Istri Hasil Taruhan #23

0
205
views

Selesai bertemu Katrin, Sinta bergegas ke rumah sakit tempat Senja dirawat. Tidak membuang-buang waktu langsung saja Sinta memasuki ruangan yang bernuansa putih itu.

Senja masih terlihat lemas entah itu pingsan atau tidur Sinta pun tidak tahu tetapi berulang kali Sinta melambaikan tangan di wajah Senja tidak ada respon sama sekali.
Sinta berhati-hati sambil memastikan kalau keadaan memang berpihak padanya.

“Aman ….” desisnya.

Mulanya Sinta mendekati tabungan infus kemudian menatap Sinta dengan menyungging senyum licik. ditatapnya selang infus yang melekat di lengan Senja. Sinta melepaskan selang tersebut dengan paksa sehingga tubuh Senja tergelonjak.

“Upst …”

Sinta menutup mulutnya lalu tertawa sepuas-puasnya.

“Gue puas, sangat-sangat puas. Gue yakin kali ini pasti Senja benar-benar mati, uhuyyyy, selamat bertemu di surga nanti teman. Ahaha … eh, salah bukan-bukan, lo itu cocoknya masuk neraka, upst, diam-diam Sinta jangan terlalu bahagia nanti ada yang dengar,” ungkapnya menatap Senja dengan gaya iba lalu mendelik tajam.

Masih ingin bersenang-senang dengan tubuh Senja, Sinta mengelus pipi Senja dengan sandiwara terlihat begitu sedih, kemudian matanya melotot melihat kalung yang ada di leher Senja.

“Inikan kalung yang dibelikan Fajar yang sempat jatuh di mall,” desisnya.
“Kalung ini tidak cocok kamu yang memakai Senja, ini pantasnya buat gue,” ucapnya lirih tanpa ba-bi-bu Sinta langsung mencekik leher Senja.

“Nah, mampus lo.”

🌻🌻🌻

“Jar, tancap gasnya supaya lebih cepat,” sergah Bagas dengan nada panik.
“Iya, ini juga udah lebih cepat, Bro,” sahut Fajar terus melajukan mobil sport hitam itu.
“Kita harus cepat sampai ke rumah sakit, prasaan gue nggak enak tentang Senja nih,” ungkapnya.

Rasa khawatir begitu dalam menyelimuti hati Bagas, Fajar sudah menambah kecepatan lebih tinggi. Namun, yang dirasakan Bagas itu sangatlah lambat.

🌻🌻🌻

Bagas bergegas keluar dari mobil menuju ruangan Senja, Bagas terbelalak saat melihat Senja yang sudah tidak memakai selang infus dan alat medis lainnya.

“Ya Allah, Senja.” Bagas memeluk tubuh Senja, beberapa menit kemudian orangtua Senja masuk.

“Ada apa dengan Senja?” tanya Handoko dan Ratna bersamaan.
“Nggak tahu om, tante, Bagas baru masuk juga,” jelasnya.

Ratna menjerit histeris menangis sejadi-jadinya.

“Cepat panggilkan dokter, cepat!” sergah Handoko membentak.

Fajar dan Afdal yang baru datang menatap aneh dan bingung melihat keadaan, ‘ada apa dengan Senja?’ itulah pertanyaan yang terlintas di benak mereka.

Dokter segera menangani Senja.

“Dokter, di ruang ini ada cctv?” tanya Handoko pada dokter yang sibuk memeriksa Senja. Dokter itu mengangguk, “ada,” ucapnya.

Setelah mendengar dan mendapat jawaban Bagas, Fajar, dan Afdal langsung menuju ruang teknologi cctv.

Maaf gaje, semoga kalian suka.

Cungkan jari telunjuk dong buat yang tidak pernah ketinggalan cerbung ini.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here