Guru Killer Vs Siswi Bandel #24

0
82
views

Muhasabah Cinta dan Sebuah Hadiah


Radit langsung pergi menuju mobilnya, tanpa menghiraukan Zela yang dari tadi memanggilnya. Pura-pura tuli atau tak mendengar mungkin lebih baik. Hatinya sudah terlanjur panas setelah menyaksikan gadis itu, memeluk pria lain.

Azalea hanya bisa memandang mobil warna hitam melaju sedang. Kenapa sikap Radit sekarang sudah terasa dingin? Lebih baik dibentak atau diomeli daripada dicuekin. Bahkan ucapan selamat pun, enggan ia ucapkan. Sebenarnya dia kenapa?

“Hey, kok sekarang melamun?”
Zain yang dari tadi hanya bisa menerka bahwa pria yang baru saja beradu tatap tadi adalah sang guru yang ia ceritakan. Terlihat dari penampilannya yang memakai seragam guru.
“Tadi gurumu, ya?” tanya Zain lagi.

“Humm.” Zela hanya mengangguk pelan.
Erina, Salisa dan Desya, terkesima melihat Zela ada seorang pria. Mereka terkejut, apa yang terjadi? Setelah menghilang satu Minggu sudah dapat pacar atau sahabat baru.
“Desya! Erina! Salisa! Apa kabar guys.” Zela berlari ke arah ke tiga sahabatnya, dan ingin memeluk mereka, namun mereka malah menghindar.

“Kalian kenapa?” tanya Zela bingung dengan sikap ke tiga sahabatnya.
“Satu Minggu menghilang tanpa ada kabar. Tiba-tiba pulang bawah teman baru. Atau jangan-jangan cowo itu pacarmu?” ucap Erina menyindir sembari matanya menatap pria yang berdiri di belakang Zela.
“Saya telpon, WA, SMS, semua media sosial kamu saya stalking, tetapi nihil tidak ada kabar. Sahabat macam apa kamu,” ucap Salisa dengan tatapan sinis.

“Saya bingung, Zel, mungkin kamu sudah bosan bersahabat dengan kami. Katanya kita sahabat selamanya, tak akan terpisahkan, jika ada salah satu diantara kita ada yang pergi jauh harus memberi kabar. Tapi kenapa malah kamu yang langgar?” Desya sepertinya merasa kecewa.

Zela hanya bisa mendengarkan ungkapan sahabat-sahabatnya, ia tahu bahwa dirinya memang salah tidak memberi kabar. Seharusnya disela-sela kesibukannya mengabari ke tiga temanya.

Libur satu Minggu di kampung Oma, hanya menghabiskan waktunya belajar dan belajar. Zain tak memperbolehkan memegang handpone. Sebab ia harus sungguh-sungguh belajar. Jadi, Azalea tak sempat untuk mengotak-atik handponenya.

“Maaf ya, bukannya saya tak mau mengabari kalian, saya lagi sibuk.” Zela mencoba ingin menjelaskan namun Erina secepatnya berbicara.
“Sibuk dengan teman barumu atau pacaramu itu,” ucap Erina menunjuk Zain.
Zain hanya bingung menatap ke tiga teman Zela saling bergantian.
“Sudah deh, saya mau pulang duluan.” Salisa melangkah kakinya pergi.
“Sal, maaf. Saya bisa jelaskan dia bukan siapa-siapa. Dia …”

“Walaupun dia bukan siapa-siapa. Tapi kan bisa kasih kabar kami Zela. Meski hanya sekedar SMS doang! Kali ini saya benar-benar kecewa sama kamu!” Salisa pergi menuju mobil.
“Erina! Desya! saya mohon dengarin dulu, please!” teriak  Zela menangis.
Ke tiga sahabatnya pergi.

“Zela, itu teman-temanmu?” tanya Zain.
“Iya, tapi mereka kecewa sama saya, karena saya tidak mengabari mereka, pada saat di kampung.” Zela menangis.
Zain merasa bersalah, karena memang dialah yang mencegah Zela pada saat menyentuh handpone.
“Zela, maafin saya ya, ini semua gara-gara saya. Sahabat-sahabatmu kecewa,” ucap Zain merasa bersalah.
“Ngga apa-apa, Za seharusnya sebelum  tidur saya kabari mereka.”

Sesampainya di rumah Zela dan Zain, disambut dengan meriah. Orang tuanya sangat bangga. Apalagi sang Oma, ia langsung memeluk cucunya. Terharu, itulah yang mereka rasakan saat ini. Anak yang bandel, sudah lima kali pindah sekolah karena selalu membuat rusuh.

