terlahir ke dunia,” ujar Azka seraya mengelus perut Sakira.
 
Tiba-tiba Sakira meneteskan bulir-bulir air mata yang menetes ke tangan Azka.
 
“Ra, kenapa lu nangis?” ujarnya seraya menghapus air mata Sakira.
 
“Aku cuma gak nyangka, laki-laki kayak kamu bisa seperhatian ini sama seorang cewe, aku kira kamu cuma bisa membuat emosiku naik dan tawa terlukis di bibirku.
 
Tapi ternyata kamu bisa membuat air mata ini jatuh dengan sendirinya,” jelas Sakira.
Azka pun sontak memeluk Sakira dengan erat. Seakan tak ingin melepaskannya.
 
 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here