Istri Hasil Taruhan #25

0
217
views

Suara tangisan Sinta menggema di ruangan yang bernuansa biru itu, dia begitu menyesal tetapi sesekali dia merasa jengkel dengan keadaan yang sungguh di luar dugaannya ini.

Orangtua Sinta acuh tak acuh, mereka pergi begitu saja tanpa mempedulikan Sinta yang tengah bersimpuh di atas lantai.

“Benar-benar memalukan, huh ….” Hartono mendengus kesal dan berlalu dari hadapan Sinta dan disusul istrinya.

Huhuhuhu … hiks … hiks ….

Melihat ketidak pedulian orangtuanya tangis Sinta semakin menjadi, seketika matanya mendelik melihat Katrin menangis sesugukan yang berada di sudut ruangan.

“Ini semua gara-gara kamu Buk!” Sinta membentak guru BP itu dan menunjuk-nunjuk wajah Katrin.

“Kalau tidak karena tingkah konyolmu aku tidak akan menjadi seperti ini, dasar manusia bodoh,” lanjutannya masih dengan nada membentak.

Entah kekuatan dari mana kok sampai hati Sinta membentak guru BP itu. Bukan hanya membentak dia pun juga berusaha membunuh Katrin dengan cara mencekik lehernya dan tatapan penuh kebencian seperti orang yang lagi kesetanan.

“Mati kamu Buk, mati!” Sinta berseru menyerigai membuat Katrin tidak bisa bicara.

“A-ampun Sinta, jangan bunuh saya,” ucap Katrin terbata-bata sambil mencari nafas.

Brakk …

Suara pintu diterjang kasar oleh seseorang.

“Apa-apaan kamu Sinta, bisa-bisanya kamu berbuat sekeji ini,” teriak Pak Kepala Sekolah dan langsung memusahkan mereka berdua.

“Satpam, amankan Sinta,” perintah Pak Kepsek pada dua Satpam.

“Huhuhuhu … ini semua bukan salahku Pak,” kata Sinta langsung menangis.

Tanpa ba-bi-bu Pak Kepsek langsung membawa Sinta ke kantor polisi.

“Kau harus kami laporkan ke polisi karena sikapmu ini sungguh keterlaluan,” ucap Pak Kepsek sambil memasuki mobil diikuti dua satpan dan Sinta.

Sekarang mulut Sinta terasa kelu dia pun tidak berani membantah, dia bingung mau berbuat apa ibarat dikejar preman di dekat jurang maju mati, mundur pun mati.

🌻🌻🌻

Hari ini Senja dibawa ke singapura karena rumah sakit di indonesia tidak mampu lagi menanganinya.

Bagas, Fajar dan Afdal hanya bisa melihat dari kejauhan saat Senja dibawa masuk pesawat.

“Semoga lo cepat sembuh Senja.”

Hanya kata-demi kata dan doa yang bisa dilontarkan oleh mereka.

“Aneh ya, Jar, cuma kepentok dikit bisa sampai separah ini,” seru Afdal menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

“Entahlah, gue pun nggak paham,” sahutnya.

“Sudahlah Bro kita nggak usah banyak mikir, positif thingking aja, semoga Senja di sana cepat sembuh,” timpal Bagas menepuk bahu temannya secara bergantian.

🌻🌻🌻

Di sekolah ada berita heboh dan menjadi gunjingan, pertanyaan bagi semua murid tentang Sinta yang dibawa Pak Kepsek ke kantor polisi, nggak bisa dibayangkanlah sangking hebohnya suasana di sekolah SMA Tunas Bangsa sekarang.

Huhuhuhu … Ahayyy, pintarmu berbuah narapidana Sinta, cuy satu kata dong buat Sinta.

Love badag buat kalian semua, terima kasih sudah mau mengikuti alur cerita ini.🙏🙏

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here