Guru Killer Vs Siswi Bandel #30

0
148
views

Kata Sayang


Azalea mendekat ditempat kerumunan. Setelah melihat apa yang terjadi, ia terkejut, ternyata kakak angkatnya sudah dibrogol security.

“Tangkap saja Pak, dia maling!” teriak gadis yang tak asing untuk Zela.

“Stop! Dia bukan maling.” Zela menarik tangan Zain.

Salisa, Erina dan Desya juga ikutan melongo melihat kejadian di sana.

“Widih, Filda?” tanya Salisa kebingungan.

“Weit … weit, itukan pria bersama Zela waktu itu kan? Kok sama Filda dan di sangka maling pula?” Erina juga bingung.

Ya, gadis yang ditabrak Zain adalah Filda Angraini.

“Hey, Azalele tidak usah ikut campur urusanku. Tangkap Pak, sekalian di bawah di kantor polisi.” Filda tetap menuduh Zain maling.

“Saya bukan maling Pak, sumpah!” Zain mencoba mengelak.

Zela mendekat ke arah, musuh buyutanya. “Dia bukan maling! Tapi …”

Filda belum selesai berbicara sudah nyerocos duluan.

“Pacarmu?”

“Kalau ia memang kenapa? Sekali lagi kamu bilang dia maling. Awas urusan kita belum selesai.” Zela menatap Filda dengan tatapan sinis.

What the?

Pacar?

Ke tiga sahabatnya dan juga Filda kaget. Dih, pacaran dengan cowok cupu yang benar saja?

“Wow, daebak? Pacaran sama orang yang berpenampilan kampungan. Hello, om em jhet yang benar saja. Seorang juara olimpiade tahun 2020 ternyata pacaran dengan orang model macam ni. Ini Perfect luar biasa jika diedarkan di sosial media.” Fida tertawa puas penuh kemenangan.

“Jaga ucapanmu Fildatoge, kalau kamu membuat Zela malu. Ingat kita tidak akan diam. Dan kamu, jangan sok jagoan, sebenarnya Zela itu sudah nyelamatin nya …” Zela langsung menarik tangan Desya yang sudah mulai emosi, hampir saja ia keceplosan.

Filda penasaran dengan ucapan Desya. Ah, bodoh amat. Yang penting moment ini harus diseber luaskan ke penjuru dunia. Ternyata Zela pacaran dengan sosok yang cupu bahkan jauh dari kata tipe tampan, mapan dan tentunya berpenampilan kampungan.

Filda mengambil handpone dan menekan tombol kamera. Ia memotret Zela dan Zain yang nyaris keluar dari mall dengan berpegangan tangan.

“Soswaitt dan tentunya perfect. Kita lihat saja Zela hal ini akan mengejutkan jagat raya, dan nama baikmu akan tercoreng.” Filda tersenyum puas.

Kerumunan dalam mall, sudah bubar. Kini Zela dan kawan-kawan sudah berada dalam mobil. Zela sesekali menjitak kepala Zain.

“Astaga, Zain hari ini kamu sudah kasih malu saya!”

“Duh, itu bukan unsur kesengajaan. Tapi saya, ngga sengaja nyenggol keranjang belanjaannya dan eh, barang-barangnya berhaburan. Lagian saya sudah minta maaf.” Zain membela diri.

“Tapi biar juga kamu sudah minta maaf. Kamu tahu dia siapa?”

Zain hanya menggeleng tak tahu.

“Namanya Filda Angraini. Musuh buyutanku di sekolah.”

Mata Zain terbelalak kaget. “Wow, musuhmu? Tapi jujur dia cantik.”

Zela refleks langsung menarik telinga Zain dengan kuat.

“Duh, sakit Zela!!”

“Dasar laki-laki mata keranjang, lihat yang bening pengen nyosor,” ucap Zela emosi.

“Heheh, maaf khilaf,” imbuhnya dengan nyengir kuda.

Sedangkan ke tiga sahabat Zela hanya terdiam menyaksikan. Lalu Erina bersuara. Sebab penasaran, mereka berdua pacaran?

“Zela, kalian berdua benaran pacaran?” tanya Erina.

“Tidak,” jawab Zela.

“Membingungkan,┬átadi mengaku pacarnya. Lah, sekarang ngga diakui,” timpal Salisa.

