Istri Hasil Taruhan #30

0
79
views

“Gas, kita ke kantin bareng yuk,” ajak Senja seraya memposisikan diri di pertengan meja Fajar dan Bagas.

Belum sempat Bagas menjawab, Fajar sudah dulu memotongnya. Alhasil Bagas menolak ajakan Senja dan membiatkan Fajar menarik pelan jari lentik Senja.

“Bro, kita duluan ya,” seru Fajar melambaikan tangannya, Bagas mengangguk.

Senja berusaha melepaskan gengaman Fajar, tetapi Fajar mengeratkan genggamannya.

Senja ingin marah tapi perutnya lebih duluan demo.

“Pesan apa?”

“Seperti biasa.”

“Ok.”

Fajar mengangguk paham, tidak lama pun pesanan mereka datang. Senja melahap hidangan tersebut sampai-sampai Fajar terkekeh geli melihatnya.

“Makannya nafsu bangat, untung itu sendok nggak bisa dimakan, kalo bisa mungkin sudah ludes juga,” ucap Fajar mengulum senyum sembari memalingkan wajah.

“Memang iya, terus kenapa, masalah buat lo?” Senja menatap jengah, dia sedikit malu mendengar ucapan Fajar meskipun itu hanya gurauan. Untung saja mereka duduk di pojokan sehingga orang di kantin tidak begitu menghiraukan.

🌿🌿🌿

“Cie, ke kantin berduan, mentang-mentang sudah jadian, lupa dengan sahabat karib,” ledek Tari, Senja melengos.

“Huh, kita itu nggak jadian tau,” ungkap Senja duduk di kursinya.

“Ngawur lu, masa cowok seganteng itu nggak dianggap sih,” celetuk Tari sambil membenarkan jilbabnya.

“Jelaslah, kan kita cuma temenan,” ketus Senja malas.

Jam istirahat sudah selesai, sekarang lanjut jam pelajaran ke tiga. Setelah beberapa menit penjelasan materi bahasa indonesia sekarang mereka diberi tugas ulangan.

“Senja, kenapa kamu celingak-celinguk seperti itu?” tanya Pak Sigit menatap ke arah Senja.

Senja menjadi kikuk dan menjawab dengan nyengir kuda, dia benar-benar kesal, di saat situasi genting seperti ini tinta penanya malah habis, minjam pena Tari, Tari pun nggak mau memberi. Masih belum puas dengan jawaban Senja, Pak Sigit kembali bertanya.

“Senja, pantatmu kurapan ya, kok seperti gelisah gitu?” tanya Pak Sigit lantang sontak membuat Senja tidak dapat berkutik.

“Hahaha ….” Tawa murid dalam kelas itu pecah.

“Tinta pena Senja habis Pak,” jawabnya tidak kalah lantang dari Pak Sigit.

Pak Sigit terlonjak kaget mendengar jawaban dari Senja yang setengah berteriak.

“Senja ini pena,” Bagas melempar pena ke arah Senja.

“Ini gue juga punya,” susul Fajar juga melempar pena ke Senja.

“Main lempar-lempar saja, ke sini antarin kek, biar … hehe ….” ucapan Senja terpotong karena Pak Sigit sudah berada di samping.

“Kerjakan tugas, jangan banyak halu,” ketus Pak Sigit melipat tangan di dada. Senja mengangguk antusias dan melanjutkan tugasnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here