Guru Killer Vs Siswi Bandel #32

0
81
views

Terlambat ke Sekolah


Keheningan meliputi kamar bernuansa warna biru kelabu tersebut. Zela dan Zain larut dalam pikiran masing-masing.
Ucapan Radit sepertinya masih teringang indah di kepala Zela. Awalnya kata-katanya indah didengar dengan pengakuan atas nama sayang, namun ternyata bukan itu hanya sekedar sandiwara, dalam artian hanya dianggap sebagai siswa yang cerdas.

‘Mulai jatuh cinta berawal dari mata hingga terjun ke hati. Mata menatap dengan penuh harap bisa memilikimu atas nama cinta. Suara hati selalu menyebut namamu dengan indah.’
Merenung dengan tatapan sendu, mengapa ia harus merasakan cinta sesakit ini?

Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya ternyata benar-benar menyakitkan. Duh, harus memiliki mental yang kuat, jika untuk persoalan cinta. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. Susah, susah muv on.

“Zela, sebentar sore saya dan Oma akan pulkam.” Zain berbicara.

“Lah, kok, sudah mau pulang?” tanya Zela mengalihkan pandangannya ke arah Zain.

“Iya, soalnya saya sudah beberapa hari ngga masuk sekolah.”

“Jangan tinggalkan saya Zain,” ucap Zela.

“Maksudnya?”

“Saya ingin kamu tetap di sini. Tanpa dirimu, tak mungkin bisa melalui hidupku penuh dengan percaya diri.”
Zain menyeritkan dahinya bingung. Ucapan Zela itu, apa maksudnya?
“Zela jangan gombal deh,” ucap Zain diiringi tawa kecil.

“Siapa yang gombal, Pea!” teriak Zela sembari melemparkan boneka Teddynya.

Gadis itu langsung melongos keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga.
“Oma! Zela mau bicara!” panggil Zela menarik tangan Omanya menuju taman di depan.

“Ada apa cucu Oma sayang?” tanya Oma setelah duduk di gazebo, di bawah pohon mangga.

“Ummm, saya ingin …” Zela menggantungkan ucapanya.

“Ada apa? Ngomong saja.” Oma menatap cucu kesayangannya itu dengan tatapan bingung.

“Gini Oma, saya pengen Zain tetap di sini,” ucap Zela.

“Kan, dia sekolah, sudah tiga hari dia izin. Hari ini kami mau pulang, supaya Zain besok sekolah,” ucap Oma mengusap puncak kepala cucunya.

“Dia kan bisa masuk di sekolah Zela, Oma.”

Oma terdiam, bagimana pun, cucunya berubah karena Zain. Sedangkan cucunya yang bernama Zain tersebut harus mewujudkan cita-citanya ingin menjadi seorang pengusaha. Apalagi anak lelaki itu tergolong pintar.

“Gimana Oma, mau kan. Demi Zela. Zain saya sudah anggap sebagai Kakak kandungku. Dia baik banget orangnya. Apalagi pada saat dia mengajariku bahkan menasehatiku. Sungguh sabar.” Zela menatap Omanya dengan penuh harap.

Oma tersenyum. ” Nanti saya bicarakan hal ini dengan bunda dan ayahmu.”
“Makasih Omaku yang tercinta, tersayang. Love you bertubi-tubi.” Zela memeluk Omanya dengan hangat.

***

Pria berpakaian rapi dengan balutan seragam sekolah melihat pantulannya di cermin. Kacamatanya tak lupa terpasang dengan gagahnya.

Hari ini tentunya akan mamasuki dunia sekolah yang baru. Tentunya akan memiliki teman baru, pokoknya semuanya serba baru.

“Astaga naga di telaga, airnya jernih seperti embun pagi di pagi hari. Pagi hari yang cerah, dilintasi sinarnya mentari yang begitu sejuk. Sejuk, damai dan mentramkan jiwa!” teriak Zela sambil mengelilingi kakak angkatnya dengan heran.

Ya, setelah selesai mengurus pindahan sekolah Zain akan masuk di SMA Garuda. Sekolah baru buat Zain untuk menyesuaikan diri.

“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Zain.
“Yakin, mau ke sekolah dengan model kayak gini?”

“Ini sudah gaya fashion yang tebaik yang saya punya,” ucap Zain.

“Duh, gimana kalau kamu di bully di sekolah. Kalau penampilan kayak gini. Terlalu terkesan rapi,” celetuk Zela menatap Zain dari ujung kepala hingga ujung rambut.

“MasyaAllah, Zela! Zain!. Kalian belum berangkat juga, ini sudah jam delapan lho.” Diana yang baru keluar dari dapur melihat anak-anaknya belum berangkat ke sekolah, seketika terkejut. Sebab jam sudah menunjukkan jam delapan pagi.

Duburuak
Kedua siswa itu, langsung kaget bukan kaleng-kaleng.

“Kita terlambat!” teriak keduanya hampir bersamaan.

Benar saja, Zela dan Zain sampai di sekolah pintu gerbang sudah tertutup. Berati mereka sudah terlambat.

“Gila Zain, kita terlambat,” ucap Zela lemas.

“Duh, gimana dong. Masa pertama masuk sekolah saya terlambat?” Zain juga langsung lemas tak berdaya. Karena mengingat dirinya adalah siswa baru.

Kedua siswa yang terlambat tersebut terdiam. Tiba-tiba Zela teriak membuat Zain terperanjat kaget.

“Saya ada ide!”

“Apa?”

“Kita naik pagar, daripada ngga masuk.”

“Tapi kalau kita ketahuan gimana?”

“Tenang saja, kita tidak ketahuan kok.”

Zela sudah ancang-ancang menaiki tembok besi.

“Saya duluan yang naik. Oke!” seru Zela.

“Ya, tapi kalau kita ketahuan. Kamu yang nanggung. Saya ngga mau malu. Soalnya saya siswa baru.”

“Pokoknya tenang saja, kita tidak ketahuan kok. Saya dulu sering terlambat. Jalan pintasnya kayak gini.”

Zela menaiki punggung Zain, demi untuk lolos masuk ke seberang sekolah.

Tiada angin, tiada hujan matahari pun bersinar begitu mengkilau.

Tiba-tiba suara mengagetkan mereka.

“Hey, ngapain kalian di situ!”

“Bruk.”

Zela berhasil jatuh ke tanah, karena Zain tak memegang Zela dengan kuat, lantaran siswa baru tersebut kaget bukan main dengan suara tersebut.

“Ihh, Zainal!!” Zela berdiri dengan mengusap roknya.

“Ngapain kalian di situ. Terlambat?” Suara tersebut sudah ada di belakang.

“Mati kita telah ketahuan,” ucap Zela membalikkan badannya.

Wow.
Azalea banar-banar terkejut alami. Matanya melongo.

“Pak Raditya?” gumam Zela menutup mulut dengan kedua tangannya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here