Guru Killer Vs Siswi Bandel #20

0
113
views

Tatapan Mata


Sebuah ruangan minimalis dengan cet warna putih terlihat begitu rapi. Di sana ada sebuah lemari yang berisi buku dan ada beberapa piala. Di samping lemari tersebut ada meja yang dihiasi sebuah laptop dan ada beberapa buku tebal.

Azalea mengendapkan kakinya secara perlahan memasuki ruangan berchat putih tersebut. Melihat buku-buku dengan seksama, matanya tertuju pada buku yang berwarna hijau. Ia membukanya dengan perlahan dan membaca isinya. Usai membaca betapa terkejutnya ternyata pria yang sering disebut cupu itu adalah siswa yang jenius.
“Wow, selalu mendapatkan renking pertama,” gumam Zela tak percaya.

Sekarang ia beralih ke meja. Ia mengambil sebuah map warna merah, di dalamnya ada beberapa lembaran kertas. Gadis bermata sipit itu membaca  dengan teliti.

“Hasil ulangan harian.” Zela menyeritkan dahinya. Lembaran demi lembaran ia melihat nilai yang terterah di kertas tersebut adalah nilai rata-rata ada 90, 95 dan ada beberapa nilai 100.

“Ngapain kamu masuk ke ruang belajarku?” Zain merampas kertas-kertas yang dipegang Zela.

“Zain? Maaf ini hasil ulanganmu?” tanya Zela memastikan.

Zain tanpa suara ia malah merai buku dan duduk di kursi. Pria berkacamata itu tangannya mulai menari-menari di atas kertas, sekali tangan kanannya membuka buku tebal matematika dan membaca rumus-rumus. Ia, mengerjakan salah satu tugas yaitu matematika. Dengan telaten Zain menulis angka-angka sedangkan Zela hanya memperhatikan dengan bingung.

“Ngapain?” tanya Zela yang duduk di samping Zain. Dari tadi ia hanya melihat pria di sampingnya dengan tatapan bergantin yakni melihat menulis dan menatap wajahnya.
“Jangan banyak nanya, saya lagi sibuk kerjakan tugasku. Sana keluar.”
“Lah, sombong banget, mentang-mentang kamu pintar, lalu kamu mengusirku. Ingat! Ini rumah Omaku,” tegas Zela malah melotot.

“Tapi saya ini lagi kerja tugas. Tolong jangan diganggu.”
“Emang tugas apaan?”

“Ah, sudah deh, jangan ganggu. Saya ni lagi butuh konsentrasi. Oke,” ucap Zain tanpa menoleh ke arah Zela. Ia sibuk mengerjakan tugas.

“Meningan kamu tidur! Sudah malam ini, jangan bagadang,” lanjut lagi Zain.
Usai mengerjakan tugasnya, Zain merentangkan tangannya. Ternyata tak disengaja Zain menyentuh pipi Zela yang sudah terlelap tidur di atas meja.

“Astaga, ternyata dia belum pergi,” gumam Zain.
“Hey, bangung!” Zain menepuk-nepuk pipi Zela.
“Astaga, saya ketiduran?”
“Hum, lihat ilermu berantakan dimana-mana.”
Zela mengusap wajahnya, lalu menatap Zain dengan tatapan serius.
“Ngapain natap saya kayak gitu?”
“Zain, saya bisa bertanya?”
“Apa?”
“Kamu termasuk siswa terpintar di sekolahmu?”
“Ngga, saya biasa-biasa saja di sekolah,” jawabnya sembari merapikan buku-bukunya dan disimpan dalam tas ransel.

“Jangan bohong, tadi saya melihat raportmu setiap semester kamu dapat ranking.” Zela menghentikan aktivitas Zain yang merapikan bukunya dan mengambil salah satu buku tulis.
“Zela kembalikan buku tugasku!”
Zela mengembalikan tubuh Zain menghadapnya. Tatapannya begitu lamat, membuat Zain kebingungan dengan tingkahnya.

“Zainal, tatap mataku!”
Zain tambah bingung dengan tingkah gadis yang belum lama dikenalnya itu. Ada apa tiba-tiba ingin ditatap matanya.

“Tatap mataku Zain!” Teriaknya.
“Ada apa? Kamu lagi stres atau kamu lagi salah minum obat?!” Zain berteriak balik, lalu melangkah ingin keluar. Namun tangan Zain ditarik.