“Ya, sorry, saya mau jelasin kekalian. Zain, ini adalah kakakku,” ucap Zela jujur.

“What! Kakakmu, bukanya kamu ngga punya kakak?” tanya Desya kaget.

“Tepatnya kakak angkatku.”

“Gimana ceritanya, Zel?” tanya Salisa penasaran.

Zela bercerita tentang awal pertemuannya dengan Zain. Dan tentunya, ia menceritakan dialah yang mendorongnya atau mengajarinya untuk belajar dan belajar. Sehingga hasilnya memuaskan dan memuaskan, bahkan bisa dapat juara olimpiade.

“MasyaAllah, luar binasa,” ucap Erina tak percaya.

“Jadi, Zain itu siswa terpintar di sekolahnya?” Desya juga tak percaya dengan cerita Zela.

“Daebak, Zain. Wonderful,” ucap Salisa mengajukan jempol ke arah Zain.

“Lah, kok malah buka rahasia, sih, Zela?” tanya Zain malu.

“Ngga apa juga kali, saya jelaskan supaya sahabat-sahabatku ngga salah paham.”

“Oh, ya, kenalan dulu dong Zain sama gengku.”

“Geng?”

“Ya, nama geng kami adalah Geng Bebas, yang artinya kami bebas melakukan apa saja, yang penting tidak menyakiti orang lain. Kren, kan geng kami?”

Zain hanya mengangguk pelan. Dan berkenalan dengan ketiga teman Zela. Usai berkenalan, mereka pulang. Zela dan Zain masuk ke mobil miliknya Zela. Dan ke tiga sahabatnya juga meluncur ke mobil Salisa.

Malam

Radit selesai memeriksa lembaran ulangan. Ia sekarang rebahan di atas ranjang sambil menekan tombol on handponenya.

Notifikasi pesan grub WA kelas 11 IPS 1 berutun masuk tak henti-hentinya.

“Ada pesan apa? Sepertinya heboh sekali,” gumam Radit.

‘berita heboh, sang juara olimpiade tahun 2020, ternyata diam-diam sudah memiliki kekasih.” Pesan utama dari WA grub di sertai dengan Vidio dan foto. Disusul juga komen-komen receh siswa lain.

Isi vidionya membuat rahang Radit mengeras. Rasanya ada yang menyelinap dalam hati. Susah untuk dijabarkan. Ternyata mereka berdua Memeng benaran pacaran?

“Tenang Radit. Emang kenapa kalau dia punya pacar. Ngga ada masalah. Ah, dia itu cuma siswa. Oke, satu kali dia cuma siswa,” ucap Radit sembari memukul kepalanya pelan.

Di sekolah

Pagi-pagi di sekolah sudah heboh dengan berita hoaks yang disebarkan Filda. Baik di Instagram, grub-grub Wa di sekolah maupun media sosial lainya.

“Wah, ternyata Azalea sudah punya pacar. Tapi wajah pacarnya ngga jelas. Penasaran,” celetuk siswa-siswa yang lagi menonton Vidio.

“Astaga! Benar saja artis sekolah sudah punya pacar?” Siswa-siswa pada heboh dengan berita tersebut.

Azalea kaget bukan main setelah melihat Vidio sudah menyebar disentoro sekolah. Pasti kambing hitamnya adalah Filda.

Siswa-siswi banyak yang bertanya tentang hal tersebut, namun Zela dengan cepat berlari menuju kelas.

“Filda! Kamu keterlaluan kenapa coba menyebarkan berita hoaks seperti ini!” teriak Zela menahan emosi.

“Emang sudah kenyataanya. Bukanya itu adalah pengakuanku sendiri,” ucap Filda santai.

“Hapus Vidio itu. Hapus!”

“Dia bukan pacarnya, tapi kakaknya!” teriak Erina diambang pintu.

“Hapus Vidio hoaks itu? Atau saya juga akan merusak nama baikmu. Bisa saja Geng Bebas merusak nama Filda Angrani menjadi kenangan sejarah terburuk di sekolah SMA Garuda.” Salisa angkat bicara dengan nada menahan emosi.

“Jangan macam-macam kalian. Sebelum nama baikku tercoreng. Kalian semua abis!” Filda tak mau mengalah.

