Guru Killer Vs Siswi Bandel #43

0
54
views

Terbongkarnya Semua Rahasia


Berdiri di depan dengan tegang dan penasaran siapa yang akan mendapatkan rangking pertama.

Apalagi disaksikan oleh banyak orang. Pengambilan raport untuk semester ini sungguh berbeda. Ya, berbeda sekali, karena pada biasanya pengambilan raport diadakan di kelas masing-masing.

“Baik, saya akan umumkan siapa saja yang akan mendapatkan rangking satu, dua dan tiga. Kira-kira siapa?” Suara sang wali kelas begitu menggema.
Tak jarang siswa-siswi yang ikut nimbrung menyaksikan menyebut nama-nama yang berdiri di depan sana.

Raditya mencuri pandang kepada siswi kesayanganya. Lalu, senyumnya terpancar indah dari bibirnya. Pandangan mereka beradu. Azalea ikutan tersenyum walaupun hati ya diliputi rasa penasaran.

“Rangking dua dirai atas nama …” Suara Radit digantung membuat suasana menjadi semakin menegangkan.

Azalea menghela nafas lalu dihebuskan secara perlahan. Ia harap bisa mendapatkan yang terbaik supaya orang yang ada disekelilingnya bangga.
Filda memejamkan matanya sembari menggenggam tangan pacar pura-puranya dengan erat. Sedangkan Zain hanya bisa menunduk, mendengarkan keputusan wali kelas siapa yang akan mendapatkan peringkat pertama.

“Rangking dua dirai atas nama Filda Angraini! Berikan aplos yang meria untuknya.”
Deg.

Ternyata bukan yang pertama. Namun, mendapatkan yang kedua. Meskipun hati merasakan kecewa yang begitu mendalam, tetapi harus menerima dengan lapang dada. Mungkin ini adalah yang terbaik. Lagian tak bisa dipungkiri mendapatkan rangking satu dan dua sudah semenjak SD sampai saat ini.

“Zainal Alfaro adalah sebagai Rangking tiga. Saya turut bangga dengannya sebab dia merupakan siswa baru, namun bisa menaklukan rangking tiga.” Radit bertepuk tangan diikuti y yang lain.

Peringkat tiga. Pria berkacamata tersebut melepaskan gengganggaman tangannya dari Filda. Tak menyaka jika hari ini, ia mendapatkan peringkat tiga, seperti tersambar petir di siang bolong, rasanya ada yang berbeda menusuk qalbu. Sungguh sayang, yang biasanya sering mendapatkan yang ke satu, sehingga dijuluki siswa berprestasi tinggi atau idola juara kelas. Akan tetapi kata itu seketika berubah menjadi horor.
“Dan yang terakhir, sudah jelas sebagai rangking pertama adalah …”

Semua siswa ikutan berseru atas nama Azalea Putri Lesman. Gadis yang tengah disebut namanya tersebut, menutup muka dengan kedua tangannya. Pastinya ia bangga, terharu dan entah tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

“Azalea Putri Lesmana peringkat satu untuk semester ini. Ya, dia dulu adalah siswi yang paling bandel. Sering bolos sekolah bahkan membanta nasehat guru-guru. Namun, hari ini ia telah membuktikan bahwasanya Azalea bisa. Juara olimpiade matematika pun bisa tembus juara satu.”

Siapa yang tak terharu, siswa yang diboikot dengan kebandelanya, kini berubah menjadi siswa berprestasi baik. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, jika kita bersungguh-sungguh untuk meraih sesuatu, maka perbaiki dirilah. Sebab semua usaha tak akan mengkhianati hasil.

Ada pepata mangatakan, ada kesulitan pasti ada kemudahan. Semua yang kita lakukan penuh dengan keikhlasan pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Mensyukuri apa yang kita miliki adalah suatu hal yang harus kita panjatkan setiap saat.

Sebagai hadiah juara yang dipersiapkan wali kelas untuk dibagikan kepada para juara adalah sebuah pialah dan beberapa uang tunai. Kepsek yang ikut menyaksikan acara tersebut langsung menyerahkan hadiah kepada ketiga siswa yang berprestasi tersebut.
Saat ini Azalea, memang harus diajungi jempol sebab ia bisa mendapatkan juara satu untuk semester ini. Filda, walaupun ia mendapatkan peringkat yang kedua, tetapi tetap mendapatkan gelar siswa berintelektual. Dan Zainal, turut dibanggakan sebab ia adalah siswa baru yang mendapatkan juara tiga dari 36 siswa. Siswa tersebut juga perlu diapresiasi dengan baik.

….

Di taman samping sekolah geng trio beauty lagi tertawa. Tawa mereka menyiratkan kebahagian yang begitu mendalam. Bagaimana tidak rencana mereka dikatakan berhasil. Walaupun sang ketua geng beauty mendapatkan peringkat dua. Namun, tak mengapa, yang terpenting bisa melambung Zainal Alfaro.

“Wo, bangga banget. Filda bisa mendapatkan peringkat dua. Ya, meski bukan yang pertama sih, yang terpenting bisa ngalahin si Zain. Ye, kan, guais,” ucap Rasti dengan ala-ala gaya lebainya.

“Ya, gitu deh, tapi si Azalele dari jenis ikan itu sudah menjadi kebanggan para guru,” timpal Farisa.

“Eits, tunggu dulu, rencana cinta sandiwara Filda kan, berhasil. Harus dirayain dong kemenangan ini.” Resti duduk di samping Filda.

“Iya, Fil, bagaiamanpun juga kan, Cinta pura-pura Filda selama ini berhasil. Macam film-film rtv yang itu. Baper uy, padahal kan, thu hanya bohongan doang.” Farisa tak henti-hentinya membahas ke romantisan Zain dan Filda.