“Zain tolong tatap mataku!”
Hati Zain berdetak kencang kalah menatap Zela. Pria itu menelan saliva dengan susah paya. Tatapannya beradu dengan Zela. Atas permintaanya Zain membuka kacamatanya lalu menatap bola mata coklat milik Zela.
Keduanya saling bertatapan.

“Zainal bolehkah kamu mengajari saya sebelum saya pulang ke kota?” tanya Zela dengan serius.
Zain langsung mengalihkan pandangnya ke langit-langit ruangan. Dikiranya ia akan mengatakan cinta, seperti di film-film atau sinetron. Namun nyatanya hanya meminta tolong saja. Ah, para memang. Mana mungkin ada wanita yang jatuh cinta padanya.

Salah tingkah pada saat menatap matanya dan mengumpulkan keberanian demi untuk menatapnya jiwa lelaki itu merasa ciut, karena baru pertama menatap mata wanita dengan dalih disuruh oleh sang wanita tersebut.
“Ke-kenapa harus minta tolong diajari. Memang mau diajari tentang apa?” tanya Zain terbata-bata, yang dari tadi sudah berpindah jauh dari hadapan Zela. Ia mengambil buku di lemari lalu membuka lembaran buku tebal itu.

“Saya ingin kamu mengajari saya matematika. Bukanya kemarin kamu sudah bilang padaku ingin mengembalikan nama baikku di sekolah?”
“Tapi, bukan bararti saya yang harus mengajarimu. Saya bukan guru. Saya masih siswa yang belum pantas mengajari siapapun.”

“Zainal, saya tahu, tapi tolong ajari saya matematika. Please.”
“Apa jaminannya?”
“Hah, harus ada jaminan?
“Ya,” jawabnya santai.
“Emang jaminan apa?”
“Sempainnya di kota kamu harus rajin belajar. Kamu usahakan nilaimu harus tinggi terutama untuk pelajaran matematika. Jangan kasih kecewa saya. Dan harus ingat kamu harus belajar dengan serius.”

Zain berbicara serius, karena ia tahu bahwa dia adalah siswi yang paling bandel di sekolahnya. Hal tersebut ia ketahui dari Oma. Dan itu memang sudah menjadi target awal dan akhirnya berhasil. Semoga Zela bisa belajar dengan baik, tidak seperti pada saat dengan Pak Radit yang sering ia menggombal.

Azalea baru kali ini serius ingin belajar. Ia ingin membuktikan sama orang-orang yang sudah meremehkannya.
“Oke, kalau itu tenang saja.”

“Ya, besok sepulang dari sekolah kita mulai belajar. Siap-siap. Namun ada beberapa soal yang harus kamu kerjakan serta rumus yang barus kamu ketahui diluar kepala.” Zain mengambil kertas yang sudah tertulis tiga soal.
“Hah! Kok langsung diberi soal sih? Kan besok baru mulai belajar? Dan harus menghafal rumus gitu.”
“Iya, itu sebagai tahap awalnya dan memang rumus adalah kunci dari matematika. Di sini kamu tinggal empat hari. Maka dari itu kamu harus serius belajar.” Zain memberikan buku cetak matematka tebal dan lembaran soal.
“Selamat mengerjakan, semoga berhasil.” Zain tersenyum lalu pergi.

Zela melihat tiga soal yang tertera di kertas, lalu berpikir sejenak. Melihat jam tangan ternyata  sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Matanya tak bisa terpejam. Ia tak bisa tidur, dengan sigap duduk di meja dan meraih pena. Membuka buku tebal dan melihat rumus-rumus yang sudah ditulis Zain. Ia mulai mengambil kertas lalu menuliskan angka-angka dengan serius. Mencocokan jawabnya apakah yang ia tulis tersebut sudah benar atau belum.

Gadis yang notabennya bandel itu, sebenarnya pintar karena dengan egonya sendiri ia ingin menjadi anak bandel. Ia tak mau belajar dengan baik dan tak mau mendengarkan arahan atau nasehat dari gurunya. Menurutnya karena tidak ada lagi yang sayang padanya. Ayah lebih menyayangi ibu tiri dan anaknya sehingga membuat Zela semakin bandel. Ia mencari perhatian dengan jalan seperti itu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here