Guru Killer Vs Siswi Bandel #18

0
88
views

Rindu


“Saya mau tanya Oma? Sejak kapan Oma punya cucu baru kayak orang ngga waras kayak gitu? Perasaan cucu Oma hanya saya? Tidak ada yang lain?” tanya Zela di malam hari. Mereka bertiga lagi duduk santai di ruang tamu.
“Eh, jangan salah cucu Oma yang satu ini sangat baik orangnya. Jangan di panggil orang ngga waras dong.

Namanya Zainal. Tapi Oma panggil dengan sebutan Zain. Keren kan.” Wanita berpenampilan gaul itu, memuji cucunya Zain, sehingga membuat Zela menatap Zain dengan tatapan tak suka.

“Huff, menjengkelkan. Ceritakan awal mula, Oma ketemu dengan Si semprul itu dimana?” Zela tak puas rasanya jika Zein langsung diangkat menjadi cucu, kalau belum tahu asal mulanya. Secara anak Oma hanya ibunya seorang. Nah, pertanyanya si semprul satu itu anak siapa?

“Owh itu panjang ceritanya sayang.”

Oma bercerita tentang Zain.

Setahun yang lalu, sang pekerja di kebun padi  yang bernama Pardi, sakit-sakitan lalu meninggal dunia, dan istrinya memang lebih dulu  sudah tiada. Pardi mempunyai anak lelaki, yang bernama Zainal. Anak lelaki tersebut selalu membantu ayahnya di ladang sepulang dari sekolah. Sepeninggalan ayahnya Zain hidup sebatang kara, tak ada sanak saudaranya. Ya, saudara-saudara yang lain, kebanyakan pada merantau.

Suatu hari Zain, meminta izin untuk kerja di kebun milik Oma Lidiya. Dan tentunya ia putus sekolah, karena tak mungkin lagi meneruskan cita-citanya, sementara hidupnya tak mempunyai orang tua lagi. Zain mulai putus asa. Namun kebaikan wanita paru baya tersebut, Zain mulai sekolah. Ia berjanji akan menjaga dan menyayangi Oma seperti ibunya. Zain mulai menata hidupnya dari keterpurukan. Berjanji pada dirinya ia akan mengejar cita-citanya menjadi tentara.

Sekian berjalannya waktu, Oma terketuk hatinya untuk menganggap anak yatim piatu itu, sebagai cucunya. Selain ia pintar dan cerdas, anaknya lucu dan menggemaskan. Bukan cuma itu, ia mengingatkan pada mediang adik Zena yang dulu meninggal karena kecelakaan.

Seorang anak laki-laki yang berumur 17 tahun. Pulang dari sekolah mengendarai motor. Kronologis terjadinya kecelakaan tersebut karena ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Sehingga motor milik Zefan, anak Oma Lidiya tertabrak mobil.

“Astagfirullah, Oma kenapa selama ini ngga cerita ke Zela. Kalau mama mempunya adik?” Zela bertanya tak percaya jika sebenarnya ia memiliki saudara. Namun, ia diambil lebih awal oleh Sang Maha Pencipta.
“Dan kenapa dia mengalami hal yang sama dengan bunda, yaitu dengan jalan kecelakaan.” Menangis dengan air mata tanpa jedah. Peritiwa yang sangat menyakitkan.

“Mungkin sudah jalan takdirnya, Nak.” Oma memeluk Zela.

Sementara Zein hanya terdiam menunduk. Harus berkata apa? Jika waktu bisa diputar kembali ia lebih memili hidup bersama kedua orang tuanya dalam keadaan duka, suka maupun duka. Namun, bayangan itu hanya berlatar belakang sebagai cerita. Sekarang yang ia lakukan hanya berdoa untuk mereka.

Dua hari kemudian

Berdiri dengan merentangkan tangan di pagi hari membuat hati terasa nyaman. Apalagi berdiri dipinggir pantai menyaksikan deru ombak yang penuh panorama yang menyejukkan hati. Suasana hati yang rindu menembus ke dalam qalbu. Rasanya tak mungkin langsung digapai dengan butir-butir cinta yang harus menunggu sampai kapan. Cinta kata orang tumbuh karna telah terbiasa. Namun, mungkinkah cinta itu akan selalu ada untuk selamanya?.

Azalea hari ini, telah berkunjung ke pantai. Ditemani oleh sang pria macho yang sering dipanggil si cupu atau si semprul kelas kakap karena tingkah lakunnya yang sangat menyebalkan dan menjengkelkan.

Kenapa dipanggil cupu? Karena terlihat dari penampilannya. Contohnya hari Sabtu ia berangkat ke sekolah berpenampilan dengan rambut disisir  dan pake kacamata. Terlihat sangat rapi, namun terkesan cupu. Jika dibandingkan dengan bersekolah di kota anak tersebut akan jadi bahan bullying.

“Azila! Yuk gabung!” teriak Zain yang lagi mendayung menaiki sampan kecil.
“Woy, kamu tulih kha? Namaku bukan Azila! Tetapi A-z-a-l-e-a!” balasnya dengan mengeja namanya. Enak saja namanya diubah-ubah. Emang dasar si semprul.

“Terserah saya dong. Lagian mulutku yang bicara! Bleee!” teriak Zain sambil menjulurkan lidanya, mengejek Zela.

Zela emosi rasanya ingin mengulek pria yang ada di laut sana. Menenggelamkannya.
Menaiki sampan bersama anak-anak mungkin lebih baik untuk mengejar Zain. Zela tak kehabisan akal. Ia akan mengejar Zain agar dia tidak selalu mengejeknya.

