Guru Killer Vs Siswi Bandel #53

0
55
views

Kecelakaan


 

Beberapa bulan kemudian.

Azalea hari ini pulang dari kantor lebih cepat, sebab di rumah ada yang tiba dari Sultra. Gadis cantik tersebut, sangatlah bahagia.

Sedangkan di kediaman Lesmana menerima telpon dari pihak polisi. Menyatakan bahwa salah satu dari anggota keluarga mereka ada yang kecelakaan.

“Halo, apa benar ini dengan saudara Lesmana?”

“Iya, betul.”

“Maaf, Pak, di simpang jalan mawar merah no. 4 ada yang kecelakaan tabrakan atas nama Zainal Alfaro. Apakah keluarga Anda?”

Seketika mendengar berita tersebut ayah Zela menjatuhkan telepon dari genggaman tangannya, tubuhnya lemas jatuh ke lantai membuat istri dan anaknya kaget.

“Pi, kenapa Pi, siapa yang telpon?” tanya Diana panik.

“Za-Zain, Mi, Zain.” Ucapan suami Diana tersebut terbata-bata, karena syok berat.

“Zain kenapa Pi, kita kan mau jemput dia ke bandara.”

“Iya, Papi, Kinar sudah siap. Saya ngga sabar lagi ketemu sama kak Zain. Let’s go.” Adik tiri Zela bersemangat ria untuk menjemput kakaknya tersebut.

“Zainal kecelakaan.” Lesmana langsung tak sadarkan diri.

“Astagfirullah!!” Diana dan Kinar serempak teriak.

“Papi, bangun Pi!!”

“Ngga mungkin, Pi, kita kan baru mau jemput. Ngga mungkin kecelakaan,” ucap Diana.

Dian dengan cepat menelpon pihak rumah sakit.

“Kak Zain, ngga mungkin kecelakaan ini pasti kabar hoks,” gumam Kinar menangis.

Zela sudah sampai di rumah. Senyumnya selalu terpancar. Membuka pintu dengan semangat sambil memanggil nama kakak angkatnya.

“Kak Zain!! I’m coming!”

Zela menyeritkan dahi heran. Ibu dan adiknya menangis. Sedangkan ayahnya memejamkan mata.

“Mi, ada apa ini? Kok, pada sedih? Zain sudah tiba kan? Mana dia?” Berbagai pertanyaan beruntun yang diajukan Zela.

“Kaka, Zain kecelakaan.” Kinar memeluk Zela.

“What? Lah, ngga mungkin tadi pagi juga kita habis telponan.” Zela tak percaya.

“Iya, Zela sekarang kita harus ke rumah sakit,” timpal Diana.

“Haha, ngga mungkin. Pasti kalian prank kan. Pasti mau ngerjaain saya kan? Zain ada di kamarnya.” Lagi-lagi Zela tak percaya.

Zela berlari menuju kamar Zain, namun tangannya langsung ditarik Kinar.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang kak!”.

***

Mobil ambulance sudah sampai di rumah sakit. Pihak medis dengan cepat mengangkat korban kecelakaan tersebut. Darah yang mengalir mengalir dari tubuhnya semakin deras.

“Cepat di bawah ke ruang UGD!” teriak seorang dokter perempuan muda.

Sesampai di UGD pihak mendis dengan sigap menangani pasen.

Dokter mengusap darah yang mengalir dari kepalanya hingga dibagian muka. Dengan pelan ia membersihkan lukanya. Namun tiba-tiba …

Deg

alangkah terkejut dokter tersebut kaget bukan main. Hatinya seketika hancur berkeping-keping air mata pun ikut berjatuhan.

“Tidak mungkin, pasti ini hanya mimpi!”

Teriakan dokter muda itu menggema, membuat para medis lain kaget dan heran.

“Kenapa Dok? Kenal dengan pasien?” tanya salah satu suster.

Lantaran syoknya, tissue yang ia pegang langsung jatuh disertai dengan tubuhnya linglung di lantai.

“Dokter Filda! Kamu kenapa?”

Dengan sekuat tenaga ia berdiri lalu membersihkan luka-luka pasien dengan penuh kesedihan. Ia harus kuat, walaupun pasien tersebut dulu waktu SMA tak perna memaafkannya sampai kelulusan sekolah tiba.

‘Pertemuan yang sangat mengerikan. Kenapa kita harus berjumpa dalam keadaan memilukan? Kau terbaring kaku tak bersuara. Keinginanku hanya satu yaitu menembus kesalahanku padamu. Berusaha untuk memperbaikinya.”

***

Sementara keluarga Zela sangat panik. Ditambah suasana ayahnya belum sadarkan diri.

“Mi, saya tunggu dokter yang menangani Zain, ya,” ucap Zela.

“Iya sayang, saya jaga ayahmu dulu sampai sadar.”

Gadis itu mengangguk.

“Kakak, saya ikut.” Kinar ikut di belakang Zela.

***

Sudah hampir satu jam menunggu dokter yang menangani korban kecelakaan. Ia keluar dari ruangan.

Zela dengan cepat mengusap air matanya lalu bertanya. “Dok, gimana keadaan kakak saya?”

Dokter yang bernama asli Filda Angraini tersebut, malah terdiam.

“Azalea,” gumam Filda.

“Jawab Dok,” ucap Zela.

Filda memperbaiki maskernya tak menjawab lagi.

“Ah, dokter payah.” Zela ingin masuk ke dalam ruangan, namun Filda dengan cepat ia raih tangan Zela.

“Ikut saya.”

****

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here