Guru Killer Vs Siswi Bandel #52

0
83
views

Terjungkal


Radit duduk dihadapan Zela yang tengah serius membaca berkas-berkas penting.

“Oke, no problem. Tapi satu hal yang harus kamu tau,” ucap Radit.

“Jangan banyak bacot Pak Raditya Pradana. Sekarang pembanguna lokasi yang kita bahas,” ucap Zela menulis sesuatu di kertas lalu diserahkan kepada klayennya tersebut.

“Apa ini surat cinta?” tanya Radit sok cool.

“Dih, surat cinta khayalanmu,” ucap Zela sudah mulai kesal.

“Terus apa dong?”

Radit ingin menguji Zela. Apakah sifatnya masih seperti dulu yang sering puitis dan bobrok. Walaupun sekarang suasananya telah berubah. Apalagi mantan guru tersebut masih menyimpan rasa cinta terhadap wanita dihadapannya itu. Betul kata pepata mengatakan cinta datang karena terbiasa, selalu bersama dan pastinya karena nyaman.

Dulu Radit memang jatuh cinta kepada siswanya itu, tapi tak diungkapkan dengan serius. Namun alasan terbesarnya adalah sang gadis harus selesai kuliah terlebih dahulu. Akan tetapi, Azalea salah paham dengan perasaan Radit.

Seketika Radit mengingat kembali kebersamaanya bersama Zela. Sering bernyanyi duet di usai belajar, liburan ke pantai di saat liburan. Kenangan-kenangan itulah yang selalu mengaturnya di akhir tahun.

“Hey, jangan melotot kali, cepat tanda tangan suratnya. Saya sudah bosan melihat wajahmu yang kayak pantat panci gosong itu.” Zela menyidir Radit yang dari tadi Memeng hanya terdiam.

Radit tak mendengar membuat Zela emosi.

“Woyyy!! Apa yang kamu hayalkan? Cintamu sudah sampai di surga!!!” teriakan Zela berhasil membuat Radit terjungkal jatuh sehingga jidatnya tekena meja.

“Astagfirullah!” Radit teriak kesakitan.

“Ups, kacian jatoh.” Zela langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“Astaga, kamu kenapa sih? Kerasukan?”

Radit bangkit sambil memegang jidatnya yang sakit. Ia menunduk sebab jidatnya terluka.

“Hey, tandatangan, supaya kelar meetingnya. Saya juga banyak urusan.”

Zela kebingungan. “Lah, kok, tidak ada suara lagi. Apa jangan-jangan pingsan atau koit.”

Radit membangunkan kepalanya dan Zela membola melihat dara yang menempel di jidat klayennya.

“Astagfirullah, darah!”

Zela tanpa basa-basi langsung mengambil tissue di dalam tasnya. Lalu lembaran tipis putih tersebut diusapkan dibagian luka Radit.

“Tidak perlu, ini hanya luka biasa.”

“Diam Pak, nanti lukanya lebam. Ini salah saya.”

Radit memejamkan matanya, meresapi sentuhan tangan Zela. Mengingat siswi bandelnya dulu yang sering merajuk seperti anak kecil. Akankah masa lalu bisa kembali seperti saat ini.

‘Seandai waktu bisa terputar kembali. Akan kukembalikan senyuman itu. Cinta yang tak perna aku rangkai dalam sebuah pernyataan menjadi malah petaka bagiku. Tetapi aku tak akan menyerah, perjuanganku masih akan terus berkobar.’

Isi hati Radit merontah ingin menangis. Namun, ia pendam sebab tak mungkin harus meluap dihadapan mantan muridnya tersebut.

‘Andai Kau tahu, rasa cinta ini, selalu terukir untukmu. Namun, kau nodai tanpa kepastian. Hari-hariku bagaikan hamparan debu mengigat balasan cintamu tanpa status. Biarkan aku mengambang dalam penantian.’

Zela langsung berlari keluar karena air matanya tak tertahan lagi untuk di bendung. Kenapa ada pertemuan lalu untuk berpisah.

Bersambung.

Duh, ceritanya makin kesini makin ngga jelas ni. Masih suka nggaa?

Makasih atas suportnya, like dan komennya yaa. Jika like n komennya banyak. Capcus languang lanjut lagi.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here