Istri Hasil Taruhan #32

0
127
views

“Ssttt, Senja lu jalani saja ya sama Fajar,” lirih Tari berbisik.
“Apa-apaan lo, enak di lo sesaknya di gue,” tukas Senja menatap sinis.
“Plis dong ahk, Senja bantuin gue supaya bisa dapatkan hati Fajar. karena gue suka sama Fajar, plis ya bantuin gue,” ungkap Tari memohon.

Sebenarnya Tari bukan suka sama Fajar tapi dia menyukai Bagas, karena dia tahu Senja suka juga sama Bagas, akhirnya dia berbohong.

“Maafin gue ya Senja, gue sudah berbohong sama lo,” batin Tari sambil berpelukan dengan Senja.

“Ok, sekarang ayo kita masuk ke kelas,” ucap Senja.

Sampai di kelas mereka langsung bertemu dengan Fajar, Bagas dan Afdal.
Melihat Senja datang Fajar langsung menghampiri Senja.

“Baru datang ya?” tanya Fajar seraya merangkul tubuh mungil Senja. Senja menyungging senyuman manis yang membuat Fajar klepek-klepek.

“Senyum yang sulit ditemukan,” batin Fajar membalas senyuman Senja.

Bagas hanya bisa menyaksikan, tanpa memprotes dia langsung duduk di kursinya.

“Panas oh panas,” geram Bagas mengepal kedua tangannya saat melihat Fajar dan Senja bermesraan walaupun dia tahu sesekali Senja menepis tangan Fajar yang selalu membelai kepalanya dilapisi hijab.

“Gas, lo kenapa? Kok wajah lo merah padam begitu?” tanya Tari, Bagas hanya menatap sekilas.

Jam pelajaran pertama sudah selesai dan sekarang mereka berjalan menuju kantin.
Sepanjang perjalanan Fajar mengenggam erat tangan Senja, mereka tidak peduli mau ada yang cemberu ataupun acuh, mereka berdua tetap enjoy.

Hari-hari Fajar terasa begitu lebih berwarna. Fajar pun merasa sudah begitu nyaman dengan Senja, dia tidak peduli lagi dengan rencana awalnya.

🌿🌿🌿

Hari minggu Fajar datang ke rumah Senja tanpa sepengetahuan Senja. Dia membawa seikat bunga mawar, iya Senja sangat menyukai bunga mawar.

“Ini buat lo, Senja.” Fajar memberikan bunga tersebut dan langsung disambut senang oleh Senja.

“Serius, bunga mawar ini untuk gue?” tanya Senja menatap takjub. Seumur-umur hidupnya baru kali ini dia diberikan bunga.
“Terima kasih,” ucap Senja tanpa sadar dia memeluk tubuh Fajar.

“Eh, maaf,” ucap Senja dengan cepat melepaskan tubuhnya.
“Iya.”

Selang beberapa menit kemudian Fajar pun pamit untuk pulang. Setelah menatap kepergian Fajar, Senja langsung masuk ke kamar.

Senja loncat-loncat kegirangan, sesekali dia mencium aroma bunga mawar pemberian Fajar.

Aaaaaa ….

Tidak dapat dilukiskan bagaimana bahagianya hati Senja karena mendapat bunga mawar yang sangat disukainya.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here