Isteriku Cerewet

0
65
views

“Reyhan … Habis mandi jangan lari-lari, sini pakai baju!”

“Hana … Makan nasinya, jangan di buang-buang!”

“Fikri … Kamu udah gede, adiknya jangan di isengin terus!”

“Arif … Kamu tidur ngompol ya? Sana mandi ke kamar mandi!

Begitulah, suasana dirumahku, tiap hari berisik banget. Itu sebabnya, aku lebih merasa nyaman tidur di kantor daripada dirumah.
Aku sudah gak tahan sama mulut istriku yang cerewet.
Dari pagi sampai malam mulutnya gak pernah diam, selalu saja berisik memerintahkan anakku ini dan itu.
Sungguh, aku sudah tak tahan! Ingin rasanya aku menceraikannya. Tapi aku berpikir lagi, kasihan anak-anak kalau kami bercerai.

Fikri, anakku yang paling besar, umurnya baru 7 tahun.
Arif, anak keduaku umurnya 5 tahun, dia sampai sekarang masih saja sering mengompol.
Hana, anak ke tiga, dia paling cantik seisi rumah. Umurnya 3 tahun.
Reyhan, dia adalah anak bungsuku. Umurnya baru 1 tahun.

Istriku bangun tiap jam 3 pagi. Dia salat tahajud, terus mulai menyiapkan bahan- bahan buat dimasak.
Tiap adzan subuh aku dibangunkan nya, di paksa wudhu dan salat. Padahal mataku masih sangat mengantuk.

“Elu, baru kenal agama kemarin sore aja, udah sok alim banget.” Kataku saat dia membangunkan ku pagi itu.
Iya, istriku adalah mualaf, dia baru memeluk Islam setelah mengenalku.

🌳🌳

Jam 6 pagi, mulut istriku mulai beraksi.

“Fikri … Bangun! Udah pagi, mau sekolah gak?”

“Arif … Bangun! Sekolah nak!

“Hana … Mau Bimba gak? Ayo bangun!

“Ayolah, udah siang! Pada bangun donk nak. Mama udah bikin sarapan tuh buat kalian.”

“Arif … Kamu kok gak langsung mandi? Bau Pesing tuh, sana langsung ke kamar mandi, jangan ke ruang tamu! Bau!”

“Fikri … Buruan mandinya, adik-adik mu pada nungguin nih.”

Begitulah, tiap pagi aku seperti mendengar musik seriosa dirumahku.
Kadang aku berpikir mungkin dulu istriku punya cita-cita jadi komentator bola, makanya mulutnya gak bisa diam.

“Berisik ma! Bisa gak diam tuh mulut! Istri orang ga ada suaranya tuh, elu doang pagi-pagi buta udah berisik …”

🌳🌳

“Gue mau cerai, Van.” Curhat ku pada Ivan, teman kantorku.

“Sabarlah, Yan! Kasihan anak-anak lu kalau sampai kalian cerai.” Selalu nasehat itu saja yang kudengar dari mulut Ivan setiap aku curhat tentang rumah tanggaku.

Ivan, dia masih bujangan. Dia gak pernah merasakan hiruk pikuk pasar seperti dirumahku.

Ah … Coba saja dulu aku menikah dengan Mirna, gadis pendiam. Mungkin rumahku akan tenang, damai dan tentram.

Mirna … Aku tiba-tiba ingin bertemu dia. Aku akan mencari akun Facebook nya. Aku akan meminta nomor WhatsApp nya.
Mirna … I Miss you …

Penulis: Aisyah Putri Minang

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here