Ibu Tiri

0
95
views

Namaku Rika, aku istri dari pria yang pernah berkeluarga sebelumnya, ia mempunyai satu anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Suamiku Ciko menikahi ku tepat satu tahun yang lalu saat usia ku masih dua puluh tahun.

Susah nya menjadi ibu tiri, peduli di anggap sok baik dan cari muka, cuek apalagi.

Tidak hanya nyijyiran dari keluarga ibunya Akmal, mantan istri suamiku, tapi di luar sana juga banyak yang memberi cap buruk kepada ibu tiri.

Apalagi setelah ada drama korea yang lagi viral itu.
Sosok pelakor Yeo da kyung yang menjadi ibu tiri Joon young menambah sisi gelap ibu tiri.

Di tambah lagi netizen +62 yang sebagian terhanyut dalam drama yang tidak bisa membedakan mana acting dan mana real.

“Dasar ibu tiri, baik di depan ternyata punya maksud tertentu.”
Begitulah komentar salah satu netizen yang berkomentar tentang drama itu.

Padahal saya bukan pelakor, saya hadir setelah ayah dan ibu nya Akmal berpisah setelah dua tahun lamanya.
Tapi bagi Ani, mantan istrinya Ciko aku adalah perempuan jahat.

Bagaimana bisa aku terima di katakan jahat?
Sementara aku tak pernah mengusik uang nafkah untuk anaknya.
Bahkan aku bersikeras untuk menghemat pengeluaran rumah tanggaku.

Aku dan suamiku tak pernah punya privasi yang harus di tutup-tutupi, dari mulai dompet, gawai, semuanya tidak ada yang di rahasiakan.
Jadi setiap Ani menelpon aku bisa kapan saja mengangkat telponnya jika Ciko sedang solat atau mandi.
Tapi begitu mendengar kata assalamualaikum dari ku ia langsung mematikan telpon.

Ia tak pernah menghargai aku sebagai istri Ciko, begitu pula yang di ajarkannya kepada putranya untuk tak pernah mengganggap aku ada.

Bahkan aku rela tidak membeli make up atau skincare, tidak membelu baju baru, tidak berbelanja sesuka hati seperti saat aku belum menikah dulu.

Belum lama ini Ani mengirim spam chat kepada Ciko.

“P”

“P”

“P”

“Mana kiriman uang lebaran buat Akmal, dia butuh uang jajan, baju, celana, sendal buat lebaran, aku gak mau tau pokoknya lebaran harus udah ada semua.”

Begitu lah isi pesannya.

Di tengah pandemi seperti ini yang di pikirkan hanya lebaran, baju baru? Dan permintaan yang memaksa, aku jangankan memaksa meminta baju baru kepada suamiku, aku tidak kontrol ke dokter hampir dua bulan pun aku tak pernah memaksa suamiku.

Ya aku sedang mengandung darah daging Ciko. Di tenah pandemi seperti ini aku sangat bersyukur masih bisa membeli beras, tak ada bantuan tunai, tak dapat keringanan listrik, tak dapat bantuan sembako tak apalah yang penting kami masih bisa makan.

Yang membuat hati ini teriris karna aku yang menahan untuk tidak cek kandungan karna uang yang sangat pas-pasan.
Mantan istri dari suamiku malah memaksa meminta sangu lebaran.
Padahal dia sudah punya suami yang usahanya bisa di bilang cukup dari pada suamiku.
Bukannya aku keberatan untuk suamiku tetap menafkahi anaknya.
Hanya saja aku meminta di maklum karna keadaan seperti ini kerja saja sudah di liburkan.

Penulis : Ika Ermiasari

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here