“Sandiwara ini harus diakhiri.” Filda dari tadi terdiam, baru mengeluarkan suara.
“Lah, kok, diakhiri, kan masih bisa dilanjutin. Satu tahun lagi say.” Resti tak terima jika sandiwara cinta harus diakhiri begitu saja.

“Iya, kenapa?” tanya Farisa heran.
“Saya tak sanggup lagi menjalani kehidupan dengan kebohongan.” Filda menyandarkan tubuhnya di gazebo dengan frustasi.

Kedua temannya saling berpandangan. Apa yang terjadi dengan Filda? Bukanya kemarin-kemarin sangat semangat dengan rencana tersebut.

“Kalian jangan perna bongkar rahasia ini, kepada siapapun. Zainal pun tak boleh tahu. Biarkan kami menjalani cinta pura-pura ini. Saya tidak mau hal ini akan terjadi.” Filda menunduk sambil mengacak rambutnya.

Ada yang mengganjal dalam hatinya. Entah rasa apa itu. Ia tak bisa dijabarkan dengan kata.

Cinta?

Bingung. Setiap dekat dengan pria dengan gaya sederhana tersebut hatinya merasa nyaman. Seakan-akan bisa menemukan kebahagian tersendiri.

“Tapi Filda, jangan sampai kamu jatuh cinta benaran. Ini hanya sebagai sandiwara tidak lebih dari itu!” Farisa meninggikan suaranya.

“Sepertinya aku yang terjebak dalam permainanku sendiri.”
“Filda, kamu jangan gila ini hanya sekedar boongan, jangan terbawa alur dong. Please jangan baper!” Resti ikutan marah.

“Kalian ngga ngerti perasanku sekarang! Pokoknya kalian harus jaga rahasia ini! Zain tak boleh tahu. Titik!”

“Terlambat, rahasia busukmu terbongkar!” Zain bersuara tepat dibalik pohon tak jauh dari gazebo yang ditempati oleh Filda.

Reflek, Filda sukses terkejut. Matanya membola.
Zain sudah lama berdiri dibalik pohon sana, sebab ia ingin menyampaikan ucapan selamat karena sudah mendapatkan peringkat dua. Namun, apa yang ia dapatkan mendengarkan pernyataan pahit.

Sebuah pernyataan bahwa cinta Filda hanya dusta. Ya, reinkarnasi berbalut sandiwara mengatas namakan cinta dengan pura-pura. Rasanya seperti ingin menghilang tak ingin kembali melihat wajah si pendusta.

Cinta sucinya dikhianati dengan kebohongan. Siapa yang tak sakit hati, jika cinta yang diperjuangkan, namun di khianati dengan dasar sandiwara.
Cih, menyakitkan.

“Zain, sejak kapan di sini?” tanya Filda mendekat, namun Zain melangkah di belakang.
“Kamu penjahat! Pendusta!penghianat! Pembohong!” Zain menahan gejolak emosi di hatinya.

“Za-Za- Zain? Kamu salah dengar, sayang.” Filda meraih tangan Zain, namun dengan cepat ia tepis.

“Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak, kamu telah menodai cinta suciku. Anggap saja kebersamaan kita selama ini adalah angin lalu.” Zain berlari tak menghiraukan suara Filda yang memanggil namanya.

Sesampainya di kelas Zain langsung tertunduk lema di kursinya. Membuat Zela kebingungan.

“Hey, kamu kenapa?” tanya Zela mendekat.
“Ternyata selama ini, Filda hanya berpura-pura mencintaiku,” ucap Zain jujur.
“What?” Zela kaget.

“Apa?” para anggota geng bebas saling berpandangan.
Zela mengepalkan tangannya, giginya ikut dirapatkan. Benar dugaannya, cinta Filda memang hanya sekedar bohongan.

“Filda, keterlaluan kamu!!” teriak Zela mendekati Filda yang berdiri di ambang pintu.
“Kenapa kamu lakukan hal ini kepada Zain! Kenapa?” Zela kali ini mendorong Filda hingga tersungkur ke lantai.

“Dasar pembohong, wanita bermuka dua!” Erina menarik tangan Filda kasar hingga berdiri.
“Mau kamu apa? Sehingga nyakitin hati Zain? Jelasin!” Salisa mendorong Filda hingga ikutan terjatuh kembali.

“Filda selama ini, kami tak perna mengusik hidupmu, tapi kenapa harus nyakitin perasaan orang dengan dalih pura-pura cinta!” Desya ikutan emosi.
Filda tak melawan. Ia malah pasra dikeroyok oleh geng bebas.
“Kamu juga Zain! Saya sudah ingatkan, tapi kamu malah membelah dia kan? Kalau sudah seperti ini siapa yang akan dipersalahkan?” Zela kali ini benar-benar marah.
“Kamu dibutakan cinta Zain! Terlalu bodoh menilai cinta!” lanjut Filda dengan amarahnya.

Zain hanya menunduk, tak berani menatap Zela. Apa yang diucapkannya memang benar adanya. Ia telah menjadi budak cinta.
“Kamu ingat beberapa bulan lalu kamu masuk RS?” tanya Erina.
“Hum, waktu itu kamu hampir tiada? Tapi ada seseorang yang menolongmu,” bisik Desya dengan tatapan tajam.

“Kamu kehabisan darah. Mau tahu siapa yang mendonorkan darah untukmu? Azalea yang telah Menolongmu Filda!!” teriak Salisa geram ingin menampar Filda, namun dengan gesit Zela menghalang tangannya.

Filda menganga dan tentunya kaget sekali.
“Apa?”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here