“Saya ngga nyangka, Zela mengingatkanku dengan ibunya.” Oma langsung memeluk cucunya dengan haru.
“Zela, Ayah juga ikut bangga Nak.” Arman mengusap kepala Zela.
“Eh, Zain apa kabar Nak? Makasih ya, sudah buat Zela pintar,” ucap Arman tersenyum ke arah pria yang mengenakan kacamata itu.

“Hehe, sebenarnya Zela memang pintar Pa, hanya saja dia malas saja untuk belajar,” jawab Zainal terkekeh.
“Ya, sudah, saya ke kamar dulu ya.” Zela berpamitan lalu menuju lantai dua.

Merebahkan tubuh di atas tempat tidur, lalu menatap langit-langit kamar dengan nanar. Mengingat sikap Radit, yang entah kenapa tiba-tiba cuek. Gadis itu hanya bisa termenung. Apalagi ke tiga sahabatnya ikutan kecewa.
Meraih handpone di atas nakas lalu menelpon teman-temanya, namun sayang tidak ada yang angkat.
Pada saat ada kebahagian, ternyata ada juga kesedihan. Merasa terharu dan bangga, namun adakalanya juga rasa resah harus datang menghampiri.

Dipandang berbuat salah, oleh sahabat, akan tetapi tak mau mendengarkan penjelasan. Hal tersebut akan menimbulkan kesalah pahaman. Ingin dijelaskan secara mendetail tetapi mereka tak mau mendengar. Kata maaf saja mereka tak bisa diterima. Gadis itu benar-benar bingung.
Seharusnya hari ini ia bahagia, tetapi rasa bahagia harus berdampingan dengan rasa sedih. Itulah hidup. Semuanya tak akan selamanya bahagia, pasti ada juga kesedihan. Jalan  ujian dan cobaan hidup manusia berbeda-beda.

Seperti biasa jika, gadis itu gundah pasti ia akan mengambil gitar lalu akan menyayikan sebuah lagu.

Muhasabah Cinta

Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Ku pasrahkan semua padaMu
Tuhan baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini ku harapkan cintamu
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung doaku
Sakit yang ku rasa biar
Jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah
Selama ini ya Illahi.

Dari arah pintu langsung terdengar tepuk tangan yang meriah. Siapa lagi kalau bukan Zain.

“Wow, sudah juara olimpiade. Eh, ternyata suaranya juga juara.” Zain memuji Zela.
“Ah, biasa saja. Sejak kapan kamu di situ?” tanya Zela.
“Tahun tempo doloe-loe.”
“Kebiasaan deh, becanda Mulu!”

Malam

Malam yang penuh bintang, diterangi oleh rembulan. Pak kepsek dan anaknya datang bertamu ke rumah Arman.
“Assalamualaikum.” Radit mengucapkan salam
Penghuni rumah, Diana datang membuka pintu.
“Silahkan masuk, Pak.”

Semua di ruang tamu pada ramai. Namun, Zela dan Zain tidak ada di sana.
“Eh, bro apa kabar?” sapa Rusdi memeluk sahabatnya.
“Alhamdulillah, baik,” jawab Arman.

“Wah, saya tak menyangka anak kamu hebat sekali. Kami kira dia tak akan berubah dengan kebandelanya. Eh,  pas berubah, wow luar biasa.” Puji Rusdi bangga.

“Alhamdulillah, saya juga heran dengan Azalea. Kok, langsung berubah 180°,” timpal Oma Lidya.
Radit dari tadi mencari sosok Zela, namun diantara mereka tidak ada di ruang tamu.
“Astaga, ini nak Radit to? Sekarang sudah jadi lelaki tampan!” Oma Lidya heboh pada saat melihat pria tampan berpakaian formal yang duduk berdampingan dengan sang ayah.

Radit langsung bersalaman dengan Oma Lidya dan tersenyum ramah.
“Saya masih ingat,  dulu Zena sering gendong Radit pada saat bayi. Katanya dia bilang kalau seandainya, ia punya anak perempuan akan di jodohkan sama Radit.”

Deng
What?
Radit langsung terkejut dengan ucapan ibu paru baya tersebut. Masa iya?
“Semoga jodoh,” gumam Radit dalam hati.
“Woy, Zain! Awas kamu saya timpuk kamu dengan gerobak. Kembalikan itu  skincare milikku!” teriak Zela dari atas tangga.