“Ayo kita berlomba, Azila? Siapa yang lebih dulu berdayung sampai dipermukaan laut!” Zain berseru ria menantang Zela untuk berlomba menaiki sampan.

“Ayo, siapa takut! Adik-adik dayung perahunya kita kalahkan Zain!” Zela tak mau mengalah. Rombongannya dengan cepat mendayung melaju.

Beberapa menit kemudian sampan Zein lebih terdepan. Pria itu Memeng sudah terbiasa memainkan benda yang terbuat dari kayu tersebut. Sesekali meledek rombogan perahu Zela yang memang dihuni empat orang.
“Aduh cepatan dong adik-adik, kita mau kalah ini.” Zela sudah mulai panik. Karena Zain sudah hampir mendekati permukaan laut.

“Hose, saya yang menang!” teriak Zain dengan penuh semangat.

Zela menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan secara perlahan. Zela menutup wajahnya dengan malu. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya kedalam laut.
“Astaga! Kak Zela tenggelam!!” teriak salah satu penghuni sampan.

Zain melihat kejadian tersebut, ia langsung menjenuhkan dirinya menolong Zela.

“Ya, ampun gimana ini, Zela pingsan lagi. Cepat carikan dulu Aqua!” teriak Zein panik bukan main.
Zain menepuk pipi Zela, namun tak kunjung bangun.

“Biasanya, kalau lagi pingsan karna tenggelam harus dikasih cium buatan,” celetuk seorang ibu-ibu yang ikutan nimbrung.

“Masa iya?”

Zela ingin menyudahi dramanya, namun rasanya ingin membuat Zain merasa bersalah dulu. Jangan macam-macam dengannya Zain. Dia itu memilik banyak beribu akal untuk mengelabuimu. Tawanya disembunyikan begitu rapi didalam hati.

“Rasain kamu, jangan coba-coba melawanku.”
“Gimana ni, belum sadar juga.” Sudah hampir satu jam duduk bersimpu di bawah pohon, namun Zela tak kunjung sadar.

“Apa harus dikasih nafas buatan saja. Daripada dia mati. Adohhh bahaya,” gumamnya, tetapi Zela mendengarnya.
“Hum, jangan macam-macam Zain! Saya bunuh kamu, kalau kamu main nyosor-nyosor!” batin Zela bergidik ngeri.
Zain mendekat, sementara hatinya hampir copot keluar dari tempatnya. Menghitung angka dari satu sampai tiga. Namun apa yang terjadi?

“Woy, dasar semprul!”
Zela melotot terbangun, membuat Zain melompat dan terjungkal kaget dari duduknya.
“Ngapan kamu? Saya aduim ke Oma lho!”
Zain hanya terdiam, mungkin karena efek kaget.

“Astagfirullah.” Mengucapka istighfar tiga kali dalam hati untuk menatlisir rasa kagetnya.
“Maaf, tadi kamu pingsan,” ucap Zein menunduk.

Seketika Zela tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Zain yang sudah mulai malu.
“Hahaha, kena prank!” teriak Zela disertai dengan tepuk tangan yang meria. Zain melongo terkejut, what prank?
“Ha? Jadi kamu pura-pura tenggelam? Dan tadi kamu tahu pembicaraanku,” tanya Zain dengan wajah ekspresi bingung.

“Ho’oh, kemarin kamu hapir buat saya mau gila! Jadi pembalasanku hari ini terbalaskan. Saya ingin tertawa puas.”

Tanpa ada kata Zain langsung berlari menahan malu.

Radit berdiri termenung di balkon lantai dua. Sepi, mungkin itu yang ia rasakan. Entah kenapa? Sepulang dari rumah Zela tadi siang hatinya merasa tak senang.

Pemandangan indah di malam hari, lampu-lapu mobil dan semacamnya di jalan raya begitu menambah suasa kota semakin ramai. Menatap ke bawah dengan tatapan kosong membuat pria itu kurang fokus dengan jalan pikirannya.
“Apa kabar, Zela? Kenapa kalau kamu pergi ngga bilang. Maafin saya selama ini sudah membentakmu.” Radit berdesis frustasi.

Mengingat kenangan-kenangan tempo hari dengan gombalan-gombalan recehnya, rasanya ingin kembali kemasa itu. Namun, hal itu tak mungkin terjadi lagi.

Menggelengkan kepala, agar pikirannya tak bercabang. Sejak kapan ia memikirkan siswi bandel itu? Ah, hatinya mungkin sudah tak berfungsi secara normal lagi.

Memandang ke langit dengan menatap bulan yang dihiasi taburan bintang membuat hati terasa tenang.
“Andaikan bulan biasa menyampaikan satu kata rindu untuknya. Katakanlah padanya bahwa aku merindukan kehadirannya. Walaupun tak mungkin hidup bersamanya.”

Sementara Zela menyandarkan tubuhnya dibawa pohon rindang di depan rumah. Matanya memandang ke atas langit. Sunyi, walaupun seharian tadi ia bermain dan tertawa lepas, namun entah kenapa malam ini terasa sepi, sunyi dan hampa.

“Bintang, seandainya dia tahu, aku rindu? Apakah dia merasakannya juga? Aku berharap dia baik-baik saja di sana. Aku rindu kebersamaan kita. Semoga sehat selalu.”

***

 

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here