Ibumu yang Pisahkan Kita

0
154
views

Rumah tangga yang dengan susah payah aku bina bersama istriku, kini hanya tinggal cerita. Sore itu, aku dan istriku sedang berbincang santai. Kami melihat anak-anak yang sedang berlarian, bermain dengan tawa lepas tanpa dosa. Membuat aku dan istriku hanya tersenyum melihat tingkah lucu anak-anak itu.

“Bun, mereka lucu, yah?”

“Ayah juga lucu, sama kayak mereka.”

“Kok Ayah lucu, Bun?”

“Habisnya setiap Mama aku datang, Ayah pasti ketakutan. Seperti orang punya salah aja.”

“Yaa kan Bunda tau sendiri, bagaimana mama kamu kalau lihat Ayah?”

“Apa Ayah tidak suka dengan kehadiran mama di tengah-tengah kita?”

“Bukan aku gak suka, tapi apa Bunda tidak pernah menyadari kalau selama ini mama selalu berusaha memisahkan kita.”

“Iya aku tau itu, tapi apa yang sebenarnya terjadi, Yah?”

Memang dari beberapa hari terakhir, ibu dari istriku ini terlihat bertingkah aneh kepadaku. Aku pernah memergokinya sedang melihatku saat berganti baju. Bahkan, dengan beraninya, beliau pernah mengantarkan handuk saat aku sedang mandi.

Aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada istriku. Antara malu dan takut, jika istriku mengetahui kebiasaan buruk mamanya. Hingga sore itu, seperti biasa mertuaku bergabung bersama kami di halaman rumah. Mata mertuaku melihat dengan tatapan aneh ke arahku, setiap inci tubuhku tak terlepas dari pandanganya. Aku merasa sangat risih dengan tatapan mertuaku itu.

“Ary, kamu belum mandi? Udah sore, loh.” tanya mertuaku, senyum kecil terlihat dari bibirnya.

“I-iya, nanti saja,” jawabku gugup.

“Iya, Mah. Lagian masih lihatin anak-anak main!” sahut istriku tanpa curiga.

Aku yang merasa risih saat itu, berusaha untuk menghindari mertua yang terus memandangiku. Aku berinisiatif untuk bermain dengan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah. Namun, dengan sigap Ibu mertuaku menggenggam lenganku, membuat aku kembali duduk di sampingnya.

“Besok lagi mainnya, sekarang udah sore! Mama kamu nitipin ke Tante sampe nanti malam. Baju udah penuh lumpur gitu, masih mau main! Mandi dulu, biar Tante siapin bajunya!”

Akhirnya, aku pun mengakhiri permainan ayah bunda bersama sepupuku sore itu. Aku mandi dan menunggu mama menjemputku sepulang dari bekerja.

Aku hanya anak umur lima tahun yang sedang bermain, kenapa orang dewasa tega memisahkan kami? Ahh sudahlah … aku tidak mengerti jalan pikiran mereka. Salahku di mana coba?

Sekian, anak tampan yang sedang bermain ayah bunda.

Penulis : Shafira Faza

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here