Guru Killer Vs Siswi Bandel #17

0
120
views

Pria Cupu


Filda sudah ditangani dengan intensif. Darah yang dibutuhkan kini sudah ada. Darah yang diambil adalah darah golongan O milik Azalea.  Dengan rasa ikhlas gadis bandel itu memberikan daranya untuk teman satu ruangannya tersebut. Walaupun  mereka saling musuhan, namun hati Azalea tetap akan memberikan yang terbaik untuk orang lain. Kata bandel memang kata yang cocok untuknya, akan tetapi mungkin sudah ciri khas dirinya.

Di sekolah pasti ada berbagai jenis karakter, ada yang bandel, cerdas bahkan ada yang suka menggombal temanya ataupun gurunya. Contohnya Azalea, ia tidak belajar dengan maksimal, malah  menjahili gurunya sendiri dengan gombalan recehan yang tidak baik untuk ditiru oleh siswa lain.

Dokter telah keluar dari ruagan, dimana Filda dirawat. Wanita berseragam putih tersebut, menjelaskan kepada ibu pasiean bahwa anaknya sudah mulai membaik, akan tetapi belum pulih secara maksimal.

“Maaf ibu, sebelumnya anak ibu sering mengeluh sakit dibagian kepala?” tanya Dokter.

“Iya, Dok. Jika  selesai belajar pasti dia akan mengeluh sakit,” jawab Filma.

“Oh, berati pasien harus menjaga keseimbangan otaknya. Jangan terlalu banyak berpikir dulu. Maksudnya jika ia belajar jangan terlalu dipaksakan.”

“Pantasan Filda belajar dari pagi hingga malam. Itu pun tidurnya sudah kemalaman.” Filma mencoba menjelaskan.
“Ya, untuk himbauan, anaknya jangan terlalu memaksa. Nanti berakibat fatal, belajar iya, tapi harus butuh istrahat atau refreshing. Karena otak memiliki batas kemampuan.”

“Iya, Dok. Terimakasih atas sarannya.”

“Oh, iya, untung tadi ada temanya pasien yang ikhlas mendonorkan darahnya,” ucap Dokter tersenyum.
Farisa dan Resti saling memandang. Bingung. Siapa yang mengaku teman Filda? Sementara tidak ada teman akrabnya selain mereka.

“Teman Filda, Dok? Namanya siapa?” tanya Farisa penasaran.
“Katanya namanya dirahasiakan. Yang jelas dia bilang teman terdekat.”
“Hah? Teman terdekat? Bukanya sahabat Filda cuma kita in the geng?” Resti bertanya-tanya. Siapa yang sudah mengaku teman terdekatnya?

Pacar?

Itu tidak mungkin. Secara Filda tidak dekat dengan laki-laki. Boro-boro mau mendekati pria, ia adalah wanita kutu buku. Dia lebih mementingkan buku-buku tebal daripada melakukan hal-hal yang tidak bermanfat. Menurutnya.

Disisi lain, Azalea tengah bersiap menjalani harinya dengan liburan dalam artian ia diskorsing satu Minggu. Bertekad untuk resfreshing di sebuah kampung. Di mana kampung tersebut adalah kampung Omanya. Daripada tinggal di rumah, mungkin lebih membosankan, lebih baik cari kesenangan. Biarlah orang berkata apa? Bandel? Bodoh? Terserah. Yang penting menjalani hari tanpa membebani siapa pun.

Pak Radit?

Orang yang sudah berjasa mengajari Zela,  senang, susah maupun duka. Walaupun terkadang selama di sekolah atau les privat hanya bermain tetapi Zela tetap mengaggumi guru matematika tersebut. Mengaggumi dalam  hal karena dia tampan mungkin, intelektualnya tinggi dan tentu emosinya ditahan, namun akhirnya meledak juga.
“Maafin, Zela Pak Guru. Semoga sehat selalu,” gumam Zela tersenyum.

Usai berpamitan dengan ayahnya, Diana dan Kinar. Zela akan pergi ke pelabuhan menuju kampung Omanya. Sedangkan sang Oma sudah diberitahukan lebih awal bahwa cucuhnya akan berkunjung ke rumahnya.

….

Kapal yang ditumpangi Zela mulai berlabuh menuju kampung yang dituju.
Zela kini menghirup udara lautan. Ia merentangkan tangannya menikmati sejuknya pemandangan indah yang memanjakan mata.

‘Lautan biru, tak sebiru hatiku, namun mampu menciptakan kedamaian dalam jiwaku. Lautan luas, menyelami samudra, mampu menenggelamkan apapun. Ombak yang bersimpang siur terdengar merdu dengan kikisan airmu yang lembut. Karang-karang menjadi rumah bagi hewan-hewan indah yang menyelimuti berbagai jenis biota laut.’

Sampai di pelabuhan, kampung. Zela memainkan bola mata mencari jemputan. Siapa yang menjemputnya? Kenapa belum datang juga?. Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping.

“Neng Azila ya?” tanya seorang pria.
Zela hanya mematung kebingungan. Siapa

Azila?

“Abang salah orang. Saya bukan Azila,” ucap Zela menghindar sembari menyeret koper besarnya.
“Eh, tunggu!” Pria berkacamata itu mengehentikan langkah Zela.