“Terbaring terbujur kaku tak berdaya. Hampir nyawanya melayang. Namun ada seseorang yang berhati malaikat datang menolong. Darah yang mengalir di tubuh sudah dinikmati dengan sehat. Akan tetapi balasannyaa sungguh tidak sesuai dengan harapan.” Desya berjalan ke arah Filda dengan kata-kata menyindir.

“Maksudnya?” tanya Filda bingung.

“Hapus Vidionya, dan klarifikasi semuanya bahwa itu adalah berita hoaks. Dasar generasi micin, tahunya suka nyebarin hoaks,” ucap Erina kesal.

“Dan kamu, harus tahu bahwa Zela itu sudah menolongmu …”

Zela languang menarik tangan Desya, ia pasti akan membakar rahasia. Zela tak mau ia, tahu bahwa Zela sudah mendonorkan darah untuk Filda. Biar hal tersebut menjadi rahasia, tanpa diketahui siapapun selain sahabatnya.

“Tolong jangan bicara apapun sama Filda,” bisik Zela.

“Tapi, kalau ngga dibilang, pasti dia akan menyebar hoaks terus, Zela,” balas Desya ingin meledak marah.

Bel masuk sudah berbunyi, itu tandanya berati mata pelajaran pertama akan berlangsung. Jam pertama untuk hari ini adalah matematika.

Guru matematika masuk ke dalam ruangan. Selesai mengabsen Pak Radit berdiri di depan kelas. Tatapannya tertuju di kursi bagian ke tiga yang berdampingan dengan tembok.

Sementara yang dilihat hanya tertunduk menahan malu, pasti berita hoaks itu ia sudah tahu. Sehingga mantan guru privatnya itu menatapnya dengan tatapan tajam.

“Oke, kita lanjut ya, hari ini kita sudah sampai di bagian Fungsi Linear.” Radit langsung mengalihkan pandangannya dan langsung masuk inti pokok pembelajaran.

“Siapa yang bisa menjelaskan pengertian Linear?”

Azalea angkat tangan di susul Filda. Namun yang ditunjuk Radit malah Filda.

“Silahkan Filda Angraini dijelaskan!”

“Lah, yang angkat tangan duluan kan, saya kok, malah Filda yang jelasin,” gumam Zela kesal dan bibirnya manyun.

“Linear adalah hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainya. Dan fungsi linear adalah fungsi yang variabelnya berpangkat satu atau satu fungsi yang grafiknya berupa garis lurus.” Filda menjelaskan dengan benar, jelas dan padat.

“Ya, bagus sekali. Berikan aplos untuk Filda,” ucap Radit, dan melirik Zela sebentar.

Zela menatap sang guru dengan tatapan sinis.

“Selanjutnya, rumus fungsi linear, siapa yang bisa sebutkan.” Radit lontarkan pertanyaan lagi. Membuat Zela berusaha untuk angkat tangan untuk yang kedua kalinya. Namun sayang, Radit mengabaikannya lagi.

“Saya, Pak!” seru Zela angkat tangan.

“Restiana Dewi, silahkan!” Lagi-lagi Radit menujuk yang lain, sedangkan Zela sudah menahan emosi, ingin menabok gurunya itu.

Hufff, menjengkelkan!!!

“f : x —> mx + atau f (x) = mx + c atau y = mx + c dengan gradien m dan konstanta c.” Rasti menjawab dengan benar.

“Ya, bagus sekali. Sekarang perhatikan ya,” ucap Radit menjelaskan dan menulis contoh soal di papan.

Usai mata pelajaran matematika Zela, mengejar Radit yang sudah keluar dari ruangan.

“Pak Radit tunggu!” teriak Zela mendekati Radit.

“Ngga sopan,” ucap Radit ketus.

“Pak Radit, kenapa cuekin Zela?” ucap Zela manyun.

“Tauh, ah, cari tahu sendiri.” Radit berlalu tanpa menghiraukan Zela.

Zela semakin pusing melihat tingkah gurunya. Sudah pasti alasanya vidio itu. Duh, kenapa jadi begini?.

….

Pulang sekolah

Semua siswa-siswi sudah keluar dari pekarangan sekolah. Namun, tidak dengan Zela, ia malah duduk melamun di kursinya. Sudah pusing dengan penyebaran hoaks. Eh, sekarang ditambah lagi dengan sikap Radit yang cueknya luar biasa.

