Istri Hasil Taruhan #24

0
130
views

Mereka bertiga sampai di ruang teknologi, mungkin nasib malang masih berpihak pada mereka, terlihat jelas dua orang lelaki paruh baya sedang memperbaiki laptop atau apalah sejenisnya.

“Kenapa dengan laptopnya, Pak?” tanya Bagas melirik laptop yang tergeletak di atas meja.

“Laptopnya rusak,” jawabnya tanpa menoleh.

Mereka bertiga tepok jidat dan mengacak rambut frustasi. Tumben mereka samaan.

“Jadi, kita tidak bisa menemukan apa-apa,” kesal Bagas pergi meninggalkan ruangan itu.

🌻🌻🌻

“Sinta,” panggil Pak Kasim, satpam sekolah tunas bangsa.

“Saya Pak,” jawab Sinta penuh semangat.

“Pak kepala sekolah menyuruhmu keruangannya sekarang,” suruh Pak Kasim, Sinta mengangguk antusias.

Sinta melenggang sambil bernyanyi menuju ruang kepala sekolah, sepertinya dia begitu senang.

Sampai di ruang kepala sekolah Sinta terbelalak melihat kedua orangtuanya yang berada dalam ruangan tersebut ditambah lagi, Katrin menangis tersedu-sedu. Prasaan Sinta mulai tidak enak, dia menelan saliva tersendat tapi dia positif thingking.

“Eh, Papa, Mama, ada apa Ma, mau ngasih Sinta uang jajan ya?” tanya tersenyum semrigah. Kedua orangtuanya masih diam.

“Ia, tadi pagi, Sinta berangkatnya buru-buru jadi nggak sempat pamit deh,” lanjutannya lagi.

Seketika suasana jadi hening, mereka yang ada di ruangan itu larut dalam pemikiran masing-masing.

“Ekhem, bagaimana ini Pak, kelakuan anak Bapak ini sudah kelewatan batas,” Pak kepala sekolah berusaha memecah keheningan.

“Bentar-bentar, ini masalahnya apa Pak, kok Bapak bilang begitu, memang Sinta melakukan apa?” tanya Sinta gegelapan.

“Anak itu dalam masa kritis sekarang, kami sebagai pihak sekolah sangat takut bila sekolah ini dituntut.”

Orangtua Sinta mendengar antusias, terkadang mereka mengerti tapi mereka merasa tidak percaya.

“Saya tidak percaya, kalau anak kami Sinta bisa melakukan hal sekeji itu,” protes Hartono secara halus.

Mendengar Hartono sedikit protes Kepala Sekolah menyodorkan sebuah benda pipih lalu memainkannya. Terlihat jelas di dalam video itu Sinta melakukan aksi pembunuhan.

Huhuhuhu ….

Katrin menangis sejadi-jadinya karena bagaimana pun dia ikut andil dalam permasalahan ini sebab HP itu adalah HP Katrin yang tidak sengaja ketinggalan pas waktu rapat kemarin.

“Tidak, tidak, itu bukan Sinta, Pa, Ma, itu bukan Sinta.” Sinta mengelak sedangkan orangtuanya menatap murka.

“Bagaimana apa kalian sudah percaya apa yang kalian lihat? Ini fakta!” tukas Pak Kepala Sekolah.

“Apa-apaan ini Sinta, kamu sangat mempermalukan kami,” bentak Hartono, Rere berusaha menenangkan suaminya.

“Sudah, sudah, kami tidak butuh keributan di sini, harap kondisikan amarahmu, jadi dengan bukti ini Katrin dan Sinta akan kami laporkan ke polisi!” tegas Pak Kepala Sekolah langsung dan meninggalkan mereka yang ada di ruangan.

“Tidak!!!” pekik Sinta menangis sejadi-jadinya.

“Ampun, Ma, Pa, Sinta nggak mau masuk penjara.

Huhuhuhuhu ….

Sinta bersimpuh di kaki kedua orangtuanya

Gimana nih puas nggak? Komwelnya dong🙏🙏

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here