“Anda salah orang!”

“Tapi gambar di foto ini, muka Eneng,” jawab pria itu kebingungan, tanganya menggaruk kepala yang tak gatal.
Zela melihat foto. Benar, gambar di foto itu memang dia.

“Kamu mau jemput saya?” tanya Zela memastikan.

“Iya.”

“Kok, modelnya kayak gini? Gaya penampilannya cupu banget, sih.” Zela memperhatikan gaya fashion pria dihadapannya itu, dari ujung kaki hingga kepala.

“Jangan-jangan kamu maling, ngaku-ngaku mau jemput saya.”

“Widih, Eneng sangaka saya maling. Dosa lho, saya disuru Oma Lidiya  menjemputmu.” Pria yang belum diketahui namanya itu, membelah diri.

Dengan cepat Zela meraih handpone di tas kecilnya.

“Oma!!” teriak Zela, membuat Omanya menjauhkan benda pipih tersebu dari telinga.

“Kenapa cucu Oma?”

“Ngapain nyuruh orang model kayak gini yang jemput Zela. Emang ngga ada orang lain apa?” Zela marah-marah tak jelas, karena yang menjemputnya tidak sesuai harapan.

“Ya, ampun sayang. Emang kenapa dia menjemputmu. Itu cucu Oma juga.”

“What? Cucu Oma? Astaga naga di talaga! Oh, no! Pria cupu macam ni, dicap sebagai cucu. Saya ngga terimah Oma!” Gadis yang selalu manja dengan Omanya itu, menatap sinis ke arah pria yang berpenampilan cupu.

“Oke, urusan kita belum selesai. bawain koperku!”

Lelaki jangkung itu hanya menuruti perintah.
“Mobil mana? Saya gerah ni,” ucap Zela mengkibaskan tangan kanannya dibagian muka, karena efek matahari panas.

Dengan tanpa dosa ia menunjukkan sebuah sepeda. “Mobilnya ini Neng.”

Bola mata gadis itu nyaris melotot sempurna, dijemput dengan sepeda ontel?

“Astagfirullah, jadi saya naik sepeda itu?” tanya Zela melotot sambil menunjuk sepeda.

“Ho’oh,” jawabnya.

“Kamu ngga waras atau memang kamu pasien RS jiwa!” Zela sudah mulai emosi.

“Eh, jaga ya, omonganya ganteng-ganteng gini dikatai gila. Situ kali yang gila,” gumam pria berkacamata itu.

“Kamu tahu kan saya siapa?” tanya Zela.

“Cucunya Oma Lidiya.”

“Terus kenapa jemput saya pake sepeda?”

“Ya, supaya kreatif lah.”

“Omaa!!” Lagi-lagi Zela menelpon Omanya.

“Ada apalagi Zela?”

“Ini orang yang jemput Zela orang gila ya?”

“Astaga, Zela jaga omoganmu. Emang kenapa?”

“Masa dia jemput saya pake sepeda?”

Oma Lidiya menahan tawa. Ia sudah tahu pasti. Cucunya itu pasti akan marah-marah. Sudah terbayang bagaimana wajahnya sekarang. Zela memang kerap sangat manja dengan Omanya.

“Ngga apa-apa dong sayang, nikmati saja.”

Zela dengan sebalnya langsung mematikan sambungan telpon.

“Gimana ni, Neng jadi ngga pulangnya. Kalau ngga jadi naik saja thu ke mobil yang sono.” Pria yang ditaksir Zela dengan umur tergolong sama tersebut menoleh ke arah yang ditunjuk.

Mobil open kap bertengger di sana. Zela auto mendadak ingin pingsan namun ia tahan. Ini laki dari planet mana? Kok tingkahnya kayak bedah dengan orang lain. Penamilannya sudah cupu, eh, sifatnya bar-bar ambusadur.
Menghela nafas panjang lalu dihebuskan perlahan, demi menatlisir emosi. Ia menyanggupi untuk naik sepeda.

“Kamu tahu kan, saya cucunya Oma lidiya yang terkaya dikampung ini.” Zela berkacak pinggang melotot.

“Ngga usah matanya dilototin kayak gitu juga kali. Seram amat kayak Kunti.”

“Bodoh amat, jadi koperku gimana ni, emang muat pake sepeda?”

“Tenang saja, kopermu kita titip di mobil.”

“Jangan gila! Kalau hilang gimana?”

“Tenang saja, kalau hilang  kamu carilah,” jawabnya.

“Lama-lama saya tendang kamu ke laut, supaya mampos.”

“Tendang saja, lagian saya tahu renang.”

“Astaga, kenapa saya harus ketemu dengan pria macam ni, saya datang di sini untuk refreshing bukanya datang untuk mau menjadi gila!”

Menaiki sepeda dengan orang asing itu berbeda. Apalagi pengendara sepedanya orangnya rada-rada gila.
“Eh, kok jalanya belok-belok sih?”

Tiba-tiba roda sepeda yang mereka tumpangi mendadak belok-belok.

“Tenang saja, sepada kesayanganku sepertinya kempes,” ucapnya santai tanpa ada ragu.

“Dasar seprul!!” Zela tanpa aba-aba menjitak kepalanya. Dan sepeda terjatuh. Otomatis mereka juga ikutan terjatuh.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here