Guru Killer Vs Siswi Bandel #33

0
85
views

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, pria dengan berpakain formal sepertinya terlambat ke sekolah. Ya, sebab hatinya lagi dilanda kegalauan.

Sejak bertemu dengan muridnya dan hampir menyatakan cinta. Pria dengan perawakan putih tersebut merasa bersalah, seharusnya ia tidak mengatakan hal tersebut. Meruntuki diri dengan penyesalan, namun sudah membuat hatinya tersakiti.

‘Maafkan tindakanku yang bodoh. Bukanya tak cinta, akan tetapi tak mau tersakiti untuk yang kedua kali. Harapan mencintaimu adalah anugera terdindah.”

Sebenarnya ia ingin menyatakan cinta kepada siswa yang bernama Azalea. Namun, entah mengapa setiap ingin menyatakan cinta, bayangan masalah lalu selau terlintas di memorinya.

Dulu perna menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat, amat dicintai. Namun, apa yang terjadi ditinggal nikah. Disitulah, ia trauma.

Ditinggal nikah, masih sayang-sayangnya itu sakit. Sakit banget. Pada awalnya sudah berjanji hidup semati, eh, ujung-ujungnya ditikung sama teman sendiri.

Pria itu jadi trauma dengan yang namanya cinta. Apakah ia mampu dijabarkan cintanya kepada sang bocah?

‘Sudah dijaga dengan sebaik mungkin, namun ternyata menjaga jodoh orang lain.’

Tiba-tiba hari-harinya berubah dengan kedatangan bocah. Siswi yang bandel yang sering menggoda dan menggobalinya.

‘Hati berkata mencintaimu. Namun bibir enggan mengunakapnya. Hati dan bibir berlawan arah untuk menyatakan sebuah pengakuan atas nama cinta.’

Mobil belum masuk dalam pekarangan sekolah. Tak sengaja matanya melihat dua siswa ingin memanjat pagar besi.

“Kebiasaan, siswa terlambat,” desisnya sembari keluar dari mobil.

Melangkah mendekat, ingin melihat siapa siswa yang terlambat. Guru matematika tersebut berteriak.

“Ngapain kalian di situ?!”

Kedua siswa yang terlambat tersebut gelagapan. Sehingga disalah satu diantara mereka terjatuh.

“Kalian terlambat?”

Kedua siswa termabat sudah tertangkap basah.

“Gila kita ketahuan,” desisnya sembari membalikkan badannya.

Wow.

Alangkah terkejutnya ternyata guru somlac yang sudah berhasil melukai hatinya.

Radit menghela nafasnya dalam-dalam lalu dihebuskan secara perlahan.

Bhulsit

Ketemu lagi?

Sedangkan sang siswa baru tak berani menatap ke depan, ia menunduk. Duh, sejarah baru dalam hidupnya melanggar peraturan sekolah dengan macam itu.

“Kalian berdua terlambat?” tanya Radit.

Kedua siswa itu menunduk tak menjawab. Sesekali Zela melayangkan tatapan sinis. Acuh tak acuh dengan ekspresi wajah cemberut membuat Radit merinding. Ngeri, oyy. Si Zela berubah seperti macan ingin mereka mangsa.

“Karna kalian berdua sudah terlambat, berati harus dihukum,” ucap Radit semaksimal mungkin.

“Maafkan kami Pak. Ini bukan unsur kesengajaan.” Zain angkat bicara. Wajahnya masih menunduk malu.

“Terlambat datang ke sekolah bukan berati didasari unsur kesengajaan. Namun sudah kewajiban datang ke sekolah lebih awal,” ucap Radit.

“Kamu siswa baru kan?” tanya Radit, disertai anggukan kepala Zain.

“Seharusnya siswa baru jangan ter—”

“Seharusnya Pak Guru jangan nagsih harapan palsu sama orang lain. Saya sumpahin semoga Pak Radit ngerasain apa yang saya alami.”

Guduburuak.

Radit langsung terkejut dengan ucapan Zela. Pasalnya, memang ia bersalah.

Menjadi seorang guru harus konsisten. Siswa yang terlambat harus diberi hukuman. Siswa diberi hukuman, bukan berarti guru membenci siswa, melainkan agar siswa yang melanggar peraturan sekolah jerah. Jerah dalam artian supaya siswa tidak melanggar peraturan untuk yang kedua kalinya.