Sedangkan Zain sudah berada di bawah tangga menuju ruang tamu.
“Ambil satu. Saya mau pengen putih!” teriak Zain sembari berlari.
Zain dan Zela saling berlarian, sesekali Zela menarik baju kaos Zain. Mereka tak sadar bahwa banyak mata melihat tingkah mereka.

“Zain! Kamu mau jadi cewe apa?!”
“Blee! Ngga kena!” Zain menggoyangkan tubuhnya meledek Zela.
Jangan tanya bagaimana perasaan Radit sekarang. Panas ingin meledak. Rasanya seperti terbakar api. Apa apa? Cemburu? Entah. Sang guru itu mukanya mulai memerah.

Tadi saling berpelukan di studio. Lah, sekarang melihat mereka kejar-kejaran seperti anak kecil. Duh, hati Radit sekarang teraduk-aduk kembali.

Tadi senyam-senyum sendiri karena ucapan Oma Lidiya, tetapi sekarang wajahnya berubah jadi murung.
“Zela! Zain! Kalian kenapa? Ini ada tamu lho. Kepsek dan gurumu Zela, sini.” Diana memanggil ke dua anak itu.
Seketika mata Zela terbelalak kaget. Ia baru sadar ternyata ada Radit. Zela menutup mukanya malu menuju sofa.
“Kalian kenapa lari-lari kayak gitu?” tanya Arman.

“Ma-maaf Pa,” ucap Zain hanya nyengir kuda. Lalu duduk di samping Oma.
Sementara Zela hanya menunduk malu.

“Heh, cium tangan kepala sekolah dan gurumu,” bisik ayahnya.
Mata Zela membulat menatap ayahnya. ” Ah, malu Yah.”
“Ngga sopan Zela, mereka gurumu!”

Zela dengan berat hati berdiri menuju kepsek. Dan mengulurkan tangannya.
“Assalamualaikum, Pak,” sapa Zela menghilangkan groginya.
“Wa’alaikumssalam. Selamat ya, Nak. Kamu is the best. Pertahankan,” ucap Rusdi.
“Iya, Pak.”

Beralih ke Radit, Zela tak berani menatap wajah sang guru. Sebab ia mengingat pada saat di studio tadi siang ia tak menegurnya.

“Pa- Pa- Pak Guru apa kabar?” tanya Zela dengan terbata-bata. Grogi oy.
“Baik,” jawabnya dingin sembari membalas uluran tangan siswinya.

Gadis itu tanpa malu, langsung duduk di samping gurunya walaupun hatinya sebenarnya Dedeng ser. Karena ingin mempertanyakan masalah perkara tadi siang. Kenapa langsung nyolonong pergi tanpa ada tegur sapa. Jadi siswi itu harus berani. Wah, sepertinya Zela mulai jahil lagi ni.

“Pak saya mau tanya tadi Pak Guru kenapa? Marah sama Zela?” bisik Zela.
“Ngga, saya lagi terbakar api tanpa asap,” balas Radit dengan nada kesal.
“Owh, tapi apinya sudah dipadamkan?” tanya Zela langsung berpindah duduk di samping ayahnya.
Usai megucapkan selamat dan bercerita ria. Rusdi dan anaknya pamit pulang.

Mobil Rusdi sudah melaju. Kini tinggal Radit yang belum keluar dari pekarang rumah, ia masih menatlisir hatinya yang agak sedikit tergores.

“Pak Guru tunggu!” panggil Zela.
“Iya, ada apa?” tanya Radit membalikkan badannya menatap Zela.
“Pak guru benaran marah sama saya?” tanya Zela memastikan.
“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tapi kenapa cuekin Zela.”
“Oh, ya, selamat  atas juara olimpiadenya. Saya turut bangga,” ucap Radit membuka pintu mobilnya.
“Ya,” jawab Zela malas.

“Kok cuma ucapan selamat doang,”  gumam Zela dalam hati.

Radit megulurkan sebuah kota kecil ke arah Zela.
“Ini hadiah dari saya. Di jaga baik-baik. Permisi.” Radit langsung masuk mobil tanpa mendengar Zela lagi mengucapakan terimakasih. Sok cuek, kata itu mungkin yang lebih cocok untuk disematkan kepada pria tinggi itu.

“Idih, songong banget thu guru.”
Zela membuka kotak tersebut. Wow, isinya kalung dengan gantungan huruf R dan A.
“Maksudnya, apaan? R A?” tanya Zela menatap kalung tersebut dengan seksama.
“Apa jangan-jangan artinya Raditya  dan Azalea.” Tebak Zela bingung.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here