“Zela kenapa? Yuk pulang!” ajak Erina.

“Kalian duluan gays, saya ada sedikit urusan,” balas Zela.

“Oke, kalau gitu kita duluan yaa.” Desya melambaikan tangannya keluar dari ruangan dan disusul oleh Erina dan Salisa.

Dengan langka malas-malasan Zela keluar dari ruangan. Mengingat sikap Radit yang mulai cuek. Apalagi tadi di kelas, setiap ingin menjawab tetapi selalu dikacangin. Padahal sudah angkat tangan. Namun entah, Pak Guru ngga melirik Zela.

Berjalan menuju pintu gerbang, hari ini ia datang tanpa membawa mobil, karena tadi diantar oleh supir pribadi.

Mengambil kaleng minuman bersoda dari dalam tas, minuman yang ia beli di warung sekolah belum di minum. Siang ini, memang sinar matahari terasa terik, sehingga menyebabkan tenggorokan terasa haus.

Satu dua tegukan minuman kaleng tersebut ia minimu langsung dibuang ke arah depan. Karena masalah di kelas tadi Masi terputar jelas di memorinya.

“Menjengkelkan memang!” teriak Zela sambil membuang kaleng minumannya dengan sekuat tenaga lantaran kesal.

“Buk”

Kaleng minuman mengenai kepala seseorang.

“Astaga naga di telaga, mampus kena orang,” ucap Zela sembari menepuk jidatnya.

“Astagfirullah,┬ásiapa yang berani lemparin kaleng minuman?”

“Hey, siapa yang membuang kaleng?!”

“Duh, ternyata kena kepala Pak Radit.” Zela berjalan menutup mukanya dengan buku cetak.

“Hum, ternyata kerjaan di Zela.” Radit mengambil buku cetak milik Zela, pada saat ia sudah lewat di depannya.

“Sengaja?” tanya Radit.

“He, emang ada apaan?” tanya Zela pura-pura tidak tahu.

“Jangan pura-pura, pasti kamu kan, yang lemparin kaleng ini,” ucap Radit.

“Oke, emang saya pelakunya. Habis Pak Radit menjengkelkan, menyebalkan, sok cuek bahkan dikacangin.” Zela mengeluarkan unek-unek yang dari ia tahan.

“Bahkan, di kelas ngga dianggap. Sakit tahu Pak, sakitnya thu di sini.” Zela merajuk sambil menunjuk dadanya.

“Saya tahu, Pak Guru lagi marah sama Zela kan? Pasti gegara Vidio itu. Vidio itu hoaks Pak. Hanya hoaks!” teriak Zela karena dari tadi ia bicara tidak ditanggapi.

“Kalau itu memang benaran atau hoaks. Apa kaitannya dengan saya, harus marah gitu,” ucap Radit santai membuat Zela semakin emosi.

“Ih, Pak Guru! Membosanka, tadi di kelas di cuekin, sekarang saya tak dianggap.”

Zela menangis, lalu membuka kalung di lehernya dan benda putih itu diberikan ke tangan Radit.

“Kalau Pak Guru cuekin Zela, meningan kalungnya saya kembalikan.”

Zela tanpa basa-basi ia langsung berlari keluar dari sekolah.

“Zela tunggu!”

Radi berlari menuju parkiran lalu menyusul Zela.

“Ah, dasar boca,” gumamnya.

Zela berjalan di pinggir jalan dengan menggerakkan kakinya dengan penuh kekesalan.

“Dasar Pak Somlact ngga ada perasaan,” gerutu Zela.

“Hey, Zela tunggu!”

“Pak Radit ngga usah panggil Zela lagi.”

“Zela, tunggu.” Radit mencoba meraih tangan Zela yang berlari.

Duh, kayak pasangan suami istri yang lagi marahan saja.

“Zela, oke saya minta maaf.” Radit menghadang Zela dengan merentangkan tangannya.

“Ih, Pak Guru minggir!!”

“Lepasin tangan Zela. Pak Guru ngga punya perasaan.” Zela mulai menangis.

“Hum, saya minta maaf.”

“Ngga mampan.’

“Terus?” tanya Radit mengerutkan dahinya.

“Tahu, ah, bodoh amat,” ucap Zela melangkah pergi meninggalkan Radit.

“Zela saya sayang kamu!” ucap Radit.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here