“Siswa baru silahkan ke kantor. Biar Azalea tetap di lapangan,” ucap Radit.

“Tapi, Pak, Azalea jangan dihukum,” ucap Zain.

“Kamu juga ikutan mau dihukum. Silahkan gabung menghormati bendera, sampai mata pelajar pertama selesai.”

Zain mendekat dan sejajar dengan Zela yang dari tadi sudah berdiri menghadap tiang bendera.

“Zain, pergi sana, masuk di kelas! Kamu siswa baru. Cepatan!”

“Tapi Zela.”

“Zain!” Zela melotot.

Zain langsung meninggalkan lapangan. Tinggal Radit dan Zela.

“Pak Radit juga pergi mengajar,” ucap Zela ketua.

“Siswa baru itu siapa?” tanya Radit.

“Pacarku,” jawabnya.

“Katanya kamu tidak punya pacar? Sejak kapan punya pacar?”

“Cih, kepo. Sejak Pak Guru, PHP-in Zela,” jawabnya ketus.

“Ya, sudah masuk di kelas.”

“Ngga usah, lagian jam pertama, mata pelajaran matematika.”

“Azalea Putri! Masuk di kelas.”

“Ngga mau Pak, maksa banget sih. Lebih senang ngga usah masuk di jam pelajaran Pak Guru.”

“Mau tinggal kelas.”

“Biarin.”

Hening, berdebat dengan siswa bandel memang sangat susah. Tidak mau di dengar. Bagaimana tidak mau didengar Pak, Azalea terlanjut sakit hati.

Radit menarik tangan Zela, membuat sang empunya kaget.

“Pak Radit, lepasin.”

Sesampainya di taman samping kolam di belakang sekolah Radit melepaskan tangan Zela.

“Apaan sih, Pak? Maunya apa? Saya ngga mau lagi berurusan sama Pak Radit,” ucap Zela ingin pergi, tetapi dengan gesit Radit menahan tangannya.

Zela membelakangi Radit, sedangkan tangannya ditarik dari belakang oleh Radit.

“Saya minta maaf untuk soal kemarin.”

“Kata maaf, tak sebanding dengan luka di hatiku, Pak.”

Radit memberikan kalung dengan gantungan R A, yang kemarin sempat ia kembalikan.

“Zela kalungnya saya kembalikan,” ucap Radit membalikkan badan Zela menghadapnya.

Zela tersenyum miris. “Saya ngga butuh, Pak. Terimakasih.”

Zela mengembalikan kalung itu ditangan Radit. Namun Radit malah bersikukuh malah mengembalikannya juga. Terjadilah, adegan saling memberi kalung.

“Apaan sih, Pak. Apa artinya kalung ini, jika Pak Guru hanya sekedar memberi. Maaf saja, lebih baik kalungnya disimpan dan diberi sama orang yang berarti dalam hudup, Pak.”

“Tapi, Azalea—”

Radit belum selesai berbicara, kalung yang dipegang Zela hanyut di kolam. Zela sengaja buang membuang benda berwarna putih tersebut.

“Saya ngga butuh kalung ini!!” teriak Zela sembari membuang kalung dengan gantungan R, A tersebut ke dasar kolam.

Byur

Radit langsung menjatuhkan tubuhnya ke kolam, demi mencari kalung tersebut.

Satu, dua, tiga, menit kalung lionting itu belum didapatkan.

Reaksi mata Zela membola, tak terbayang jika kalung yang dibuangnya akan dicari sampai segitunya. Sangat berarti kha?

Tiba-tiba Radit langsung teriak dan berdiri dalam kolam.

“Kalungnya saya dapat!” Kalung tersebut dipegang dengan tangan kanan dan dinaikkan di atas.

Zela hanya bisa menyaksikan dengan menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Ini kalungnya.” Radit memberikan kalung tersebut, lalu pergi dengan keadaan basah kuyup.

‘Cinta yang misterius. Cinta yang tak diungkapkan dengan kata. Namun tingkah lakumu, sudah membuktikan bahwa kau suka padaku.’

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here